
Beda hal nya di sebuah Desa, saat ini Gibran dan Sekeluarga pulang dari luar kota. Mereka habis dari Rumah sakit untuk cekup Jelita.
Umur Jelita di atas Kafka dan ia juga sudah menikah. Penyakitnya sekarang sudah sembuh total entah bagaimana tetapi Jelita dinyatakan sembuh.
"Ayah, terimakasih ya" ucap Jelita memeluk Gibran.
"Kenapa sayang?" tanya Gibran.
"Terimakasih untuk semua nya, walaupun aku bukan anak Ayah tapi Ayah dan Ibu sangat sayang padaku" jawab Jelita tersenyum.
Gibran mengusap lembut kepala Putri sulungnya dengan sayang.
"Apakah Kakak akan menginap?" tanya sang Adik.
"Tidak, sayang. Kakak akan pulang sekarang" jawab Jelita lembut.
Sang Adik hanya berOhria saja.
***
Saat ini , Adel dan Kafka sudah berada di sekolah Milsi. Adel dengan semangat langsung saja masuk.
Kafka hanya menggelengkan kepala saja melihat kelakuan sang Istri.
"Sayang, hati-hati" tegur Kafka
"Hehe maaf" balas Adel cengengesan
Kafka mengacak rambut sang istri karena gemas. Lalu mereka bergandengan tangan masuk ke dalam Aula sekolah.
Kafka menyuruh salah satu anak buah nya untuk mencari sang, Mommy.
Setelah melihat keberadaan sang Mommy, Kafka langsung mengajak Adel kesana.
Semua mata memandang ke arah Kafka yang memasang wajah dingin dan datar nya. Tetapi ke tampanan Tuan Muda Ardmaja tidak dapat di ragukan lagi.
Adel dan Kafka duduk dengan tenang di samping Keluarga nya.
"Lihatlah sayang, Adikmu menjadi ke banggaan kita semua, dia meraih Juara umum dengan nilai yang sangat tinggi" ucap Ayu bangga.
"Iya, Mom. Dia memang sangat pandai" balas Adel tersenyum.
Setelah hampir seluruh acara selesai, Milsi melangkah lebar pada keluarga nya.
Senyuman manis yang sangat tercetak jelas di bibir-nya.
"Kakak, ini untukmu" ucap Milsi memberikan piala yang ia raih.
"Terimakasih sayang, selamat ya kau memang yang terbaik" balas Adel memeluk Milsi erat.
Milsi membelas pelukan Kakak nya dengan sama eratnya. Ia merasa sangat terharu karena sampai saat ini sang Kakak lah yang selalu memotivasi semua nya.
Rendi tersenyum dan memberikan bucket bunga yang lumayan besar.
"Ini untukmu, sayang" ucapnya dengan tersenyum.
"Terimakasih, Abang" balas Milsi dengan mengambil bucket bunga nya.
Qilla langsung menghambur memeluk Milsi, Qilla merasa sangat bangga padahal Milsi terlahir hanya dari keluarga sederhana.
Milsi mengangguk dengan senyuman manis di wajah nya.
Lalu mereka memilih berphoto bersama dulu sebelum pulang.
Kafka memanggil photograper yang memang sudah ia pesan terlebih dulu.
"Cih lihatlah kau Milsi, sudah seperti sugardaddy saja" cemooh teman sekolah nya.
Adel langsung menatap tak suka pada perempuan itu.
"Jaga bicara anda" ucap Adel dengan tegas.
"Hei benarkan kalian memang keluarga sangat MATRE. Dulu Abangku tergila-gila padamu tetapi kau abaikan dan sekarang Adikku juga begitu pada Milsi" teriak Perempuan itu.
"Hei , jangan tinggikan suaramu di hadapan istri ku" balas Kafka tegas.
"Kau tau , dia itu wanita m**ra**n hanya memanfaatkan semua lelaki kaya. Bahkan mungkin dia sudah tidak suci lagi saat menikah denganmu" ucap nya dengan nada merendahkan.
"Kau jaga ucapanmu, mungkin benar menantuku dari wanita kampung dan miskin. Tetapi dia punya martabat yang tinggi di bandingkan kamu yang selalu keluar masuk Club Malam Delka" sarkah Elga dengan tersenyum devil.
Perempuan tadi langsung saja pergi dengan raut wajah yang sulit di mengerti.
Sedangkan Milsi dan Adel saling berpegangan tangan dengan wajah kaget nya.
"Ayo sayang, aku tau kamu tidak begitu kok" ajak Kafka.
"Ia Kakak , dia hanya selalu syirik pada kita saja. Dia kan sama seperti Ibu dan Abangnya" ucap Milsi menenangkan Adel.
Adel membalas semuanya dengan senyuman, ia sudah biasa dengan cemooh tetangga nya.
"Aku tidak papa jangan khawatir" ucap Adel tersenyum.
"Nah itu baru Putri kami. Kau harus kuat untuk melawan semua lalat pengganggu, sayang" ucap Ayu dengan semangat.
"Siap, Mom" balas Adel terkekeh.
Lalu mereka tersenyum dan langsung berphoto ria. Bahkan Milsi dan Rendi menyebarkan Undangan pernikahannya yang hanya 3 hari lagi.
Setelah selesai mereka langsung menuju ke Restoran yang memang sudah di pesan terlebih dahulu oleh, Rendi.
"Jangan Restoran murah ya, Bang" celetuk Qilla dengan tenang.
"Hei kau meremahkan aku, Nona" balas Rendi sinis.
"Siapa tau aja yang di pinggir jalan. Tapi lebih enak sih masakannya" ucap Qilla dengan terkekeh sendiri.
"Memeng Adek pernah?" tanya Elga.
"Pernah Dadd. Waktu di sekolahan kan aku punya teman , dia itu sederhana banget terus Ibu nya punya warung makan pinggir jalan tapi rasanya enak sangat" cerita Qilla antusias.
Lalu Qilla panjang lebar menceritakan semua nya pada sang Daddy dan yang lainnya. Mereka hanya mendengarkan dan tersenyum saja.
.
.
.