
Sudah sebulan lebih sejak menandatangani surat pengunduran dirinya, Adrianne harus menjalani hari hari hidupnya dengan pergi ke perpustakan kota untuk sekedar membaca berita online tentang kesehatan walaupun Ia sebenarnya bisa melakukannya dari apartemennya tapi Ia tak ingin hanya terus mengurung dirinya. Disela sela itu, Ia juga menulis puisi tentang hidupnya yang terpuruk dan sedang berusaha untuk bangkit.
Bagi Adrianne, menjalani hari harinya sebagai seorang pengangguran sangatlah menyiksa. Terkadang Ia masih juga menangis hingga pagi menjelang. Hukuman dari masa lalunya tak pernah Ia sesali lagi. Baginya Ia pantas menerima semua itu.
Beruntung ada Matteo, Kinanti dan juga Damian yang silih berganti menjadi sahabat tempat Adrianne mencurahkan keluh kesahnya. Ia tak tahu apakah Ia masih hidup sampai hari ini jika mereka tidak pernah menghiburnya.
Adrianne menatap wajahnya di cermin. "Agak kurusan!" gumamnya. Malam itu Damian berjanji akan menjemputnya sepulang kantor. Damian mengajak Adrianne untuk makan malam disebuah cafe.
Bell apartemennya berbunyi. Adrianne segera meraih tas dan hapenya.
Senyumnya langsung mengembang ketika mendapati sosok cute dihadapannya yang masih lengkap dengan jas kerjanya.
"Sudah siap?" Tanya Damian dengan senyuman.
Adrianne mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo." kata Adrianne sambil menggandeng lengan Damian.
"Kamu cantik sekali malam ini. Aku rasa Clayton rugi besar melepaskanmu." ucap Damian sambil tertawa kecil.
Adrianne ikut tertawa juga. Inilah yang paling Ia sukai dari Damian. Ia suka bercanda dalam situasi apapun.
"Rugi apanya? Toh akukan pengangguran sekarang, jadi yah....udah gak punya nilai jual hahaha"
Mereka tertawa lagi sambil menuju tempat mobil Damian diparkir. Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba disebuah cafe dan langsung duduk berhadapan di meja yang sudah dipesan oleh Damian.
Mereka memesan makanan dan minuman kesukaan masing masing. Sambil sesekali bercanda, keduanya menikmati suguhan cafe itu.
"Bagaimana makanannya? Enak bukan? Aku lihat kamu makannya lumayan lahap." ucap Damian yang membuat Adrianne tersipu.
"Gimana gak lahap? Akukan pengangguran jadi sudah jarang makan enak seperti ini." ucap Adrianne dengan polos.
"Apalagi kalau ditraktir, tambah enak dong makanannya." ujar Damian dan langsung membuat Adrianne terbahak bahak.
"Jangan menyiggungku, Damian. Sekarang ini kamu harus kerja lebih keras lagi karena sahabatmu ini benar benar bergantung pada traktiranmu." seru Adrianne dengan wajah dibuat serius.
Keduanya tertawa lepas lagi sampai sampai Damian harus mengambil tissue dan menyeka sisa minuman yang membasahi dagu Adrianne karena kebanyakan tertawa.
Tak jauh dari tempat mereka berdua duduk, ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi keberadaan mereka. Sosok itu adalah Clayton yang sedang menatap tajam kearah dua insan yang kelihatan bahagia.
Ada rasa panas yang merayap perlahan dalam dadanya. Rasa yang selalu berusaha Ia hilangkan jika melihat Adrianne bersama pria itu. Berkali kalipun Ia coba untuk mengusir perasaan kesal itu tapi selalu gagal.
Ia tak rela melihat Adrianne bahagia dengan pria itu yang jelas jelas kelihatan sangat peduli dan mencintai Adrianne.
"Sial! Mengapa aku harus bertemu mereka?" gumam Clayton. Tiba tiba Ia merasa gerah. Ia tak menyangka jika Ia dibakar rasa cemburu yang seperti hendak melumpuhkan seluruh persendiannya.
Pikirannya serasa buntu. Matanya tak lepas memandang Adrianne yang terlihat sesekali tertawa lepas tanpa beban.
Apakah skenario untuk membuat gadis itu menderita tidak berhasil? Pikirnya. Mengapa Ia kelihatan baik baik saja? Bukankah Ia seharusnya sedang meratapi nasibnya dan bukannya sedang bersenang senang seperti saat ini?
Pertanyaan demi pertanyaan terus berseliweran di kepala Clayton. Ia merasa gagal untuk membuat Adrianne menderita seperti dirinya dulu.
Clayton tak tahan juga berlama lama dicafe itu, Ia akhirnya membayar minumannya dan segera berlalu dari tempat itu.
.
.
.
.
Damian menatap Adrianne dengan perasaan iba. Sebenarnya Ia tidak mau menanyakan pertanyaan tersebut tapi Ia ingin tahu sejauh mana usaha Adrianne untuk dapat kembali memperoleh pekerjaan.
"Anne, gimana dengan lamaranmu yang tempo hari kamu ceritakan itu? Sudah ada jawaban?" Tanya Damian sedikit ragu.
Adrianne tersenyum kecut sambil menggeleng pelan.
"Aku sudah mengirimkan lamaranku disepuluh rumah sakit yang berbeda diluar kota ini, tapi....belum satupun yang menghubungiku. Seburuk itukah recordku sehingga tak satupun yang berani menerimaku?"
Damian menggenggam jemari Adrianne yang terasa dingin, mencoba menyalurkan kekuatan pada sosok didepannya yang kini tertunduk sedih.
"Coba lagi ya? Jangan menyerah!"
Adrianne berusaha menguatkan dirinya agar tidak ada lagi air mata yang jatuh. Baginya sudah cukup Damian menyaksikannya terlalu sering menangis setiap kali berbagi masalah.
"Mungkin...sudah waktunya aku mempertimbangkan tawaran pamanku untuk kerja diluar negeri." Adrianne menarik nafas dengan berat. "Sepertinya sudah tak ada lagi tempat bagiku di negara ini."
Damian mencoba menepuk pundak Adrianne dengan lembut. Ia sangat merasakan apa yang sedang dialami gadis didepannya.
"Jika itu yang terbaik, mengapa tidak kamu coba? Anne, aku percaya kamu akan tetap bersinar dimanapun kamu berada. Walaupun.....bagiku jika kamu pergi jauh....ak..akulah yang paling merasakan kehilangan." ucap Damian penuh ketulusan.
"Damian. Kamu sudah terlalu baik selama ini. Sejak kita masih kecil hingga dewasa, kamu selalu ada disetiap musim hidupku. Seandainya....ah sudahlah." gumam Adrianne pelan sambil tersenyum sekilas.
Dalam pikirannya Ia sangat mengharapkan dapat mengenal Damian pada dimensi yang berbeda agar ada kemungkinan cinta muncul di hatinya. Tapi kenyataan tak pernah bisa merubah hati dan perasaannya kalau Ia tak pernah bisa untuk mencintai Damian lebih dari seorang kakak. Damian terlalu baik dan spesial. Ia pantas untuk dikasihi sebagai seorang saudara.
"Anne. Kamu bisa berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik. Aku akan menghubungi seorang teman baikku di Moskow. Ia memiliki sebuah klinik disana. Ia dulu sangat terkenal sebagai seorang aktris. Tapi entah mengapa Ia tiba tiba berhenti dan menetap di Moskow. Ia tak pernah menceritakan hal itu padaku. Aku akan mencoba menghubunginya lewat email. Akan aku kabari jika kamu tertarik. Jangan kuatir, jika kamu diterima nanti, klinik disana menggunakan pengantar Bahasa Inggris. Kamu juga pasti bisa belajar bahasa Russia yang terkenal lumayan susah juga."
Adrianne menatap Damian dengan pandangan kagum. "Wah... enaknya jadi pebisnis, banyak kenalan dimana mana. Akan aku pertimbangkan semuanya." Adrianne tersenyum lega. Diantara yakin dan tidak, suka atau tidak suka, Ia harus meneruskan karirnya dimanapun takdir membawanya.
Kota dimana Ia tinggal tidak lagi memberi tempat baginya. Uang pesangon yang diterimanya akan terus menipis jika Ia hanya berdiam. Walaupun Paman dan Bibinya selalu memaksanya menerima uang pemberian mereka, bagi Adrianne Ia tak pantas lagi. Cukuplah Paman dan Bibinya sudah merawat bahkan menyekolahkannya sampai menyandang status Dokter Ahli Saraf. Berapa banyak uang yang telah dikeluarkan Paman dan Bibinya untuk semua itu? Yang pasti Adrianne sudah bertekad untuk tidak lagi membebani mereka.