
Hari ini dimana hari Pernikahan Milsi dan Rendi. Semua Keluarga sudah berkumpul dan bersiap, acara akad akan di langsungkan di Hotel yang sama dengan acara Resepsi nya.
Tamu undangan satu persatu datang , dari mulai Guru, teman bahkan kepala sekolah Milsi pun ikut hadir. Tamu undangan untuk Rekan-rekan Rendi dan Kafka mereka akan hadir nanti untuk acara Resepsi nya saja.
Acara demi acara sudah di mulai dan sekarang adalah acara dimana Rendi akan mengucapkan Ijabqobul, untuk wali Milsi ia meminta Elga untuk menikahkannya.
Rendi sudah duduk dengan gugup nya di hadapan sang Penghulu dan Elga.
Elga melantunkan ucapan sakral dan di balas langsung oleh Rendi dengan sekali tarikan nafas.
'SAH'
Kata itu terucap menggema dari seluruh tamu dan Keluarga.
Milsi yang mendengar bahkan melihat di layar yang ada di hadapannya pun meneteskan air mata.
"Tugas Kakak sudah beralih pada Suami mu, Dek. Turutlah padanya, jangan membangkang ataupun apapun yang mengakibatkan Rumah tangga kalian hancur. Semoga kebahagian menanti Kita di depan" ucap Adel lembut.
"Terimakasih Kak, aku bangga pada Ayah , Bunda dan juga Kakak. Karena kalian aku bisa kuat , tegar dan hebat" balas Milsi tersenyum.
"Jangan sombong , tetap rendah hati" nasihat Adel dengan mencium kening Milsi.
Lalu Qilla datang bersama Mom Ayu. Mereka membawa Milsi untuk duduk bersanding dengan Rendi.
Kafka langsung menghampiri sang Istri saat melihat-nya keluar dari kamar rias.
"Kamu bahagia, sayang?" tanya Kafka lembut.
"Bahagia Mas" jawab Adel memeluk sang Suami.
Kafka mengajak duduk Adel, mereka akan melihat acara selanjutnya.
Acara demi acara sudah selesai , mereka akan istirahat untuk acara nanti siang.
***
Adel merebahkan tubuh nya di ranjang size. Ia merasa agak lelah padahal hanya berdiam diri saja.
Adel memutuskan untuk tidur terlebih dahulu sebelum nanti acara Resepsi, sedangkan Kafka ia saat ini sedang berbincang terlebih dahulu dengan Daddy nya.
Disana tetangga Adel dan Milsi juga turut ikut di undang. Mereka ada yang senang bahkan ada juga yang nyinyir.
**
Siang ini , di Hotel ternama Keluarga Ardmaja , Rendi dan Milsi bersanding dengan balutan Gaun dan Jas yang sangat elegant.
Milsi datang dengan menganggandeng tangan Rendi. Semua tamu undangan sangat terpana oleh ke cantikan Milsi.
Di belakang sang pengantin, Adel dan Kafka yang sangat menawan dan mempesona.
"Lihatlah Nyonya Kafka, dia sangat cantik srkali"
"Adik Nona Adel sangat cantik"
"Waw Nona Adel sangat cantik"
Kafka di buat kesal dengan semua ocehan para Lelaki yang ada disana.
"Haist rasanya aku ingin membunuh mereka" gumam Kafka kesal.
Adel terkekeh dan bergelayut manja di lengan sang Suami.
"Aku hanya kesal saja, ayo cepat kita duduk saja, sayang" ajak Kafka.
Adel hanya tertawa pelan dengan menggelengkan kepala saja.
Adel dan Kafka duduk di samping Orangtua nya. Mom Ayu mengeryit heran saat melihat raut wajah sang Putra, Kafka.
"Kamu kenapa, Bang?" tanya Ayu
"Aku kesal dengan para Lelaki yang terus saja memuji Istriku" jawab Kafka kesal.
"Haisss posesif mu sama saja dengan Daddy mu" gerutu Ayu
"Iyalah Mom, kan Abang anaknya Daddy. Kalau Abang posesif mirip oranglain bisa msti kejer Daddy" ceplos Qilla.
"Anak pinter" puji Elga tersenyum.
" Uang jajan nambah ya Dadd" kekeh Qilla cengengesan.
Elga mencebik kesal dengan kelakuan sang Putri bungsu. Sedangkan Ayu sudah menahan tawa nya supaya tidak pecah.
Makin sore makin banyak para tamu undangan yang hadir. Elga dan Kafka berbaur dengan beberapa rekan bisnis nya yang ada disana.
Sedangkan Adel memilih diam dengan Qilla dan Ayu yang sedang menikmati makanan. Adel mencicipi banyak makanan disana.
"Kak, enak yah?" tanya Qilla saat melihat Adel memakan asinan.
"Emmm sangat enak, Dek" jawab Adel enteng.
Glek.
'Enak nya dimana coba? Terlihat sangat masam juga , hihhhhh' batin Qilla terkekeh.
Sedangkan Ayu tersenyum saja dengan memakan bakso yang ada disana.
"Mom, mauuuu" ucap Adel
"Iniii" balas Ayu menyodorkan bakso pada mulut Adel.
Dengan cepat Adel menerima nya dan mengunyah bakso tersebut.
"Eummm sangat enak, Mom" ucap Adel tersenyum.
"Makan apa, sayang?" tanya Kafka yang baru saja duduk di samping Istri nya.
"Bakso, Mas" jawab Adel tersenyum.
Terlihat di pelaminan yang megah, pasangan Pengantin baru tersebut menunjukan senyuman termanis nya.
Rendi terus saja memeluk pinggang ramping Milsi. Senyuman di kedua nya tidak pernah pudar bahkan mereka memperlihatkan pancaran wajah bahagia nya.
Adel tersenyum dan merasa bahagia, kini ia bisa lebih lega dengan kehidupan sang Adik yang selalu ia perjuangkan.
.
.
.