
"Oke. Jadi, apa hubungan pertanyaanmu tadi dengan maksudmu meminta bantuanku?"
Tanya Adrianne dengan wajah penasaran.
"Aku tahu permintaanku ini sangat tidak masuk akal. Tapi aku...."
"Sebutkan, Clay!" potong Adrianne sebelum Clayton menyelesaikan kalimatnya.
Clayton menatap Adrianne dengan tatapan memohon.
"Menikahlah denganku!
Adrianne terkesiap. Mulutnya sedikit terbuka dengan tatapan tidak percaya atas ucapan Clayton.
"Clayton, kamu sedang melamarku?"
Clayton menggaruk kepalanya. Terlihat sekali wajahnya yang kebingungan
"Maafkan aku Anne. Tapi... untuk bisa membantuku, kamu harus mau menikah denganku. Hanya itu saja!"
Adrianne menegakkan badannya. Ia kemudian tertawa kecil.
"Kenapa gak sekalian aja kamu minta anak dariku, Clay."
Clayton membuang nafasnya dengan berat.
"Aku sedang tak bercanda Anne. Please, menikahlah denganku. Maksudku hanya untuk sementara waktu, dua atau tiga bulan dan setelah itu kita bercerai."
Adrianne menatap Clayton dengan wajah serius.
"Aku tak pernah mau mempermainkan sebuah pernikahan. Apa kau sadar dengan permintaanmu itu?"
"Aku sadar dengan sepenuhnya Anne. Aku juga tak mau melibatkanmu dalam situasi ini. Tapi...aku tak punya pilihan lagi karena hanya kamu yang bisa membantuku. Ayahku sedang sekarat. Kamu sudah tahu kisahnya kan?"
Adrianne mengangguk pelan.
"Ibuku menelponku bahwa kondisi ayahku sudah semakin menurun. Sampai saat ini ayahku belum memaafkanku. Kata Ibuku, ayah mau bertemu dan memaafkanku jika kamu telah tulus memaafkanku dan kita berdua datang menemui mereka. Namun, yang ayahku inginkan adalah kita menemuinya sebagai pasangan suami istri yang sah! Beliau mau melihat surat nikahnya apakah benar atau palsu." Clayton mencoba mengatur nafasnya.
"Selama ini aku sudah menjadi anak durhaka bagi ayahku. Aku tak ingin ayah pergi sebelum Ia memaafkanku. Sekiranya kamu mengerti dengan keadaanku, Anne. Aku sadar kalau aku gak bisa memaksamu menikahiku hanya untuk mendapatkan pengampunan dari ayahku." Clayton menundukkan kepalanya.
Ada rasa iba dalam hati Adrianne mendengar kisah Clayton. Ia sadar bahwa Clayton sedang diperhadapkan dengan tuntutan yang sangat sulit.
"Anne, percayalah, aku nekad memintamu melakukan hal ini karena keadaan. Aku tak pernah punya niat untuk mempermainkan sebuah pernikahan." ucap Clayton mencoba meyakinkan Adrianne.
Adrianne memandang Clayton dengan tatapan sendu. "Maafkan aku, Clay."
Clayton membalas tatapan Adrianne dengan kepanikan.
"Anne... aku mohon pertimbangkanlah permintaanku. Aku janji, setelah selesai memperoleh pengampunan dari ayahku, kamu boleh mengakhiri semuanya. Aku tak akan menuntut apa apa lagi darimu bahkan jika kamu memintaku untuk menghilang dari hadapanmu dan dari hidupmu, akan aku lakukan."
Adrianne memalingkan pandangannya keluar jendela. Perasaannya tidak menentu. Pikirnya, berani benar Clayton memintanya menikah, walaupun bukan pernikahan sesungguhnya, sedangkan Ia sedang menjalin hubungan dengan Adelia?
"Clayton, orang yang seharusnya kamu nikahi itu adalah Adelia dan bukan aku! Bagaimana mungkin kamu memintaku menikahimu sedangkan kamu sedang menjalin hubungan asmara dengannya?" ucap Adrianne dengan suara sedikit bergetar.
Clayton menelan ludahnya dengan susah payah kemudian tersenyum tipis.
"Adelia dan aku tidak punya hubungan spesial seperti yang ...."
"Apa yang orang orang bicarakan tidaklah seperti kenyataan sesungguhnya." ucap Clayton membela diri.
"Aku dan Mr. Petrov melihatmu dan Adelia berciuman waktu itu. Apa kamu mau menyangkalnya, Clay?" Tatapan Adrianne seolah olah sedang menerkam Clayton yang terlihat terkejut.
"Kamu ada disitu waktu itu, Anne?" Tanya Clayton tak percaya.
"Ya. Aku dan Mr. Petrov tak sengaja melihat kalian berdua beradegan mesra sewaktu kami sedang menuju ke cafe. Sekarang tolong jelaskan padaku mengapa kamu menyangkalnya?" tuntut Adrianne.
Clayton menegakkan duduknya.
"Baiklah Anne, akan aku ceritakan semuanya tentang hubunganku dengan Adelia." Clayton membasahi bibirnya yang terasa kering.
"Semenjak aku menggantikan tugas Elle untuk sementara waktu, Adelia banyak membantuku. Kami saling menceritakan pekerjaan sebelumnya dan disitu Ia tahu kalau aku adalah mantan aktor. Ia pun memintaku untuk membantunya untuk berpura pura sedang menjalin hubungan asmara dengannya. Intinya, Ia memintaku beracting hanya untuk mengetahui apakah pria yang dicintainya masih peduli padanya atau tidak. Sebelum Ia menciumku waktu itu, Ia sudah meminta izin sebelumnya. Percayalah...aku tak membalas ciumannya waktu itu."
"Tapi kamu kelihatan menikmatinya!" ucap Adrianne. Ada nada sedikit kesal dalam ucapannya.
"Ya ampun, Anne. Bagaimana mungkin aku menikmatinya jika aku tak mencintainya? Sewaktu aku masih menjadi aktor, aku juga sudah mencium beberapa wanita. Jadi, sewaktu Adelia menciumku, rasanya gak beda dengan yang pernah aku lakukan dalam adegan adegan film yang pernah aku lakoni. Seumur umur aku menikmati ciuman dalam hidupku itu hanya denganmu!" Clayton tiba tiba tersadar dengan kalimat terakhirnya.
"Maafkan aku Anne, aku tak bermaksud menyinggung soal kita."
Adrianne menundukkan kepalanya. Rasa senang dan resah berbaur menjadi satu. "Benarkah yang dikatakannya?" gumam Adrianne dalam hati.
"Clayton, beri aku waktu untuk memikirkan semua ini." ujar Adrianne dengan pelan.
Clayton menyentuh jemari Adrianne.
"Anne, bantulah aku." Bisiknya. "Aku butuh jawabanmu segera. Tolong jangan terlalu lama memikirkannya karena aku tak tahu berapa lama lagi ayahku akan bertahan."
Masih terdiam, Adrianne berusaha mencerna kata kata Clayton yang terdengar sangat putus asa. Adrianne hanya ingin menikah karena saling mencintai dan membutuhkan. Baginya pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Ia tak mau menikah hanya karena dipaksa oleh keadaan. Lagian, menikah kemudian bercerai? Benar benar terdengar sangat kejam! Pernikahan sandiwara yang telah diatur hanya untuk mencapai suatu tujuan jangka pendek tidaklah beda dengan yang ada dalam drama drama Korea!
Adrianne menarik tangannya dari genggaman Clayton. Ia tersenyum kecut.
"Akan aku usahakan untuk memberi jawabannya secepat mungkin. Tapi... jangan terlalu berharap. Aku mungkin tak dapat membantumu. Permintaanmu terlalu berat."
Clayton mengangguk pertanda memahami perasaan Adrianne.
"Terima kasih, Anne. Maaf, aku telah menyusahkanku. Jika bukan karena ayah dan ibukku sangat menyayangimu, mungkin mereka tak akan pernah menempatkankku pada situasi sulit seperti ini."
Adrianne tersentuh dengan perkataan Clayton. Ia tak pernah menyangka bahwa Tuan dan Nyonya Cakrawangsa begitu menyayanginya bahkan ketika mereka telah mengetahui bahwa dirinyalah pelaku sebenarnya yang menabrak Clayton. Bagi Adrianne, orang tua Clayton benar benar tulus menyayanginya.
Keduanya masih diam seribu bahasa. Masing masing dengan pikirannya. Clayton yang sudah pasrah jika Adrianne menolaknya nanti, hanya bisa berdoa semoga hati ayahnya bisa dibukakan Tuhan untuk memaafkan dirinya walau tidak menikahi Adrianne.
Adeianne meneguk kopinya yang telah dingin.
Ia kemudian mengambil tasnya.
"Clay, aku harus pulang sekarang. Aku akan menghubungimu dalam waktu dekat."
Clayton berusaha tersenyum walaupun terasa berat. "Aku antar kamu pulang."
"Tidak usah Clay. Jaraknya ke apartemenku cuma dekat. Aku mau jalan kaki sambil Cari udara segar. Aku mau berpikir sejenak." tolak Adrianne.
"Baiklah. Terima kasih untuk waktumu." ucap Clayton yang hanya bisa menatap anggukan Adrianne yang kemudian beranjak dari tempat itu meninggalkan Clayton dalam keresahan.