Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Tebusan



Wanita bernama Rachella itu duduk dihadapan Adrianne yang masih terikat mulut, tangan dan kakinya.


Adrianne menatap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Rachella tersenyum sinis sambil membuka penutup mulut Adrianne.


"Sekarang, kamu telepon suamimu! Katakan bahwa ia harus menandatangani surat yang akan dibawah seorang kurir ke kantornya. Jika tidak maka aku tak akan segan-segan menghabisi nyawamu, dokter cantik!" ucap Rachella dengan nada mengancam.


Adrianne meringis kesakitan ketika hendak menegakkan badannya yang pegal karena posisi duduk yang tidak berubah selama beberapa waktu. Baik bagian tangan dan kakinya yang terikat kini telah berubah warna menjadi biru keunguan.


"Percuma! Kalian tak akan memperoleh apa yang kalian inginkan karena polisi pasti sedang mencari!"


BRAAAKK!!


Adrianne terlonjak karena Rachella membanting tangannya di meja yang berada tepat didepannya.


"Lakukan saja, perempuan brengsek! Pria kaya itu sangat mencintaimu dibanding hartanya!" Rachella kelihatan habis kesabaran. Ia mengambil sebuah hape


"Cepat sebutkan sekarang nomor suamimu dan kamu bicara."


Adrianne menggeleng. Melihat itu Rachella berang. Ia mendekati Adrianne dan menjambak rambutnya.


"Kamu tak mau suamimu ikut-ikutan mati juga kan?" bisik Rachella ditelinga Adrianne.


Adrianne kembali menggeleng. "Baiklah." ucap Adrianne kemudian menyebutkan sejumlah angka.


Terdengar suara telepon yang tersambung lewat speaker.


"Halo. Halo...dengan siapa ini." ucap suara yang sangat Adrianne kenal.


"Sayang..." ucap Adrianne bergetar.


"Anne....Anne...dimana kamu?" ucap Clayton.


Rachella kemudian memberi isyarat bahwa waktu bicaranya akan segera berakhir.


"Clay...waktuku tak banyak.....tolong tanda tangani saja dokumen yang akan dibawa oleh seorang kurir. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu!"


"Anne... Anne!"


Tut..tut. Sambungan telpon diputuskan Rachella agar polisi tak dapat melacak posisi mereka.


Rachella bangkit dan keluar dari ruangan itu kemudian terdengar pintu dikunci.


Adrianne menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan susah payah ia berusaha membuka bungkusan nasi didepannya dengan tangan terikat. Ia juga terpaksa harus makan langsung dengan mulutnya karena kondisi tangannya yang terikat dan sakit. Ditambah lagi tak ada sendok yang ditinggalkan untuknya. Pikirnya, ia harus kuat dan sehat untuk dapat bertahan hidup, jadi mau tak mau ia harus makan.


.


.


.


.


.


# Di Kantor Clayton


Clayton kelihatan sangat tertekan dan panik. Namun ia sedikit lega juga karena setelah dua minggu menunggu dalam kecemasan, akhirnya ia bisa tahu bahwa ternyata istrinya masih hidup.


Laporan terakhir anak buah Banteng Hitam melaporkan bahwa komplotan yang menculik istrinya sangat lihai berpindah-pindah tempat.


Sebuah ketukan dipintu mengagetkan Clayton. Reyhan masuk membawa sebuah amplop plastik berwarna hitam.


"Pak ini dokumen yang dibawa seorang kurir dan kurir itu sedang menunggu untuk mengambil kembali dokumen ini setelah Bapak menandatanganinya."


Calyton cepat-cepat mengambil amplop itu dari tangan Reyhan. Ia membukanya dan langsung membaca dokumen tersebut.


"Pengalihan aset dan trasferan sejumlah uang" gumam Clayton.


Beberapa menit kemudian Clayton langsung membubuhkan tanda tangannya tanpa ragu-ragu. Ia sudah rela jika harus kehilangan segalanya. Bagi Clayton, istrinya adalah segala-galanya dan uang bisa dicari lagi.


"Pak, jangan tergesa-gesa menandatanganinya!" ujar Reyhan dengan nada penuh kecemasan.


Clayton berdiri dan menyerahkan kembali dokumen tersebut pada Reyhan.


"Aku sudah tak peduli lagi. Nyawa istriku lebih penting! Segera serahkan dokumen ini pada si kurir itu dan jangan lupa langsung hubungi anak buah Banteng Hitam."


Reyhan mengangguk sambil menerima dokumen tersebut. Ia kemudian keluar ruangan sambil menguhubungi anak buah Banteng Hitam dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi.