That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 24



Jam pulang kantor pun tiba, Adel membantu Kafka membereskan meja kerja nya.


"Sayang" ucap Kafka memeluk tubuh Adel dari belakang.


"Kenapa , Mas?" tanya Adel.


"Biar begini dulu ya, aku lelah sekali" jawab Kafka menyenderkan kepala nya pada punggung Adel.


Adel membalikan tubuh nya dan membiarkan Kafka memeluk nya dari depan. Kafka dengan senang hati menyelusupkan kepalanya di ceruk leher sang Istri.


Kafka menjatuhkan tubuhnya di kursi ke besaran nya tanpa melepaskan Adel di pelukannya. Adel terduduk di pangkuan Kafka yang sedang asyik memeluk nya.


Lama kelamaan Kafka menggigit leher Adel hingga berubah menjadi ke biruan.


"Massss" ucap Adel dengan menjauhkan kepala suami nya.


"Aku ingin , sayang" ucap Kafka dengan serak.


Adel hanya mengangguk pasrah saja. Kafka langsung membawa Adel ke kamar pribadi nya.


Mereka langsung melakukan olahraga untuk menghasilkan sang Junior di rahim Adel.


Sedangkan Rendi sedang menggerutu karena sudah hampir 1 jam menunggu majikannya.


"Yaampun kemana mereka" gerutu Rendi dengan kesal.


Rendi melangkah masuk ke ruangan Kafka.


"Ahhhhh" desah Kafka dan Adel menggema disana.


"Yaampun , dasar majikan laknat gue nungguin lama-lama ehh mereka malah asik-asikan membuat adonan" omel Rendi dengan melangkah keluar ruangan.


Lalu Rendi menulis sesuatu dan mengirimkannya pada Kafka. Setelah itu ia langsung pulang karena merasa lelah.


"Huhh aku merindukan, Isel" gumam Rendi memandang poto dirinya dan Milsi yang sedang tersenyum.


Adel dan Kafka langsung membersihkan tubuh nya di kamar mandi di sana. Tetapi dengan lihai nya Kafka membuat Adel kembali lagi mendesah dan mereka melakukan hubungan intim di kamar mandi.


***


Sedangkan Ayu dan Keluarga nya baru saja sampai di Bandara. Mereka langsung masuk ke mobil jemputan yang sudah menunggu di sana.


"Uhh yaampun lelah sekali" gumam Qilla dengan merentangkan tangannya.


"Ayo kita ke mansion, jemputan sudah menanti" ajak Antoni merangkul tubuh sang Istri.


Mereka langsung masuk ke dalam mobil masing-masing. Di sepanjang perjalanan Milsi bertelponan dengan Rendi.


"Iya ini aku lagi di jalan mau ke mansion, Oma" ucap Milsi mengakhiri panggilannya.


Qilla menyenderkan kepala nya ke bahu Milsi.


"Abang Rendi?" tanya Qilla


"Huummm" jawab Milsi


Mereke hening tanpa bicara, Qilla masih betah dengan menyenderkan kepala nya pada Milsi.


Sedangkan Milsi sendiri ikut memejamkan mata nya seperti Qilla.


1 jam kemudian mereka semua sampai di kediaman Pramudya. Tama dan Nadin sudah menyambutnya di depan mansion.


"Ayo langsung masuk saja, Bun" ajak Nadin lembut.


Rahma dan yang lainnya mengangguk sambil terus berjalan ke arah kamar masing-masing.


Qilla dan Milsi satu kamar, karena Milsi hanya akan 1 minggu saja disana.


Sedangkan Nadin ia langsung menuju ke dapur untuk memasak makan malam mereka.


Ayu yang memang sudah cukup istirahat nya langsung saja membantu sang Kakak Ipar.


"Loh bukannya istirahat, Yu" ucap Nadin bingung.


"Aku sudah cukup istirahat nya, Kak. Jadi aku bantu ya" balas Ayu tersenyum.


"Baiklah, kamu masak saja biar Kakak menyiapkan sayuran dan lainnya" ucap Nadin


"Oke" balas Ayu.


Mereka memasak dengan semangat bahkan sampai tertawa dengan ngakak.


Rahma yang baru saja turun dari kamarnya merasa bahagia melihat senyum bahagia dari kedua nya.


"Lagi masak apa ngelawak nih" ucap Rahma terkekeh.


"Bun, istirahat saja atau gak duduk saja takut encok nya kabuh" goda Ayu dengan tersenyum.


"Hei anak durhaka dasar, mana ada encok Bunda hanya sakit pinggang" balas Rahma tertawa.


"Ampun sama saja, Bun" timpal Nadin ikut tertawa.


Tak terasa masakan mereka sudah jadi dan Ayu langsung menata nya di meja makan.


"Aku panggil anak-anak dan suamiku dulu ya, Bun" pamit Ayu


"Iyaa, Nak" balas Rahma tersenyum.


Ayu melangkahkan kaki nya ke kamar Qilla terlebih dahulu. Ia membuka pintu dan terlihat Qilla yang masih bergulung selimut sedangkan Milsi sudah tidak ada disana.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka dan muncullah Milsi yang sudah rapih.


"Mom" panggil Milsi tersenyum.


"Bangunkan adikmu sayang, Mom akan bangunkan Daddy mu dulu" titah Ayu lembut.


"Iyaa Momm" balas Milsi lembut.


Setelah Ayu pergi , Milsi langsung mendekat ke arah ranjang dan membangunkan Qilla yang masih terlelap.


"Dek, bangun yuk" ucap Milsi dengan membuka selimut Qilla.


"Bentar Kak Isel" racau Qilla dengan menggeliatkan tubuh nya.


Dengan cepat Qilla membuka mata nya malas.


"Iyaaa ihh tunggu dulu, Kak" protes Qilla dengan kesal.


Milsi tersenyum dan dengan cepat menganggukan kepalanya.


"Yaudah sana mandi dulu, Kakak siapkan pakaiannya ya" ucap Milsi lembut.


"Hemmmm" balas Qilla dengan berjalan gontai ke arah kamar mandi.


Semua orang sudah berkumpul, tinggal menunggu Qilla dan Milsi saja yang masih di dalam kamar.


"Sayang coba panggil lagi mereka" ucap Elga


"Iyaa Mas, ahh itu mereka" balas Ayu dengan menunjukan Qilla dan Milsi


"Maaf lama" ucap Milsi tak enak.


"Tidak apa, ayo makan" balas Antoni tersenyum.


Mereka makan malam dengan sedikit bumbu candaan agar tidak jenuh karena telah melakukan perjalanan jarak jauh.


****


Berbeda dengan Adel dan Kafka, mereka baru saja keluar dari ruangan Kafka. Mereka akan pulang tetapi akan makan malam dulu nanti di Restoran.


"Mau makan apa, sayang?" tanya Kafka


"Mau seafood, Mas" jawab Adel tersenyum.


"Baiklah, apapun untukmu" ucap Kafka mengusap pipi Adel lembut.


"Ohh iya , Mom dan yang lainnya sudah sampai tadi" ucap Kafka kembali.


"Ahhh syukurlah, Mas" balas Adel lega.


Kafka melajukan mobilnya ke Restoran Favorit sang istri dan juga dirinya.


Sesampai nya disana , Kafka langsung memarkirkan mobilnya.


"Ayo sayang" ajak Kafka lembut.


"Iyaa , Mas" balas Adel.


Mereka berjalan dengan beriringan bahkan tangan Kafka memeluk pinggang sang istri dengan posesif.


Kafka memesan ruangan VVIP karena ia ingin makan dengan tenang tanpa pandangan orang-orang.


"Silahkan Tuan dan Nyonya" ucap pelayan dengan menyajikan beberapa pesanan mereka.


Kafka hanya mengangguk dan menyuruh mereka kembali.


Adel langsung melahap pesanannya karena memang ia sudah merasa kelaparan.


"Sayang, jangan buru-buru makannya" tegur Kafka dengan gemas.


"Aku lapar, Mas" balas Adel terkekeh.


"Iyaa , tapi yang tenang saja, tidak akan ada yang meminta nya" ucap Kafka mengusap saos yang ada di bibir Adel.


Adel mengangguk saja. Mereka kembali makan dengan sesekali Kafka ingin di suapi oleh Adel.


Selesai dengan makan malam , Kafka mengajak Adel jalan-jalan terlebih dahulu.


"Mau kemana dulu, Mas?" tanya Adel


"Kita ke taman dulu ya" ajak Kafka menggenggam tangan Adel.


"Tapi jajan lagi ya" ucap Adel terkekeh.


"Iyaa , mau apapun terserah kamu saja" balas Kafka lembut.


Sesampai nya di Taman, Adel dan Kafka berjalan santai dengan saling genggam.


"Mas , aku mau Ice cream" ucap Adel dengan menunjukan stand Ice cream.


"Ayooo" ajak Kafka.


Adel tersenyum senang dan dengan cepat memesan Ice cream dalam Cup besar. Kafka hanya geleng-geleng kepala saja.


"Duduk yuk disana" ajak Kafka menunjuk kursi yang ada di Taman.


Adel mengangguk dengan tangan masih sibuk pada Ice Cream.


Adel menyenderkan kepalanya pada bahu Kafka sambil memakan Ice Cream.


"Kau tau, aku sangat bahagia dengan semua ini dan aku merasa sangat beruntung memiliki dirimu. Tetaplah di sampingku hingga usia kita tutup" ucap Kafka tulus.


"Aku juga beruntung mendapatkan dirimu, Mas. Kau tau , aku pernah merasa tidak akan berhasil mendapatkan mu karena hati mu hanya untuk Mbak Delisa. Aku tidak menyuruhmu menghapus nama Mbak Delisa, karena aku sendiri yang akan bersanding dengan nama itu di Hatimu. Tetaplah seperti ini , jangan pernah berubah ataupun menjauh" balas Adel dengan memeluk tubuh Kafka.


Kafka membalas pelukan Adel dan mencium pucuk kepala Adel.


"Mau beli apa lagi?" tanya Kafka.


"Udah ahh, kenyang banget aku Mas" jawab Adel mengkrucut.


"Uhhh makin Cubby aja tu pipi, tapi aku sangat suka" ucap Kafka mencium pipi Adel.


"Tapi enggak gendut kan, Mas?" selidik Adel dengan tajam.


Glek.


Kafka mendadak gugup di tatap Adel dengan seperti itu. Ia merasa sangat terintimidasi dengan tatapan tajam Adel.


"CK, kau itu sangat sexy bahkan sampai aku ingin melahapmu selalu" balas Kafka mengerling kan mata nya.


Adel mendelik malas dengan jawaban absurd suami nya.


.


.


.