That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 30



Milsi dan Rendi menghabiskan waktu di ruang kerja Kafka. Mereka hanya mengobrol dan sesekali bercanda ria.


"Sudah malam , istirahatlah duluan" ucap Rendi dengan mengelus kepala Milsi.


"Abang juga istirahat, jangan terlalu lelah bekerja" balas Milsi lembut.


Rendi mengangguk dan langsung membereskan semua pekerjaan nya. Setelah selesai mereka keluar ruangan kerja dan menuju kamar masing-masing.


"Tidur yang nyenyak" ucap Rendi mengecup pelipis Milsi.


"Abang juga" balas Milsi menunduk malu.


Rendi terkekeh dengan gemas, bahkan ia ingin sekali mengecup bibir nya yang ranum, tetapi Rendi tau batasan.


Setelah mengantarkan Milsi ke depan kamar nya, Rendi langsung masuk ke kamarnya sendiri. Memang disana ia juga memiliki kamar karena Rendi sering bermalam disana.


Berbeda dengan di kamar Kafka, saat ini Kafka masih merengek meminta jatah pada Adel.


"Mas, mau aku gak beri jatah 1 bulan?" tanya Adel dengan penuh tekanan.


Kafka tertunduk dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan menyelimuti dirinya.


Adel membuang nafas kasar lalu duduk di samping Kafka.


"Mas, bukan tidak boleh tapi aku ingin kau sehat dulu. Aku merasa ikut sakit jika kamu sakit begini, aku mohon mengerti lah" ucap Adel lembut.


Sedangkan Kafka hanya diam saja dan memejamkan mata nya. Ia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan gairah.


Lalu Adel memeluk tubuh Kafka dari belakang dan menempelkan kepala nya di punggung Kafka.


"Mas, jangan marah. Baiklah jika memang kau ingin aku tidak akan melarang nya" ucap Adel kembali.


Kafka langsung membalikan badannya dan memeluk tubuh Adel.


"Maafkan aku, tidurlah aku tidak ingin apa-apa" balas Kafka dengan mengusap punggung Adel.


"Tapi Mas-


"Tidurlah sayang, aku tidak apa-apa kok" potong Kafka mengecup singkat bibir Adel.


Adel tersenyum dan menyelusupkan wajah nya pada ceruk leher sang suami. Ia sangat nyaman dan hangat di posisi begini.


"Selamat malam, Bunda dan Dede bayi" ucap Kafka mengusap perut rata Adel.


'Huhhh aku harus bisa nahan, maafkan aku sayang' batin Kafka sambil mengecup kepala Adel.


Adel mendongkak dan menatap Kafka yang sedang memejamkan mata, tetapi Adel tahu bahwa Kafka sedang menahan hasratnya.


"Mas" panggil Adel lirih.


Kafka membuka mata dan menatap Adel bingung. Tanpa izin Adel langsung mencium bibir sensual sang suami dengan lembut.


Kafka sangat kaget tetapi ia menikmati karena memang gairah nya sudah On sejak tadi.


Tangan Kafka tidak tinggal diam, ia langsung saja merambat bahkan sudah berpetualang di gunung. Hingga akhirnya mereka melakukan hubungan suami istri dengan sangat panas, tetapi Kafka masih bisa lembut dan menuruti anjuran Dokter.


Setelah pertarungan selesai Adel lansung tergolek lemas di pelukan Kafka. Sedangkan Kafka memeluk tubuh sang Istri yang tanpa helai benang.


"Terimakasih" ucap Kafka lembut.


Kafka dengan senang hati menerima pelukannya dengan hangat. Mereka terlelap dengan saling memeluk dan menghangatkan tubuhnya masing-masing.


***


Pagi hari nya, Kafka bangun terlebih dulu dan melihat Adel yang masih betah memeluk dirinya.


"Menggemaskan sekali" gumam Kafka mengecup kening Adel.


Lalu Kafka beranjak bangun dan langsung ke kamar mandi. Kafka sengaja tidak membangunkan Adel karena ia merasa kasihan.


Sedangkan di bawah, Milsi dan Rendi sudah bersiap bahkan Milsi sudah selesai dengan masak nya.


"Bang, makan duluan saja nanti aku kesiangan" ucap Milsi yang memang sudah siang.


"Yaudah, kamu juga makan" balas Rendi.


Mereka sarapan terlebih dahulu tanpa menunggu tuan Rumah turun.


Milsi dengan segera membuatkan bekal untuk Rendi dan Kafka.


"Ini bekal Abang dan Bang Kafka ya" ucap Milsi menaruh papperbag.


"Terimakasih, sayang" balas Rendi tersenyum.


Milsi hanya menganggukan kepala dan mengambil tas sekolah nya.


Setelah kepergian Milsi , Rendi langsung menghampiri Bi Imah.


"Bi , nanti bilang pada Kafka kalau aku berangkat duluan bersama Milsi dan ia tidak perlu membawa bekal karena sudah saya bawa" ucap Rendi.


"Baik, Tuan" balas Bi Imah.


Lalu Rendi keluar dan melihat Milsi yang sudah menunggu nya di dekat mobil.


"Ayo sayang" ajak Rendi.


Milsi langsung saja masuk ke dalam mobil Rendi. Lalu Rendi melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang ke arah sekolah sang pujaan hati.


"Sayang, kamu beneran tak apa jika kita langsung menikah?" tanya Rendi memantapkan.


Milsi menoleh ke arah Rendi dan menggenggam tangan sang kekasih.


"Aku tidak keberatan, Bang. Jika memang aku ingin kuliah aku akan kuliah, tetapi aku tidak ingin, aku siap kok menikah" jawab Milsi yakin.


"Terimakasih, kalau ingin sesuatu ataupun apapun itu aku mohon, bicaralah" ucap Rendi mengecup punggung tangan Milsi lembut.


"Iyaa Abang" balas Milsi.


Di sepanjang perjalanan Rendi tak henti nya tersenyum dan terus mengecup tangan Milsi. Ia merasa bahagia karena kurang lebih 2 minggu lagi ia dan Milsi akan menikah.


.


.


.