Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Penyergapan



Seorang pria paruh baya sedang menghisap cerutu ditangannya sambil tersenyum puas memandang dokumen didepannya.


"Benar juga katamu. Ia lebih sayang istrinya ketimbang hartanya."


Wanita didepannya tersenyum lebar.


"Cepat uangkan semua aset itu sebelum mereka menemukan si dokter tersebut. Aku baru saja memindahkannya ke sebuah gedung tua dilantai paling atas. Tak seorangpun dapat menemukannya disana."


Pria yang adalah paman Clayton itu tersenyum menyeringai.


"Jangan khawatir sweetie, segera! Bagianmu akan langsung ditransfer."


"Aku mau uang tunai!" suaranya meninggi.


"Ya ampun, sweetie. Kamu kira gampang dan cepat menarik uang tunai sebanyak itu dibank? Kita harus lari keluar negeri dulu supaya bisa tarik uangnya disana." ucap Ardiansyah dengan nada sedikit kesal.


"Kita harus tunggu semua tenang dulu baru bisa segera bergerak. Jangan tergesa-gesa nanti semua jadi kacau. Mengerti kamu?"


Mendengar perkataan Ardiansyah, Rachella mengangguk dengan wajah masam.


"Jangan sampai seperti dulu, uang penjualan asetnya cuma habis semalam di meja judi sebelum aku menikmatinya!"


Ardiansyah tersenyum sinis.


"Aku tahu apa yang kulakukan! Kamu tenang saja dan jangan sampai membuat kesalahan karena Clayton sangat berbeda dengan ayahnya. Ia sanggup melakukan apapun apalagi kita telah menyandera istrinya, barang paling berharga baginya!"


Rachella menarik nafasnya. "Aku akan menelpon dua lelaki suruhanmu itu untuk membawakan si dokter itu sekardus air mineral dan juga makanan. Aku tak ingin perempuan itu mati disana dan kita dalam masalah lebih besar lagi."


Sedetik kemudian Rachella tengah memberi perintah pada seseorang. Ketika Ia baru selesai berbicara dihapenya, tiba-tiba pintu terbuka dengan paksa.


Baik Ardiansyah dan Rachella sangat terkejut demi melihat lima orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup sedang menodongkan senjata kearah keduanya.


"Jangan bergerak atau kalian mati di tempat!" perintah seseorang dari mereka.


Keduanya langsung mengangkat tangan mereka keudara dengan wajah tegang diselimuti ketakutan.


"Borgol tangan mereka dan bawa ke mobil."


Seseorang memborgol tangan Ardiansyah dan Rachella serta membawa mereka dari situ.


# Disebuah Markas


Clayton menatap tajam kearah dua orang didepannya. Wajahnya menyiratkan kemarahan dan kebencian.


"Dimana istri saya Paman? Tolong jangan persulit situasi ini. Katakan dimana istri saya atau kalian tidak mendapatkan bagian yang sudah aku berikan dan menghabiskan hidup kalian dipenjara!" ucap Clayton dengan nada marah.


"Hahaha.... Clayton, Clayton! Kami tidak sebodoh itu memberitahukannya padamu. Istrimu tak lama lagi akan mati jika kamu menahan kami. Siapa yang akan memberinya makan, heh?" ucap pamannya dengan wajah menantang.


"Atau begini saja,.." lanjut pamannya.


"Kamu uangkan semua aset yang sudah kamu tandatangani tersebut dan transfer ke rekeningku segera. Kemudian lepaskan kami. Paman akan segera memberitahukan dimana istrimu berada."


Clayton terlihat semakin berang. Ia meninju meja didepannya dan berteriak.


"Dasar perampok berdasi! Jaga ketat mereka dan jangan sampai lolos." ucap Clayton pada dua anggota Banteng Hitam disitu.


"Oh, iya. Tolong suruh anggota lain mencari dua lelaki muda dalam foto ini, kemungkinan besar mereka tahu keberadaan istriku. Tangkap mereka jika sudah ketemu!" Clayton kemudian keluar sambil membanting pintu dibelakangnya.


Clayton berjalan mondar-mandir sambil sesekali meremas kepalanya. Ia kelihatan sangat putus asa.


Seseorang mengetuk pintu dan masuk. Orang itu adalah detektif yang disewanya.


"Boss, maaf mengganggu. Ini saya bawakan bukti-bukti yang akan menjerat paman anda dipengadilan. Maaf, agak lama mengumpulkan bukti-bukti ini karena paman anda sangat lihai dalam berpindah-pindah tempat tinggal."


Clayton tersenyum paksa kemudian mengambil bukti berupa sebuah flashdisk dan dokumen dalam sebuah amplop. Ia kemudian membuka laptopnya dan memeriksa semua bukti dalam flashdisk dan mengopinya ke laptop dan beberapa tempat penyimpanan virtual.


"Kerja yang sangat bagus, Bro! Terima kasih. Aku akan segera mentransfer sisa bayarannya sekarang juga." ucap Clayton sambil melakukan transferan di laptopnya.


Clayton menjabat tangan orang itu dan melihatnya berlalu dari situ.


Sedetik kemudian, Clayton menghubungi kantor polisi dan juga pengacaranya.


Setelah membereskan semua urusan hari itu, Clayton keluar dari Markas Banteng Hitam dan kembali ke kantornya.


Hatinya sangat gelisah karena gagal mendapatkan informasi tentang keberadaan istrinya.


"Anne, kamu dimana, sayang? Apakah kamu baik-baik saja?" gumamnya dalam kepedihan hati yang dibalut kesedihan.