Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Bayangan Masa Lalu



Adrianne harus menerima kenyataan kalau beberapa hari ini Ia sedikit terabaikan oleh tunangannya karena Clayton sedikit sibuk dengan perusahaannya yang baru dan juga urusan lain yang katanya sangat penting baginya.


Tentu saja Ia tidak marah diabaikan begitu karena Clayton sudah memperingatkannya tentang hal itu. Walaupun demikian, Clayton tak pernah lalai menelponnya atau mengajaknya sekedar makan siang bersama jika Ia tidak sedang bertugas.


Namun Adrianne tidak dapat memungkiri kalau Ia sedang gelisah akhir-akhir ini. Sejak Ia dan Clayton berbagi kisah tragedi masa lalu mereka yang mirip, mimpi buruk tentang kecelakaan yang dialaminya kini lebih sering hadir dalam mimpinya baik tidur siang ataupun malam.


Semua cerita Clayton tentang tragedi kecelakaan yang menimpanya seakan seperti sebuah puzzle bagi Adrianne. Ia sendiri tidak mengerti apa hubungan semua itu dengan dirinya.


Adrianne mencoba mengingat kembali pertama kali Clayton berbagi cerita tentang kecelakaannya itu di Cafe Carlene.


"Menurut Clayton yang Ia ingat adalah seorang perempuan muda yang mengeluarkannya dari mobilnya yang terbalik karena mobil itu akan meledak. Dan perempuan itu adalah orang yang menabraknya. Tapi...kemudian Ia diberitahukan orang tuanya bahwa yang menabrak dirinya adalah seorang lelaki paruh baya." gumamnya dengan perasaan bingung dan seakan dihantui rasa aneh yang tidak dimengerti.


Adrianne menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak mungkin. Mustahil! Pria yang kutabrak sudah lama meninggal karena depresi. Paman sudah meyakinkanku akan hal itu." batinnya.


Ia meremas remas rambutnya. Diantara ragu dan ketakutan akan bayangan pria yang wajahnya bersimbah darah itu sewaktu Ia berusaha menolong mengeluarkannya dari mobil yang hendak meledak, Adrianne merasa bergidik.


"Aku tak pernah mengenal wajah pria yang sudah mati itu. Seandainya wajahnya tidak bersimbah darah, setidaknya aku punya gambaran tentang dia." pikirnya.


Rasa bersalah kembali memenuhi hati dan pikiran Adrianne. Ia masih terlalu muda waktu itu. Kejadian itu begitu cepat terjadi dan tak terelakan. Bayangan dirinya waktu itu muncul kembali. Pagi yang naas, ketika Ia harus tergesa gesa untuk mengikuti tes keahlian profesinya sebagai seorang dokter. Ia tak mau terlambat pagi itu. Diakibatkan belajar sampai tengah malam, Adrianne terbangun sedikit terlambat yang mengakibatkan Ia harus memacu mobilnya dengan kecepatan yang tidak biasanya melewati jalan pintas yang sepi.


Sampai saat ini, Adrianne tidak pernah bertanya pada pamannya tentang detil mengapa Ia tidak pernah dituntut. Yang Ia tahu, pamannya yang mengurus semua itu sehingga Adrianne tidak banyak tahu kejadian sesudah itu. Ketika pamannya tiba dilokasi kejadian dalam waktu yang sangat cepat begitu Adrianne selesai menelponnya, mobil pria itu telah terbakar dan meledak. Beberapa saat kemudian, tahu tahu polisi telah tiba dilokasi yang sepi itu dan pamannya langsung berbicara dengan polisi dan tak berselang lama kemudian ambulans tiba dan membawa pria yang masih tergeletak dipangkuan Adrianne. Setelah pria itu dibawa, pamannya langsung memerintahkan dirinya untuk pulang.


Sejak saat itu, Adrianne tidak tahu apa apa lagi dengan nasib pria itu. Baru setahun kemudian ketika Adrianne memberanikan diri bertanya pada pamannya mengenai pria itu dan pamannya mengatakan untuk tidak lagi memikirkan kejadian itu karena pria itu telah meninggal dunia karena depresi berat.


Adrianne benar benar terpukul mengetahui kenyataan itu. Padahal Ia telah bertekad untuk menemui pria itu dan meminta maaf atas segalanya.


Pikiran Adrianne semakin kalut. Ia benar benar tidak mengetahui kejadian sebenarnya setelah kecelakaan itu. Walaupun hal itu tak dapat menghidupkan kembali pria malang yang ditabraknya itu, tapi setidaknya Ia harus mengetahui semuanya.


"Paman adalah satu satunya orang yang dapat menjelaskan semuanya itu padaku. Aku harus menemuinya. Aku berhak tahu segalanya!" ucap Adrianne sambil berusaha menguatkan dirinya.


Hape Adrianne berbunyi, dilayar tertulis ' My Honey'. Senyumnya langsung merekah seketika.


Adrianne:


Ya sayang.


Clayton:


Lagi dimana? Ngapain?


Adrianne:


Lagi diruang emergency. Sudah dua jam tapi belum ada pasien.


Clayton:


Aku kangen. Pengen meluk and cium kamu.


Adrianne:


Aku juga. Kamu sendiri lagi ngapain?


Clayton:


Adrianne:


Maafin aku ya sayang. Malam ini aku rencana mau ke rumah paman. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya. Kalau besok bagaimana?


Clayton:


Okelah kalau begitu. Sampai jumpa besok ya sayang. I love u. 😘😘😘


Adrianne tersenyum mengakhiri percakapannya dengan Clayton. Ia merasa sangat beruntung memiliki Clayton yang sangat perhatian padanya walaupun sesibuk apapun dia.


Adrianne mencari nomor bibinya dilayar hape dan kemudian menelpon dan menunggu jawaban.


"Hallo Anne." terdengar suara bibinya di seberang.


"Hai Bi. Apa kabar?"


"Baik sayang. Kamu sendiri gimana?" Tanya Bibinya.


"Baik baik aja Bi. Oh iya, paman malam ini pulang jam berapa? Ada yang harus aku bicarakan dengan paman."


"Kalau gak salah tadi pamanmu bilang kalau Ia akan sedikit terlambat karena harus ketemu seorang klien setelah pulang kantor. Kira kira jam 9 nanti."


"Ya sudah Bi. Kalau begitu aku nginap aja malam ini disana ya. Mumpung besok aku gak ada jadwal jaga."


"Ya ampun, Anne, sejak kapan kamu harus minta izin untuk nginap disini? Inikan rumahmu juga. Datanglah sebentar, Bibi juga udah kangen kamu. Kebetulan besok pagi Damian mau berkunjung. Ia sudah lama pengen ketemu kamu. Katanya mau ngucapin selamat atas pertunanganmu."


"Wah sudah lumayan lama aku gak ketemu si cute itu. Baiklah Bi. Sampai ketemu nanti malam. Bye bye."


Adrianne mengakhiri percakapan. Ia tersenyum membayangkan wajah si cute, Damian. Sahabat dan tetangganya. Sejak kecil selalu bermain bersama. Hubungan baik mereka menjadi agak renggang sejak Adrianne mengetahui kalau Damian secara terang terangan menyatakan pada paman dan bibinya kalau menyukainya.


Bagi Adrianne Damian sudah seperti kakaknya sendiri. Tak pernah terbersit untuk menganggapnya lebih dari seorang saudara.


Ia menyadari sinyal sinyal yang dikirimkan Damian padanya untuk menunjukkan adanya perasaan suka terhadap dirinya. Namun Adrianne selalu berusaha untuk berpura-pura tidak mengetahui maksud dari semua perasaan yang Damian tunjukkan padanya.


Sejak Adrianne mengetahui dari paman dan bibinya mengenai hal itu, Ia langsung mundur perlahan lahan dan menjadi jarang untuk pulang ke rumah paman dan bibinya. Semua itu agar Ia tidak bertemu lagi dengan Damian.


Tapi sekarang Adrianne sudah tidak memiliki beban lagi untuk bertemu dengan Damian karena dirinya sudah bertunangan.


Adrianne bertekad untuk mengembalikan hubungan persaudaraan yang telah renggang itu seperti sedia kala.


Damian adalah sosok pria lembut dan jarang marah terutama pada dirinya. Sejak kecil Damian selalu berusaha menyenangkan dan melindungi dirinya. Itulah mengapa Adrianne tak pernah bisa untuk jatuh cinta padanya.


Damian adalah sosok saudara yang sangat spesial bagi Adrianne. Sejahat apapun Ia pada Damian, lelaki itu akan selalu memaafkannya.


Adrianne menarik nafasnya dalam dalam. Tak dapat Ia pungkiri kalau Ia kangen juga pada si cute itu. Ia ingin segera menceritakan banyak hal pada Damian, termasuk tentang kisah cintanya dengan Clayton.


DAMIAN ARKAJAYA