
Adrianne tiba di rumah sakit. Setelah memarkir mobilnya dengan baik, Ia keluar dengan tergesa gesa menuju ruangan Manager HRD. Rambutnya hanya dirapikan secara asal dengan jari jarinya. Ia merasa wajahnya masih agak berantakan. Adrianne tidak lagi mempedulikan penampilannya. Ia sudah pasrah karena dandanan setebal apapun tak akan mampu menutupi matanya yang sembab dan beberapq bagian wajahnya yang sedikit kuyu.
Adrianne berusaha merapikan blazer dokternya. Sepanjang koridor menuju ruangan HRD, Ia bisa merasakan tatapan para pegawai administrasi yang agak kaget melihatnya. Beberapa orang sedang berbisik bisik sambil berusaha mencuri pandang padanya. Adrianne merasakan hawa disekitarnya agak gerah. Ia tahu kalau para pegawai rumah sakit sedang membicarakannya! Ia tahu kalau rumor pembatalan pernikahannya telah beredar dan hal itu tak dapat disangkalnya. Baginya, percuma memberi klarifikasi karena hanya akan memperburuk keadaannya yang sedang berusaha untuk tetap tegar.
Tiba didepan pintu ruangan yang ditujunya, Adrianne mengetuk perlahan.
"Silahkan masuk." kata seorang sekretaris.
Adrianne berusaha tersenyum. "Maaf, Saya ingin bertemu Bu Santi."
"Dokter Anne. Mari saya antarkan, sudah ditunggu dari tadi." kata sekretaris itu sambil berjalan duluan.
"Bu Santi, Dokter Anne sudah disini." kata sekretaris itu dan kemudian berlalu.
"Selamat pagi, Bu Santi. Maaf kalau harus menunggu agak lama." ucap Adrianne sambil duduk dihadapan Bu Santi, tanpa menoleh sana sini karena Ia merasa sedikit gugup.
"Selamat pagi Dokter Anne. Bagaimana, apakah dokter sudah baikan?" Tanya Bu Santi dengan ramah.
Adrianne hanya mengangguk pelan. Ia berusaha tersenyum walaupun harus terpaksa agar wajahnya kelihatan tidak terlalu jelek. "Saya sudah lumayan baikan. Saya mohon maaf sebelumnya karena lupa meminta izin pada atasan langsung saya."
Bu Santi menatap wajah Adrianne dengan rasa iba. Ia tahu kalau Adrianne sedang mengalami masa masa sulit karena pernikahannya yang harus kandas sebelum berlangsung.
"Dokter Anne. Sebelumnya saya mohon maaf. Kelalaian ini mengakibatkan anda harus menerima sanksi yang mungkin akan membuat anda sedikit terkejut. Tapi ini sudah kebijakan pemilik rumah sakit ini dalam hal penegakkan kedisiplinan pegawai."
Adrianne tertunduk. "Saya mohon maaf Bu Santi. Saya memang salah dan saya bersedia menerima sanksinya." kata Adrianne dengan suara yang sangat pelan.
Bu Santi tersenyum sekilas dan mencoba menenangkan dirinya untuk harus tega mengucapkan kata kata yang sudah Ia persiapkan.
"Dokter Anne, saya percaya anda adalah dokter hebat yang sangat professional dan bukan mustahil sangat diperlukan dimana mana. Untuk itu saya berharap anda bisa mendapatkan pekerjaan dirumah sakit lain yang pastinya sangat membutuhkan tenaga anda. Kami sangat senang dan berterima kasih atas semua kerja keras anda selama bekerja di rumah sakit ini."
Adrianne menatap Bu Santi dengan wajah penuh tanda tanya. "Maaf, maksud Bu Santi saya dipecat?"
"Kami tidak memecat anda tapi kami meminta anda untuk mengundurkan diri secara baik baik. Kata pecat terdengar terlalu sadis, bukan? Anda akan menerima pesangon dan enam bulan gaji sebagai kompensasinya." Bu Santi mengeluarkan sebuah map, membukanya dan menyodorkan map tersebut kepada Adrianne.
"Silahkan anda tanda tangani. Sudah kami buatkan Surat pengunduran diri anda supaya tidak menunggu lama. Silahkan dibaca dulu sekiranya ada hal hal yang mungkin membuat anda keberatan."
Adrianne mematung memandang selembar kertas didepannya. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Mengapa sanksinya sesadis ini? Terlalu fatalkah kesalahanku?" pikir Adrianne dengan berat hati. Tubuhnya terasa seringan kapas. Diantara lemas dan kecewa, Adrianne berusaha untuk memohon.
"Apakah kesalahan itu terlalu berat, Bu? Seumur hidup saya berkarir di rumah sakit ini, baru kali ini saya lalai. Apakah tidak bisa lagi dipertimbangkan?"
Mendengar permohonan Adrianne, Bu Santi hanya menggeleng pelan. Jelas terlihat diwajahnya kalau Ia sebenarnya tidak tega berbuat demikian. Tapi Ia juga tak berdaya untuk membela Adrianne.
"Adrianne, untuk permohonan anda, sebaiknya anda bicara langsung dengan perwakilan pemilik rumah sakit ini. Tuan Clayton Cakrawangsa sudah ada disini." ucap Bu Santi sambil berdiri dan menunjuk dengan sopan kearah pria berbaju hitam yang sedari tadi telah duduk manis mendengarkan percakapan mereka. Adrianne tidak memperhatikan kehadiran Clayton disitu karena posisi duduknya berada agak pojok di belakang Adrianne.
"Silahkan anda bicara langsung dengan Tuan Clayton. Saya akan memberi ruang bagi anda berdua." kata Bu Santi kemudian keluar dari ruangan itu.
Nafas Adrianne seperti tercekat, Ia memalingkan wajahnya dan mendapatkan sosok Clayton yang kelihatan prima dan semakin bercahaya dengan setelan lengan panjang hitam sedang menatapnya tanpa senyum. Berbeda dengan keadaan dirinya yang benar benar berantakan di pagi menjelang siang itu.
Clayton yang tanpa senyum menatap Adrianne.
Clayton berdiri mendekati Adrianne. Ia menarik sebuah kursi didekat situ dan meletakannya tepat didepan Adrianne untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan sosok yang kelihatan gugup didepannya.
"Apa kabar Dokter Anne?" sapa Clayton. Ia tersenyum sekilas menatap wajah sembab didepannya yang berusaha menghindari tatapan matanya.
"Silahkan tangani surat itu. Sebagai pemilik rumah sakit ini, aku berhak memecat siapa saja yang aku mau. Jelas?" suara Clayton terdengar lembut tapi bernada meremehkan. Ia kemudian mengambil sebuah pena didekat situ dan menyodorkannya didepan wajah Adrianne yang masih mematung dengan bibir yang kelu.
"Ayo, silahkan. Tunggu apa lagi?"
Adrianne mengambil pena yang disodorkan Clayton dengan tangan bergetar. Ia tak konsentrasi lagi membaca isi surat pengunduran dirinya yang sudah dibuatkan. Ia langsung mencari namanya dan perlahan membubuhkan tanda tangannya disitu.
Clayton tersenyum puas. "Ada lagi yang ingin kamu katakan? Aku anggap sebagai pesan dan kesan terakhir darimu sebelum meninggalkan rumah sakit ini atau lebih tepatnya kota ini karena aku jamin tak akan ada lagi klinik atau rumah sakit manapun ini yang akan menerimamu."
Adrianne menatap Clayton dengan tatapan penuh amarah, tak disadari air matanya telah turun. Ia berusaha menghapus air matanya dengan kasar.
"Kamu kejam, Tuan Clay! Aku berharap tak akan pernah lagi melihatmu! Kamu menang dalam hal ini. Kamu sudah berhasil dengan misimu. Selamat ya. Aku pastikan tak akan pernah melihatmu lagi seumur hidupku!"
Clayton mengepalkan tangannya dengan geram. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah sosok yang sangat kesal itu sehingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Aku ucapkan selamat tinggal Dokter Anne. Semoga kita tak akan pernah dipertemukan lagi!"
Clayton mengecup bibir Adrianne dengan paksa karena sedari tadi Ia memang sudah tak tahan untuk melakukannya.
Adrianne berontak dan menampar wajah Clayton. Ia kemudian berdiri dan keluar dari ruangan itu dengan air mata yang belum kering benar, meninggalkan Clayton yang masih terpaku dan menyesali tindakannya yang membuat Adrianne menamparnya.
Clayton hanya bisa memandang kertas yang sudah di tanda tangani Adrianne. Terasa ada yang berontak disisi lain hatinya. Perasaan sakit melihat Adrianne yang begitu terluka, juga perasaan rindu yang sewaktu waktu muncul menyiksa batinnya.
Clayton membanting kursi di depannya. Ia kelihatan kalut diantara dilema ingin membalaskan sakit hatinya tapi juga ingin melepaskan rindunya pada sosok yang sama!
.
.
.
.
Di sebuah ruangan tempat para dokter dan perawat wanita beristirahat, Adrianne terduduk sambil menggigit kukunya. Tangisnya sudah agak reda. Ia tinggal hanya menenangkan hatinya atas kenyataan pahit yang baru saja dialaminya.
"Kamu memang pria brengsek, Clay. Aku tak akan pernah memafkanmu!" ucap Adrianne pada dirinya sebelum meninggalkan rumah sakit yang sudah lama membesarkan namanya untuk selama lamanya.
Adrianne sedang merenungi kenyataan pahit yang baru menimpanya.