Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Pagi Yang Kelam



Matahari masih malu malu menampakan cahayanya pagi itu. Adrianne terbangun cepat. Ia memandang layar hapenya. Ia sedikit gelisah. Sejak kemarin siang Clayton belum menghubunginya. Padahal Clayton tahu kalau hari ini Adrianne sudah cuti untuk persiapan pernikahan.


Telpon yang masuk hanyalah dua kali miss call dari pamannya yang tidak sempat diangkatnya. Ketika Adrianne menelpon balik, Pamannya yang gantian tidak menjawab.


"Mungkin Ia sudah sibuk lagi." gumam Adrianne.


Adrianne menuntaskan sarapannya kemudian mandi dan berdandan ala kadarnya. Ia memutuskan untuk ke supermarket karena persediaan makanan dalam kulkas sudah menipis.


Ketika Ia hendak mengunci pintu, sebuah panggilan menggetarkan hapenya.


"Clayton." gumamnya sambil tersenyum lega.


"Ya Sayang...kenapa baru hubungi aku sekarang? Aku telpon beberapa kali tapi tidak dijawab." ucap Adrianne setengah merajuk.


"Aku jemput kamu sekarang. Kita akan bersenang senang hari ini." kata Clayton dengan suara datar.


"Baiklah sayang. Aku sudah siap nih." kata Adrianne kemudian mengakhiri percakapan.


Ia sangat bahagia karena akhirnya Clayton menelpon juga. Pikirnya, hari ini Clayton akan mengajaknya kemana untuk bersenang senang? Ah, mungkin Ia hanya tegang saja karena hari pernikahan tinggal empat hari lagi.


Clayton tiba dengan mengendarai mobil pribadinya. Ia sudah sangat jarang pakai sopir kecuali jika sedang lelah.


Adrianne duduk di sebelah Clayton yang hanya menatap lurus kedepan. Pikir Adrianne, kenapa wajah itu seperti sarat beban? Bukannya hari ini mereka akan bersenang senang?


"Pagi, sayang. Kita mau kemana hari ini?" Sapa Adrianne memulai percakapan.


Clayton mulai menjalankan mobilnya. Wajahnya benar benar tak ramah seperti biasanya. "Nanti juga kamu tahu sendiri." ucapnya dingin.


Beberapa menit kemudian tak seorangpun yang berbicara lagi. Adrianne mulai dipenuhi pertanyaan. Ada apa dengan Clayton pagi ini? Kenapa Ia tampak sangat dingin dan...sedikit.....menyeramkan. Pikir Adrianne sambil sesekali melirik kearah Clayton yang diam membisu.


Mobil melaju melewati jalan yang tidak begitu ramai, hanya sesekali ada mobil atau motor yang melintas.


Selang dua puluh menit kemudian, Clayton menurunkan kecepatan mobilnya dan berhenti disisi jalan yang agak luas.


"Kita ngapain berhenti disini? Tanya Adrianne dengan ragu ragu....lokasi tempat mereka berhenti mengingatkannya pada sebuah masa lalu.


Clayton tersenyum sinis dan menatap lekat lekat wajah gadis didepannya.


"Kenapa? Apakah jalan ini mengingatkanmu pada suatu kejadian?"


Adrianne bergidik. Wajahnya seketika memucat. Ada perasaan tak enak yang menyusup perlahan dan mulai mengobok obok perutnya.


"Clay.... Ayo pergi dari tempat ini...aku.."


"Pergi katamu?" ucap Clayton dengan cepat tanpa membiarkan Adrianne menyelesaikan ucapannya. "Tapi....kita baru saja akan bersenang senang bukan? Kita akan mulai mengurai ingatanmu tiga tahun yang lalu di tempat ini." suara Clayton sangat sinis.


Adrianne langsung menatap wajah Clayton dengan tatapan memelas.


"Aku mohon Clay, ayo bawa aku pergi dari tempat ini! Kamu membuatku ketakutan!"


"Ketakutan?" tanya Clayton dengan nada agak tinggi. "Rupanya kamu masih punya rasa takut juga ya... tapi...sewaktu kamu menabrak pria itu disini tanpa beban sedikitpun kamu tidak pernah ketakutan bukan?"


Adrianne mengigit kukunya dengan peluh yang mulai membasahi dahinya.


"Baiklah." ujar Clay sambil menarik nafas panjang.


"Aku akan membantumu mengingat kembali semuanya. Dijalan ini pada jam yang hampir sama, seorang pria yang malang ditabrak oleh seorang wanita muda yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Tabrakan tak dapat dihindari. Mobil pria itu terbalik dan hampir meledak, tapi kamu masih sempat mengeluarkannya dari mobil naas itu. Tapi... si penabrak itu tidak pernah menerima hukumannya! Tahun tahun berlalu si pria harus merelakan karir dan masa depannya direnggut oleh ketidak berdayaannya dikursi roda dan juga keadaan mentalnya yang rapuh. Dan kamu? Kamu tetap menjalani hidupmu dengan segala kemudahan. Kamu dapat meneruskan hidupmu dan meraih impianmu tanpa pernah berpikir jika ada seseorang yang butuh keadilan!"


Adrianne terperangah...Ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia mulai terisak. "Ya, Tuhan apakah pria itu...."


Clayton tertawa sinis tanpa menghiraukan tangisan Adrianne disampingnya.


"Selama ini kamu mengira pria itu telah mati, bukan? Ya, kamu benar jika berpikir demikian. Sejak kejadian itu karir dan impian pria itu telah mati! Tapi...tidak raganya! Aku adalah pria itu. Pria yang telah kau renggut masa depan dan kebahagiaannya dalam tahun tahun penderitaan yang harus Ia jalani dalam ketidakberdayaan."


Adrianne semakin kalut. Ia tak dapat lagi berkata kata. Sosok disampingnya kelihatan sarat kebencian dan seolah olah hendak menelannya bulat bulat.


"Anne, dengarkan aku baik baik. Tidak akan pernah ada pernikahan! Aku tak pernah benar benar mencintaimu..Camkan itu!"


Mendengar ucapan Clayton yang begitu keras ditelinganya, Adrianne mencoba menyeka air matanya.


"Clay... jangan pernah berpikir bahwa aku tenang selama tahun tahun penderitaanmu. Aku mohon maafkan aku. Aku tak pernah tahu kalau kamulah pria yang aku tabrak itu. Tak seorangpun yang memberitahuku. Bahkan mereka mengatakan bahwa kamu sudah tak ada kabar. Bahwa kamu telah mati. Aku mohon Clay, maafkan aku."


Adrianne menyentuh pundak Clayton tapi langsung ditepis dengan cepat.


"Permohonan maafmu terlalu terlambat. Malahan aku mulai berpikir jangan jangan kamu dengan menjadi dokter pribadiku adalah juga skenario kamu dan pamanmu itu, hehh?" ucapan Clayton terdengar seperti sebuah ejekan yang garing ditelinga Adrianne.


"Clayton! Kamu salah. Tak pernah ada skenario sewaktu aku merawatmu. Semuanya adalah kebetulan yang tidak disengaja." Adrianne mencoba tegar diantara tangisnya.


"Mencintaimu juga bukanlah bagian dari rencana yang kamu tuduhkan. Aku memang jatuh cinta dan benar benar mencintaimu dengan tulus."


Clayton mulai tertawa kembali. Tawanya tidak renyah tapi terkesan menyeramkan.


"Mencintaiku katamu? Ciiihh....jijik aku mendengarnya. Jangan pernah lagi aku mendengar kata kata itu dari mulut kamu. Aku tak pernah benar benar mencintaimu!"


Adrianne memandang Clayton dengan tatapan sendu.


"Kamu bilang bahwa kamu akan menjaga dan mencintaiku selamanya, Clay....dan ciuman pertamamu ... aku benar benar merasakan ketulusan dalam dirimu waktu itu." suara Adrianne pelan sambil sesekali menahan isakannya.


"Hahahaha....hahahhaha..." Clayton tertawa sekeras kerasnya. "Anne...Anne... aku ini mantan aktor. Kamu tahukan keahlian seorang aktor? Acting! Ya, acting! Dan perlakuanku padamu waktu itu kuanggap sebagai latihan acting yang sudah lama aku tinggalkan! Kamu harus membayar semua tahun tahun kelam yang pernah aku lewati.


Dan sekarang, turun kamu dari mobilku!


Adrianne terperanjat, berusaha mempercayai ucapan Clayton. Perlahan Ia membuka seat beltnya dengan tangan yang gemetar menahan perasaan sakit yang terasa mencabik cabik bagian jantungnya yang berdetak tidak beraturan.


"Cepat! Turun dari mobilku!" teriak Clayton demi melihat Adrianne yang bergerak lamban dan penuh keraguan.


Adrianne cepat cepat membuka pintu mobil dan berdiri untuk keluar.


"Ingat! Penderitaanmu baru saja dimulai! Bersiaplah meratapi hidupmu!" ucap Clayton penuh kebencian dan langsung melarikan mobilnya meninggalkan Adrianne sendiri disisi jalan.


Adrianne memandang pilu kearah mobil yang dipacu Clayton. Ancaman Clayton seperti sebuah batu yang dihantamkan di kepalanya.


Clayton pagi itu bukanlah sosok yang pernah Ia kenal. Clayton yang sekarang adalah sosok yang penuh amarah, kepahitan dan juga dendam.


"Ya, Tuhan. Mimpi buruk itu adalah kenyataan! Sanggupkan aku." bisik Adrianne mencoba menguatkan dirinya.