Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Serba Tak Jelas



Hari itu Adrianne bangun sangat pagi karena Ia harus bertugas jam delapan sampai jam dua sore.


Ia masih sempat membuatkan pancake strawberry buat dirinya dan Clayton yang masih meringkuk disofanya yang terkesan cukup kecil untuk tubuhnya yang tinggi.


Sebenarnya Adrianne tidak tega membiarkan Clayton tidur di sofa kecil itu, Ia berharap ledeng di apartemennya bisa segera selesai perbaikannya.


Adrianne menghabiskan sarapannya dengan agak cepat lalu mengatur meja dan sarapan untuk Clayton. Setelah itu Ia bergegas mandi, berpakaian dan langsung berangkat kerja. Ketika Adrianne berangkat tepat pukul tujuh, Clayton masih tidur.


Clayton memang tidak harus bekerja setiap hari. Ia hanya akan ke kantor klinik bila ada rapat pemegang saham atau jika harus melakukan pemantauan pelayanan di klinik tersebut. Ia pun bisa datang kapan saja Ia mau.


Hari itu adalah hari yang sedikit santai bagi Adrianne karena pasien yang datang tidak begitu banyak. Waktunya banyak terpakai untuk memeriksa pasien stroke dibeberapa kamar. Sebenarnya klinik tersebut tahun lalu sudah layak untuk dijadikan rumah sakit mengingat gedungnya yang sangat luas dengan jumlah kamar yang lumayan banyak plus pelayanan yang sangat baik. Tapi tenaga dokter professional yang masih kurang banyak, menjadikan satu satunya hambatan saat itu.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas ketika Adrianne sedang berdiskusi kecil dengan direktur klinik tersebut Mr. Sergey Petrov. Mr. Petrov adalah seorang pria tampan yang berumur sekitar empat puluh tahun. Ia seorang duda yang sudah lama bercerai dari istrinya. Ia dan mantan istrinya tidak memiliki anak.


Bagi Adrianne Mr. Petrov adalah seorang pria yang bijaksana dan ramah kepada siapa saja. Diskusi telah selesai namun Adrianne masih bercakap cakap dengan Mr. Petrov dalam perjalanan menuju cafe.


Ketika sedang berbicara serius dengan Adrianne tentang masalah obat obatan dan vaksin, tiba tiba suara Mr. Petrov terhenti dan air mukanya berubah drastis. Ia tampak terkejut dan kesal.


Adrianne yang terheran heran dengan perubahan itu segera mengikuti arah pandang Mr. Petrov.


Seketika Adrianne terperanjat dan jantungnya terasa hendak berpindah dari posisinya.


Beberapa meter dari mereka, disebuah pojok, tampak dua insan sedang berciuman.


Mata Adrianne tak berkedip. Bibirnya setengah terbuka dan pikirannya berusaha menyangkal pemandangan di depan matanya.


Dua insan yang sedang bermesraan itu adalah Adelia dan Clayton!


Adelia terlihat sedang melingkarkan tangannya di leher Clayton sedang bibirnya asyik berpagut dengan bibir Clayton yang seakan akan hanya terdiam menikmati permainan Adelia.


Mr. Petrov langsung beranjak dari tempat itu tanpa berkata kata. Terlihat sekali bahwa Ia sedang marah.


Adrianne yang menyadari hal itu, langsung mengubah arahnya, berbalik kembali ke ruang kerjanya. Seketika perutnya terasa mual dan dadanya seperti sesak. Ketika tiba diruangannya, Adrianne langsung terduduk dan menyandarkan kepalanya disandaran kursi. Matanya menerawang. Bayangan Adelia dan Clayton yang sedang asyik berciuman itu terus dan terus terlintas dipikirannya.


Ia tahu kalau Mr. Petrov sangat kesal karena baik Clayton maupun Adelia tidak tahu menempatkan diri mereka saat bermesraan. Pikir Adrianne, mungkin Mr. Petrov tidak suka ada adegan romansa disekitar kantor klinik.


Namun Adrianne tidak memusingkan pendapat Mr. Petrov soal itu. Yang terpenting baginya saat itu adalah bagaimana meyakinkan hatinya sendiri bahwa Clayton telah benar benar move on darinya. Bahwa ternyata selama ini Clayton tidak lagi punya perasaan terhadapnya! Dan bahwa Clayton selama ini berhasil mempermainkan perasaannya!


Selama ini Ia menyadari bahwa dirinya telah salah mengartikan perhatian Clayton terhadapnya. Perlakuan Clayton yang tak jelas itu menciptakan kebingungan pada dirinya. Clayton terkadang memperlakukannya dengan sangat manis, tetapi adakalanya Ia seperti tidak menaruh perhatian apa apa terhadap dirinya.


Ketidak jelasan sikap Clayton itulah yang kini bagi Adrianne telah terjawab. Clayton telah berubah. Ia telah mencintai orang lain dan Adrianne merasa bahwa dirinya telah salah mengartikan perhatian Clayton padanya selama ini.


#Di Apartemen Clayton


Adrianne langsung membersihkan dirinya setelah tiba di apartemen milik Clayton dimana Ia menumpang. Clayton sedang tidak ada dirumah. Rupanya Ia belum pulang.


Adrianne menuju ke dapur untuk memasak makan malam untuknya dan Clayton.


Setelah kejadian di klinik tadi, Adrianne menjadi kurang bersemangat. Ia mencoba berkonsentrasi pada masakannya. Sore itu Ia hanya memasak daging asap dan salad beserta roti gandum panggang yang diolesi butter dan juga madu.


Setelah selesai menyediakan semuanya, Adrianne mengatur semuanya di meja makan bersama dengan peralatan makan.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore ketika Adrianne sedang membersihkan dapur dan terdengar pintu apartemen dibuka.


Clayton masuk dan langsung meletakkan tasnya diatas meja dekat sofa.


"Hai Anne. Wah... harum banget bau dagingnya." ucap Clayton memandang makanan yang telah teratur rapi diatas meja makan.


Ia kemudian mendekati Adrianne yang tidak membalas sapaannya. Clayton berdiri tepat dibelakang Adrianne yang kini telah selesai mencuci tangannya dan kemudian mengeringkannya.


"Enak juga ya kalau sudah punya istri nanti. Pulang kerja sudah tersedia makanan seperti ini." Canda Clayton.


Adrianne tak menanggapi candaan itu. Ia langsung menuju meja makan.


"Ayo makan, nanti makanannya keburu dingin." ucap Adrianne berusaha berbicara sewajarnya namun sikapnya yang dingin bisa dirasakan oleh Clayton.


Clayton mengikuti permintaan Adrianne. Ia duduk didepannya sambil mengamati wajah Adrianne yang tak mau memandangnya sedari tadi.


Mereka berdua makan dalam diam. Adrianne yang hanya makan sedikit segera menyelesaikan makanannya, kemudian langsung berdiri untuk mencuci peralatan makannya.


Beberapa saat kemudian Adrianne beranjak dari dapur. "Maaf, aku duluan ya. Selamat malam." ucapnya meninggalkan Clayton yang masih makan dan sedang kebingungan dengan sikap Adrianne yang berubah sangat drastis malam itu.


Dikamarnya, Adrianne gelisah. Matanya tak mau terpejam. Ia kemudian duduk. Pikirnya, kenapa juga Ia harus bersikap dingin pada Clayton? Bukankah mereka tak punya hubungan apa apa selain sebagai teman baik saja? Bukankah hal itu nanti akan membuat Clayton bertanya tanya?


"Arrrggh...!!!" Adrianne membenci dirinya. Bukankah Clayton bebas memilih siapa yang ingin dikencaninya? Dan mengapa Ia harus marah?


Sejuta pertanyaan yang memojokkan dirinya sendiri terus berkeliaran dibenaknya. Ia sadar kalau Ia tidak bersikap adil pada Clayton. Walaupun hatinya masih sakit mengingat peristiwa tadi siang, tapi Ia sadar kalau Ia tidak berhak marah pada Clayton.


Adrianne merebahkan kembali tubuhnya. Ia bertekad untuk tidak bersikap mengacuhkan Clayton lagi besok. Ia harus mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan pada Clayton mengapa Ia bersikap dingin agar pria itu tidak berspekulasi macam macam mengenai perasaan Adrianne padanya.


Adrianne mematikan lampunya berharap Ia dapat tidur dengan lelap dan melupakan semua yang telah terjadi. Adrianne memejamkan matanya. "Maafkan aku Clay. Aku terkadang lupa kalau kamu hanyalah bagian dari masa laluku." bisiknya lirih.