
Adrianne akhirnya harus menyerah juga pada egonya. Sudah beberapa hari ini ada masalah dengan air di apartemennya. Biasanya Elle akan membantunya menelpon jasa perbaikan ledeng karena para pekerjanya tidak bisa berbahasa Inggris.
Bagaimana mungkin Ia harus bertahan tanpa air? Dengan berat hati terpaksa Adrianne menyambar hapenya dan menelpon Clayton.
Adrainne: "Halo, Clay."
Clayton: "Hai Anne. Ada angin apa menelponku? suara diseberang terdengar tersenyum. "Biasanya juga aku telpon tapi gak mau diangkat."
Adrianne: "Maaf mengganggu. Aku pikir ini weekend jadi aku mau minta bantuanmu. Sebaiknya kamu datang kemari saja supaya aku gak ribet menjelaskannya."
Clayton: "Baiklah, dua puluh menit lagi aku tiba."
Adrianne menutup pembicaraan. Ini kali kedua ledengnya bermasalah. Sebelumnya waktu Elle masih ada. Sebenarnya Elle pernah menawarkan untuk pindah apartemen tapi Adrianne menolak karena mengingat kontraknya tinggal setahun lagi, jadinya tanggung jika harus pindah pindah lagi.
Beberapa menit kemudian bell apartemennya berbunyi. Adrianne langsung membuka pintunya dan mempersilahkan Clayton masuk.
Setelah mempersilahkan Clayton duduk serta menyuguhinya sekaleng minuman soda, Adrianne mulai menjelaskan keadaannya dengan sedetil detilnya.
"Ledengku bermasalah lagi. Ini kali kedua. Aku mohon bantuanmu untuk menjelaskan masalah yang ada dengan penyedia jasa perbaikan apartment ini. Aku tidak fasih berbahasa Russia dan mereka juga tidak fasih berbahasa Inggris. Please....maukah kamu menghubungi mereka?"
Clayton mengangguk. "Berikan nomor mereka padaku."
Adrianne langsung mengambil hapenya, membuka contact number dan menyodorkannya pada Clayton.
Clayton menekan tombol menelpon dan menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian Clayton dan suara diseberang sudah berbicara dalam bahasa Russia. Cukup lama juga mereka berbicara.
Wajah Adrianne terlihat agak khawatir karena Ia mengerti apa yang didengarnya. Ia merasa lemas dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
Clayton mengakhiri pembicaraannya lalu menatap pada Adrianne.
"Maaf Anne, kamu masuk dalam daftar tunggu. Ada beberapa apartemen yang mengalami hal yang sama, mereka harus memperbaikinya satu persatu dan kemungkinan ledengmu akan diperbaiki seminggu dari sekarang. Mereka akan memberikan kompensasi berupa pengembalian 50% pembayaran sewa selama tiga bulan karena masalah ini."
Adrianne hanya bisa terdiam. Pikirannya terasa buntu.
"Bagaimana mungkin aku bisa bertahan tanpa air?" ucapnya dengan nada putus asa.
Clayton duduk disamping Adrianne.
"Tinggalah bersamaku untuk sementara waktu. Itupun kalau kamu tidak keberatan."
Adrianne menatap Clayton dengan wajah bingung. Ia tak punya pilihan. Sedangkan apartemen Elle sudah disewa sementara waktu oleh seorang temannya. "Bagaimana ini?" gumam Adrianne dalam hati. Ia mengusap dahinya kemudian menatap Clayton yang sedari tadi sedang menunggu persetujuannya.
"Kamu tak punya pilihan Anne, kemasi barang barangmu yang penting saja sekarang. Aku tunggu." kata Clayton dengan wajah datar.
Tanpa banyak komentar Adrianne akhirnya melangkah ke kamarnya dan mengemasi barang barang penting yang harus dibawanya. Ia pasrah saja karena air adalah kebutuhan paling vital!
.
.
.
.
#Di Apartemen Clayton
Clayton memasukkan barang barang Adrianne berupa dua buah koper besar kedalam apartemennya. Adrianne mengikutinya dari belakang.
"Kamu tidur saja di kamarku di lantai atas. Aku akan tidur di sofa. Jangan khawatir, apartemenku punya dua kamar mandi. Yang satu di bawah sini dan yang satunya lagi di kamarku." ucap Clayton sambil menunjukkan Adrianne kamar tidurnya.
"Gantilah sepreinya. Seprei dan selimut bersih ada di ruangan laundry dibawah. Aku tinggal dulu." Clayton berlalu dari kamar itu menuju ruangan bawah. Ia menuju ruangan laundry, membuka lemari untuk mengambil seprei bersih, dua buah selimut dan juga bantal untuknya. Ia kemudian meletakan bantal dan selimut di sofa, kemudian memberikan satu buah selimut lagi beserta seprei bersih pada Adrianne.
Bagi Adrianne, ada rasa canggung tinggal seatap dengan lelaki yang pernah singgah dihatinya. Ketika Ia berusaha untuk bersikap sewajarnya malahan terasa aneh.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Adrianne bisa mendengar bunyi berdecit dari dalam perutnya pertanda Ia lapar.
Adrianne segera turun ke lantai bawah dan mendapatkan Clayton yang sedang memasak.
Clayton tersenyum begitu melihat Adrianne yang telah berada didekatnya.
"Malam ini aku hanya masak omlet pasta dan cream soup. Semoga kamu suka." kata Clayton sambil menyodorkan sebuah piring pada Adrianne.
Walaupun sungkan Adrianne tetap menerima piring itu. Mereka mulai makan. Dalam hatinya, Adrianne memuji masakan Clayton. Seorang pria mantan anak konglomerat ternyata bisa masak juga.
"Sejak kapan kamu tahu masak, Clay?"
Tanya Adrianne disela sela aksi mengunyah.
Clayton menatap Adrianne, "Sejak aku melanjutkan study di Moskow. Mau tak mau aku harus bisa masak sendiri. Beli diluar lumayan menguras kantong apalagi waktu itu orang tuaku sudah bangkrut dan bisnisku masih baru menanjak ditambah lagi biaya kuliah yang super mahal."
Adrianne mengangguk tanda mengerti.
"Masakanmu enak."
Clayton tersenyum. "Aku senang kamu suka. Tapi gak bisa gratis untuk selanjutnya. Kamu harus membayarnya dengan tenaga. Aku akan menyediakan bahan makanan di kulkas dan mulai besok kamu yang masak. Jika kamu tidak sedang tugas maka kamu harus memasak untukku. Selebihnya jika kamu kerja, maka aku yang akan memasak untukmu. Deal?" Clayton menatap lekat mata Adrianne.
Adrianne hanya bisa mengangguk menyetujui. Melihat itu, Clayton tersenyum puas.
"Bagus. Anggaplah sebagai latihan sebelum menikah nanti."
Sontak Adrianne langsung terbatuk batuk mendengar ucapan Clayton. Clayton memberikan segelas air putih padanya.
Adrianne berusaha mengatur nafasnya.
"Clayton, kamu ngomong apa sih?"
"Ada yang salah? Maksud ucapanku adalah hal ini sebagai latihan untukmu dan juga aku jika kelak kita sudah bertemu jodoh masing masing. Jangan salah paham dulu dong." ucap Clayton tanpa melihat ke arah Adrianne.
Adrianne salah tingkah juga jadinya. Ia terlalu geer salah mengartikan ucapan Clayton.
"Aku mau segera menikah karena tahun ini umurku sudah tiga puluh. Gak enak sendirian." ucap Clayton enteng.
Adrianne hanya tersenyum sekilas mendengar hal itu. Ia buru buru menghabiskan makannya kemudian berdiri dan membereskan meja makan. Ia kemudian memakai celemek yang dipakai Clayton tadi dan mencuci piring kotor serta membersihkan dapur.
Clayton hanya bisa menatap punggung Adrianne dari belakang.
"Bagaimana denganmu, Anne? Apakah kamu juga punya keinginan menikah?" Tanya Clayton dan langsung membuat Adrianne berhenti sejenak dari kegiatannya mengelap meja dapur.
Adrianne menggeleng. "Tidak. Tidak untuk saat ini." jawabnya singkat.
Clayton tersenyum dan mendekati Adrianne. Kedua tangannya menahan bahu Adrianne agar gadis itu menatapnya. Jantung Adrianne berdetak tak karuan karena wajah mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.
"Kalau kamu belum juga bertemu jodohmu, hubungi saja aku." ucap Clayton menggoda sambil mengedipkan matanya.
Adrianne memundurkan wajahnya karena Clayton terus saja mendekatkan wajahnya.
"Clay, berhenti menggodaku!" Adrianne meletakan tangannya didada Clayton untuk menahan wajah Clayton yang hampir menyentuh wajahnya.
Namun tangan Clayton sudah melingkar dipinggang Adrianne sehingga sulit baginya untuk menghindar. Adrianne tak berdaya. Ia menutup matanya kuat kuat.
Tangan Clayton membuka ikatan celemek dipinggang Adrianne dan kemudian melepaskan celemek itu dari tubuhnya.
"Terima kasih sudah mencuci piring dan membersihkan dapurnya."
Setelah berucap demikian, Clayton kembali ke sofa dan mulai menonton channel favoritnya.
Adrianne membuka matanya dan kembali bernafas. Ia sedikit malu karena menyangka Clayton akan menciumnya. Ia kemudian berjalan kearah Clayton.
"Terima kasih atas makan malamnya. Selamat malam." ucap Adrianne pada Clayton yang sedang asyik menonton.
"Selamat malam." balas Clayton tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
Adrianne naik ke lantai atas dan langsung menutup pintu. Debaran jantungnya belum benar benar normal kembali.
"Kalau seminggu begini terus, lama lama bisa sakit jantung aku." gumam Adrianne pada diri sendiri. Ia sangat malu membayangkan kejadian barusan. "Apakah aku yang terlalu kegeeran membayangkan yang aneh aneh?" pikirnya.
Adrianne menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menutupi kepalanya dengan bantal. Ia malu pada imajinasinya yang mulai tidak terkendali sejak pindah bersama Clayton.