
Adrianne membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia sudah tak tahu berapa lama Ia tertidur semenjak tiba dari bandara. Yang jelas cukup lama juga. Ia harus kembali dua hari sebelum masuk kerja lagi.
Hapenya berbunyi. Adrianne menatap layar di hapenya. Tertulis nama Elle disana.
"Hai Elle." ucap Adrianne.
"Hai Anne, masih lelah? Jam berapa tadi tiba?
Tanya Elle.
"Aku tiba sekitar errg....mungkin lima jam yang lalu. Aku udah tidur terlalu lama jadi gak capek lagi." ujar Adrianne meyakinkan Elle.
"Baguslah kalau begitu. Oh iya, besok hari sabtu kita ketemuan dan breakfast bersama ya. Ada hal penting yang harus aku bicarakan. Hari ini kamu istirahat dan santai aja dulu. Senin kamu sudah harus kerja lagi."
Adrainne tersenyum. "Baiklah Elle. Jadi besok sekitar jam 8?"
Elle mengangguk. "Yup, jam 8 di Cafe Tiffany aja dekat dari apartemenmu. Cheese omletnya enak banget disitu."
"Oke, see you tomorrow." ucap Adrianne mengakhiri percakapan.
.
.
.
.
#Keesokan Paginya Di Cafe Tiffany
"Gimana liburannya, Anne? Is it good?" Tanya Elle sambil mengunyah makanannya.
Adrianne menyesap kopinya. Ia hanya tersenyum sepintas.
"It's always good to be home, right?" walaupun wajahnya tidak sesenang jawabannya.
Elle mengangguk dan menyuapi sendok terakhirnya. Ia mengambil gelas air putih dan meminumnya sedikit.
"Tapi kok kamu kelihatan gak begitu bahagia? Apa aku yang salah menilai?" ucap Elle sambil menyelidiki wajah Adrianne.
Adrianne menarik nafasnya dalam dalam kemudian berusaha tersenyum.
"Aku bertemu Damian." ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya? Gimana kabarnya? Apakah Ia sudah menikah?" Elle terlihat bersemangat.
"Ia setampan biasanya dan tetap masih jomblo."
Keduanya tertawa. "Sama kayak Kita berdua tetap jomblo." ucap Anne diiringi tawa yang keras dari Elle.
Elle memandang Adrianne. "Itulah yang ingin aku bicarakan dengan kamu saat ini. Sebenarnya aku paling malas aja pulang. Kamu kan sudah tahu alasanku. Tapi... ayahku sedang sakit parah. Kakakku menelpon aku dua hari yang lalu. Ayahku satu satunya orang tuaku sekarang. Jadi... aku harus meninggalkanmu untuk batas waktu yang belum aku ketahui, Anne."
Adrianne memegang lengan Elle. "Pergilah. Aku gak apa apa kok. Oh iya, usahakanlah untuk bertemu dengan Damian. Aku rasa banyak hal yang bisa kalian bicarakan."
Elle mengangguk pelan. "Akan aku usahakan walaupun aku tak janji. Aku masih risih bertemu dengannya."
Adrinne tersenyum. "Ayolah. Masakan berteman baik tapi risih?"
Elle tersenyum kecil. Bertemu dengan orang yang pernah menolaknya? Sungguh memalukan! pikirnya.
"Oh ya Anne, beberapa waktu yang lalu aku bertemu rekan sekerjaku dulu waktu aku masih menjadi seorang artis. Kami berteman baik sejak bermain bersama disebuah film beberapa tahun yang silam. Dia orangnya baik banget. Ternyata sudah hampir dua tahun ini Ia melanjutkan kuliah masternya di Moskow dan barusan menyelesaikan skripsinya dan akan diwisuda senin depan. Aku minta tolong padanya untuk menggantikan posisiku sementara dan dia gak keberatan sama sekali. Jadi kamu gak usah khawatir. Dia yang akan membantumu dengan segala urusan perpanjangan visa kerjamu dan kebutuhan lain lain selama aku pulang ke Indonesia." ucap Elle dengan serius.
"Aku sedih kalau kamu pergi lama-lama. Aku gak punya teman curhat lagi." ucap Adrianne dengan nada suara setengah merajuk.
"Jangan khawatir. Doakan aja Ayahku cepat pulih jadi aku bisa langsung kembali. By the way, temanku yang akan menggantikanku nanti seorang pria. Tapi aku jamin dia sangat professional. Pengalaman di dunia bisnisnya termasuk sangat baik mengingat bisnis yang sedang dia rintis di Indonesia sangat sukses. Jadi aku gak khawatir dia mengambil alih semua kerjaku. Lagian dia sudah lumayan fasih berbahasa Russia. Oh ya, berita baiknya adalah Ia sangat tampan dan masih jomblo." Elle tersenyum jenaka.
Adrianne sontak tertawa sambil menutup mulutnya. "Aku gak sabaran." candanya.
Elle meneguk kopinya. "Aku sudah menceritakan tentangmu padanya dan hal hal apa saja yang harus Ia kerjakan untuk membantumu. Ketika aku menyebut namamu dan menceritakan tentang pekerjaanmu, Ia langsung tertarik tanpa bertanya ini itu walaupun Ia kelihatan sangat terkejut. Ia langsung menyetujuinya tanpa banyak komentar."
Adrianne mengernyit. "Kalau boleh aku tahu siapa namanya?" Tanya Adrianne penasaran.
"Nanti kamu bakalan tahu juga. Kalian berkenalan aja nanti biar lebih seru! Oh, iya kayaknya aku harus buat janji untuk kalian bertemu mengingat banyak yang harus dia kerjakan untuk membantumu. Visa kerjamu butuh perpanjangan dan ada beberapa hal administrasi yang harus dilengkapi berkaitan dengan kontrak kerjamu yang akan berakhir tahun depan. Aku gak bisa menemanimu untuk bertemu dengannya. Banyak yang harus aku persiapkan untuk kembali ke Indonesia." ucap Elle menjelaskan.
Adrianne meneguk kopinya lagi.
"Gak apa apa kok. Selama ini kamu sudah banyak membantuku. Aku kan bukan anak kecil yang harus di temani setiap saat. Aku bisa mengurus diriku. Aku doakan ayahmu lekas sembuh ya"
Elle mengangguk sambil tersenyum.
"Makasih, Anne. Aku juga berharap demikian."
Anne tertunduk dengan sedikit rasa cemas diwajahnya.
"Walaupun aku mungkin agak canggung bila harus mengeluh ini itu pada temanmu nanti.... aku berharap Ia orangnya baik seperti kamu."
"Ya ampun, Anne." ucap Elle sambil tertawa kecil, "dia orangnya baik banget seperti yang sudah aku katakan tadi. Memang sih aku mengerti akan ada rasa canggung tapi itu pasti hanya permulaan saja. Aku jamin kalian pasti bisa cepat akrab."
Adrinne menegakkan badannya. "Kapan kamu harus pulang?"
"Rabu depan aku sudah harus berangkat. Temanku akan datang hari selasa dan kami akan rapat untuk penyerahan semua tugasku selama aku pergi. Begini saja. Temanku itu akan sangat sibuk selama aku pergi, jadi aku akan atur pertemuan kalian hari sabtu aja ya di tempat ini jam 4 sore. Gimana?" Tanya Elle.
"Aku terserah kamu aja, Elle. Sepanjang itu tidak merepotkan temanmu, aku ngikut aja." ucap Adrianne sambil tersenyum.
Elle mengambil ponselnya dan membuat catatan reminder disana. "Oke. Deal. Sudah aku catat. Aku tinggal membicarakannya dengan temanku hari selasa nanti. Anne, kamu harus usahakan untuk tidak sungkan jika benar benar membutuhkan bantuannya. Aku tak dapat menolongmu untuk sementara waktu. Jadi aku akan memastikan bahwa Ia akan membantumu dengan sebaik baiknya. Aturlah jadwal dengannya untuk sering bertemu supaya kalian bisa cepat akrab. Aku tahu ini tidak mudah bagimu mengingat Ia adalah seorang pria. Aku sudah menitipkan mobilku padanya. Apartemennya sama dengan apartemenku, bedanya dia berada satu lantai diatas apartemenku. Everything will be just fine!"
Adrianne mengangguk perlahan dan menatap Elle dengan mata sedikit sedih. "I'll be missing you so much, Elle. As you said, everything will be just fine."