Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Jarak yang Menyiksa



Sudah tiga bulan berlalu sejak kepergian Clayton kembali ke Indonesia. Adrianne begitu tersiksa merindukan suaminya. Setiap hari mereka tak pernah absen untuk melepas rindu lewat video call.


Hari itu mereka berdua menghabiskan waktu sampai hampir satu jam mengobrol di hape sampai hape keduanya terasa panas dan kayak mau meledak.


Adrianne sangat senang karena Clayton menunjukkan setiap sisi rumah mereka yang baru dibeli Clayton. Rumah tersebut sangat indah dengan delapan kamar tidur. Sewaktu Adrianne menanyakan Clayton mengapa harus membeli rumah sebesar itu, Clayton hanya menjawab bahwa Ia berencana punya banyak anak sesampainya Adrianne di Indonesia nanti. Adrianne sendiri merasa sedikit kecewa mengapa Ia belum kunjung hamil juga sewaktu masih bersama Clayton. Tapi Clayton tak pernah menuntut soal itu padanya karena bagi Clayton memiliki anak adalah urusan yang diatas.


Setiap hari berganti adalah siksaan bagi Adrianne. Kerinduan terhadap suaminya benar-benar menyiksanya. Beruntung ia memiliki Elle yang bernasib sama dengannya saat ini. Bedanya adalah Elle bisa kembali menjenguk Damian sewaktu-waktu ia suka. Sedangkan dirinya, terikat kontrak yang ketat dan sudah tak punya hak cuti lagi karena sudah pernah mengambil haknya itu.


Clayton sebenarnya beberapa kali akan mengunjunginya tapi nasib belum berpihak padanya karena pekerjaan Clayton yang sangat menguras waktu dan energi.


.


.


.


.


.


# Disuatu kota di Indonesia


Clayton menatap foto Adrianne dihapenya. Entah sudah berapa lama Ia hanya terdiam menikmati wajah istrinya walaupun hanya melalui foto. Entah sudah berapa kali ia biasanya menangis karena rindu yang kian menyiksa. Namun pekerjaannya menyatukan dua perusahaan miliknya dan perusahaan warisan ayahnya bukanlah pekerjaan yang mudah.


Sebuah ketukan terdengar di pintu, Reyhan, orang kepercayaan Clayton masuk sambil membawa beberapa map.


"Pak Clayton, ini adalah berkas-berkas tentang dua orang pegawai kita yang Bapak perintahkan untuk dikeluarkan dari perusahaan kita sewaktu Bapak masih di Russia."


Clayton menerima map-map tersebut dan kemudian membacanya.


"Menurutmu mereka ini sekarang berada dimana? Aku hanya penasaran saja mengapa mereka selalu terlihat secara tak sengaja, selalu berada dimanapun aku pergi. Menurutmu mereka tidak sedang memata-mataiku kan?"


Pertanyaan Clayton membuat Reyhan termenung. "Apakah Bapak yakin? Kalaupun benar, mengapa mereka melakukannya? Lagian mereka seharusnya bersyukur karena Bapak tidak menyuruhku melaporkan mereka pada pihak yang berwajib sewaktu mereka mengadakan persekongkolan menggelapkan dana suatu proyek."


Clayton memijit dahinya sebentar. Ada perasaan tak enak yang merayap dalam dadanya.


"Sejak penggabungan dua perusahaan menjadi satu, aku merasa akhir-akhir ini sering diikuti oleh mereka. Aku ingin sekali mengetahui siapa boss mereka dan apa alasannya mereka melakukan hal itu."


Reyhan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Pak Clayton. Saya jadi khawatir dengan keselamatan Bapak."


Mendengar hal itu, Clayton mengingat kembali kisah ayahnya sewaktu keselamatan keluarga mereka terancam. Selama ini Clayton tidak begitu khawatir karena tak ada yang tahu kalau dirinya sudah menikah kecuali Reyhan, dan Reyhan yang sangat setia, selalu menyimpan semua rahasia bossnya.


Tiba-tiba Clayton meraih hapenya dan mencari nama 'Carlene' adiknya kemudian mulai menelpon.


"Halo Kak." terdengar suara Carlene diseberang.


"Carlene, aku ingin kamu pergi tinggalkan kota ini untuk sementara waktu sampai aku menelponmu jika sudah boleh kembali. Tinggalah untuk sementara waktu di Belanda." ucap Clayton dengan nada panik.


"Kak, ada apa ini? Aku tak mengerti." suara Carlene terdengar meninggi.


"Akan aku jelaskan nanti tapi tolong lakukan saja apa yang aku katakan. Serahkan pada orang kepercayaanmu untuk mengelola restoranmu." Clayton terdengar terengah-engah memberikan perintah.


"Baiklah Kak kalau itu maumu. Kapan aku harus pergi?" Tanya Carlene.


"Secepatnya! Dan ingat, bila bertemu papa dan mama, katakan bahwa kamu hanya ingin liburan. Do you see what I mean?" Clayton mempertegas suaranya.


"Yup. Aku segera bersiap." ucap Carlene kemudian menutup telponnya. Ia merasa kejadian beberapa tahun yang lalu seperti terulang kembali.


Clayton menggigit bibirnya. Perasaan cemas datang menghampirinya. Ia tak menyangka kalau penyatuan dua perusahaannya serta pengaktifan kembali aset-aset ayahnya mulai menuai masalah dengan musuh yang tak terlihat!


Reyhan mengangguk pasti.


"Baik Pak, dengan senang hati." Reyhan kemudian minta diri untuk keluar dari situ.


Clayton termenung. Pikirnya, kenapa bisa ada orang yang ingin mencelakainya? Bukankah dia tak punya musuh selama ini?


Menatap waktu di jam tangannya, Clayton keluar dari ruangannya. Setiap kali keluar dari ruangannya, semua karyawan sering curi-curi pandang pada Clayton, terutama karyawan wanita. Pikir mereka, bagaimana mungkin pria segagah Clayton belum menikah juga? Bahkan pacarpun tidak pernah kelihatan.


Lagian penampilan Clayton yang tidak terlalu formal dan terkesan sangat casual membuat para karyawan tidak puas memandangnya.


# Clayton yang tampil casual di kantornya



Bagi mereka Clayton adalah bos yang dingin dan tak banyak bicara serta lebih sering mengurung diri diruangannya atau turun langsung ke lapangan seharian. Mereka tak tahu kalau Clayton menjadi seperti itu karena ia sangat kesepian dan selalu merindukan istrinya.


Masalah yang sedang dihadapi Clayton saat ini bukanlah masalah biasa. Clayton tak ingin peristiwa yang menimpa keselamatan keluarga ayahnya dulu terulang kembali.


Clayton memasuki ruangan Reyhan tanpa mengetuk.


"Pak Clayton, ada yang bisa saya bantu?"


Clayton menatap Reyhan dengan mimik ragu.


"Reyhan, apa menurutmu kita sebaiknya menyewa seorang penyelidik?"


Reyhan tampak berpikir sejenak.


"Saya rasa itu adalah ide yang baik. Kita perlu seorang penyelidik untuk mendapatkan bukti-bukti serta alibi yang jelas. Kita perlu tahu siapa orang yang berada dibelakang semua ini. Jika kita memperoleh bukti-bukti yang jelas, kita tidak perlu lagi menebak-nebak atau hanya berasumsi saja. Saya rasa semakin cepat semakin baik."


Clayton meneguk segelas kopi ditangannya sambil mengangguk pelan.


"Baiklah. Kamu hubungi seseorang yang akan aku kirimkan nama dan nomornya padamu dan atur pertemuanku dengannya. Ingat, jangan seorangpun tahu. Hari ini kamu temani aku ke bank. Ada beberapa dokumen hibah dari ayahku yang harus aku tanda tangani."


Reyhan mengangguk kemudian berdiri sambil meraih hape dan jacketnya. "Kita berangkat sekarang Pak?"


Clayton mengangguk. "Aku ambil topi dan sunglassesku dulu. Kamu tunggu aku ditempat parkir." ujar Clayton kemudian keluar dan kembali keruangannya.


Hari ini ia agak khawatir untuk pergi melakukan transaksi di bank seorang diri saja sejak ia mengetahui bahwa dirinya sering diintai oleh dua orang mantan pegawainya dulu.


Ketika Clayton dan Reyhan berada dalam perjalanan menuju ke bank, Clayton mengamati sebuah mobil sedan berwarna biru tua yang selalu berada dibelakang mobil mereka sejak keluar dari parkiran.


"Reyhan, apakah kamu mengamati mobil sedan dibelakang kita? Aku perhatikan sedari tadi mereka mengikuti kita."


Reyhan tancap gas lebih cepat lagi.


"Benar Pak. Saya juga memperhatikannya."


Clayton terlihat tegang.


"Reyhan, kita gak jadi ke bank. Kita ke mall aja dulu untuk makan, baru setelah itu aku naik taxi ke bank dan kamu kembali ke kantor saja. Kali ini kita kecoh mereka. Aku gak apa-apa sendirian ke bank. Aku akan membeli pakaian di mall agar penampilanku berbeda."


Reyhan langsung banting strir kearah sebuah mall terdekat. Mobil dibelakang mereka masih mengikuti.


Setelah tiba di mall, Clayton dan Reyhan keluar dari mobil dan langsung menuju sebuah cafe di dalam mall. Mereka makan walaupun sebenarnya belum lapar. Beberapa saat kemudian Clayton menuju kearah toilet. Ia singgah disebuah toko pakaian pria dan mengganti pakaiannya dengan yang baru. Setelah yakin keadaan aman, baru ia menuju kearah pintu keluar dan langsung naik sebuah taxi. Clayton kemudian mengirim pesan pada Reyhan bahwa ia sudah menuju ke bank. Baru setelah itu Reyhan beranjak dari cafe tersebut dan kembali ke kantor sendirian. Mobil sedan tersebut terlihat masih mengikuti mobil yang dibawa oleh Reyhan.


Clayton merasa lega jika taktiknya kali ini ternyata berhasil, walaupun untuk hari-hari kedepan ia tak bisa menjamin semua akan baik-baik saja.