Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Kehilangan Jejak Masa Lalu



#Dua Tahun Kemudian .....


Adrianne bernafas lega begitu pesawat yang ditumpanginya tiba di terminal tiga Bandara Soekarno Hatta. Selama bekerja di Saint Petersburg, Ia baru sekali ini mengambil cuti liburannya. Keringat langsung membasahi wajahnya. Ia sudah terbiasa dengan udara yang adem dan tiba di Indonesia Ia langsung gerah karena kepanasan.


Tak ada yang menjemputnya karena Adrianne ingin membuat kejutan buat keluarga dan juga teman temannya. Cutinya cuman dua minggu, jadi tak boleh ada waktu yang terbuang.


Adrianne sudah berada di dalam kereta yang sedang membawanya ke kota tempat tinggalnya. Pikirnya, Ia ingin melihat lihat dahulu sebelum menuju rumah paman dan bibinya. Lagian Ia tidak sedang membawa barang yang besar dan berat. Ia hanya membawa sebuah tas berukuran sedang beserta tas selempangnya.


Tak beberapa lama kemudian, Adrianne sudah tiba di kotanya. Iangsung menumpang sebuah taxi. Ada perasaan rindu akan tanah airnya yang sudah cukup lama Ia tinggalkan.


"Pak tolong antarkan ke alamat ini yah. Saya gak akan turun kok, hanya mau melihat saja sebentar." kata Adrianne sambil menyodorkan hapenya untuk dibaca Pak Sopir.


Pak Sopir mengangguk tanda mengerti kemudian mobil itu meluncur dengan mulus.


Perasaan Adrianne sedikit cemas. Alamat yang ditujunya adalah rumah Clayton yang mana baginya penuh dengan kenangan masa lalu yang sangat membekas dalam pikirannya.


"Bagaimana kabarmu, Clay? Apakah kamu benar benar telah menyesali apa yang telah kamu perbuat padaku seperti yang Paman dan Bibi ceritakan padaku dua tahun yang lalu? Tanya Anne pada dirinya sendiri.


Ia menarik nafas panjang. Ia tak bisa menyangkali kalau Ia sangat ingin tahu tentang keadaan Clayton. Pikirnya, apakah Clayton sudah menikah? Apakah Ia masih tinggal di istana itu?


"Mbak, kita sudah sampai di Hotel Gardenia. Apakah Mbak mau lihat lihat dulu? Nanti saya tunggu disini." kata Pak Sopir mengagetkan Adrianne dari lamunannya.


"Eh...errgh...apa tadi Bapak bilang? Hotel Gardenia?" Tanya Adrianne tidak percaya dengan pendengarannya.


"Iya, Mbak. Alamat yang mbak tunjukkan tadi adalah Hotel Gardenia. Mbak mau menginap disini?"


Mendengar jawaban Pak Sopir, Adrianne merasa sedikit bingung.


"Hotel? Tapi...bukankah ini adalah rumah keluarga konglomerat itu? Keluarga Cakrawangsa?"


Pak Sopir tersenyum ramah. "Sudah bukan lagi milik keluarga itu, Mbak. Yang saya baca dikoran sekitar setahun lebih yang lalu, keluarga tersebut mengalami kebangkrutan karena pemiliknya tiba tiba sakit berat sedangkan anak anak mereka tidak sanggup meneruskan usaha yang sudah sekian lama dirintis orang tua mereka. Dengar dengar sih keluarga itu sudah menjual semua aset mereka yang tersisa termasuk rumah besar ini dan kemudian pindah ke Belanda. Hanya tinggal anak perempuan mereka yang masih meneruskan usahanya disini sedangkan putra mereka meninggalkan usahanya dikelola orang lain kemudian Ia menghilang entah kemana. Kasihan juga saya dengar kisah keluarga ini. Semuanya saling terpisah. Rumah mereka ini sekarang sudah dijadikan hotel oleh pemilik yang baru."


Adrianne hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Pak Sopir. Ia benar benar tak menyangka perubahan besar yang terjadi selama kepergiannya. Ada perasaan sedih dan juga kecewa.


Adrianne tidak jadi turun dari mobil itu, Ia hanya memandang rumah besar itu dari jendela. Sudah cukup banyak perubahan sana sini terutama untuk pagar dan lahan parkirannya. Rumah itu sendiri tidak dirubah modelnya hanya catnya yang telah diganti dengan warna hijau muda dipadukan dengan warna kuning sehingga terkesan lebih ceria.


Adrianne langsung memerintahkan Pak Sopir untuk berlalu dari tempat itu. Ia kemudian mengambil hapenya dan menemukan nama Damian kemudian menelpon.


"Halo Anne. Apa kabar?" suara diseberang terdengar bahagia.


"Hai cute, aku menuju kantormu sekarang. Surprise!" kata Adrianne sambil tertawa.


"What??? Kamu ada disini? Dasar anak nakal, kenapa gak hubungi aku biar aku jemput."


Adrianne tersenyum, "Namanya juga surprise. Aku tiba beberapa menit lagi."


"Oke, aku tunggu." ucap Damian sambil mengangguk senang.


.


.


.


.


.


#Di Kantor Damian


Tiba di kantor Damian, Adrianne sudah disambut Damian didepan. Keduanya langsung tersenyum dan berpelukan cukup lama, kemudian berjalan ke ruangan kerja Damian


"Anne, sudah lama ya. Kamu kelihatan tambah dewasa sekarang dan tentunya makin cantik." ucap Damian ketika mereka sudah duduk bersebelahan di sofa.


Adrianne tersipu. "Tambah dewasa atau tambah tua?"


Adrianne sekarang



Mendengar pujian Damian, Adrianne hanya nyengir. "Umurku sekarang sudah dua puluh tujuh dan bentar lagi kepala tiga hehe....jadi sudah harus didandani biar jeleknya bisa ditutupi. Lagian ditempat kerjaku, penampilan seorang dokter harus menarik biar pasien betah."


Damian tertawa sambil mengangguk.


"Setuju. By the way, gimana kabar Elle? Aku sama dia cuman berkominikasi lewat WhatsApp aja selama ini."


"Elle baik baik aja. Ia seorang wanita yang luar biasa. Aku sangat menghormati dan memujanya. Untuk seorang mantan artis dan sudah menjadi pengusaha sukses, Ia tidak sembarangan dalam pergaulan. Ia sangat menjaga budaya timurnya untuk menjadi wanita yang terhormat baik dalam perkataan maupun tindakannya." ucap Adrianne sambil menatap Damian yang wajahnya tiba tiba berubah tegang.


"Oh, begitu ya." jawab Damian singkat.


Adrianne mencoba mencari sesuatu di wajah Damian. "Aku cuma heran aja mengapa kamu tidak tertarik dengan Elle. Padahal Ia sangat menyukaimu."


Ucapan Adrianne yang ceplas ceplos dan langsung ke inti membuat Damian harus sedikit melonggarkan dasinya.


"Errgh....dia cerita ke kamu soal itu?"


Adrianne tersenyum singkat


"Come on, aku dan Elle itu sekarang teman baik tau. Kami berdua itu sering curhat tentang banyak hal. Walaupun sampai saat ini aku belum berani memberitahukannya tentang nama pria yang sudah membuatku patah hati."


Damian menatap Adrianne.


"Gak usah diingat ingat lagi tentang masa lalumu. Lupakan saja. Oh...iya, soal Elle, aku gak bisa menerima cintanya karena Ia dulu seorang artis. Aku tau bagaimana kehidupan seorang artis, mereka tidak tetap pada seseorang dan sering terlibat cinta lokasi ditambah lagi kehidupan rumah tangga artis itu sungguh mengerikan bagiku. Yah.... begitulah mengapa aku tak bisa merespon balik perasaan Elle waktu itu.


Adrianne mengernyit, "Itukan dulu... Ia berhenti dari dunia keartisannya karena cintanya padamu. Ia rela meninggalkan semua itu demi kamu. Tapi...karena cintanya bertepuk sebelah tangan jadinya....Elle banting setir menjadi pengusaha dan meninggalkan Indonesia agar Ia bisa melupakanmu." Adrianne berucap tanpa beban. Pikirnya, bodo amat Damian mau bilang apa, toh Ia sudah seperti saudara sendiri. Kini saatnya Ia jujur pada Damian soal Elle. Setidaknya Damian jadi tahu kenyataan yang sesungguhnya. Bagi Adrianne, tanggapan Damian tidak penting lagi, yang paling penting adalah Ia telah membantu Elle menyampaikan perasaannya yang dipendam selama ini.


Damian terdiam sesaat. Ia menggigit kukunya dan kemudian menarik nafas sejenak dan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Anne, kamu sudah tahu tentang keluarga Cakrawangsa?" Tanya Damian.


Adrianne mengangguk pelan. Ada kesedihan dimatanya. "Aku barusan tahu ceritanya dari sopir yang mengantarku tadi. Aku iseng menyuruh Pak Sopir membawaku ke rumah Clayton tapi.....ternyata rumah itu sudah menjadi sebuah hotel."


Damian menatap iba pada Adrianne.


"Sekitar dua tahun yang lalu Clayton menemuiku untuk minta maaf dan sekaligus menanyakan keberadaanmu....tapi, sesuai janji padamu, baik aku maupun paman dan bibimu, kami tidak memberitahukan tentangmu.


Ia benar benar berantakan waktu itu. Sangat jelas terlihat dari penampilan dan caranya berbicara. Dari matanya aku dapat melihat betapa Ia sangat mencintaimu, Anne. Ia terlihat menderita kehilanganmu. Tapi aku tak peduli waktu itu. Walaupun aku sangat kasihan melihatnya, aku ingin Ia merasakan sakit yang kamu rasakan."


Adrianne menarik nafasnya dengan berat.


"Dimana dia sekarang?"


Damian menggeleng. "Tak seorangpun tahu, tidak juga adiknya. Ia seperti menghilang di telan bumi, padahal usaha yang dirintisnya sampai sekarang ini sangat sukses. Ia menugaskan orang kepercayaannya untuk mengurus semuanya."


Adrianne terdiam. Ia benar benar telah kehilangan jejak Clayton. Rasa kehilangan yang dulu pernah Ia alami seakan terulang kembali.


Damian menyentuh lengan Adrianne. Ia menyesal juga mengungkit tentang hal itu.


"Anne, maaf bukan maksudku mengungkit kembali...."


"Tidak apa apa kok." Potong Adrianne dengan senyuman yang dipaksakan.


Damian menepuk lembut pundak Adrianne.


"Kita pulang sama sama ya. Aku antar kamu ke rumah paman dan bibimu."


Adrianne mengangguk pelan. Ia menangis dalam hati tapi berusaha menyembunyikannya dari Damian.