Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Kejutan dari Elle



Sebulan kemudian Elle telah kembali ke Saint Petersburg dan hari itu ia mengundang Clayton dan Adrianne ke apartemennya untuk sekedar bincang-bincang dan makan bersama. Elle telah memesan makanan disebuah restoran dan dia sedang mengatur makanan tersebut diatas meja ketika bell pintu apartemennya berbunyi.


Elle tersenyum bahagia menyambut dua orang yang sangat dirindukannya. Merekapun saling berpelukan secara bergantian.


"Wah...kalian berdua terlihat sangat berbeda. Aku penasaran ada berita apa nih. Silahkan duduk." ujar Elle dengan nada penuh semangat.


"Kami sangat bahagia selama dua bulan terakhir ini. Punya istri itu ternyata enak ya." ucap Clayton sambil melirik jenaka ke arah istrinya."


Adrianne mencubit pinggang Clayton diikuti mata yang penuh tanda tanya oleh Elle.


"Maksudnya....kalian jadi menikah juga karena Anne ingin bertemu Dokter Mikhail Dmitriy itu di pesta perjamuan?" Tanya Elle masih penasaran.


Kedua orang didepannya hanya bisa tersenyum sambil mengangguk malu-malu.


Elle semakin excited.


"Err...jangan katakan padaku kalau kalian pada akhirnya menikmati pernikahan ini dan memutuskan untuk meneruskannya. Begitu kah?" Mata Elle bagaikan elang menelusuri setiap mimik kedua orang didepannya.


"Kan sudah aku bilang, punya istri itu ternyata sangat enak!" ujar Clayton sambil tersenyum menggoda.


Adrianne hanya bisa menggaruk kepalanya dan kelihatan sedikit salah tingkah.


Melihat istrinya yang salah tingkah, Clayton merangkul bahu Adrianne dan mengecup bibirnya sekilas.


Elle tertawa keras. "Kalian ini benar-benar terperangkap dalam permainan kalian. Tapi..kalian harus berterima kasih pada Dokter Mikhail Dmitriy. Jika bukan karena Anne mengidolakannya dan tergila-gila untuk bertemu secara langsung, mungkin kalian masih menjadi jomblo yg saling memendam perasaan saja saat ini."


Clayton dan Adrianne ikut-ikutan tertawa.


"Oh ya Elle. Apakah ayahmu sudah semakin membaik?" Tanya Adrianne.


"Beliau sudah cukup sehat sewaktu aku kemari. Walaupun aku masih berat untuk datang kesini lagi. Clayton sih ...kenapa kamu mau buru-buru kembali ke Indonesia. Kontrak kerja Anne kan belum selesai, bukan?"


Elle merapikan rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya dengan jemari tangannya.


Sewaktu ia sedang merapikan rambutnya, Adrianne tidak sengaja memperhatikan sebuah cincin baru yang tersemat dijari manisnya.


"Elle... apakah selama berada di Indonesia kamu telah bertemu seseorang yang membuatmu betah berlama-lama disana? Maksudku....cincin itu terlihat seperti cincin pernikahan atau ...apalah."


Elle sedikit gugup mendengar pertanyaan Adrianne. Ia hanya bisa tersenyum penuh arti.


"Elle, jangan bilang kalau acara besar yang kamu katakan sewaktu menelponku itu adalah acara pernikahanmu." ucap Clayton penuh rasa penasaran.


Elle kembali tersenyum sambil menunduk sesaat.


Adrianne semakin penasaran.


"Hmm....jadi...ini alasannya kamu masih malas kembali kesini ya?"


Elle menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menatap kedua wajah yang sedang mengeryit dihadapannya.


"Aku telah menikah!"


Clayton dan Adrianne terperangah.


Elle menatap mereka dengan senyum dikulum. "Aku dilamar cinta lamaku dan aku langsung menerimanya."


Adrianne menatap Elle dengan mulut setengah terbuka.


"Maksudmu....cinta lamamu....ah, tidak...tidak.. jangan katakan kalau suamimu itu...."


Elle mengangkat wajahnya.


"Ya. Damian. Aku telah menjadi istri Damian."


Baik Clayton dan Adrianne sama-sama terlonjak.


"Bagaimana bisa? Kenapa Damian tega tidak memberitahukanku?" ucap Adrianne dengan tampang merajuk.


Elle meluruskan cara duduknya.


"Kami sengaja merahasiakannya dari kalian. Kata Damian harus dibuat sebagai kejutan."


"Big congratulations, Elle. We are so happy for you and Damian." ucap Clayton dengan nada bahagia diikuti Adrianne dengan sebuah kecupan manis dipipi Elle.


"Lantas? Kalian hidupnya gimana? Apakah harus terpisah jarak dan waktu?" ucap Clayton dengan nada serius.


"Meninggalkan Anne saja hanya untuk enam bulan aku rasa-rasanya gak sanggup, trus gimana dengan kalian?"


Mendengar ucapan suaminya, Anne langsung melingkarkan tangannya dipinggang Clayton yang dibalas Clayton dengan sebuah ciuman dikepala Anne.


Elle tersenyum bahagia menyaksikkan kemesraan kedua temannya.


"Aku akan segera pindah ke Indonesia. Aku tak akan menarik sahamku disini. Itu sudah komitmenku pada almarhum mamaku. Aku akan mempekerjakan sahabatku yang dulu menyewa apartemenku untuk menggantikanku. Aku akan berkunjung kesini dua kali dalam setahun saja. Damian juga keberatan berpisah dalam waktu yang lama."


Elle berdiri dan berjalan ke arah meja makan.


"Yuk kita makan dulu sambil bincang-bincang. Nanti makanannya keburu dingin."


Adrianne dan Clayton beranjak ke meja makan dan mereka bertiga mulai menyantap masakan Thailand yang dipesan Elle.


"Kepulanganmu kali ini benar-benar membawa berita yang mengejutkan. Tapi kami sangat bahagia mendengarnya." ucap Adrianne pada Elle.


Elle tersenyum sambil menikmati supnya.


"Aku gak mau jomblo seumur hidup. Aku pikir setelah sampai disini aku bisa pamer status pada kalian. Eh....gak taunya kalian udah berganti status duluan!"


Clayton dan Adrianne langsung tertawa.


Elle memasang mimik iri pada dua orang dihadapannya.


"Anne, tau gak kamu sewaktu Clayton masih jadi aktor, dia paling payah kalau harus beradegan mesra. Adegannya harus diulang-ulang karena dia terlalu kaku. Makanya dia paling senang kalau dapat kontrak film action tanpa adegan mesra sama cewek. Trus, menurut kamu Clayton gimana kalau di dunia nyata? Jago atau masih payah?"


Clayton tersipu sedangkan Adrianne hanya memandangnya dengan lirikan menggoda.


"Gimana ya? Pokoknya sejak nikah sama dia aku gak ada istirahatnya! Maunya bermesraan terus."


Elle tertawa lumayan keras. Ia kemudian agak terbatuk-batuk dan segera meneguk segelas air.


Clayton mencubit pipi istrinya dengan gemas.


"Awas ya kamu, setelah pulang ini bakalan dapat hukuman. Kamu gak bakalan bisa keluar kamar seharian!"


Ucapan Clayton langsung disambut gelak tawa oleh Adrianne dan Elle.


"Oh iya... sewaktu kamu pergi, Clayton masih sempat-sempatnya bermain sandiwara dengan temanmu Adelia. Mereka sampai berciuman segala." ujar Adrianne sambil melirik suaminya yang hanya bisa tersipu memandang gelas didepannya.


"What? How come? Si Adelia itu kan pacaran sama Mr. Petrov!" suara Elle, meninggi.


Clayton menarik nafasnya dalam-dalam.


"Oh, come on. Waktu itu aku hanya membantunya. Adelia bertengkar dengan Mr. Petrov dan mereka saling berdiam diri cukup lama. Makanya untuk menguji apakah Mr. Petrov masih mencintai Adelia atau tidak, maka Adelia memintaku bermain peran sebagai lelaki yang sedang dekat dengannya. Tahu gak? Acting tersebut berhasil membuat Mr. Petrov cemburu. Sekarang mereka sudah baikan kembali dan dengar-dengar Mr. Petrov telah melamar Adelia."


Elle dan Adrianne mengangguk pelan mendengar penjelasan Clayton.


"Wah, ternyata banyak berita baru semenjak aku pergi. Aku benar-benar ketinggalan nih." ucap Elle sambil meneguk anggurnya.


Oh, ya Clay, kapan rencana kamu balik ke Indonesia?" Tanya Elle.


"Minggu depan aku sudah harus berada disana. Ada tugas baru dari ayahku yang harus segera ditindak lanjuti. Aku titip Anne selama enam bulan kedepan ya." ucap Clayton dengan wajah memelas pada Elle.


"Jangan khawatir. Kami akan baik-baik saja kok. Kalau begitu kita balik ke Indonesia barengan aja ya Anne. Kita tunggu sampai kontrakmu selesai." ujar Elle sambil menatap Anne.


Baik Elle dan Clayton dapat melihat ada kesedihan dimata Adrianne.


Clayton yang langsung mengerti segera merangkul Adrianne yang duduk disebelahnya. Ia menarik kepala Adrianne agar bersandar dibahunya.


"Jangan sedih, Sayang. Kita pasti segera bersama lagi, begitu juga denganmu Elle, pasti akan segera bersama Damian lagi."


Elle hanya mengangguk pelan. Melihat kesedihan Adrianne, mengingatkannya pada perpisahan dengan Damian beberapa hari yang lalu. Perpisahan memang menyakitkan!