
Adrianne tersenyum menyambut kedatangan Clayton yang datang menjemputnya. Sesuai kesepakatan, mereka akan dinner bersama untuk merayakan pernikahan mereka yang baru disahkan beberapa jam yang lalu sekaligus untuk membicarakan bagaimana menghadapi orang tua Clayton nantinya.
"Kita mau dinner dimana?" Tanya Adrianne ketika mobil sudah berjalan.
"Aku pilih sebuah restoran Thailand yang terkenal di pusat kota. Aku sudah membukingnya tadi siang. Aku kangen banget makanan Asia. Gimana, kamu setuju?"
Adrianne mengangguk mantap sambil mengangkat jempolnya pada Clayton.
"Perfecto! Aku mau makan yang pedas banget kali ini."
Clayton tersenyum. "Kamu boleh makan sepuasnya asal jangan sampai sakit perut."
Adrianne menyeringai dengan tatapan jenaka.
"Aku gak kuatir kalau sakit perut. Sekarang kan aku udah punya suami yang bakalan ngurusin aku kalau sakit."
Clayton tertawa. Kali ini cukup keras.
"Anne, kamu jangan mulai bercanda begitu dong. Entar kalau aku yang bercanda kamu bakalan marah lagi."
"Enggak. Janji deh." ucap Adrianne sambil mengangkat dua jari. "Kamu kan udah bersedia bantuin aku memperoleh surat nikah. Tau gak....aku lagi hepi banget hari ini karena setelah mengupload bukti akta nikah kita, sejam kemudian aku dapat email konfirmasi dari panitia acara jamuan Dokter Mikhail Dmitriy kalau aku sudah dapat 2 kursi dalam jamuan tersebut. Untukku dan kamu. Hebat bukan? Mata Adrianne berbinar ceria, seceria senyumnya yang terus terusan merekah karena hal tersebut.
Clayton ikut bahagia mengikuti mood Adrianne. "Wow. How lucky you are! Hmm...berarti kita harus benar benar bermain peran nanti diacara itu. Kita harus tampil mesra supaya para tamu terlebih Dokter Mikhail Dmitriy bisa yakin kalau kita pasangan yang bahagia."
Adrianne menarik nafas dan menghempaskannya dengan cepat.
"Selamat datang di dunia acting, Anne." ucap Adrianne pada diri sendiri.
"Kamu harus ajarin aku beracting, Clay. Kamu mantan aktor jadi mudah bagimu. Sedangkan aku? Setiap hari harus berkutat dengan pasien, aku harus serius setiap waktu. Mungkin aku agak kaku nantinya. Terlebih di depan orang tuamu nanti."
Clayton melirik Adrianne dengan senyum geli.
"Biar aku aja yang beracting. Kamu mengimbangi saja. Intinya kamu gak boleh marah ataupun keberatan jika aku harus beracting meyakinkan mereka. Misal tampil mesra gitu. Gimana?"
Wajah Adrianne terlihat sedikit ragu.
"Ba....baiklah. Tapi... jangan sampai terlalu berlebihan ya. Aku ta..takut...ka."
"Kamu takut kalau aku keterusan ya trus menidurimu?" Potong Clayton.
Adrianne mengangguk pelan tanpa melihat pada Clayton disamping.
"Ya ampun, Anne. Emang aku pria apaan? Tenang aja. Kalau soal yang satu itu, aku pasti minta izin dulu. Kecuali....kalau keadaan memaksa...." ucap Clayton tersenyum menggoda. Adrianne yang melihat wajah Clayton langsung mendaratkan cubitan ke pinggang Clay.
"Maaf...ampun...aku lagi nyetir nih...bisa kecelakaan nih." seru Clayton sambil terus tertawa.
"Awas ya kalau kamu berani macam macam." ancam Adrianne.
Mobil memasuki area parkiran dan keduanya turun menuju ke restoran. Mereka disambut oleh seorang pelayan yang langsung mengantar mereka ke meja yang sudah dipesan.
Keduanya memesan makanan dan minuman kesukaan masing masing. Setelah itu Clayton berpindah tempat duduk disamping Adrianne. Adrianne tidak keberatan sama sekali walaupun mereka kini duduk berhimpitan.
Kesempatan itu dipergunakan Clayton untuk menatap lekat lekat wajah cantik Adrianne serta menghirup bau harum tubuh itu yang mengingatkannya pada keharuman parfum Adrianne ketika mereka pertama kali bertemu di rumah Clayton.
Adrianne menyadari tingkah Clayton disampingnya. Wajahnya terasa memerah.
"Tak bolekah aku menikmati kecantikan istriku?" Tanya Clayton setengah berbisik. Pada saat berbisik, bibirnya sempat menyentuh telinga Adrianne.
Adrianne berusaha meredam debaran jantungnya yang mulai tak beraturan. Sikap Clayton yang manis seperti itulah yang paling Ia takutkan karena itu membuatnya lemah dan tak sanggup menolak!
"Jangan marah, Anne. Kita sekarang sedang berlatih acting. Aku ingin benar benar menghayati peranku kali ini. Dibandingkan dengan peran peranku dulu dibeberapa film, peran menjadi suamimu adalah yang paling aku sukai. Jadi....kamu gak boleh protes. Aku ingin menikmati peran menjadi suamimu karena peran ini gak akan lama begitu urusan masing masing selesai." ucap Clayton dengan lembut kemudian melingkarkan tangannya dipundak Adrianne.
Adrianne tersenyum sepintas. Ia merasa benar benar kaku. Clayton bisa merasakan tubuh Adrianne yang menegang ketika Ia melingkarkan tangannya dipundak gadis itu.
"Susah juga ya punya istri seorang dokter. Apakah semua dokter sekaku ini? Apakah seorang dokter mudah gugup dan tak pandai bermesraan? " ujar Clayton yang disambut dengan tatapan protes oleh Adrianne.
"Jangan meremehkan seorang dokter dalam hal percintaan ya... gak semua seperti itu!" ujar Adrianne dengan nada sedikit kesal.
"Oh begitu ya....berarti kamu termasuk dalam golongan yang aku bilang tadi?" kali ini Clayton benar benar menguji kesabaran Adrianne dengan godaannya.
"Siapa bilang aku dokter serius dan gak bisa bermesraan. Aku gak sekolot itu!"
Setelah mengucapkan kata kata itu, Adrianne menarik wajah Clayton dan mendaratkan ciumannya dibibir Clayton. Adrianne ******* bibir sexy Clayton dengan penuh gairah. Clayton yang sangat terkejut dengan aksi Adrianne yang sangat tak disangka itu, hanya bisa menikmati ciuman Adrianne yang mulai meneroboskan lidahnya kedalam mulutnya. Sedetik kemudian, lidah mereka sudah saling bertautan. Clayton yang merasa tingkah Adrianne berlebihan dan bagaikan sebuah serangan, segera melepaskan ciuman Adrianne dengan paksa. Mereka kini saling menatap. Nafas keduanya saling memburu untuk menghirup udara segar.
"Kenapa? Apakah ciuman seorang dokter membuatmu kewalahan?" tantang Adrianne.
Clayton menjadi salah tingkah. Ia berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang.
"Anne... jangan marah dengan ucapanku tadi. Aku tidak sungguh sungguh ketika mengatakannya. Aku hanya ingin menggodamu saja."
Adrianne tersandar ditempat duduknya mencoba meredam debaran jantungnya.
"Tak masalah. Anggaplah latihan actingku tadi berhasil."
Clayton hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Adrianne. Jauh didasar hatinya Ia sangat bahagia mendapat ciuman tersebut.
"Actingmu luar biasa, Anne. Kau telah membuatku kecanduan, maka jangan marah jika aku menginginkannya lagi nanti."
Adrianne hanya tersenyum. "Jangan menantangku atau mau mengambil keuntungan dari aksiku tadi. Setidaknya dihadapan orang tuamu nanti, aku pastikan bisa mengimbangimu!"
Clayton menatap Adrianne. "Jadi, apakah dengan bermesraan didepan orang tuaku adalah salah satu siasat yang bisa kita terapkan nanti? Kamu yakin mau melakukannya?"
"Ya. Aku ingin orang tuamu benar benar yakin dengan pernikahan kita. Mereka sudah sangat baik padaku. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Aku berharap kamu segera mendapat pengampunan dari ayahmu. Jangan sampai kita melakukan kesalahan disana nanti. Sepanjang ini sudah menjadi kesepakatan kita, aku tak akan keberatan mengimbangi actingmu didepan orang tuamu. Aku akan berusaha menjadi aktris pendatang baru terbaik dalam film sandiwara pernikahan kita." Adrianne tersenyum sambil membalas tatapan Clayton yang terlihat begitu terperangah dengan perkataannya.
"Terima kasih, Anne. Aku akan menilai actingmu nanti, apakah bisa memenangkan penghargaan atau tidak."
Keduanya tertawa dengan suasana hati yang sudah mencair.
Pelayan membawa pesanan mereka lengkap dengan champagne yang dituangkan oleh pelayan tersebut dengan ramah, setelah itu mengucapkan kata selamat menikmati dan berlalu dari hadapan Clayton dan Adrianne.
Clayton mengangkat gelasnya dan berkata,
"Bersulang untuk pernikahan kita dan kesuksesan misi kedepan."
Adrianne mengangkat gelasnya dan mereka bersulang.
Malam itu dinikmati mereka dengan bahagia. Tak Ada lagi kekakuan atau rasa canggung seperti sebelumnya.