That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 22



Adel dan Kafka langsung saja membersihkan diri dan istirahat. Karena perjalanan yang cukup melelahkan sampai-sampai Adel tak bisa menahan ngantuknya.


Sedangkan di bawah , Qilla begitu antusias membuka hadiah dari Adel. Di setiap Papperbag sudah di beri nama untuk siapa. Bahkan para Art pun mendapatkan satu Papperbag.


"Wahhh Mbak Lala kesini" teriak Qilla dengan melengking.


Terlihat Mbak Lala berlari dari arah dapur.


"Iya Non, ada apa?" tanya Mbak Lala dengan nafas ngos-ngosan.


Ayu melotot ke arah Qilla karena membuat Art nya kelabakan.


"Hehe, ini bagikan ke Bibi Art lainnya ya , dari aku" ucap gamblang Qilla.


"Dari Adel, Mbak" timpal Elga dengan santai.


Qilla mencebik kesal ke arah sang Daddy.


"Iyaa dari Kak Adel" cetus Qilla.


Mbak Lala hanya tersenyum dengan tingkah Nona Muda Ardmaja tersebut.


"Terimakasih, Nona" ucap Mbak Lala dan menerima beberapa Papperbag dari tangan Milsi.


Setelah menerima nya , Mbak Lala langsung saja membawa dan membagikan hadiah tersebut.


Para Art tersenyum bahagia bahkan mereka mendoakan kebaikan untuk keluarga majikannya.


Milsi dan Qilla mendapatkan hadiah yang sama , hanya warna dan bentuk saja yang berbeda.


"Kenapa tidak couple saja ya Kak Isel, pasti lucu" ucap Qilla menggerutu.


"Ahhh tapi gapapa, nanti kalau aku sudah bekerja aku akan membeli apapun untuk kita" ucap Qilla kembali dengan memeluk Milsi.


"Iyaa , ingat pesan Kakak ya. Jangan tunjukan kalau kamu wanita manja dan anak dari orang kaya. Kamu harus cuek dan jangan lupa belajar beladiri, dari situ kamu akan menemukan sahabat baik" ucap Milsi lembut.


Ayu ikut memeluk kedua wanita itu, ia merasa bangga dengan mereka.


"Ahhh Mommy sayang kalian" ucap Ayu dengan berkaca-kaca.


"Dan untuk kamu , jika memang kamu keberatan untuk menikah dengan Rendi sekarang bilang saja, ya" ucap Elga mengelus kepala Milsi.


"Tidak Dadd, aku sudah memutuskan untuk menikah muda dengan Bang Rendi. Soal kuliah aku bisa Online kok, tapi aku tidak mau soalnya takut Keluarga tidak ke urus" balas Milsi tersenyum.


"Ahhhh Kakak memang baik" ucap Qilla bangga.


"Berkat kalian Kakak bisa jadi begini. Terimaksih Mom , Dadd, semoga kebahagian selalu menyertai kalian" ucap Milsi tulus.


"Aminnn" balas mereka serempak.


Mereka kembali membuka hadiah dari Adel yang memang sangat banyak. Bahkan Ayu dan Elga pun mendapatkan banyak sekali hadiah.


Ayu merasa Adel adalah wanita yang tepat untuk Kafka. Mereka bisa saling melengkapi satu sama lainnya.


Setelah puas membongkar hadiah , Milsi dan yang lainnya beranjak ke kamar masing-masing untuk membersihkan badannya.


Sedangkan Kafka saat ini sedang mengganggu sang istri. Hingga ia terkikik sendiri.


"Hei bangun udah mau malam" ucap Kafka mencium bibir , pipi hingga hidung Adel.


"Eummmmm sebentar lagi" racau Adel dengan menggeliatkan badannya.


Kafka langsung tertawa pelan dan segera mengecup seluruh wajah Adel.


"Sayang , Mommy menunggu di dapur" ucap Kafka


Seketika Adel langsung membuka mata nya dan melihat ke sekeliling nya.


"Yaampun aku lupa , ini sudah di rumah" gerutu Adel. Dengan cepat ia langsung bangun dan melangkah kan kaki nya ke kamar mandi.


"Bagaimana tidak makin Cinta , segala sesuatu nya selalu menggemaskan dan membuatku jatuh cinta" gumam Kafka melihat tingkah Adel.


Lalu Kafka bangun dan menyiapkan pakaian untuk Adel. Ia duduk dan memainkan ponsel nya.


Tak lama kemudian Adel keluar dengan memakai handuk di atas lutut nya. Kafka menelan ludah kasar saat melihat pemandangan itu.


"Sayang, kenapa menggoda begitu" ucap Kafka serak.


Adel langsung berbalik dan cukup kaget , ia kira bahwa Kafka sudah keluar terlebih dulu.


Glek.


Adel menelan ludah nya sendiri saat melihat Kafka berjalan menghampiri dirinya.


"Mas aku lelah , besok malam saja ya. Apa kamu tak kasihan padaku" ucap Adel memelas.


Seketika Kafka tersadar dan menghembuskan nafas kasar nya.


"Tidak apa aku hanya bercanda. Yasudah aku keluar duluan , kamu pakai baju dulu" balas Kafka tersenyum.


Adel memandang wajah suaminya dengan merasa bersalah.


Saat Kafka akan membuka pintu nya , Adel dengan cepat memeluk dari belakang.


"Maaf" cicit Adel.


Kafka membalikan badannya dan tersenyum lembut.


"Tidak apa, aku mengerti kok. Cepat pakai baju sana" titah Kafka mengusap lembut pipi Adel.


"Yasudah ayo aku pakaikan baju nya" goda Kafka.


"Tidak" tolak Adel dengan cepat ia berlari ke arah kamar ganti.


Sedangkan Kafka ia terkekeh dengan mengembangkan senyumannya.


"Hahhh kenapa aku selalu saja tergoda oleh tubuh nya. Huhhhhh kau sangat candu bagiku, sayang" gumam Kafka tersenyum.


Kafka melangkahkan kaki nya keluar kamar. Ia akan menunggu sang istri di ruang keluarga saja.


Kafka melihat sang Daddy yang sedang membaca koran sendirian disana.


"Dadd, dimana yang lainnya?" tanya Kafka dengan mendudukan bokong di samping sang Daddy.


"Mommy dan Milsi sedang memasak , sedangkan Adikmu sedang merecokkan mereka" jawab sang Daddy.


"Ohh iya , kapan Qilla berangkat?" tanya Kafka kembali.


"Besok pagi-pagi, Oma dan Opa kamu juga besok akan kembali nya" jawab Elga.


"Dad Daddy , Mommy serta Milsi akan mengantarkannya mungkin akan menginap disana selama seminggu. Tenang saja Milsi sudah cuti kok" ucap Elga kembali.


"Bagaimana dengan Rendi?" tanya Kafka


"CK, dia ngizinin dengan terpaksa. Dia sudah sangat ngebet pengen nikahin Adik ipar mu itu" jawab Elga ketus.


"Hahaha. Daddy kayak yang gak tau aja dia" ucap Kafka tertawa.


"Oh iya dimana istrimu?" tanya Elga.


"Masih di kamar, Dadd" jawab Kafka.


Mereka mengobrol urusan bisnis dan kadang-kadang melenceng dengan urusan yang lainnya.


Kafka dan Elga sudah seperti sahabat yang sedang temu kangen saja. Karena Elga selalu bisa menempatkan diri saat serius ya serius, dan saat seperti ini Elga akan berubah jadi sahabat sang Anak agar mereka nyaman berinteraksi.


Adel langsung saja menuju ke arah dapur karena ia tidak mau mengganggu sang suami dengan mertua nya.


"Momm" panggil Adel.


Ayu tersenyum saja sedangkan Qilla sudah menempel pada sang Kakak Ipar.


"Kakak duduk saja disini, biar Mommy dan Kak Isel yang masak. Aku tau Kakak pasti masih lelah jadi duduk saja ya" ucap Qilla dengan manja.


"Tapi sayang


"Iya Nak , kamu duduk saja ya. Besok baru boleh memasak" potong Ayu dengan lembut.


"Baiklah Momm, maaf ya" balas Adel tak enak.


"Tidak apa sayang" ucap Ayu tersenyum.


Qilla membawa minuman dan camilan buatan Milsi pada meja makan itu.


"Kakak tau , besok aku akan berangkat dan Kak Isel akan ikut bahkan akan menginap disana selama seminggu" cerita Qilla dengan heboh.


"Ohh ya, maaf ya Kakak gak bisa antar. Tapi Kakak dan Abang akan menjenguk kesana kalau ada waktu luang" balas Adel lembut.


"Kakak , kata Kak Isel aku disana harus cuek dan gak boleh nunjukin kalau aku lemah" cerita nya kembali.


Sedangkan Milsi tersenyum mendengar ke antusiasan Qilla bercerita dengan penuh makanan di mulutnya.


"Iya, Dek. Kamu tau dulu Kakak juga begitu, bahkan Kakak berusaha tegar meski tidak mempunyai Orangtua , Kakak terus saja melawan mereka yang mencomooh dan menghina Kakak serta Milsi. Dan sampai sekarang Kakak bisa berdiri dengan kaki Kakak sendiri" ucap Adel lembut.


"Dan kamu juga harus begitu, jangan jadikan kekayaan Mom dan Daddy untuk beleha-leha. Bukan tidak boleh tetapi kita harus mandiri dan membuat Orangtua bangga, biar kita perempuan tetapi kita harus kuat" ucap Adel kembali.


"Ya aku juga tidak ingin mendapatkan pasangan atau sahabat yang memandang bahea aku adalah Putri Ardmaja dan Cucu Pramudya" balas Qilla serius.


"Anak pintar, tetapi kamu harus ingat bahwa Dunia luar itu sangat keras dan Kakak anjurkan kamu harus belajar beladiri dari Om Tama" ucap Adel mengelus kepala Adik Iparnya yang menyender di bahu nya.


"Siap , Kakak ku" balas Qilla dengan memeluk tubuh Adel.


Kafka dan Elga tersenyum mendengarkan curhatan Qilla pada Adel.


"Ada apa ini , kenapa pelukan tidak ajak-ajak" ucap Kafka dengan duduk di sebelah sang istri.


"Abang, boleh tidak sih kalau Kak Adel tinggal sama aku aja disana" ceplos Qilla.


"Tidak bisa, dia hanyabakan tinggal dimana Abang tinggal" bantah Kafka kesal.


"Ihhh biasa aja cuma bercanda doang" ketus Qilla menjulurkan lidah nya.


Kafka sudah ingin bicara tetapi di tatap Adel langsung saja memalingkan wajah nya.


"Udah , makan dulu nanti kita ngobrol lagi" ucap Ayu yang membawa makanan dengan di bantu Milsi dan Mbak Lala.


Adel bangun dari duduknya dan langsung membantu sang mertua menata makanan di atas meja.


Lalu Adel mengambilkan makanan untuk sang suami dan juga diri nya.


Mereka memulai makan malam dengan hening hanya dentingan sendok saja yang terdengar.


.


.


.