
Kafka terus saja mencium bibir tipis itu dengan lembut , lama kelamaan ci*man itu menjadi panas , bahkan tangan Kafka sudah berada di dada Adel.
Adel hanya memejamkan mata tanpa membalas nya , ia kaku karena memang itu yang pertama untuk mereka.
Kafka memainkan mainannya dengan sangat asyik bahkan dengan tenang.
Tok Tok Tok
Pintu di ketuk beberapa kali dari luar.
"Mmmpphh" racau Adel dengan berusaha melepaskan pangutannya.
"CK! Ganggu aja" gerutu Kafka.
Adel menarik nafas sebanyak mungkin , ia masih saja ngos-ngosan karena pasokan udaranya menipis.
"Mas bu buka dulu" ucap Adel dengan nafas belum teratur.
Lalu Kafka menurunkan Adel dan berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
"Maaf Tuan , ini makanan pesanan anda" ucap pegawai Hotel dengan sopan.
"Hmmm" balas Kafka.
Setelah mengambil nampan dari pegawai Hotel, Kafka masuk kembali dan duduk di sofa bersama sang istri.
"Makan dulu ayo" ajak Kafka lembut.
Adel membalasnya dengan anggukan saja , lalu ia menghampiri Kafka.
Mereka makan dengan lahap , apalagi Adel karena ia memang merasa sangat lapar.
Setelah beres makan , Adel membereskannya dan menyimpannya disana.
Baru saja Adel berdiri , Kafka sudah mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang.
"Aku sudah sangat ingin, kau sungguh menggoda ku , sayang" bisik Kafka dengan suara serak.
Adel menunduk malu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kafka.
Kafka merebahkan tubuh Adel dengan sangat hati-hati, setelah merebahkan Kafka menatap Adel dengan lembut lalu ia daratkan ciuman pada keningnya.
Adel memejamkan matanya menikmati apa yang di lakukan Kafka. Kafka terus saja melakukan rangsangan pada tubuh Adel.
Dengan lihai mereka sudah tidak memakai apapun lagi. Kafka menelan ludah kasar saat melihat keindahan tubuh sang istri.
"Aku lakukan sekarang ya" ucap Kafka serak.
Adel hanya mengangguk dengan wajah merona malu.
Kafka memulai nya , walaupun sedikit susah tetapi ia bisa juga.
Mereka melakukannya dengan penuh cinta. Bahkan Kafka melakukannya dengan lembut.
Seketika kamar tersebut penuh dengan desahan dan erangan dari keduanya.
Adel di buat tak berdaya oleh Kafka , bahkan Kafka tak membiarkan Adel bsristirahat sedikitpun.
Kafka melakukannya hingga jam setengah 10 malam.
"Terimakasih, sayang" ucap Kafka setelah selesai dengan ritualnya.
"Aku mencintaimu" ucap Adel dengan lembut.
"Aku juga lebih mencintaimu, sayang" balas Kafka mencium kening Adel.
Lalu mereka tidur dengan berpelukan , bahkan mereka tidak sempat memakai pakaiannya kembali.
Sedangkan di Aula Hotel , Keluarga Elga , Lana dan Ikmal masih stay disana, bahkan sahabat Kafka pun ikut serta berkumpul disana.
"Ini rekaman yang membuat Kafka emosi, Om" ucap Rendi dengan menyodorkan ponsel nya pada Elga.
"Awasi saja dia , aku yakin dia akan menjadi duri di kemudian hari" peringat Elga pada Rendi.
"Iya , Om. Bahkan dia itu sangat menginginkan Kafka sejak kuliah dulu. Tetapi Kafka tidak meresponnya karena ia sudah bersama Delisa" balas Rendi.
"CK, jadi wanita ini kembali lagi" celetuk Sela tak suka.
"Ya , dia wanita yang tak punya malu dan memiliki ambisi yang kuat. Kita harus waspada pada dia" timpal Retika.
Rendi dan yang lainnya mengangguk mengerti. Bahkan Rendi sudah menyuruh salah satu anak buah nya untuk menyelidiki tentang Tya Saputri.
"Pantesan tadi wajah Kafka sangat menahan amarah, untung saja dia sedang bersama pawangnya kalau tidak, habis sudah" ucap Ayu dengan tertawa kecil.
"HAHAHA, mungkin Aula ini akan rata, Tan" balas Sela tertawa.
"Kafka itu sama seperti Daddy nya yang bucin parah" olok Lana dengan tertawa.
Elga menatap horor pada mantan Asistennya itu.
"CK, akui saja mas toh memang benar" ceplos Ayu.
HAHAHA! Semua orang tertawa melihat wajah Elga yang mendelik pada Ayu.
"Tidak apa Om , itu tandanya Om sangat menyayangi Tante" bela Rendi dengan santai.
"Ahhh kau memang the best, Nak" girang Elga karena ada yang membela nya.
Rendi menepuk dada nya bangga sambil tersenyum cerah. Sedangkan yang lainnya hanya memutar bola malas.
-Kediaman Herman
Saat ini Pak Herman dan Istrinya marah besar pada Putrinya, Tya. Mereka tidak menyangka bahwa Obsesi Tya pada Kafka masih melekat.
"Ayah akan mengirim kamu ke Kota A agar berobat kembali" tegas Pak Herman.
"Tidak mau Ayah, aku akan mengejar Kafka kembali , dia itu milikku dan akan menjadi milimku" teriak Tya
Plak
Plak
"Dasar anak tak tau malu, Ibu sendiri yang akan menemanimu disana" ucap sang Ibu merasa geram.
"Kalian jahat , aku benci kalian" teriak Tya lalu pergi ke kamarnya.
"Kurung dia dan pastikan jangan sampai kabur" perintah Pak Herman pada anak buahnya.
"Baik Tuan" balas Anak buahnya.
Tya mengunci pintu kamarnya dan memporak poranda kan seisi kamarnya. Ia sangat marah saat melihat Kafka tersenyum bahagia bersama dengan wanita lain.
Tya sudah terobsesi sejak mereka satu Universitas dulu di Negara K. Bahkan Tya terang-terangan mengungkapkan isi hatinya pada Kafka.
Bahkan sampai ikut pulang ke Negara T dan selalu mengintai Kafka.
Saat tadi Tya melihat siapa mempelai wanita nya ia merasa mendapatkan angin segar saat melihat Istri Kafka adalah seketarisnya tetapi ia salah , karena Kafka sangat mencintainya , Tya melihat dengan jelas sorot mata Kafka yang begitu lembut pada Adelia.
Setelah puas mengamuk , Tya langsung saja mengemasi barang-barangnya , ia berniat akan kabur dari mansionnya.
Tetapi belum juga kabur ia sudah melihat sang Ibu dan Ayah nya masuk ke dalam kamarnya.
"Suntikan itu pada dia" titah Herman pada anak buahnya.
Herman sengaja menyuntikan obat penenang agar Tya tidak mengamuk saat mereka akan pergi nanti pagi.
Ibu nya langsung membereskan kembali barang-barang Tya. Mereka akan pindah ke luar Kota dan akan merawat Tya agar tidak menjadi duri di pernikahan oranglain.
.
.
.