
Clayton dan Adrianne baru saja selesai melakukan sesi pre-wedding disebuah resort mewah yang dekat dengan pantai dan juga perbukitan. Dikarenakan dengan kesibukan masing masing, terpaksa pre-wedding mereka harus dilakukan lima hari sebelum hari pernikahan. Sesi foto dilakukan pagi pagi karena baik Clayton dan Adrianne ingin berfoto dengan latar sunrise. Undangan rencananya akan diedarkan pada malam hari.
Tut....tut...
Hape Clayton berbunyi tepat ketika Ia sedang berada diruang ganti pakaian. Waktu menunjukkan pukul 9.30.
"Selamat pagi Mr. Ray"
"Selamat pagi, Tuan Clay. Bisa kita bertemu sekarang?" ucap suara diseberang.
"Baiklah. Di tempat biasa. Tiga puluh menit lagi saya tiba." ucap Clayton dan langsung mengakhiri pembicaraan.
Clayton bergegas menuju ruang utama yang disewa khusus untuk keperluan Tim Pre-Wedding. Ia mencari Adrianne yang sedang membersihkan sisa sisa make-up diwajahnya.
"Sayang, aku harus duluan karena ada urusan penting yang mendadak. Aku pergi pakai taxi saja. Kamu gak apa apa kan aku tinggal duluan?" Tanya Clay pada Adrianne yang langsung disambut dengan senyuman.
"Gak apa apa Sayang, lagian sesi fotonya sudah selesai. Hati hati dijalan ya."
Clayton mengecup kening Adrianne. "Aku telpon kalau sudah selesai."
Clayton kemudian berlalu dari hadapan Adrianne, memesan taxi dan kemudian meluncur ke lokasi sebuah cafe dimana Ia biasanya bertemu dengan Mr. Ray.
.
.
.
.
.
#Di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai
Clayton mengambil sebuah meja yang agak terpisah dari meja meja lainnya diikuti oleh Mr. Ray dibelakangnya.
Mr.Ray tampak sedang memegang sebuah amplop coklat besar ditangannya.
Kedua orang itu kemudian duduk berhadapan dan langsung memesan minuman.
"Tuan Clay, saya sudah membaca arsip mengenai kecelakaan anda tiga tahun yang lalu. Memang laporannya tidak jauh berbeda dengan yang sudah kita bicarakan. Tapi saya menemukan titik terang dari dua mobil, selain mobil anda yang meledak, yang ada dilokasi kejadian waktu itu."
"Maksud anda, laporannya sama dengan fakta yang saya ketahui sedangkan dua mobil lain yang ada dilokasi itu tidak menunjukkan keselarasan dengan hasil laporan?" Tanya Clayton dengan wajah penasaran.
"Benar Tuan Clay. Laporan dibuat berdasarkan kesaksian pelaku yang mengakui dirinya sebagai pelaku saat itu." Mr. Ray kemudian membuka amplop ditangannya.
Clayton meletakan jari telunjuknya didagu. "Maksud anda, pelaku yang mengakui sebagai penabrak mobil saya, sebenarnya bukan pelakunya?"
Mr. Ray tersenyum sambil mengangguk.
"Atau lebih tepatnya, Ia sedang melindungi pelaku yang sebenarnya waktu itu. Sebenarnya saya sendiri bingung apa hubungan mereka sehingga pria itu berusaha melindungi si pelaku yang sebenarnya. Setelah saya mengadakan penyelidikan yang sedikit buntu, saya baru tahu kalau si pelaku utama adalah seorang yatim piatu yang diangkat sebagai anak oleh pria itu. Jadi, wajar jika pria itu melindunginya!"
"Lihat, mobil pertama yang agak ringsek ini, ini adalah mobil pelaku utama, sedangkan mobil mulus yang satunya ini adalah mobil pria itu. Pria itu mengaku kalau Ia yang menabrak anda, tapi mobilnya baik baik saja, sedangkan yang ringsek adalah mobil perempuan itu. Kedua mobil itu memang terdaftar atas nama pria tersebut, itulah sebabnya masuk akal jika pria itu dinyatakan sebagai pelakunya. Tapi fakta terbaru yang saya dapatkan adalah mobil yang ringsek itu sebenarnya sedang dalam proses balik nama karena mobil itu adalah hadiah dari pria itu untuk anak angkatnya. Menarik bukan? Saya juga sudah menanyai orang yang mengenal perempuan itu, orang itu adalah pembeli mobil yang dijual murah oleh perempuan itu. Ia setuju kalau foto mobil yang saya tunjukkan padanya adalah milik perempuan itu dulunya walaupun sekarang perempuan itu sudah menggantinya dengan mobil lain. Dan....saya juga menunjukkan foto perempuan itu. Foto sekitar tiga tahun yang lalu, karena jika saya memperlihatkan foto yang sekarang, kemungkinan pria itu sudah tidak mengenalnya lagi. Pria itu langsung setuju kalau perempuan itu adalah orang yang menjual mobil itu padanya."
Mr. Ray, menarik sebuah kertas. Walau hanya hasil print, namun foto itu sangat jelas. Seorang wanita yang masih sangat muda dan cantik. "Inilah wajah pelaku yang menabrak anda tiga tahun yang lalu."
Wajah Clayton berubah seketika. Detak jantungnya seperti detak jantung orang yang sedang bertanding lari. Ia tidak ingin mempercayai fakta di depannya. Matanya memerah mencoba menahan perasaan hancur yang bagaikan sebuah bogem menghantam wajahnya. Ia terdiam. Tak dapat berkata kata. Bibirnya kelu. Ia mencoba menelan ludahnya berkali kali tapi tenggorokannya tetap saja terasa kering.
Rasa rasanya Clayton ingin berteriak sekeras kerasnya. Tanpa Ia sadari, Ia telah meremas gambar foto ditangannya sekuat tenaga dan Mr. Ray yang sedang menyaksikan hal itu menjadi bergidik.
Clayton merasakan tubuhnya antara lemas tapi juga terbakar. Ia ingin menyangkali semua fakta itu tapi semua sudah terbuka jelas dan tak bisa dihapus lagi dari memorinya. Nafasnya menjadi cepat dan rahangnya mengatup keras. Ia meneguk minuman di depannya dengan cepat dan menelannya dengan susah payah.
"Tuan Clayton......Tuan ....apakah anda baik baik saja?" Tanya Mr. Ray yang terlihat khawatir dengan sosok didepannya.
Melihat Clayton yang tidak menjawab, Mr. Ray mencoba bertanya dengan hati hati.
"Tuan Clay....apakah anda mengenal perempuan itu? atau....apa perlu saya mencari tahu dengan lebih detil identitas perempuan itu?"
"Tidak perlu!" ucap Clayton dengan suara serak menahan gejolak dalam dirinya yang sedang berteriak.
"Tugas anda sudah selesai sampai disini, Mr. Ray. Bayaranmu akan segera saya transfer hari ini juga."
Mr. Ray tersenyum lega. Bagaimanapun Ia tak mau terlibat lebih dalam lagi. Tugasnya mengungkap pelaku penabrakan sudah berakhir dengan memuaskan, walaupun Ia agak penasaran juga dengan reaksi pria di depannya begitu melihat foto perempuan itu.
"Tuan Clayton, terima kasih. Tapi, kalau anda tidak keberatan, bolehkah saya tahu apakah anda mengenal perempuan dalam foto itu? Reaksi anda sewaktu melihatnya membuat saya khawatir." Mr. Ray mencoba menegakkan duduknya.
"Dia adalah calon istrikku!" ucap Clayton pelan dengan tatapan kosong. Beberapa saat kemudian, Clayton berdiri, meletakan beberapa lembar uang diatas meja dan menjulurkan tangannya kearah Mr. Ray.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda, Mr. Ray. Ingat, anggaplah kita tidak pernah bertemu atau saling kenal."
Mr. Ray menjabat tangan Clayton dengan erat dan mengangguk mantap. Ia menatap iba pada Clayton yang sedang berjalan keluar.
Pikirnya, dunia terlalu kecil sehingga korban dan pelakunya harus dipertemukan dengan cara yang tidak terduga!
.
.
.
.
Di dalam sebuah taxi yang membawanya kembali ke rumah, Clayton terus mengepalkan tangannya, sedang tangan yang satu lagi meremas rambutnya. Matanya masih terus memerah karena menahan emosi yang belum bisa dilepaskan.
"Aku harus membatalkan pernikahan ini!" gumam Clayton pelan.
Tekadnya sudah bulat. Penyesalan terbesarnya saat itu adalah mengapa Ia harus mencintai sekaligus membenci orang yang sama. Orang yang telah merenggut masa depannya tapi juga yang telah mengembalikan hidupnya!