Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Permintaan Khusus



Setelah keheningan sesaat diantara Nyonya Dara dan Adrianne, akhirnya Nyonya Dara berinisiatif untuk memulai percakapan diantara keduanya.


"Dokter Anne, pertama-tama saya ingin berterima kasih padamu karena telah menerima tugas ini."


Adrianne tersenyum, "Saya berharap saya bisa membantu anak anda, Nyonya. Oh, iya...tolong panggil saja saya Anne supaya tidak kedengaran terlalu formal."


Nyonya Dara tersenyum lembut mendengar itu. "Baiklah Nak Anne."


Tiba-tiba wajah Nyonya Dara sedikit berubah Ia terlihat seperti berat untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.


"Nak Anne, ada hal yang harus kamu ketahui sebelum kamu memulai pekerjaanmu menolong putra saya." Nyonya Dara berusaha mengatur letak duduknya untuk menutupi kegelisahannya.


"Anak saya lumpuh sejak beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya Ia masih punya harapan untuk dapat berjalan kembali, tapi..." Nyonya Dara menggelengkan kepalanya perlahan menahan perasaan yang menggetarkan suaranya.


"Anne, putra saya bernama Clayton. Clay dahulu adalah seorang yang sangat bahagia dengan hidupnya. Ia seorang yang murah senyum dan pekerja keras walaupun terkadang agak keras kepala juga pada ayahnya. Tapi itupun karena Ia punya alasan yang masuk akal untuk mempertahankan pendapat dan keinginannya. Namun....kamu tak akan pernah lagi mendapatkan kehangatan itu pada pribadi Clay yang sekarang. Karena....sejak Ia lumpuh, Ia menjadi sangat sensitif, terutama mudah marah dan mengutuki dirinya. Ia benar benar menjadi orang yang sangat berputus asa." Nyonya Dara berhenti sejenak, Ia terlihat sedikit lega dan tidak setegang diawal-awal tadi.


Adrianne masih terus menunggu kelanjutan pembicaraan Nyonya Dara. Baginya Ia sangat bersyukur jika Nyonya Dara mau berterus terang padanya tentang semua hal menyangkut putranya karena hal itu akan mempermudah baginya mengenal terlebih dahulu tentang calon pasiennya.


"Maaf, sebelumnya Nak Anne, tentang apa yang menimpa anak saya, saya tidak bisa memberitahukan karena kami sudah berusaha mengubur dalam dalam tentang peristiwa itu. Semua hal yang berkaitan dengan kondisi fisik dan kejiwaannya, semua bisa kamu baca dalam rekam medisnya dari dokter-dokter terdahulu."


Mendengar penjelasan Nyonya Dara, Adriane sangat memaklumi. Ia juga tak mau tahu secara detil tentang musibah yang menimpa putra Nyonya Dara dimasa lalu. Baginya, yang paling penting sekarang ini adalah pengobatan putra Nyonya Dara dan bagaimana memulihkan keadaan mentalnya nanti.


"Clayton bisa saja membentak atau bahkan mengeluarkan kata-kata yang akan menyakitkan hatimu tapi percayalah......Clayton sebenarnya seorang pria yang baik dan penuh kelembutan. Hanya rasa tak berani menerima kenyataanlah yang telah mengubahnya menjadi sosok seperti sekarang ini."


Nyonya Dara meraih kedua jemari Adrianne kemudian memandang wajah cantik itu dengan wajah memelas.


"Saya mohon, Anne. Maukah kamu berjanji pada saya bahwa kamu akan mengabaikan semua perlakuan tidak menyenangkan dari putraku nanti dan akan terus dengan sabar membantunya sampai Ia sembuh?"


Mendengar permintaan tersebut, Adrianne menarik nafas panjang "Bagaimana ini? Bagaimana kalau aku tak sanggup?" bisik pikirannya.


"Nyonya, Saya tidak bisa berjanji untuk hal itu. Tapi untuk menolong anak anda dapat berjalan kembali, Saya janji untuk bisa bersabar."


Mendengar itu, Nyonya Dara tersenyum haru. Setidaknya Adrianne telah berjanji untuk mau sabar mengobati putranya, itu sudah lebih dari cukup baginya.


Siapa lagi yang bisa Ia mintai tolong? Tidak Ada! Semua orang sudah menyerah dengan putranya. Begitu juga dengan suaminya. Jika Dokter Anne mau berjanji untuk putranya, maka hal itu adalah sebuah mujizat! Pikir Nyonya Dara masih menggenggam jemari Adrianne.


Adrianne menatap iba pada sosok didepannya. Dari gambaran yang sudah dijelaskan tadi, Ia sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi di dalam rumah Nyonya Dara. Adrianne bergidik. Hatinya sedikit bergetar seakan tak percaya dengan ucapannya sendiri. "Saya berjanji?" ucapnya mengulangi perkataannya pada Nyonya Dara.


"Aku pasti sudah gila!"