
Adrianne menatap pesan yang masuk lewat WhatsAppnya. "Pak Direktur?" gumamnya. Ia kemudian melihat ada notifikasi misscall beberapa kali dari Big bossnya. Adrianne kembali membuka pesan itu.
*Tolong jawab telpon Saya Dokter Anne, atau dokter bisa telpon balik ke saya. Penting*
Tanpa berlama-lama, Adrianne langsung menelpon Big bossnya.
"Ya, Halo, Dokter Anne."
"Halo juga Dokter Hendra, maaf saya tadi masih sibuk visitasi pasien yang sedang terapi, ada yang bisa saya bantu Dok?"
"Dokter Anne, kebetulan saya sudah diruangan saya, jadi kamu kesini dulu, nanti saya minta dokter lain menggantikanmu sementara." kata Dokter Hendrawan.
"Baik Dok, segera! Kebetulan ini sudah jam pergantian shift, jadi saya sudah bebas. Saya segera kesana." kata Adrianne menutup telponnya.
.
.
.
.
Sesampai diruangan Direktur, Adrianne langsung di sambut oleh Dokter Hendrawan. Dokter senior paruh baya itu selalu kelihatan ramah dan bijaksana kalau sedang tersenyum.
"Silahkan duduk Dokter Anne."
Adrianne langsung mengambil tempat duduk disebuah ruang penerima tamu yang sudah disiapkan secara khusus.
Dokter Hendrawan tersenyum kemudian mengambil sebuah arsip didekatnya.
"Dokter Anne, ada tugas khusus buat kamu. Kamu satu-satunya dokter ahli saraf dan terapi yang sangat handal, sabar, dan juga benar-benar mendedikasikan dirimu untuk membantu pasien-pasien kita selama ini."
Adrianne tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Itu sudah menjadi komitmen saya, Dok. Tapi... kalau boleh saya tahu lebih detil, tugas khusus yang Dokter maksud seperti apa ya?"
Dokter Hendrawan tersenyum kemudian membuka arsip rekam medis seorang pria yang ada ditangannya.
"Begini, Dokter Anne. Keluarga seorang pasien meminta khusus seorang dokter pribadi untuk membantu terapi anaknya yang lumpuh. Anak mereka seorang pria berusia berusia 27 tahun. Menurut dokter-dokter terdahulu yang pernah merawatnya, pasien ini sebenarnya masih bisa sembuh tapi Ia mengalami down mental yang hebat sejak kecelakaan yang membuatnya lumpuh, jadi.... penyembuhan agak sukar karena secara emosi pasien ini sangat butuh dukungan. Sebenarnya keluarga ini maunya dokter laki-laki yang menangani anak mereka seperti yang sudah-sudah. Tapi....saya sudah jelaskan bahwa kami hanya punya kamu Dokter Anne, dan Ibu dari pasien ini pada akhirnya mau mencobanya karena mereka sudah sangat membutuhkan. Bagaimana Dokter Anne, apakah kamu bersedia? Tanya Dokter Hendrawan pada Adrianne yang di sambut dengan senyum agak dipaksakan.
"Errr..... apakah jika saya menyetujuinya, tidak akan mengganggu jadwal tugas saya disini, Dok?" tanya Adrianne dengan nada khawatir.
"Jangan khawatir Dokter Anne, jika kamu menerima tugas ini, saya akan memberikan jadwal tugas disini pada hari dan jam tertentu saja. Oh, iya....kamu sudah pasti akan mendapatkan pendapatan khusus dari keluarga ini dan pastinya bayarannya sangat fantastis dibandingkan dengan pendapatanmu selama full bertugas disini." kata Dokter Hendrawan sambil tersenyum. "Bagaimana, kamu bersedia, Dokter Anne?"
Adrianne tersenyum kecil. Ia mengatur nafasnya seraya masih mencari-cari jawaban yang akan diberikan.
"Haruskah saya jawab hari ini, Dok?"
Adrianne masih terpaku. Baginya membantu pasien di rumah pribadi adalah kali pertama baginya.
"Jangan ragu Dokter Anne. Keluarga pasien ini sangat koperatif dan baik. Di rumah mereka ada beberapa pembantu yang sudah pasti akan membantumu juga termasuk peralatan terapi, semua sudah lengkap di rumah mereka, jika kamu butuh peralatan medis lain, tinggal ngomong saja, mereka akan langsung menyediakannya. Dan....perlu kamu ketahui, keluarga ini memiliki saham terbesar di rumah sakit ini." kata Dokter Hendrawan berusaha meyakinkan Adrianne.
Adrianne mengangguk tanda mengerti. Ia kemudian menarik nafasnya dan menghembuskan dengan pelan.
"Baiklah Dokter .... saya terima tugas ini. Saya akan berusaha melakukannya dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuan saya."
Mendengar persetujuan dari Dokter Anne, Dokter Hendrawan tersenyum puas dan langsung menjabat tangan Adrianne.
"Terima kasih Dokter Anne. Saya sangat mengapresiasi tanggapan anda. Ini rekam medis pasien yang dimaksud untuk selanjutnya kamu pelajari." kata Dokter Hendrawan seraya menyerahkan file ditangannya kepada Adrianne. Sementara Adrianne menerima file itu, terdengar suara ketukan dipintu. Seorang sekretaris masuk.
"Maaf Pak Dokter, Nyonya Cakrawangsa sudah datang. Apakah sudah boleh saya persilahkan masuk sekarang?"
Dokter Hendrawan langsung setuju mendengar nama tamu tersebut. "Ya, silahkan."
Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat elegan dan tatanan rambut yang sangat rapi serta make up tipis yang menawan masuk ke dalam ruangan dengan diantar sekretaris tadi.
Dari penampilannya, orang bisa menebak kalau wanita ini berasal dari kalangan berkelas.
Dokter Hendrawan langsung mempersilahkan wanita itu duduk.
"Selamat pagi semua. Maaf kalau saya sudah mengganggu acara anda berdua." kata wanita itu dengan sopan."
"Selamat pagi, Nyonya Dara. Anda tidak mengganggu kami karena kebetulan kami sedang membicarakan tentang anak anda. Oh iya, perkenalkan ini Dokter Adrianne Alexandria yang saya maksud tempo hari. Panggil saja Dokter Anne. Ia sudah bersedia untuk membantu terapi dan pengobatan anak anda di rumah." kata Dokter Hendrawan.
"Selamat Pagi Nyonya Dara. Saya Dokter Anne, panggil saja Anne." kata Adrianne sambil tersenyum dan memberikan tangannya lalu disambut jabatan tangan oleh Nyonya Dara dengan penuh kehangatan dan keramahan.
"Saya Dara Cakrawangsa. Senang bertemu dengan seorang dokter muda yang cerdas dan cantik seperti anda." kata Nyonya Dara dengan senyum ramah dan suara lembutnya.
Adrianne sedikit tersipu dengan pujian Nyonya Dara. Dokter Hendrawan juga langsung setuju dengan menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu saya persilahkan anda berdua untuk berbicara lebih detil tentang hal ini. Saya permisi sebentar dulu." kata Dokter Hendrawan sambil keluar dari ruangannya diikuti dengan ucapan terima kasih dari Nyonya Dara dan Adrianne.
Adrianne sedikit grogi duduk berhadapan dengan Nyonya Dara. Pikirnya, wanita ini sering sekali muncul di televisi dan sepengetahuan Adrianne, Nyonya Dara hampir selalu di kelilingi oleh kalangan artis yang sudah langganan memakai brand rancangannya.
Bertemu dan berkenalan langsung dengan orang top seperti Nyonya Dara tidak pernah terlintas dipikirannya.
Nyonya Dara memperhatikan sosok menawan dihadapannya. "Cantik. Hanya perlu sedikit polesan agar tampak semakin sempurna." bisik Nyonya Dara dalam hatinya.
Sebenarnya Ia agak kaget juga bertemu Adrianne yang ternyata masih sangat muda dimatanya. Ada sedikit keraguan dalam hatinya, mengingat Dokter Anne seorang perempuan muda yang otomatis kelihatan masih kurang pengalaman.
Nyonya Dara berusaha tetap kelihatan ramah di mata Adrianne. Ia berusaha menutupi keraguan yang tersirat dimatanya. "Sanggupkah dia melakukan misi ini? Dia masih terlalu muda dan mungkin pengalamannya masih kurang. Ditambah lagi putraku yang tidak mudah diyakinkan, apalagi dengan orang baru!"
Segala kekhawatiran terus berputar-putar dikepalanya. Nyonya Dara berusaha mencari kata pertama untuk memulai pembicaraan tersebut.
Adrianne merasakan kegelisahan tersebut yang membuatnya semakin grogi dan salah tingkah. "Ya Tuhan, aku merasa seperti seekor semut didepan orang kaya ini." jerit Adrianne dalam hatinya.