Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Terpenjara Perasaan



Adrianne menatap jam dipergelangan tangannya. Waktu sudah hampir sore. Ia baru tiba dari Thailand tadi pagi dan langsung ke rumah sakit untuk membereskan beberapa urusan administrasi. Sebenarnya Ia tidak wajib datang tapi Ia ingin menyelesaikan semuanya sebelum memulai kembali tugasnya di rumah keluarga Cakrawangsa.


Adrianne menatap file terakhir yang sedang diperiksanya dan memberi beberapa catatan disitu. Sesaat kemudian pikirannya melayang pada Clayton. "Bagaimana kabar pria bawel itu ya? Apakah dia tetap konsisten latihan tanpa aku?" bisik Adrianne dalam hati. Sekeras apapun Ia berusaha menepiskan bayangan itu untuk pergi, malahan semakin kuat melekat disetiap rongga otaknya.


"Hey...semenjak kembali dari Thailand kamu banyak melamun. Wajahmu kelihatan galau begitu....ada apa, Anne?" suara Dokter Luna mengagetkan Adrianne.


"Oh...ak..aku hanya sedikit lelah. Baiklah aku pulang dulu kalau begitu. Ada janjian dengan Kinanti sebentar sore. Aku mau pulang istirahat dulu." kata Adrianne sambil merapikan file-file diatas meja, menyimpannya lalu pamit pada Dokter Luna.


"Take care, Anne. Met beristirahat." ucap Dokter Luna ketika Adrianne keluar dari ruangan itu.


Selama perjalanan menggunakan taxi online ke apartemennya, pikiran Adrianne hanya dipenuhi oleh bayangan Clayton.


Ia tak dapat mengelak kalau selama di Thailand Ia begitu merindukan sosok Clayton. Itulah mengapa Ia tak pernah mau menghubungi Clayton karena Ia tak ingin semakin dalam tenggelam dalam perasaannya.


Sewaktu menerima pesan lewat WhatsApp dari Clayton, hatinya sangat bahagia. Sebenarnya Ia ingin berbicara lebih banyak waktu itu serta menanyakan beberapa hal menyangkut perkembangan terapi yang harus Clayton jalani tanpa dirinya. Tapi, Adrianne harus memikirkan perannya selama ini. Mereka hanyalah Dokter dan Pasien, selebihnya, hanyalah teman biasa!


"Mbak, .... permisi mbak. Sudah sampai." kata sopir itu yang mengagetkan Adrianne dari pikirannya.


"Eh...iya Pak. Ini uangnya. Ambil saja kembaliannya. Makasih, Pak." Adrianne keluar dari taxi tersebut menuju gedung apartemennya.


Didalam apartemennya, Adrianne tak tahan juga untuk tidak menghubungi Clayton. Ia mengambil hapenya dan membuka pesan WhatsApp.


"Hi there...sudah siap untuk terapi lagi dengan aku? Aku bawain kamu oleh oleh dari Thailand."


Pesan Adrianne langsung mendapat balasan dari Clayton.


"Halo Dokter Anne. Kapan bisa mulai lagi terapinya? Kakiku sudah terasa sangat kaku karena malas latihan waktu kamu pergi."


Adrianne:


"Wah....kok bisa? Kamu pasien yang malas! Lihat saja nanti, aku gak bakalan ngasi istirahat kalau latihan bareng aku nanti!"


Clayton:


"Ampun Dok. Jangan galak begitu dong. Aku kan sudah janji bakalan ngasih kamu kejutan!


Adrianne:


"Hmm...Aku suka kejutan, tapi harus yang bikin aku bahagia ya?"


Clayton:


"Siap, Bu Dokter! I'll be waiting."


Adrianne:


"Oke. See you."


Clayton:


😊😊😊


Adrianne tersenyum memandang emoticon dari Clayton.


"Kejutan? Sejak kapan dia sangat manis begitu?" gumam Adrianne. Dan beberapa saat kemudian Ia tertidur dalam senyum dengan tangan yang masih menggenggam hapenya didada.


.


.


.


.


Adrianne sedari tadi hanya memandang minuman soda didepannya. Sudah sekitar lima belas menit Ia dan Kinanti duduk di Cafe itu tanpa bicara sepatah katapun setelah menanyakan kabar masing masing. Kinanti yang menyadari bahwa Adrianne hanya terdiam, mencoba meneliti wajah Adrianne dan berusaha memecahkan keheningan yang ada.


"Aku hubungi Matteo tapi Ia harus menggantikan temannya jaga malam. Jadi belum bisa gabung."


"Anne....Anne!" ujar Kinanti sambil menepuk lengan Anne dengan sedikit keras.


Adrianne terperanjat, wajah salah tingkah tapi tetap berusaha tersenyum.


"Maaf." katanya singkat.


"Kamu lagi gak sakit kan?" Tanya Kinanti sambil meraba dahi Adrianne.


Adrianne menggeleng dan kemudian meminum sodanya seteguk.


"Anne, kamu kelihatan banyak melamun. Ada masalah? Ayo, cerita." Kinanti menyentuh jemari Adrianne.


Adrianne mengalihkan pandangan ke luar Cafe. Terlihat nyata ada kegelisahan di wajahnya. Sedetik kemudian, Adrianne menarik nafas dalam dalam.


"Kinan, maaf. Aku sedang berpikir bagaimana untuk segera mengakhiri tugasku mengobati Tuan Clayton."


Kinanti mengernyitkan dahinya.


"Lho...kata kamu selama tiga bulan ini pasienmu sudah mengalami banyak kemajuan. Itu berarti kamu hampir berhasil dong. Tinggal selangkah lagi kan? Nanggung, Anne. Kenapa tiba-tiba pengen berhenti?"


Adrianne tertunduk. Ia tak tahu harus memulai dari mana.


"Kinan, ak...aku...sudah berusaha profesional dalam mengobati Tuan Clay...tapi....Aku merasa ada yang salah aja dengan diriku."


Kinanti terus menyelidiki wajah yang sedang terlihat galau itu.


"Ada yang salah dengan dirimu? Maaf...aku belum ngerti sampai disini. Kalau ada yang salah dengan Tuan Clayton, aku bisa maklum karena dari awal juga katamu Ia sudah bermasalah dengan dirinya."


Adrianne menatap sahabatnya dengan tatapan seperti meminta belas kasihan.


"Secara emosi Tuan Clayton sudah banyak perubahan. Tapi giliran aku yang bermasalah dalam hal itu. Aku tak tahu kenapa aku menjadi tidak tenang lagi berada di dekatnya."


"Kamu sudah tidak nyaman mengobatinya?" Tanya Kinanti pelan.


"Bukan begitu juga. Aku malahan terlalu nyaman berada di dekatnya. Dan itulah yang menjadi masalahnya saat ini." Wajah Adrianne benar-benar terlihat kacau.


Kinanti mendekatkan wajahnya untuk memandang Adrianne lebih dekat lagi.


Matanya mencari cari sesuatu disana, tapi Adrianne berusaha mengalihkan matanya. Sedetik kemudian Kinanti tersenyum penuh arti.


"Anne, jangan katakan kalau kamu jatuh cinta pada Tuan Clayton!"


Mendengar perkataan sahabatnya, Adrianne terperanjat dengan bola mata yang membesar.


"Errr.... Kinan, errr...aku.....ehm.. kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu?" tanya Adrianne dengan gugup. Terlihat sekali bahwa Ia berusaha mengelak dari tebakan Kinanti yang seratus persen benar.


"Matamu tidak bisa berdusta kalau kamu ingin mengingkari dan memenjarakan perasaanmu yang muncul pada Tuan Clayton. Kamu ingin berhenti karena kamu tidak ingin perasaanmu semakin dalam padanya, bukan?"


Adrianne tertunduk dan mengangguk pelan. Ia tak bisa lagi menyembunyikan segalanya dari Kinanti. Gadis itu terlalu pintar dalam urusan ini.


"Kamu terlihat sangat tulus mencintainya, Anne. Tidak semua wanita mau menyukai seseorang yang punya keterbatasan fisik. Kalau hal itu membuatmu nyaman dan bahagia, masakan kamu mau pergi? Yang ada malahan kamu akan semakin menderita nantinya." kata Kinanti membelai punggung tangan Adrianne.


"Jadi, aku harus bagaimana?" tanya Adrianne sambil menggingit bibirnya.


Kinanti tersenyum lembut. "Tuntaskan tugasmu! Selama sisa waktumu yang ada, kamu bisa mencurahkan kasih sayangmu pada Tuan Clayton dengan caramu mengobatinya secara profesional. Sambil...."


"Sambil apa?" Tanya Adrianne penasaran.


"Sambil mengamati apakah Tuan Clayton juga punya perasaan yang sama padamu. Bagaimana? Bisakan?"


Mendengar saran Kinanti, Adrianne tersenyum sumringah. Ia tak dapat membayangkan bagaimana nantinya berusaha untuk tidak salah tingkah jika bertemu Tuan Clayton.


Pikir Adrianne, saran Kinanti adalah satu-satunya pilihan yang harus Ia jalani. Bagaimanapun Ia harus menyelesaikan tugas tersebut secara profesional. Mengenai perasaannya pada Tuan Clayton, biarlah waktu yang akan menjawabnya!