Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Jaga Jarak?



Baik Adrianne maupun Clayton berusaha membangun kembali hubungan baik diantara mereka sebagai sahabat.


Keduanya menyadari bahwa mereka tidak boleh melintas batas yang sudah berusaha dijaga sebaik baiknya. Bagaimanapun mereka pernah saling menyakiti dan untuk jangka waktu yang sangat lama tak pernah mengetahui kabar masing masing. Hal inilah yang menyebabkan keduanya saling jaga jarak karena mereka tak ingin merusak semua yang sudah dimulai dari awal lagi.


Adrianne menatap undangan yang dikirim lewat emailnya beberapa hari lalu. Ulang tahun klinik mereka akan berlangsung malam nanti. Adrianne sedikit risih karena tahun lalu Ia datang ke acara yang sama bersama Elle. Ia merasa kurang pede untuk pergi seorang diri. Kini Elle tidak ada lagi dan Ia merasa tak enak jika harus menghubungi Clayton untuk pergi bersama. Clayton sudah pasti akan datang karena Ia harus mewakili Elle.


Sebenarnya Adrianne mengharapkan Clayton untuk menghubunginya untuk pergi bersama diacara tersebut, tapi sepertinya Clayton benar benar tidak ingin lagi terlalu melibatkannya dalam segala aktifitas hidupnya kecuali itu menyangkut pekerjaan yang benar benar penting.


Adrianne sendiri merasakan hal itu. Sejak mereka bersepakat untuk memulai kembali hubungan pertemanan mereka dari awal, segalanya tidak sama lagi. Clayton kelihatan benar tidak mau mengulangi kesalahan yang sama yaitu jatuh cinta yang kedua kalinya pada Adrianne. Begitupula dengan Adrianne, Ia juga berpikiran yang sama untuk tidak akan mencampur adukan pertemanan itu dengan kisah asmara yang pernah terjadi diantara mereka.


Baik Adrianne maupun Clayton bertekad untuk sedapat mungkin menepiskan perasaan yang dulu pernah ada sejauh mungkin karena itulah jalan satu satunya untuk tetap menjaga hubungan baik itu tanpa beban apapun.


Adrianne mencoba gaun yang baru saja dibelinya kemarin. Ini kali keduanya Ia mencobanya dan memadukan gaun berwarna krem itu dengan high heels berwarna hitam. Ia tersenyum. Pikirnya, akan ada wartawan yang datang setiap kali ulang tahun klinik mereka dirayakan karena akan ada penghargaan untuk para Tim Medis terbaik setiap tahunnya dan penghargaan itu selalu dimuat dalam koran lokal, jadi mau tak mau Adrianne harus tampil sebaik mungkin.


.


.


.


.


.


Clayton menekan tombol menelpon dilayar hapenya dan terdengar suara seorang wanita bernama Adelia Dordova diseberang. Mereka berbicara dalam bahasa Russia.


Clayton: Halo, selamat sore, Adelia. Aku jemput jam enam?


Adelia: Hai Clay, aku sedang bersiap. Aku tunggu ya.


Clayton: Oke. See you.


Adelia: See you, Clay.


Clayton memakai jas hitamnya dan menyemprotkan sedikit parfum kebagian leher dan pergelangan tangannya. Ia tersenyum didepan kaca. Ia melirik jam ditangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 5.25 dan Ia pun beranjak pergi untuk menjemput Adelia, teman barunya yang adalah juga salah satu pemegang saham di klinik tersebut.


Clayton dan Adelia mulai dekat beberapa minggu terakhir ini karena Clayton banyak belajar dari Adelia selama Elle masih di Indonesia. Adelia adalah wanita Russia keturunan Mongolia yang sangat pintar dan juga suka membantu.


Yang membuat mereka cepat akrab adalah karena Clayton bisa berbahasa Russia sedangkan Adelia tidak begitu mahir berbahasa Inggris. Jadi Adelia merasa nyaman bila berdiskusi dengan Clayton dalam Bahasa Russia.


.


.


.


.


#Diacara Ulang Tahun Klinik


Adrianne sudah tiba dengan taxi online digedung dimana acara ulang tahun kliniknya diadakan. Sudah lumayan banyak orang yang hadir dan semuanya sedang bercengkrama satu sama lain. Adrianne sendiri langsung bergabung dengan teman teman dokternya yang rata rata berbicara bahasa Inggris.


Adrianne sendiri masih agak sulit berbicara dalam bahasa Russia karena belum terlalu lancar. Tapi jika mendengar orang sedang berbicara dalam bahasa Russia, Adrianne bisa mengerti sepenuhnya.


Beberapa saat kemudian Adrianne tidak sengaja melihat Clayton yang baru datang dengan menggandeng seorang wanita cantik dengan gaun berwarna hitam senada dengan jas yang dipakai Clayton. Keduanya tampak sangat serasi karena tubuh tegap Clayton yang tinggi diimbangi dengan tinggi badan Adelia yang hampir mencapainya.


Ada sedikit rasa terkejut dalam hati Adrianne walaupun kemudian Ia berusaha untuk bersikap biasa biasa saja. Ia sendiri kenal dengan Adelia walaupun tidak dekat. Pikirnya, wajar jika Clayton dan Adelia bisa dekat karena selain keduanya masih sendiri, mereka juga bisa bertemu kapan saja karena pekerjaan mereka yang menuntut demikian.


Adrianne berusaha untuk terus bercakap cakap dengan teman sejawatnya dan terus menghindar dari bayangan Clayton dan Adelia. Ia tak ingin melihat kedua pasangan itu. Ada rasa tidak enak yang tiba tiba menyelinap dalam hatinya.


Acara telah dimulai dan beberapa wartawan telah terlihat dilokasi. Tibalah bagi pembawa acara mengumumkan nama nama tim paramedis yang berhak mendapatkan penghargaan.


Pembawa acara mengumumkan nama dokter yang meraih penghargaan sebagai dokter dengan kinerja terbaik sepanjang tahun tersebut. Nama Adrianne Alexandria terdengar jelas lewat pengeras suara dan semua orang bertepuk tangan memandang ke arah Adrianne yang masih terlihat kaget seakan tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Beberapa rekan didekatnya memberi ucapan selamat padanya. Adrianne berjalan menuju panggung disertai kerlap kerlip lampu blitz para wartawan yang mengambil gambarnya. Ia terlihat sangat memukau dengan gaun krem yang mempertontonkan bahu indahnya.


Setelah mengucapkan beberapa kalimat ucapan terima kasih terhadap orang orang yang banyak mendukungnya, Adrianne kemudian turun dari panggung untuk diwawancarai wartawan, sementara acara penyerahan penghargaan masih terus berlanjut.


Adrianne Diantara Para Wartawan



Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan bersulang. Acara inti telah selesai dan semua orang tampak bersenang senang dengan lawan bicara masing masing.


Adrianne berjalan menuju toilet untuk menenangkan dirinya sesaat didalam sana. Walaupun Ia sangat bahagia atas prestasinya malam itu, tapi bayangan Clayton dan wanita itu masih terus mengganggunya. Beberapa kali Ia harus berusaha menghindari Clayton yang berusaha untuk mengajaknya berbicara tapi Ia selalu berpura pura tidak melihat keberadaan Clayton disitu.


Beberapa saat kemudian Adrianne keluar dari sana dan mengambil segelas champagne yang ditawarkan seorang pelayan.


"Anne. Tunggu." suara itu mengagetkan Adrianne. Ia terperanjat mendapatkan Clayton yang masih memegang tangannya.


Seketika tersadar, Clayton langsung melepaskan tangan Adrianne.


"Maaf." ucapnya salah tingkah.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas prestasimu. Kamu benar benar menjadi bintang malam ini sampai sampai aku sulit mendapatkan kesempatan berbicara denganmu."


Adrianne tersipu dengan detak jantung yang masih tak beraturan.


"Terima kasih, Clay. Maaf, saya permisi dulu karena saya harus segera pulang."


"Kamu pulang dengan siapa?" Tanya Clayton berusaha menahan agar Adrianne tidak beranjak dulu dari hadapannya.


Adrianne menegakkan kepalanya.


"Saya pulang sendirian naik taxi online."


Clayton tersenyum. "Boleh aku antar kamu pulang?"


Dahi Adrianne mengernyit.


"Tapi....bukankah kamu bersama seseorang?"


Clayton mengangguk membenarkan hal itu.


"Iya, dengan Adelia. Tapi dia harus kembali lebih cepat karena ada urusan mendadak sehingga Ia sudah dijemput keluarganya. Kalau kamu tidak keberatan izinkan aku mengantarmu pulang." suara Clayton setengah memelas.


Adrianne terdiam dan berpikir sejenak. Ia menarik nafas pelan dan menggigit bibirnya. Ia ingin menolak tapi takut menyakiti perasaan Clayton. Perlahan ia pun mengangguk tanda menyetujui tawaran Clayton.


Clayton tersenyum dan langsung menggandeng tangan Adrianne untuk keluar dari ruangan acara. Adrianne tidak berani melepaskan tangannya. Pikirnya, Clayton hanya refleks saja tanpa maksud apa apa.


Keduanya banyak berdiam sepanjang perjalanan. Sesekali Clayton melirik pada Adrianne yang sedang memandang keluar jendela. Entah keberanian apa yang menggerakannya untuk menggandeng tangan sosok yang begitu memukau disampingnya itu tadi.


Clayton tak bisa mendustai dirinya kalau hatinya sangat bergetar melihat penampilan Adrianne malam itu. Sekuat apapun ia berusaha menjaga sikapnya terhadap Adrianne, terkadang hasratnya berontak ingin sekedar memandang wajah cantik itu dan menyentuhnya.


Keduanya terdiam dengan pikiran masing masing. Ada rasa canggung yang sering datang jika mereka sedang dekat seperti saat itu.


Tiba di apartemennya, Adrianne langsung membuka seat beltnya tapi Ia mengalami kesulitan. Seat belt itu seperti macet.


Clayton langsung membantu Adrian membuka seat beltnya. "Maaf, aku lupa membawa mobil Elle ke dealer untuk memperbaikinya. Seat belt yang satu ini memang agak bermasalah."


Adrianne terlihat semakin gugup ketika wajah Clayton berada sangat dekat dengan wajahnya. Pipinya terasa agak panas. Lumayan lama juga posisi mereka yang terlihat seperti posisi orang yang sedang berciuman.


Perasaan Adrianne semakin tidak karuan demikian juga dengan Clayton yang berusaha tenang sambil terus mencoba melepaskan seat belt itu dari pengaitnya.


Adrianne menahan nafasnya karena Ia bisa merasakan nafas Clayton diwajahnya.


Seat belt berhasil dilepaskan.


Kini keduanya saling menatap. Mereka terdiam sesaat. Clayton masih tetap mempertahankan posisi wajahnya yang hampir bersentuhan dengan wajah Adrianne.


Adrianne tak bisa mengelak ketika perlahan Clayton mendaratkan sebuah kecupan lembut dibibirnya. Adrianne hanya bisa memejamkan matanya mencoba meresapi kenikmatan yang ditawarkan bibir Clayton.


Perlahan kedua tangan Clayton telah memegang wajah Adrianne agar ciuman yang sedang berlangsung itu terasa lebih sempurna. Lidah keduanya saling bertautan cukup lama. Sesekali Clayton menggigit gemas bibir Adrianne yang lipsticknya sudah belepotan kemana mana dan sebagian sudah berpindah dibibir Clayton.


Sesaat kemudian keduanya terhenti seperti tersadar atas apa yang sedang mereka lakukan. Clayton langsung menegakkan kembali posisi duduknya sedangkan Adrianne masih mengatur nafasnya yang memburu.


"Maafkan aku." ucap Clayton pelan sambil tertunduk.


"Anggap saja hal ini bukan apa apa. Terima kasih sudah mengantarku." ucap Adrianne sambil membuka pintu mobil dan berlalu dari situ.


Clayton meremas rambutnya. Ia menyandarkan kepalanya sejenak pada sandaran sambil memejamkan matanya.


Ia sadar kalau Ia lepas kontrol juga. Susah payah untuk menahan hasratnya itu tapi Ia harus menyerah juga untuk menikmati bibir manis Adrianne. Pikirnya, untung saja Adrianne tidak menamparnya seperti yang pernah Ia lakukan.


Clayton menjalankan mobilnya keluar dari kompleks itu. Ada sebuah senyum yang tersungging dibibirnya. "Aku menginginkannya lagi." bisiknya dalam hati.


ADELIA DORDOVA