Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Tuan Muda Yang Pemarah



Pagi itu terasa seperti dalam sekam bagi beberapa pelayan yang mengurus semua pekerjaan di rumah megah itu. Terlihat satu dua orang sedang berlarian dari lantai atas menuju lantai dasar. Ada yang membawa makanan ada juga yang membawa baskom dan handuk basah.


"Tolong jangan buat Clayton kesal pagi ini." perintah Nyonya Dara kepada seorang pelayan laki-laki dan perempuan yang khusus mengurus Tuan Clayton. "Saya harus menghadiri sebuah acara fashion show yang sangat penting hari ini, dan saya juga harus di wawancara! Kalau keadaan Clayton seperti ini, mana bisa saya tenang?"


Kedua pelayan itu hanya tertunduk dan mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Nyonya Dara.


Salah satu pelayan mengetuk pintu kamar Clayton. "Permisi Tuan Clay, kami sudah siap untuk membantu anda sekarang." kata seorang pelayan laki-laki.


"Masuk!" terdengar sahutan keras dari dalam.


Kedua pelayan itu membuka pintu dan masuk perlahan-lahan.


"Aku sudah bilang jangan lama-lama kalau aku panggil! Apa kalian pikir enak diabaikan?" teriak Clayton pada kedua pelayan itu.


Kedua pelayan itu hanya tertunduk dan diam. Tak berani menatap wajah tuannya yang sedang marah. Walaupun hampir setiap hari tuan mereka memang marah-marah, tetap saja hal itu menakutkan!


"Maaf Tuan. Bell panggilan yang berada diruangan kami ada sedikit gangguan dan harus diperbaiki. Jadi, hanya lampunya yang menyala, tapi suaranya mati. Kami tidak dapat mendengar bunyi panggilan Tuan. Waktu saya melihat lampu berkedip-kedip barulah saya tahu kalau Tuan memanggil kami."


Clayton tidak menoleh sedikitpun pada kedua orang sampingnya. "Kalau begitu, cepat laksanakan tugas kalian, jangan hanya berdiri saja disitu!"


Mendengar perkataan tuannya, pelayan perempuan itu langsung menuju kamar mandi, dan menyalakan air hangat ke dalam bathtub, menaruh sabun aromatherapy dan memastikan kembali bahwa airnya tidak terlalu panas ataupun dingin.


Pelayan lelaki membantu Clayton menyiapkan handuk dan pakaiannya, kemudian mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi. Setelah semuanya siap, pelayan perempuan segera keluar, sedangkan pelayan laki-laki itu tetap tinggal.


Pelayan laki-laki itu kemudian membantu Clay melepaskan pakaiannya, kecuali celana dalamnya. Ia pun kemudian membantu tuannya masuk kedalam bathtub untuk berendam.


Pelayan itu keluar dan menunggu di dalam kamar itu sampai Clayton selesai mandi.


"Aku sudah selesai!" teriak Clayton. Pelayan yang sedang menunggu itu segera masuk dan kemudian membantu Clayton berdiri untuk duduk di kursi rodanya. Selanjutnya adalah berpakaian. Sampai ke tahap ini Clayton tak lagi memerlukan bantuan karena Ia bisa melakukannya sendiri.


"Ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya pelayan itu.


"Tidak. Cukup." kata Clayton dengan singkat.


Ketika pelayan itu hendak minta diri untuk keluar, Clayton berkata lagi, "Jangan lupa sebentar sore, siapkan ruang olah raga dan peralatannya. Aku gak mau seperti kemarin, peralatannya berdebu sampai aku bersin-bersin."


"Baik Tuan. Saya pastikan sore ini semua peralatan dan ruanganya sudah bersih. Saya permisi dulu Tuan Clay." kemudian pelayan itu keluar.


Nyonya Dara membuka pintu kamar Clay ketika Ia mendengar suara anaknya seperti sedang marah dan setengah menangis.


"Clayton, anakku.... kamu kenapa sayang? Biar mama Bantu, nak." seru Nyonya Dara pada Clayton dengan penuh kelembutan.


Tanpa perlu meminta izin anaknya, Nyonya Dara langsung membantu anaknya memakai jeans yang tadinya tersangkut itu. Clayton tidak bisa menolak karena ibunya adalah orang yang sangat disayanginya.


"Maafkan, aku Ma. Aku benar-benar merasa tak berdaya dan tak berguna lagi. Aku rasanya ingin mati saja! Sampai kapan aku terus hidup mengandalkan pertolongan dan belas kasihan orang lain?" ucap Clayton dengan suara serak menahan gejolak dalam hatinya.


"Nak, jangan bicara begitu, sayang. Mama yakin kamu masih bisa sembuh. Setidaknya itu yang dikatakan Dokter Irawan. Jangan khawatir, Mama akan carikan lagi seorang dokter pribadi yang bagus dan tentunya bisa membantu therapy kamu di rumah. Jangan putus asa ya, sayang? Kita hadapi semua sama-sama." Nyonya Dara memeluk anaknya sambil mengelus-elus punggungnya.


"Maafkan kata-kataku tadi Ma, aku hanya ingin hidup normal kembali walaupun impianku tak bisa aku lanjutkan lagi. Setidaknya aku bisa berjalan kembali, itu sudah cukup bagiku." Clayton berucap dengan suara bergetar.


Nyonya Dara tersenyum. "Apapun akan Mama lakukan untuk membantumu bisa berjalan lagi. Kamu pasti bisa Nak. Hanya kamu harus kuat agar dapat mempermudah proses penyembuhanmu."


Clayton hanya memandang Nyonya Dara dengan tatapan yang terkesan kosong.


"Aku akan berusaha Ma, walaupun kedengarannya mustahil bagiku." bisiknya dalam hati.


Nyonya Dara keluar dari kamar anaknya untuk melanjutkan aktifitasnya hari itu. Namun, ada hal yang lebih penting yang harus Ia tuntaskan dulu. Baginya, Clayton lebih penting dari segalanya. Ia mengambil hapenya dan mulai mencari nama milik direktur sebuah rumah sakit swasta, kemudian menelpon.


"Selamat pagi, Dokter Hendrawan. Maaf mengganggu waktu anda."


"Selamat Pagi, Nyonya Dara. Ada yang bisa saya bantu?"


"Iya Dok, mengenai permintaan saya tempo hari, bagaimana Dok? Apakah sudah dapat kandidatnya sesuai permintaan saya? Tanya Nyonya Dara.


"Mohon maaf sebelumnya karena belum menghubungi Nyonya. Semua itu dikarenakan kami belum bisa memenuhi satu kriteria yang Nyonya inginkan. Sebenarnya kriteria lain sudah terpenuhi. Kandidat ini sangat ahli dibidangnya dan Ia bersedia menolong siapa saja yang punya masalah seperti anak Nyonya. Selama ini sudah lumayan banyak pasien yang sembuh dan bisa berjalan lagi dengan terapi yang Ia berikan. Tapi....yah persyaratan yang satu itu tidak sesuai permintaan Nyonya karena Ia seorang perempuan. Sampai saat ini kami belum menemukan dokter ahli saraf laki-laki yang bersedia mengobati anak Nyonya." dokter Hendrawan menjelaskan dengan nada menyesal.


"Dok, saya sudah sangat membutuhkannya. Baiklah, begini saja, tolong hubungi saja dokter itu dan saya akan menemuinya disana besok pagi jam sepuluh." kata Nyonya Dara dengan suara yang mengisyaratkan bahwa Ia tak punya lagi pilihan.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan bicara dengannya. Besok saya pastikan anda bisa bertemu langsung dan bicara dengannya."


Mendengar itu Nyonya Dara tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu menutup telepon. Ia sudah tak punya pilihan lagi, dokter-dokter sebelumnya datang dan pergi. Banyak dari mereka yang menyerah karena mungkin tak tahan dengan sikap anaknya.


"Dokter perempuan? Kemungkinan hanya akan bertahan sehari atau dua hari. Hmm...kita coba dulu. Semoga kamu bisa bertahan." gumam Nyonya Dara pada dirinya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Harapan selalu ada, walaupun hanya satu persen. Pikirnya, mencoba menguatkan hatinya.