
Clayton memandang jam dipergelangan tangan kirinya dengan wajah sedikit kesal.
"Kamu terlambat sepuluh menit, Dokter Anne!"
Adrianne menundukkan kepalanya dengan wajah sedikit memelas.
"Maaf, aku sudah berusaha untuk selalu tepat waktu, tapi kali ini aku tak bisa menghindari. Ada segerombolan orang berdemo diseputaran sebuah lampu merah dan menyebabkan sedikit kemacetan. Aku tak bisa berbuat apa apa kecuali harus menunggu." Adrianne berusaha menghindari tatapan tajam Clayton didepannya.
Clayton menarik nafas perlahan-lahan.
"Bantu aku naik ke tempat tidur jelek itu." perintah Clayton.
Tanpa menunggu lama, Adrianne langsung menaruh tasnya dan mendekati Clayton. Pikirnya, tumben si tampan ini gak marah marah. Setidaknya hal terburuk yang sudah Ia bayangkan bakal terjadi, ternyata meleset!
Adrianne merasa sedikit salah tingkah juga bagaimana harus menolong pasiennya untuk naik ke tempat tidur yang lumayan tinggi, mengingat kekuatannya tidak sebanding dengan beban disampingnya.
"Hey...kenapa melongo? Mau periksa aku disana atau tidak sih?" suara Clayton mengagetkan Adrianne yang masih berkutat dengan pikirannya.
"I..iya... maaf aku bantu kamu berdiri sekarang." ucap Adrianne sedikit gugup. Ia mendorong kursi roda itu lebih dekat ketempat tidur periksa kemudian memasang rem agar kursi itu tidak bergerak kemana mana.
Adrianne kemudian melingkarkan salah satu tangannya ke pinggang Clayton dan serta merta Clayton langsung melingkarkan pula salah satu tangannya dibahu Adrianne sedang tangan yang satunya masih bertumpu dikursi roda.
Walaupun agak susah payah, Adrianne terus berupaya menopang tubuh Clayton. Salah satu tangan Clayton kini sudah bertumpu pada tempat tidur didepannya sehingga beban Adrianne sedikit berkurang. Adrianne berusaha keras membalikkan badan Clayton yang baru disadarinya ternyata postur Clayton sangat tinggi. Selama ini tidak begitu terlihat karena Ia terus duduk di kursi roda itu.
Kini Adrianne membantu Clayton untuk duduk ditempat tidur. Karena postur tubuhnya yang tinggi, tidak begitu susah baginya untuk melakukan hal itu.
Adrianne berusaha membenarkan posisinya yang kini justru kurang tepat. Kakinya masih saling silang dan Ia ingin membenarkannya tapi tangannya masih tersilang dipinggang Clayton. Adrianne hilang keseimbangan, Ia hendak jatuh tapi dengan cepat kedua tangan Clayton menahannya sehingga Adrianne tertarik dengan kuat ke arah Clayton dan tak bisa dihindari, keduanya jatuh ketempat tidur itu dengan posisi Adrianne yang menindih Clayton. Wajah mereka saling bersentuhan tanpa sengaja.
Sejenak keduanya saling tatap dengan detak jantung yang sama-sama cepat.
Sedetik kemudian, Adrianne mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Clayton dengan wajah yang sedikit memucat.
Clayton yang tersadar dengan insiden itu, lekas lekas mengatur posisinya dengan benar. Keduanya menjadi kaku dan salah tingkah.
Clayton berusaha mengatur nafasnya. Ada perasaan aneh yang menyusup dalam hatinya ketika wajah mereka saling bersentuhan. Tapi Clayton berusaha menepis itu.
Adrianne yang masih terlihat gugup kini segera mengatur peralatan terapi. Ia berusaha menenangkan deru jantungnya yang belum mau reda juga. Ia kemudian memandang kearah Clayton.
"Mungkin lain kali, kita harus meminta tolong salah satu pelayanmu. Ak....aku...tidak cukup kuat menopangmu. Aku takut kamu justru bisa cedera gara gara aku."
Clayton menatap balik ke wajah Adrianne. "Maaf sudah merepotkanmu, Dokter Anne."
Adrianne tersenyum kecil sambil mulai melakukan terapi dikaki Clayton. Hari ini Clayton memakai celana pendek selutut agar mempermudah terapinya.
Terapi berjalan selama hampir satu jam. Adrianne juga sesekali mencatat pada bukunya tentang detil jenis terapi yang Ia lakukan beserta kemajuan atau juga kendala yang ada selama terapi berlangsung. Ia senang karena Clayton sangat koperatif dan tak banyak mengeluh atau mengomel. Clayton banyak diam selama terapinya. Malahan Ia hanya menutup matanya menikmati sentuhan alat alat dikedua kakinya. Tanpa terasa Ia pun tertidur beberapa menit.
Clayton membuka matanya perlahan, Ia baru sadar kalau Ia telah tertidur rupanya. Ia berpaling pada wajah disampingnya yang tidak sadar kalau pasiennya sudah bangun dan sedang menikmati memandang wajahnya.
Ada rasa kagum yang mengalir dalam setiap pembuluh darahnya. Wajah didepannya sungguh menawan ketika sedang diam membaca. Clayton tak dapat memalingkan wajahnya dari wajah itu. Ia menikmati betul setiap lekuk wajah dokter cantik itu.
"Maaf, apa terapiku sudah selesai?" pertanyaan Clayton sedikit mengejutkan Adrianne. Adrianne langsung tersenyum dan berdiri mendekati Clayton.
"Iya. Kita sudah selesai. Terima kasih sudah menjadi pasien yang baik hari ini." ucap Adrianne dengan penuh kelembutan.
Tiba-tiba saja kedua pipi Adrianne sudah terasa hangat dan memerah ketika mata mereka saling menatap. Tatapan Clayton sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Yang jelas, tatapan itu sangat menggetarkan hatinya!
"Aku akan memanggil pelayan untuk membantumu duduk di kursi." kata Adrianne berusaha menyembunyikan gejolak yang sudah muncul lagi.
Beberapa menit kemudian muncul seorang pelayan laki-laki dan membantu Clayton duduk dikursi rodanya. Setelah minta diri, pelayan itu langsung berlalu.
"Boleh aku yang dorong kursi rodamu?" Tanya Adrianne yang langsung disambut dengan anggukan kepala Clayton.
"Antar aku keruang serbagunaku." ucap Clayton. "Aku ingin bermain piano denganmu."
Adrianne tersenyum sambil mendorong kursi Clayton kearah ruangan serba guna. Clayton membuka pintu itu dan Adrianne langsung mendorong Clayton didepan pianonya.
Adriane meraih bangku khusus untuk bermain piano di dekat situ yang disingkirkan karena Clayton tidak bisa memakainya. Kini mereka berdua sudah berdampingan didepan piano.
"Spring Waltz, music yang katamu membuatmu menjadi penggemarku." ucap Clayton sambil menatap wajah disampingnya.
Adrianne membalas tatapan Clayton dengan senyuman. "Ajari aku ya. Jari jariku sudah agak kaku karena lama tak menyentuh lagi piano."
Clayton tersenyum lembut dan langsung memainkan jemarinya diatas tuts tuts piano. Adrianne berusaha mengimbangi permainan Clayton. Tanpa Adrianne sadari, jari jarinya menjadi lancar dengan sendirinya seperti waktu sedang bermain bersama ibunya.
Permainan itu semakin menyatu. Walau terkadang jemari mereka saling bertautan, tapi tidak mengacaukan satupun nada dalam alunan musik itu.
Pikiran Adrianne terbang kemasa kecilnya. Wajah ibunya terasa sangat dekat dan nyata, membuat gerakan jari jarinya semakin lihai diantara jemari Clayton sampai musik itu selesai.
Clayton memandang wajah Adrianne dengan penuh kekaguman sedangkan Adrianne masih tertunduk menatap piano didepannya.
"Amazing, Dokter Anne!" ucap Clayton dengan matanya yang belum lepas dari wajah didepannya.
Adrianne membalas tatapan Clayton dengan senyum yang merekah, "Kamu yang hebat, Clay. Baru sekali ajarin aku, langsung sukses."
Keduanya tertawa dengan tatapan sejuta arti.
Clayton belum pernah tertawa lepas seperti itu. Ia sendiri menyadari mungkinkah ada yang berubah dari dirinya? pikirnya. Ia tak mau bertanya pada dirinya lebih jauh lagi. Yang Ia tahu, Ia harus belajar membuka diri perlahan-lahan. Baginya, hari itu adalah hari terindah dalam hidupnya selama beberapa tahun belakangan ini.