
Beberapa minggu sejak kembali ke kotanya, Adrianne menyibukkan dirinya yang mulai menjalankan tugas sebagai seorang direktur disebuah rumah sakit swasta yang baru. Sesekali ia mengunjungi paman dan bibinya atau sekedar hang out dengan sahabat lamanya Matteo dan Kinanti sedangkan untuk bertemu Elle dan Damian sangatlah tidak mungkin karena mereka berdua sedang menikmati bulan madu mereka di Hawaii.
Adrianne yang bosan merasa ingin mengunjungi Reyhan dikantor suaminya karena ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan.
Adrianne menghampiri asistennya untuk memintanya agar tidak menerima janji hari itu mengingat jadwalnya siang sampai sore sedang kosong. Adrianne mempergunakan waktu kosong tersebut untuk bertemu Reyhan. Setelah berpamitan pada asistennya, Adrianne meraih kunci mobilnya untuk kemudian menuju ke kantor suaminya.
.
.
.
.
# Di Kantor Clayton
Calyton memandang lelaki hampir paruh baya didepannya dengan tatapan tajam.
Lelaki itu masih terus tersenyum sambil memainkan pemantiknya.
"Ayahmu benar-benar pintar mengatur semuanya. Dia memang seorang yang jenius!
Maaf, tapi bolekah saya tahu berapa besar jumlah aset ayahmu yang masih tersisa? Karena untuk ukuran orang yang sudah bangkrut, rasanya tidak masuk akal jika kamu masih mewarisi perusahaan yang sudah dibekukan selama ini."
Clayton berdiri dan meletakan kedua tangannya dipinggang.
"Paman, Ardiansyah! Apa urusan paman dengan kehidupan bisnisku dan juga ayahku. Aku pikir paman sudah mendapat bagian yang adil. Aku mohon jangan ganggu hidupku!"
Pria yang bernama Ardiansyah tersebut tersenyum menyeringai lalu berdiri.
"Paman tidak sedang mencampuri urusanmu. Paman hanya ingin memastikan bahwa pria kaya pewaris kekayaan Cakrawangsa seharusnya sudah beristri diumur seperti sekarang."
Clayton terlihat tegang. "Menikah atau tidak itu urusan pribadiku!"
Ardiansyah tersenyum penuh arti. "Aku datang dengan maksud baik untuk mengenalkanmu pada anak angkatku. Ayolah....tidak baik pria segagah kamu harus hidup kesepian."
Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar, dan Reyhan masuk bersama seorang wanita cantik berambut sebahu yang sangat modis dan tentunya menawan.
"Selamat siang semua. Maaf Papa, saya terlambat." ucap wanita itu.
Clayton yang merasa bingung, menatap pamanya heran. "Siapa dia, paman?" Tanya Clayton.
"Kemarilah nak." ucap Ardiansyah memberi kode pada putri angkatnya untuk mendekat.
"Clayton, aku kenalkan kamu pada putri angkatku, Rachella, atau sering dipanggil Ella."
Rachella tersenyum menggoda pada Clayton sambil mengulurkan tangannya.
"Apa kabar Tuan Clayton. Anda ternyata lebih tampan aslinya dari pada yang aku lihat dimajalah-majalah bisnis." ucap Rachella dengan lembut."
Clayton menyalami tangan Rachella dengan singkat.
"Silahkan duduk." ucap Clayton dingin.
Dimata Rachella, sikap Clayton yang dingin itu benar-benar menantangnya.
Rachella tak sungkan langsung mengambil tempat duduk tepat disamping Clayton. Clayton yang merasa risih sebenarnya ingin menggeser badannya tapi sudah terhalang oleh lengan sofa.
"Clayton, Rachella bekerja sebagai seorang model disebuah agency ternama. Paman rasa kalian bisa saling kenal dulu. Siapa tahu cocok." ucap Ardiansyah dengan nada manis yang dibuat-buat.
Clayton yang merasa gerah dengan pertemuan dadakan tersebut berusaha menegakkan duduknya.
"Aku tidak keberatan sama sekali untuk mengosongkan jadwal pemotretanku untuk sekedar jalan denganmu, Tuan Clayton." ucap Rachella tersenyum sambil meletakan salah satu tangannya diatas paha Clayton dengan pelan."
Pintu tiba-tiba terbuka. Reyhan dengan wajah cemas tiba-tiba masuk bersamaan dengan Adrianne.
"Maaf Pak Clayton.....Saya..." ucapan Reyhan yang terdengar sangat panik tak dapat lagi ia lanjutkan.
Tatapan Clayton beradu dengan tatapan Adrianne yang terlihat sangat shock dengan nafas yang sedikit terengah-engah karena sempat dikejar Reyhan yang mengahalanginya masuk ke ruang kerja suaminya.
Clayton yang tak kalah kagetnya dengan cepat menepiskan tangan Rachella yang belum sempat Ia singkirkan dari pahanya karena mendadak terkejut dengan kedatangan Adrianne yang tiba-tiba.
Ada perasaan terluka yang terlihat dimata Adrianne sewaktu menyaksikan Clayton yang tiba-tiba menyingkirkan tangan wanita disebelahnya dari pahanya.
"Siapa dia, Clayton? Tanya Pamannya dengan nada penuh rasa ingin tahu.
Clayton masih terdiam memandang istrinya yang terlihat sangat kecewa.
"Clay, Clayton! Siapa wanita ini?" Pamannya mengulangi dengan suara yang lebih keras dan seketika menyadarkan Clayton.
Clayton benar-benar kelabakan. Otaknya bekerja keras untuk mencari jawaban. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Dia....dia sahabat lamaku."
Ada yang terasa sakit dibagian dada Clayton ketika harus menjawab pertanyaan pamannya seperti itu.
"Sepertinya paman pernah melihatnya tapi itu sudah lama sekali....ehm...bukankah dia.." ucapan pamannya langsung dipotong Clayton dengan cepat.
"Iya, dia Dokter Anne yang dulu pernah merawatku. Paman hanya bertemu dengannya sekali waktu dipesta pertunangan kami. Tapi....kami sudah lama jalan sendiri. Kami lebih cocok berteman saja." Clayton terlihat susah payah menanggapi respon pamannya.
Paman Ardiansyah mangut-mangut tanda mengerti.
"Maaf Dokter Anne, kita bertemu nanti saja karena saya masih sibuk dengan tamu saya." ujar Clayton dengan nada sedikit gugup.
Adrianne yang terasa hancur mendengar Clayton yang sedari tadi menjawab pertanyaan pria paruh baya didekatnya, hanya bisa mundur beberapa langkah dan keluar perlahan-lahan diikuti oleh Reyhan yang sedang kalut dibelakangnya.
"Reyhan, kenapa membohongiku? Kenapa?"
ucap Adrianne dengan air mata yang telah meleleh tapi langsung di sekanya dengan lengan bajunya.
Reyhan hanya bisa terdiam sejenak.
"Aku antar bu dokter pulang?" ucapnya ragu.
Adrianne menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kamu belum menjawab pertanyaanku, Rey!"
Reyhan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Semua yang bu dokter saksikan tidak seperti yang terlihat. Percayalah."
Adrianne tersenyum sinis dalam tangisnya.
"Tak perlu dijelaskan. Semua pertanyaanku selama ini sudah terjawab hari ini!" setelah berucap demikian Adrianne melangkah meninggalkan tempat itu.
Hatinya benar-benar berkecamuk antara marah, kecewa dan sedih atas penghianatan Clayton yang diam-diam telah mendustainya.
Dalam perjalanannya kembali ke rumah, Adrianne terus membayangkan wajah Clayton dan wanita itu. Penyangkalan Clayton akan dirinya didepan tamu-tamu tersebut tak pernah terbayangkan akan keluar dari mulut pria yang sangat dicintainya. Ya, Clayton tidak mengakui dirinya sebagai istri dan hal itu membuktikan bahwa selama ini Clayton mengakui bahwa ia masih single untuk melindungi hubungannya dengan seorang wanita idaman lain!
.
.
.
.
.
.
Clayton terlihat sangat kalut. Ia terduduk dikursi kerjanya sambil meremas rambutnya.
Reyhan yang sedari tadi berada disitu masih diam dan terus mengutuki dirinya yang tak bisa menahan Adrianne untuk tidak memasuki ruangan tersebut.
"Pak Clayton. Saya benar-benar minta maaf. Ketika bu dokter menelponku, ia ternyata sudah berada didekat ruangan Bapak. Ia mendengar ada orang yang sedang bercakap-cakap. Sewaktu saya muncul untuk mencegahnya, bu dokter sudah berlari ke ruangan Bapak. Saya terus berusaha mencegah tapi malah membuat bu dokter semakin penasaran dan menerobos masuk. Maafkan aku."
Clayton memandang langit-langit ruangannya dengan perasaan hancur. Ia masih membayangkan wajah Adrianne yang sangat terluka terlebih setelah mendengar pengakuannya pada pamannya.
"Reyhan. Saya akan tinggal dihotel sementara waktu. Tolong kamu atur." perintah Clayton
Reyhan mengangguk kemudian berdiri dan berlalu dari hadapan bossnya.
Clayton menutup matanya. "Anne, maafkan aku. Aku sangat merindukanmu, tapi aku tak bisa..." gumamnya dengan lemah.