That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 9



Sore hari nya semua orang sibuk dengan persiapan untuk besok. Bahkan sebagian dari Art ikut ke Hotel untuk memastikan semua pekerjaan oranglain.


Semua keluarga sudah berkumpul dan bersiap , mereka akan langsung pergi ke Hotel untuk acara pernikahan besok.


Hampir semua media dan publik tau bahwa besok adalah pernikahan pewaris perusahaan besar.


Bahkan Ikmal serta anak dan istri nya pun sudah sampai di Hotel tersebut.


"Ayo kita berangkat sekarang" ajak Kafka.


"Semuanya sudah siap kan?" tanya Elga.


"Sudah" jawab mereka dengan serempak.


Lalu mereka pergi dengan masuk ke mobil masing-masing. Iring-iringan mobil tersebut menandakan bahwa itu adalah keluarga terhormat , bahkan para pengawal pun berjejer di belakang dan depan.


Sedangkan Ayu , Rahma , Qilla , Milsi dan Adel mereka sudah di Hotel terlebih dahulu dengan di kawal oleh pengawal yang ketat.


Saat ini mereka sedang berada di kamar yang akan di jadikan ruangan ganti dan makeup. Sedangkan untuk kamar pengantinnya Kafka menggunakan Suite Room di Hotel Pramudya tersebut.


Adel menggenggam tangan Milsi dengan sendu , jika saja Ayah dan Bunda nya masih ada mungkin ia akan merasakan kebahagian yang ganda.


"Tidak apa, Kak. Ada aku kok disini" ucap Milsi lembut.


"Huffff iya , Dek. Kamu kejar cita-cita mu ya, ingat jangan kecewakan kami" balas Adel dengan mengusap lembut pipi Adiknya.


Milsi mengangguk dan langsung memeluk tubuh Kakaknya.


Rahma , Qilla dan Ayu mereka sedang menunggu kedatangan keluarga yang lainnya. Awalnya Adel juga ingin ikut menunggu tetapi di larang keras oleh sang Oma.


"Ayo Kakak tidur dulu" ajak Milsi.


Adel mengangguk dan merebahkan tubuhnya , meski ia sangat gugup bahkan mata nya pun susah terpejam tetapi ia tetap memaksakan untuk tidur agar besok lebih fress.


Setelah bersusah payah akhirnya Adel tertidur dengan pulas begitupun dengan Milsi. Mereka berdua tertidur dengan nyenyak.


Sedangkan rombongan Kafka baru saja sampai dan dengan semangat Kafka langsung keluar karena ia sudah sangat merindukan Adel, padahal mereka hanya terpisah dari jam 2 siang saja.


"Mommm , mana Adel?" tanya Kafka dengan cepat.


"Ada , dia sedang tidur" jawab Ayu santai.


Kafka sudah bersiap akan menemui Adel tetapi telinganya langsung di tahan oleh Ayu.


"Momm sakit" ucap Kafka dengan meringis.


"Kamu itu jangan menemui Adel dulu sampai besok selesai akad" ucap Ayu dengan tegas.


Ayu menggeleng kepala dengan tegas. Kafka menghela nafas dengan pasrah.


Andi dan Raka cekikikan melihat wajah pasrah dan frustasi Kafka.


"Diam kalian" sarkah Kafka dengan kesal.


"Buahahaha" tawa Andi dan Raka malah menggelegar dan mereka langsung kabur mengikuti sang istri.


Kafka pergi dengan wajah dongkol dan kesalnya. Ia sangat kesal karena tidak bisa bertemu dengan Adel dan kedua sahabat nya yang malah menertawakannya.


Kafka merebahkan tubuhnya seraya tersenyum bahagia.


"Aku bahagia sekali , tenanglah disana Delisa aku disini sudah bahagia dan menemukan penggantimu" gumam Kafka dengan tersenyum.


Semua orang sedang istirahat karena memang mereka akan menyiapkan diri untuk besok.


Sedangkan Rendi ia masih saja berkeliaran memantau dan mengecek kembali.


Setelah selesai Rendi langsung ke taman Hotel dan melihat seseorang yang sedang duduk disana.


"Hei kau sedang apa disini malam-malam?" tanya Rendi dengan mendudukan bokongnya di sisi orang tersebut.


"Aku sedang menikmati udara malam hari yang menyejukan" balasnya dengan santai.


"Ck , kau masih kecil sana pergi tidur kasihan nanti Nona Adel mencarimu, Mil" ucap Rendi.


Ya, seseorang tadi ialah Milsi , ia sedang mencari suasana malam yang sangat sejuk disana.


"CK, aku sudah dewasa ya , udah mau lulus udah mau masuk ke Universitas" balas Milsi dengan kesal.


"Manaa coba yang udah dewasa?" goda Rendi dengan mencubit hidung Milsi.


"Tuannnnn" kesal Milsi.


"HAHAHA lihatlah kau sangat lucu. Jangan panggil aku Tuan , panggil saja Abang" ucap Rendi dengan mengusap kepala Milsi.


Lalu mereka mengobrol lebih tepatnya lagi Rendi yang selalu menggoda Milsi sampai Milsi kesal dan ingin marah.


Sedangkan Kafka saat ia uring-uringna karena ingin menemui Adel , sedangkan pintu kamarnya sudah di kunci dari luar oleh sang Mommy.


.


.


.