Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Pertunangan



Malam yang cerah dan berbahagia terlihat dalam rumah Keluarga Cakrawangsa. Semua sudah ditata dengan rapi dan indah. Dari dekorasi dan juga catering yang terlihat memukau dibawah lampu lampu kristal yang menambah keindahan suasana rumah itu.


Acara pertunangan sementara berjalan dengan penuh keharuan. Dari pihak keluarga Adrianne, hanya bibinya yang bersedia hadir karena pamannya harus ke luar negeri untuk urusan mendadak.


Semua yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum bahagia ketika Clayton dan Adrianne saling menyematkan cincin pertunangan di jari manis masing masing.


Tamu yang hadir kebanyakan hanya dari keluarga besar Clayton dan beberapa rekan bisnis yang terbilang dekat dengan keluarga Cakrawangsa.


Kebanyakan rekan rekan bisnis Tuan Adhiata dan Nyonya Dara lumayan kaget juga karena kebanyakan baru mengetahui bahwa ternyata Tuan dan Nyonya Cakrawangsa memiliki seorang anak laki laki yang sangat gagah karena selama ini Ia tidak pernah kelihatan.


Janji untuk selalu setia bersama dan saling menyayangi sampai pernikahan nanti telah terucap dari kedua insan yang sedang berbahagia. Semua orang mengucapkan selamat dan beberapa bahkan membawa hadiah spesial bagi Clayton dan Adrianne.


Untuk melengkapi kebahagiaan mereka, Clayton dan Adrianne menghibur para undangan dengan permainan piano duet. Mereka memainkan beberapa lagu kalsik terkenal, yang diiringi tepukan tangan disetiap akhir permainan mereka. Para tamu tampak terpesona dengan alunan nada nada yang tercipta dari jemari tangan keduanya. Semua undangan setuju bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sepadan.


Clayton terlihat selalu menggenggam tangan Adrianne ketika berbaur dan menyalami para tamu undangan dan Adrianne sangat senang dengan hal itu. Ia merasakan kasih sayang Clayton padanya semakin mendalam.


Ketika para tamu sudah kembali, Clayton menawarkan diri mengantarkan bibi Adrianne untuk pulang bersama sopir pribadinya, tawaran itu disambut baik mengingat bibinya Adrianne tidak bisa menyetir sendiri dan tadi juga datangnya bersama Adrianne.


"Selamat berbahagia untuk kalian berdua, Bibi pulang dulu." pamit Bibi Adrianne.


Clayton dan Adrianne melambaikan tangan sambil tersenyum. Sebenarnya masih ada perasaan mengganjal dalam hati Adrianne dengan pertunangannya karena pamannya tidak bisa hadir. Adrianne merasa Pamannya sengaja pergi ke luar negeri secara mendadak karena ingin menghindari datang ke acara pertunangannya.


Clayton menatap wajah tunangannya dengan tatapan penuh selidik, "Sayang, ada apa dengan wajah cantikmu? Bukankah ini seharusnya menjadi hari yang penuh kebahagiaan buat Kita?"


Adrianne terperangah, "Err..anu...aku hanya merindukan kehadiran paman." ucapnya sedikit gugup. Adrianne tidak berani menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Clayton. Ia tak mau Clayton menjadi kecewa pada keluarganya.


Clayton tersenyum sambil merangkul Adrianne dalam pelukannya.


"Jangan sedih ya sayang. Tadi pagi pamanmu sudah menelpon aku kok untuk mengucapkan selamat sekaligus memohon maaf karena tidak bisa menghadiri pertunangan kita. Ia berpesan bahwa apapun yang terjadi dimasa depan, aku harus tetap menjaga cintaku padamu dan tak boleh melepaskanmu. Bagiku pamanmu orang yang sangat bijaksana. Dari suaranya aku tahu betapa Ia sangat menyayangimu."


Sebuah senyum kelegaan tersungging dibibir Adrianne. Ia tahu pamannya sangat sayang padanya.


"Gitu dong senyum yang manis." ucap Clayton dan perlahan lahan mengecup bibir Adrianne dengan penuh kelembutan.


Mereka berdua kini telah duduk disebuah bangku taman sambil terus berpegangan tangan dengan mesra.


"Anne, minggu depan izin usahaku sudah keluar, kantor dan beberapa karyawan juga sudah siap. Aku mulai lagi semunya dari nol. Sudah ada beberapa permintaan walaupun belum soft opening. Semuanya permintaan untuk interior design kantor dan cafe." ucap Clayton dengan mata berbinar.


"Wah...belum juga launching udah ada pelanggan. Hebat kamu, sayang!" Adrianne tersenyum bangga.


"Itu semua karena iklan diinternet. Peranan iklan online sekarang ini lebih besar pengaruhnya."


Adrianne memperlihatkan wajah setengah merajuk.


"Kalau kamu dah sukses nanti, akunya jadi kurang diperhatikan."


Clayton tersenyum, "Apa kamu mau calon suamimu jadi pengangguran?"


"Jangan khawatir sayang, waktu untukmu akan selalu ada. Kalau kamu lagi gak bertugas atau sudah selesai bertugas, kamu boleh kekantor ku, kita bisa bermesraan sepuas puasnya diruang kerjaku." ucap Clayton dengan senyum menggoda.


Adrianne langsung mencubit pinggang Clayton diiringi teriakan kecil yang langsung membuat Adrianne tertawa puas.


"Oh iya, mulai sekarang kamu gak boleh lagi menerima permintaan untuk jadi dokter pribadi siapapun." tegas Clayton dengan wajah dibuat serius.


Adrianne mengernyit, "Emangnya kenapa? Bayarannyakan lebih tinggi."


"Pokoknya gak boleh! Aku takut kalau....kalau dapat pasien laki laki, dia bisa jatuh cinta padamu."


Adrianne tertawa lebar mendengar perkataan Clayton. "Wah wah wah...kamu berpikiran begitu karena kamu sudah mengalaminya. Ya kan Tuan Muda Clay?


Clayton memasang wajah sinis tanpa melirik pada Adrianne.


"Pokoknya aku gak suka. Sudah cukup aku yang jadi korban pertamamu. Siapa sih yang gak terpesona menatap mu? Kamu sudah cukup kerja di rumah sakit aja. Aku yang akan membiayai semua kebutuhanmu. Kamu mau berhenti kerjapun aku gak keberatan."


Adrianne tersenyum geli dan langsung menyandarkan kepalanya di dada Clayton.


"Aku suka kamu cemburu. Aku jadi Makin sayang."


Clayton membelai kepala Adrianne. "Aku sangat menyayangimu dan aku berharap rasa ini untuk selama lamanya."


"Sambil menunggu hari pernikahan kita bulan depan, aku harus melakukan sesuatu berkaitan dengan masa laluku. Ada yang ingin aku selesaikan. Itu sudah tekadku sejak lama. Jadi, kalau nanti kamu sedikit merasa terabaikan, jangan marah ya sayang." ucap Clayton dengan wajah memelas.


"Masa lalu? Bukankah katamu kamu ingin melupakan masa lalumu? Tanya Adrianne heran.


"Kamu benar. Aku ingin melupakan semua yang terjadi dimasa lalu, tapi tekadku untuk hal yang satu ini, adalah menyangkut keadilan. Aku belum legowo bila belum melaksanakan janjiku ini." Wajah Clayton berubah sedikit sangar ketika mengucapkan kata kata tersebut.


Adrianne yang menyaksikan perubahan itu sedikit bergidik.


"Jangan khawatir sayang, kamu tidak ada hubungannya dengan masa laluku. Kamu adalah masa sekarang dan masa depanku. Aku tak akan pernah membebanimu dengan semua beban dari masa laluku." Clay tersenyum lembut.


Ada yang terasa bergejolak dalam diri Adrianne. Ia ingin sekali tahu apa yang sebenarnya ada dibenak Clayton sehingga Ia selalu terlihat penuh kekesalan jika berbicara menyangkut masa lalunya.


"Clay, sebenarnya aku juga punya suatu kejadian dimasa lalu yang sangat membentukku sampai saat ini. Aku juga pernah mengalami sebuah tragedi kecelakaan yang sampai hari ini sulit aku lupakan. Tapi, itu tidak membentukku menjadi seorang yang dikejar rasa pahitnya hidup ini, tetapi justru sebaliknya, aku ingin menebus kesalahan itu lewat tugasku sebagai seorang dokter." ucap Adrianne sambil menundukkan kepalanya.


Clayton menatap tajam kearah Adrianne,


"Benarkah? Tapi....kamu gak apa apakan waktu kejadian itu?"


Adrianne tersenyum kecut kemudian balas menatap Clayton.


"Clay, posisi aku sebenarnya lebih sulit karena aku harus membawa penyesalan ini sampai kapanpun juga. Aku menabrak seseorang beberap tahun lalu. Dan sebelum aku bertemu orang itu untuk meminta maaf atas segala kelalaianku, Ia telah pergi untuk selama lamanya. Setidaknya itu yang paman katakan padaku. Jadi,... bisakah kamu merasakan apa yang aku rasakan? Jika Tuhan berkenan, aku bisa bertemu dengannya jika telah mati hanya untuk mengucapkan permohonan maafku padanya agar beban seumur hidupku ini bisa terlepas!"


Clayton menggenggam jemari Adrianne. Pikirnya, ternyata masa lalu mereka ada kemiripan. Bedanya adalah, Ia sebagai korban yang masih hidup, sedangkan kekasihnya adalah pelaku yang belum sempat mengucapkan permohonan maaf pada korbannya yang telah pergi menghadap yang Kuasa!