
Adrianne merasa sangat resah sebulan terakhir ini, pikirnya ada yang salah dengan suaminya. Ia hanya berharap Clayton baik-baik saja karena sebulan belakangan ini Clayton tidak pernah lagi menelponnya, bahkan telpon Adrianne pun tidak dijawab. Dan beberapa hari ini nomor telpon Clayton bahkan tidak bisa lagi dihubungi sama sekali.
Hanya Reyhan, si asisten direktur yang setia menghubunginya. Namun jika ditanya tentang Clayton, Reyhan hanya mengalihkan topik pembicaraan.
Adrianne menatap koper mininya yang sudah dipacking sedang diatur oleh pramugari laki-laki berbadan tinggi disebuah compartment dekat dari tempat duduknya. Elle terlihat santai dengan kaca mata hitamnya duduk hampir bersebelahan tapi terpisah dari dirinya. Sebentar lagi pesawat yang akan membawanya dan Elle kembali ke Indonesia akan segera tinggal landas.
Adrianne menarik nafasnya dengan berat. Matanya sarat kesedihan. Ia sangat merindukan Clayton tapi benar-benar tak berdaya. Reyhan mengatakan jika suaminya sedang berada diluar kota untuk waktu yang cukup lama dan belum bisa dihubungi karena masalah teknis. Namun Adrianne seakan tak percaya alasan tersebut. Ia tahu benar Clayton. Clayton akan berbuat apa saja untuk dapat bersamanya apalagi mereka selama ini telah terpisah jarak dan waktu yang cukup lama. Mana mungkin Clayton sanggup menahan rindu!
Ada perasaan tidak enak menyusup dalam relung hati Adrianne. Ia hanya heran, mengapa Clayton tiba-tiba seperti tidak begitu peduli lagi dengan kepulangannya.
Adrianne memasang sunglassesnya, memejamkan matanya dan bersandar pada kursi yang telah ditegakkan karena pesawat sebentar lagi akan tinggal landas. Ada setitik air mata yang meleleh keluar dari pelupuk matanya.
.
.
.
.
.
Setelah transit disebuah negara, akhirnya pesawat yang membawa Adrianne dan Elle tiba di bandara.
Kedatangan mereka disambut oleh Damian dipintu keluar. Damian kelihatan sangat gagah dan bersemangat menemui Elle dan Adrianne.
Elle dan Damian saling berpelukan erat. Damian kemudian mencium mesra bibir Elle dengan disaksikan Adrianne dengan senyum ketulusan.
Menyadari kehadiran Adrianne, Damian pun merangkul Anne dan mereka saling bercipika cipiki sesaat.
"Anne, dimana Clayton, suamimu? Bukankah dia seharusnya sudah disini menjemputmu?" Tanya Damian sambil merangkul bahu Elle, istrinya.
"Errg.... hari ini ada asisten Clayton yang akan menjemput aku. Clayton sangat berhalangan. Dia akan menungguku dirumah." ucap Adrianne sedikit salah tingkah dengan pertanyaan Damian.
Sementara mereka berbicara, sebuah suara mengagetkan Adrianne.
"Selamat sore Dokter Anne. Saya Reyhan. Pak Clayton minta saya untuk menjemput anda."
Semua mata menatap pada Reyhan yang sedang tersenyum.
"Baiklah, Damian...Elle, sampai jumpa lagi ya, Reyhan sudah menjemput. Saya permisi dulu." ucapan Adrianne disambut dengan pelukan hangat dari Damian dan Elle. Mereka kemudian meninggalkan bandara menuju tujuan masing-masing.
Didalam mobil yang sedang dibawa oleh Reyhan, tampak Adrianne yang mematung dengan sunglasses yang masih dipakainya.
Reyhan menatap istri bossnya dari kaca spion. Ia sebenarnya tak tega melihat istri bossnya yang kelihatan kurang bersemangat dan belum bicara sepatah katapun sejak mobil yang dibawanya meninggalkan bandara.
"Dokter Anne, saya akan langsung membawa anda ke rumah baru sesuai perintah Pak Clayton. Disana sudah ada dua orang pelayan wanita dan satu tukang taman yang siap membantu anda. Mereka adalah Bi Tina, Bi Tari dan Pak Slamet. Bi Tina dan Bi Tari adalah kakak beradik. Umur mereka sekitar lima puluhan tapi masih sangat prima dan gesit kalau soal kerja. Pak Clayton yang merekrut mereka. Mereka sangat ramah dan rajin.
Adrianne terlihat hanya mengangguk pelan. Dalam pandangan Reyhan, Adrianne kelihatan tidak begitu tertarik dengan topik pembicaraannya.
Beberapa saat kemudian Adrianne membuka kacamatanya. Reyhan mengamati tingkah istri bossnya sesekali. Pikirnya, gimana bossnya gak sering melamun diruangannya sambil memandang foto istrinya, ternyata istrinya sangat mempesona dengan kecantikan naturalnya yang tanpa make up berlebihan.
Reyhan kelihatan berusaha mencari jawaban yang tepat. Ia sedikit melonggarkan dasinya untuk mencari sedikit kenyamanan saat bicara.
"Maaf, Dokter Anne. Seperti yang saya pernah katakan, Pak Clayton sedang tugas penting. Beliau benar-benar sibuk sampai-sampai susah menghubunginya. Tapi jangan khawatir, Dokter Anne. Kalau semua masalah telah selesai dengan baik, Pak Clayton pasti akan menghubungi bu dokter dengan sendirinya."
"Masalah katamu? Memang ada masalah apa?" pertanyaan Adrianne sangat mengejutkan Reyhan yang baru tersadar kalau dia keceplosan. Reyhan menjadi tegang, "Ma..maksud saya errg... kalau urusan sudah selesai....itu maksud saya. Maafkan saya, Bu dokter."
Adrianne mengangguk pelan sambil menggingit sunglassesnya. Pikirnya, urusan sebesar apakah sampai suaminya tega mengabaikan kedatangan istrinya sendiri?"
Reyhan memelankan mobil yang dibawanya kemudian perlahan berbelok dan memasuki halaman luas sebuah rumah megah berlantai dua. Adrianne memperhatikan seorang satpam yang berlari kecil menyambut mobil yang masuk.
Rumah dihadapannya bergaya modern dengan taman berumput hijau dan bunga-bunga beraneka warna. Ada sebuah patung putri duyung ditengah taman dengan kolam ikan koi yang dihiasi bunga teratai putih dan pink disekitarnya.
Adrianne keluar dari mobil ketika Reyhan membukakan pintu. Reyhan kemudian mengikuti Adrianne dari belakang sambil menenteng dua buah kopor milik istri bossnya.
Kedatangan Adrianne disambut ramah oleh dua orang pelayan paruh baya. Adrianne menyalami mereka.
"Selamat sore Nyonya. Selamat datang di rumah Nyonya." ucap para pelayan.
"Terima kasih. Bi Tina, Bi Tari. Tapi, gak usah panggil Nyonya ya, terdengar terlalu tua bagiku. Panggil saja Anne." ujar Adrianne sambil tersenyum ramah."
"Maaf Nyonya....tapi, mana bisa begitu?" ucap Bi Tina. "Bagaimana kalau kami panggil Bu Anne saja?"
Adrianne tersenyum. "Ya silahkan saja. Boleh tunjukkan kamar saya dan suami saya?"
"Mari Bu Anne, ikut sama saya saja." kata Bi Tari sambil berjalan menuju lantai dua diikuti Adrianne dibelakang.
"Silahkan Bu Anne." kata Bi Tari menunjukkan sebuah kamar. "Tuan Clayton sendiri sangat jarang tidur dirumah. Hanya sekali-kali. Itupun kalau weekend."
Adrianne mengernyitkan dahinya. Rasa curiga kini mulai pelan-pelan merayap dalam pikirannya. "Kalau jarang tidur di rumah, trus dia tidur dimana? Apakah dia punya apartemen lain?"
Bi Tari minta diri setelah menunjukkan kamar tersebut. "Bu Anne, saya permisi dulu mau menyiapkan makan malam. Bu Anne pasti lelah dan lapar."
Adrianne mengangguk. "Makasih Bi Tari." ucap Adrianne sambil menerima koper-koper yang diserahkan Reyhan.
"Reyhan, apakah suamiku punya apartemen yang biasa dipakainya untuk tinggal?" Tanya Adrianne dengan rasa curiga.
"Kalau Apartemen, Pak Clayton punya beberapa. Tapi semuanya ada yang tinggali. Penyewanya semua adalah keluarga-kelaurga muda. Kalau yang bu dokter maksud apartemen yang ditinggali Pak Clayton, tidak ada. Pak Clayton tinggalnya disini. Tapi beliau kadang sering ketiduran dikantor atau beristirahat di sebuah resort, saya selalu menemani Pak Clayton kalau beliau ingin sekedar istirahat disana, kecuali kalau beliau sedang tugas diluar kota seperti sekarang ini. Rencananya Pak Clayton ingin membeli sebuah resort pribadi kalau bu dokter sudah kembali.
Adrianne sedikit lega mendengar penjelasan Reyhan.
Reyhan kemudian pamit.
"Jika tak ada lagi yang bisa saya kerjakan untuk bu dokter, saya mohon diri dulu." ucap Reyhan sambil menundukkan kepalanya tanda minta diri.
"Oh iya, bu dokter. Di garasi ada dua mobil, silahkan Bu dokter pilih yang mana yang paling nyaman untuk di pakai. Pak Slamet bisa merangkap sebagai sopir jika bu dokter memerlukannya. Kunci mobil ada dilaci ruang kerja Pak Clayton. Saya permisi dulu." kata Reyhan yang kemudian berlalu dari hadapan Adrianne.
Adrianne memandang sekeliling rumah itu. Ada rasa sepi dan rindu yang menyiksanya tapi Ia tak tahu harus berbuat apa!