
Matahari bersinar cerah pagi itu ketika Adrianne melangkahkan kakinya di rumah Clayton. Ia sudah berencana kalau hari ini terapinya harus berbeda dari sebelumnya.
Seorang pelayan mengantarkan Adrianne ke lantai dua. "Tuan ada di ruangan serbaguna, Dok."
Adrianne mengucapkan terima kasih kemudian mengetuk pintu itu tapi tidak ada jawaban. Ketika hendak mencoba mengetuk kembali, tiba-tiba pintu itu terbuka perlahan.
Adrianne langsung tersenyum melihat sosok tampan yang juga sedang tersenyum didepannya.
"Masuklah. Aku sudah menunggumu dari tadi." ucap Clayton dengan wajah berbinar.
"Maafkan aku, aku harus singgah sebentar di rumah sakit. Ada urusan penting." ujar Adrianne.
"Kamu sedang ngapain?" Tanya Adrianne pada Clayton yang sedang bekerja di meja gambarnya.
"Sedang menyelesaikan pesanan seorang pengusaha. Ia ingin membangun sebuah cafe bertema alam di puncak. Jadi aku sedang menyelesaikan bagian terakhir dari rancangan ini." kata Clayton yang tetap fokus pada gambar didepannya.
Adrianne memperhatikan gambar itu. Clayton ternyata seorang arsitek handal juga. Rancangannya terlihat memukau tapi juga rumit. Bagi Adrianne, ada beberapa bagian yang tidak Ia mengerti terutama bagian yang penuh dengan angka angka.
"Kamu penuh dengan kejutan, Clay! Kamu sungguh bertalenta." decak Adrianne dengan nada kagum.
Clayton tersenyum sambil sesekali menghapus beberapa bagian yang dirasanya salah. Tangannya sangat lihai menggunakan mistar ukur dan pensil ditangannya.
"Tahu gak? Menjadi arsitek bukanlah pilihan pertama dalam hidupku."
Adrianne mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
"Aku sangat suka bermain peran di depan kamera. Tapi papaku tidak pernah mengizinkan aku kuliah perfileman. Katanya sih....gak bakalan bertahan lama seiring bertambahnya umur. Jadi yah....dari pada disuruh kuliah bisnis, aku masih lebih suka menggambar. Jadilah aku seorang arsitek. Darah seni dan talenta menggambarku diturunkan dari mamaku, makanya mama gak pernah maksain apapun padaku menyangkut pilihan hidupku. Ia selalu mensuport aku seratus persen." ucap Clayton dan langsung tersenyum puas melihat rancangan gambarnya sudah selesai.
Adrianne bertepuk tangan dan tersenyum memandang gambar hasil karya Clayton.
"Jangan dulu bertepuk tangan, Dok. Aku masih harus menyalinnya dalam bentuk tiga dimensi dalam komputer sehingga terlihat lebih nyata dan menarik. Tapi bagian itu tidak sulit kok jadi sekarang aku sudah siap untuk terapi." Clayton menatap Adrianne sambil tersenyum. "Shall we?"
Mendengar itu, Adrianne langsung berdiri dan mendorong kursi roda Clayton.
"Hari ini terapinya agak berbeda makanya aku memakai pakaian casual agar lebih bebas bergerak nanti."
Clayton hanya mengangguk. Ada rasa penasaran dalam hatinya tapi Ia mau bersabar saja. Toh Ia pasti akan tahu dengan sendirinya.
Sesampainya di depan tangga menuju lantai bawah, Adrianne berhenti kemudian menekan sebuah tombol. Setalah beberapa detik, muncul seorang pelayan laki-laki.
"Pak, tolong ya, kita mau ketaman samping yang banyak pohon-pohonnya." ucap Adrianne dengan ramah.
Pelayan itu sedikit ragu, pikirnya, sejak kapan Tuan Muda keluar rumah? Namun pelayan itu tetap sigap. Ia membantu Clayton menuruni tangga dengan peralatan khusus yang terletak di bagian sebelah kiri tangga. Clayton bersama kursi rodanya meluncur mulus kebawah secara perlahan-lahan.
Pelayan membawa mereka sampai ke pintu samping arah taman kemudian meninggalkan Clayton dan Adrianne dibawah sebuah pohon yang ada tempat duduknya.
Clayton menghirup udara segar yang membuat paru-parunya terasa lega. Tempat itu terasa sangat sejuk dan menentramkan. Sudah lama sekali Ia tidak berada diluar rumah seperti saat ini.
"Kamu suka, Clay?" Tanya Adrianne pelan tapi juga sedikit ragu.
Clayton masih menutup mata menikmati sejuknya udara dan angin sepoi-sepoi yang meniup wajahnya.
"Aku sangat suka, Dokter Anne."
Adrianne tersenyum kemudian mendorong kursi roda Clayton kearah sebuah taman yang rumputnya tebal dan tidak basah lagi oleh embun. Disekelilingnya terdapat bunga beraneka macam dan warna.
"Sekarang kamu turun sendiri." perintah Adrianne.
Adrianne berjalan memutar dan kini berhadapan dengan Clayton.
"Iya maksudku kamu berusaha bertumpu pada tanganmu dan pindah keatas rumput. Pelan-pelan saja. Kalaupun kamu jatuh, gak bakalan sakit kok. Rerumputan disini sangat lebat dan tanahnya agak lembek."
Clayton ragu sesaat tapi pikirnya, Ia harus mencoba. Bagaimanapun rumput dibawahnya tidak akan menyakitinya.
"Kamu gak akan membantuku?" Tanya Clay dengan wajah memelas kearah Adrianne berdiri.
Adrianne menggelengkan kepalanya.
"Nope. Kamu harus bisa sendiri."
Clayton mulai bertumpu pada pegangan kursinya dan pelan-pelan meluncur kebawah. Ia mendarat kurang mulus diatas rumput sehingga bokongnya terasa agak tegang ketika sudah diatas rumput. Ia kemudian berusaha menarik badannya kearah sebuah pohon yang dekat dari posisinya untuk kemudian bersandar disana. Telapak kakinya mulai merasakan rerumputan yang membuatnya merasa geli.
Adrianne duduk disamping Clayton. Tak lama kemudian Ia mengeluarkan sebuah kresek dari dalam tas yang sedari tadi tergantung dipundaknya. Tas itu berisi buah buahan kering segala macam berry yang dibelinya dari sebuah toko khusus yang menjual bahan makanan import.
"Ini cemilan favoritku. Enak dan tentunya lebih sehat." kata Adrianne sambil menyodorkan kresek putih itu kepada Clayton.
Clayton mengambil segenggam dari dalam kresek dan mulai mengunyah sambil mengamati indahnya kupu-kupu yang berterbangan diantara bunga-bunga.
"Enak. Aku suka." kata Clayton singkat.
Adrianne meletakan kresek itu diantara ruang kecil dimana mereka duduk. "Makanlah semua, stokku masih banyak di rumah dan mumpung masih gratis, karena besok kamu harus membayarnya jika masih mau lagi." kata Adrianne dengan senyum jenakanya.
Clayton mendorong bahu Adrianne pelan sambil tertawa. "Aku pikir snack ini adalah bagian dari terapi...?"
Adrianne tertawa pelan. "Itu bonus jika tidak bawel dan marah-marah sama orang serumah."
Clayton ikut tertawa sambil menatap sosok disampingnya. "Dokter Anne, terima kasih sudah menjadi dokter sekaligus temanku selama ini. Kamu telah mengubahku perlahan-lahan."
Ada senyum sumringah diwajah Adrianne sewaktu mendengar perkataan Clayton yang terdengar sangat tulus. Ia balas menatap wajah tampan itu dengan kelegaan.
"Berjanjilah kalau kamu pasti bisa berjalan lagi. Kakimu sudah semakin kuat. Sekarang sudah memasuki musim panas, aku ingin kamu banyak berlatih diluar rumah. Biarkan telapak kakimu merasakan cahaya matahari, pasir, rumput dan juga bebatuan. Itu akan sangat membantu saraf saraf motorikmu berfungsi dengan lebih baik."
Clayton tersenyum tulus. Ada rasa optimis tersirat dimatanya.
Tiba-tiba Clayton berusaha berdiri sambil berpegangan di pohon. Ada yang terasa sakit dibagian kakinya. Adrianne membiarkan Clayton melakukannya sendiri walau Ia jelas-jelas melihat lelaki didepannya sedang meringis menahan berat badannya. Clayton mencoba mengitari pohon itu sambil terus berusaha walau sudah beberapa kali terjatuh.
Ketika jatuh yang ketujuh kalinya, Adrianne menolongnya untuk duduk dikursi roda. Keringat sudah membasahi wajah dan pakaian Clayton.
"Cukup dulu untuk hari ini. Kamu hebat!" puji Adrianne.
"Kamu benar-benar kejam, Dokter Anne. Aku jatuh berkali-kali tapi sedikitpun tak ada ekspresi kasihan diwajahmu tadi." ucap Clayton sambil menepuk tangan Adrianne.
Adrianne tertawa kecil. "Stop bersikap manja. Aku harus kejam padamu. Kalau tidak begitu kamu pasti tidak akan berusaha."
Adrianne mendorong kursi roda itu kearah pintu samping. Tak terasa mereka sudah menghabiskan dua jam lebih di taman itu.
"Dokter Anne, aku lapar banget sekarang. Setelah ganti pakaian, maukah kamu makan siang bersamaku?"
Mendengar penuturan Clayton, Adrianne langsung mengangguk. "Baiklah, kalau kamu memaksa."
Hari itu adalah pengalaman baru bagi keduanya. Adrianne sangat bahagia melihat perkembangan besar yang terjadi pada Clayton. Bukan hanya fisik, tapi juga emosinya. Walaupun tak dapat dipungkiri Adrianne, kalau beberapa hari ini Ia sedang bergumul menghadapi pasiennya diantara sikap profesionalitasnya dan perasaan aneh yang perlahan mulai dirasakan jika Clayton menatapnya!