Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Berdamai Dengan Hati



Adrianne membuka matanya dan melirik ke arah jam disampingkan. Pukul tujuh. Ia sengaja tidak bangun lebih pagi karena jadwal tugasnya hari ini adalah pukul dua sore sampai pukul sepuluh malam.


Ia telah memutuskan untuk membuat sarapan nasi goreng ayam karena selama ini menu yang dibuatnya lebih ke selera Western. Berbekal bumbu bumbu yang dibeli Clayton dari pasar Asia tempo hari, Adrianne sedapat mungkin membuat nasi gorengnya spesial.


Clayton yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian di ruang laundry, mencium harumnya aroma nasi goreng yang sangat jarang dinikmatinya selama berada di negara tersebut.


"Met pagi, Anne. Harum banget masakannya." ucap Clayton dengan ramah.


Adrianne tersenyum pada Clayton. Sesuai tekadnya semalam, Ia harus bersikap biasa biasa saja pada Clayton.


"Duduklah Clay. Sebentar lagi sarapannya siap."


Adrianne mengatur meja makan. Ia kemudian meletakan sebaskom penuh nasi goreng diatas meja beserta sambal dan kerupuknya. Ia juga tak lupa menuangkan segelas orange jus untuk Clayton.


Clayton kelihatan sangat bersemangat. "Makasih ya Anne. Aku merasa ada yang mengurusku semenjak kamu disini, terutama soal makanan." ujar Clayton sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


Adrianne hanya mengangguk.


"Makasih juga sudah menampungku sementara ini." ucap Adrianne sambil meneguk jus jeruknya.


"Oh iya, maaf ya kemarin kalau aku gak mood bicara sama kamu. Selain lelah, aku lagi datang bulan nih jadi emosiku sedikit sensitif. Sorry yah."


Adrianne dengan sangat terpaksa harus berdusta. Padahal Ia tidak sedang datang bulan. Ia hanya berusaha mencari alasan yang paling masuk akal agar di mata Clayton semua terlihat natural.


Clayton mengangguk pertanda memgerti.


"Setidaknya kalau misal kita berjodoh, aku udah tahu alasan kalau kamu tiba tiba bad mood tanpa alasan yang jelas." goda Clayton.


Adrianne memandang Clayton dengan wajah datar. "Berhentilah bercanda seperti itu, Clay. Aku merasa gak nyaman setiap kali kamu bercanda soal kita. Please stick it in your mind that there's no 'we' or 'us'. Oh iya, satu lagi. Don't you ever dare kiss me again! It hurts me!"


Mendengar perkataan Adrianne, Clayton terkesima sesaat. Mimik Adrianne benar benar serius. Clayton menyadari bahwa beberapa hari ini Ia suka menggoda Adrianne bahkan telah berani menciumnya. Clayton berpikir bahwa Adrianne tidak keberatan tapi Ia ternyata salah.


"Forgive me, Anne." ucap Clayton dengan wajah menyesal. Aku memang sudah keterlaluan padamu."


Adrianne tersenyum. "Permintaan maaf diterima."


Tiba tiba hape di dalam saku Adrianne bergetar. Ada pesan yang masuk dan Ia pun membuka pesan itu. Senyuman langsung menghias wajahnya.


"Clay, ledeng di apartemenku sudah selesai diperbaiki. Aku akan pindah sekarang."


Mendengar itu ada rasa kecewa dihati Clayton karena itu pertanda Ia akan sangat jarang lagi melihat Adrianne.


"Baguslah kalau begitu. Aku akan antar kamu membawa barang barangmu sekalian mengantarmu ke klinik." ucap Clayton berpura pura senang.


Adrianne mengangguk tanda menerima tawaran Clayton.


"Makasih ya Clay atas pertolonganmu selama ini. Gara gara aku kamu harus tidur meringkuk di sofa kecil itu."


Merekapun bersiap siap setelah selesai makan. Adrianne dibantu oleh Clayton menurunkan dua koper besarnya dari lantai atas menuju ke parkiran di basement.


Dalam perjalanan menuju apartment Adrianne, Clayton banyak termenung. Ia merasa Adrianne yang pernah Ia kenal tidaklah sama dengan yang Ada dihadapannya saat ini. Pikirnya, waktu dua tahun dimana Ia sempat kehilangan jejak Adrianne, benar benar telah mengubah banyak hal. Namun bagi Clayton, perasaannya pada Adrianne tidak pernah berubah yang tersisa hanyalah keraguan dan ketakutan bahwa Adrianne telah benar benar menghapusnya dari hati.


Tut...tut...tut...


Hape Adrianne berbunyi, mengagetkan Clayton dari lamunannya.


Clayton melirik wajah Adrianne yang sedang tersenyum ketika membaca nama dilayar hapenya.


Adrianne: "Ya Halo Damian. Apa kabarmu?"


Deg!! Mendengar nama tersebut diucapkan Adrianne, jantung Clayton seakan berpindah dari posisinya.


Damian: "Aku baik baik aja, Anne. Moga kamu juga ya. Aku kangen banget sama kamu."


Adrianne: "Iya, aku juga kangen banget sama kamu. Kalau kontrakku udah selesai aku kayaknya akan segera balik ke Indonesia. Tiga tahun kayaknya udah cukup."


Damian: Wah...aku senang banget. By the way, banyak selamat ya atas prestasimu sebagai Dokter dengan performa terbaik tahun ini di klinikmu. Elle yang bilang padaku. Aku bertemu dengannya kemarin. Ia banyak cerita soal kamu."


Adrianne: Makasih Damian. Kalau aku tiba nanti, kamu mau kasih aku kado apa atas prestasiku itu.


Tanpa sengaja jari Adrianne menekan tombol 'speaker' sehingga suara Damian diseberang terdengar sampai ke telinga Clayton.


Damian: "Pertama tama aku akan memelukmu erat erat seharian! Setelah itu mengajakmu dinner di restorant terbaik."


Adrianne yang panik ketika suara percakapannya menjadi keras, langsung cepat cepat menekan tombol 'speaker off". Aksinya yang gugup itu menyebabkan hapenya hampir jatuh tapi dengan sigap langsung ditangkapnya sebelum meluncur kebawah kaki.


Telinga Clayton sangat panas mendengar bagian percakapan suara Damian tersebut. Ia sangat kesal tapi tidak berdaya. Apakah selama dua tahun itu Adrianne dan Damian telah memadu kasih? Apakah perubahan Adrianne sekarang ini karena hubungannya dengan Damian? Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Clayton, tapi Ia berusaha menyembunyikan hal itu dari Adrianne.


Adrianne masih berbicara dengan Damian ketika mobil berhenti di depan apartemennya. Ia pun langsung mengakhiri percakapannya dengan Damian.


"Makasih Clay, sampai disini saja. Aku bisa membawa koper koper itu sendirian." ucap Adrianne pada Clayton ketika koper kopenya diturunkan.


"Tapi bukankah kamu akan ke klinik? Gak sekalian aku antar? Tanya Clayton.


Adrianne menggeleng. "Masih banyak waktu. Aku akan pergi sendiri. Aku mau bersih bersih apartemenku dulu."


"Baiklah. Sampai jumpa." ucap Clayton kemudian masuk kedalam mobil dan berlalu dari tempat itu.


Sepanjang perjalanan Clayton terus berusaha berdamai dengan hatinya. Pikirnya, Adrianne telah move on dari dirinya. Ia merasa seperti kehilangan yang kedua kalinya. Mengingat perkataan Adrianne pada dirinya tadi pagi, seperti menegaskan bahwa Ia tak boleh lagi memperlakukan Adrianne seperti waktu dulu. Bercanda maupun menggodanya bukan lagi bumbu dalam persahabatan mereka seperti awal awal Ia mengenal Adrianne dimana mereka masih bisa saling bercanda dan menggoda satu sama lain.


Terasa ada yang perih dalam hati Clayton. Baginya, tidaklah gampang menipu hatinya. Waktu telah mengubah banyak hal diantara dia dan Adrianne.


Pikir Clayton, ternyata hukuman untuknya belum juga usai. Setelah keluarganya bangkrut dan terpecah pecah, kini Ia juga harus menerima kenyataan bahwa Adrianne hanyalah miliknya di masa lalu!