That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
59



Sedangkan Milsi, dia duduk dengan sangat gelisah bahkan ia meringis sakit.


Rendi yang memang selalu peka akan keadaan sang Istri pun langsung menatap nya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rendi dengan khawatir.


"Sakit, Mas* jawab Milsi memegang perut nya.


Lalu Rendi juga melihat ada cairan yang menetes.


"Ayo kita ke Dokter sayang" ajak Rendi dengan panik.


Mom Ayu dan yang lainnya langsung menatap ke arah Rendi yang sudah menggendong tubuh Milsi.


"Nak, kenapa?" tanya Mom Ayu bangkit dari duduk nya.


"Seperti nya Istri ku akan melahirkan, Nyonya. Saya permisi dulu" jawab Rendi dan berlalu dari sana.


"Ayo Dadd" ajak Mom Ayu dengan panik.


"Kalian duluan saja, nanti aku menyusul bersama dengan Adel dan Qilla" ucap Kafka cepat.


Mom Ayu dan Elga langsung saja mengikuti Rendi yang masih mendudukan Milsi di dalam mobil.


"Kami ikut, biar Daddy yang bawa mobil nya" ucap Elga dengan cepat.


Rendi hanya bisa mengangguk dan membawa Milsi duduk di belakang bersama nya.


"Sabar ya, sayang" ucap Rendi lirih.


"Coba tarik nafas lalu hembuskan perlahan" ucap Mom Ayu dengan tenang.


Milsi mengikuti ucapan Mom Ayu, ia merasa rilexs tapi sakit nya kembali datang.


Rendi dengan sigap langsung mengelus lembut perut sang Istri.


Bahkan Rendi membiarkan Milsi untuk berpegangan erat pada tangannya.


Sedangkan di mansion, Adel dan Qilla kembali turun saat mendengar suara agak bising.


"Loh kemana Mommy aku?" tanya Qilla bingung.


"Mas kemana Mom dan Dadd?" tanya Adel pada Kafka yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Bersiaplah, kita akan ke Rumah sakit menyusul yang lainnya" ucap Kafka dengan cepat.


"Apa Kak Milsi akan melahirkan?" tanya Qilla dengan asumsi nya.


Adel menitipkan Baby Jen yang sedang terlelap pada Bibi Art.


"Bi, jika ada apa-apa hubungi aku ya, dan di lemari pendingin sudah ada stock susu buat Baby Jen" ucap Adel dengan cepat.


"Iyaa, Nyonya" balas Bibi Art dengan patuh.


Lalu Adel keluar dan mencari sang suami, ia ingin secepat nya datang ke rumah sakit.


"Masss, ayo cepat" teriak Adel saat melihat Kafka.


Kafka dan Qilla langsung saja mengikuti Adel, mereka langsung masuk ke dalam mobil yang memang sudah siap di depan.


"Hati-hati" teriak Ikmal


Kafka hanya menganggukan kepala saja, Ikmal tidak kesana karena sang Istri yang sudah terlelap.


Di sepanjang jalan, Adel tidak bisa tenang ia terus saja kepikiran dengan sang Adik.


"Tenanglah Kak, mereka pasti akan baik-baik saja" ucap Qilla memeluk Adel dari belakang.


"Iyaa sayang, Kakak hanya khawatir saja" balas Adel tersenyum lembut.


Kafka melajukan mobil nya dengan agak cepat, hingga ia cepat sampai di rumah sakit.


Mereka langsung masuk dan menuju ke ruangan bersalin.


Adel menggenggam erat tangan Kafka, ia merasa sangat tidak tenang.


"Sayang tenanglah, Rendi pasti menemani dan menguatkan Adik kita" ucap Kafka lembut.


Terlihat di luar ruangan Mom dan Daddy sedang duduk menunggu.


"Mom, bagaimana Milsi?" tanya Adel cepat.


Mom Ayu tersenyum dan memeluk menantu nya yang terlihat sedang cemas.


"Mereka sedang berjuang sayang, jangan cemas begini" jawab Mom Ayu lembut.


Adel menghembuskan nafas lega, lalu ia memeluk Mommy nya sebentar dan melepaskan nya lagi.


.


.


.