
Setelah melepas rindu dengan orang tua mereka, Clayton dan Adrianne bersiap untuk menuju ke hotel.
Mereka telah menghabiskan seharian waktu mereka berbincang bincang dengan orang tua mereka. Clayton merasa sangat lega dengan perlakuan ayahnya pada dirinya. Ayahnya tidak kaku lagi seperti pada awal pertemuan.
Dari cara ayahnya berbicara padanya, sangat terasa bahwa Ia sangat menyayangi dan merindukan Clayton. Ia bahkan sangat bangga karena selain telah meraih gelar S2, Clayton sangat sukses membangun bisnisnya di Indonesia.
Ayahnya meminta sopir pribadi keluarga mereka untuk membawa Clayton dan Adrianne ke hotel. Dalam perjalanan ke hotel Clayton hanya banyak terdiam. Terlihat jelas ada kesedihan di matanya.
Adrianne yang menyadari hal itu merasa heran dengan perubahan Clayton yang tadinya sangat bahagia bercengkrama dengan ayah dan ibunya, kini terlihat seperti sarat beban.
Adrianne memutuskan untuk tidak menanyakan hal tersebut selama perjalanan mereka ke hotel. Tapi Ia bertekad untuk melakukannya ketika nanti mereka sudah tiba.
Mobil keluarga Cakrawangsa yang membawa mereka telah tiba ditujuan. Karena tidak ada barang bawaan yang besar, sopir tersebut langsung pamit. Adrianne dan Clayton berterima kasih dan langsung disambut oleh petugas hotel.
Adrianne langsung meluruskan badannya sejenak di sebuah sofa sedangkan Clayton mengurus kamar mereka di resepsionis.
Beberapa saat kemudian Clayton telah memegang dua kartu untuk kamar mereka masing masing.
"Anne, ini kartumu. Silahkan istirahat. Kamar kita hanya bersebelahan jadi kalau kamu butuh apa apa langsung hubungi aku saja." ucap Clayton sambil memberikan salah satu kartunya pada Adrianne.
Adrianne mengangguk dan menerima kunci itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. "Baiklah aku mau mandi dan beristirahat."
Mereka berdua menuju kamar masing masing untuk membersihkan diri.
Setelah merasa segar, Adrianne membaringkan dirinya ditempat pembaringan sambil mengutak atik ponselnya. Ia hanya bisa mengandalkan wifi hotel karena tak mau mengganti nomor mengingat kunjungan mereka hanya sangat singkat di negara kecil itu.
Tiba tiba Ia teringat pada Clayton yang semenjak pulang tadi tampak sedih dan banyak pikiran.
"Ada apa dengan dia? Padahal ayah dan ibunya memperlakukannya dengan sangat baik." gumam Adrianne pada dirinya.
Ingin sekali Ia berbicara pada Clayton tapi kemungkinan Clayton sudah istirahat karena masih kelelahan.
Perasaan Adrianne tidak tenang. Ia merasa ada yang tak beres dan harus diselasaikan sebelum mereka bertemu lagi dengan orang tua Clayton besok sore karena pagi hingga sore mereka akan ikut tour hotel.
Adrianne memutuskan untuk berbicara secara langsung. Ia berdiri dan menuju ke kamar Clayton di sebelahnya. Ia kemudian mengetuk pintu itu.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka, tampak Clayton yang sudah kelihatan segar dengan kaos oblong putih dan celana panjang hitam yang longgar.
"Maaf mengganggumu, Clay. Apakah kamu sudah tidur?" Tanya Adrianne.
Clayton menggeleng, "Masuklah." ucapnya singkat.
Adrianne masuk dan langsung duduk disofa.
"Aku gak bisa tidur." ucapnya.
"Aku juga." jawab Clayton dan menghempaskan tubuhnya di samping Adrianne.
"Clay, kalau boleh aku tahu, kamu kenapa sepanjang perjalanan kesini tadi. Apakah ada masalah dengan ayahmu?" Tanya Adrianne dengan lembut.
Clayton menggeleng pelan. Ia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam.
"Anne, aku sudah memutuskan agar kita sebaiknya mengakhiri sandiwara ini."
Adrianne mengernyit. "Kenapa Clay? Kita kan sudah sejauh ini dan juga acting kita berhasil kan?
"Justru aku ingin mengakhiri acting tersebut di depan orang tuaku. Aku ingin berterus terang tentang pernikahan ini."
Adrianne terdiam sejenak. Pikirnya, kenapa Clayton berubah pikiran ketika mereka sudah susah susah datang sejauh ini?
"Kamu jangan khawatir, kita akan tetap menghadiri jamuan dengan dokter idolamu sebagai suami istri. Tapi untuk masalah orang tuaku, aku rasa cukup sampai disini." ucap Clayton sambil meremas jemari tangannya.
Adrianne semakin bingung tapi Ia kehabisan kata kata untuk bertanya lebih lanjut.
Clayton menatap Adrianne. "Anne, aku telah melakukan kesalahan pada orang tuaku dua tahun yang lalu. Aku benar benar merasa menjadi anak yang durhaka bagi mereka. Melihat bagaimana mereka memperlakukanku tadi khususnya ayahku, aku merasa sangat bersalah karena telah memulai perbaikan hubungan ini dengan kebohongan. Jika aku membayangkan betapa bahagianya wajah mereka bertemu kita, hatiku terasa sangat sakit karena telah berani membohongi mereka dengan pernikahan ini."
"Aku sangat menyesali telah menyeretmu untuk ikut ikutan berkomplotan menipu orang tuaku hanya supaya ayahku memaafkan dan menerimaku kembali. Aku telah memulainya dengan cara yang tidak benar. Jadi, aku memutuskan untuk jujur saja pada mereka dan menerima semua hukuman yang ada seumur hidupku dari pada harus hidup tidak tenang dalam kebohongan pada orang tua sendiri!"
Clayton menyandarkan kepalanya disofa dan mengusap dahinya berkali kali. Beban penyesalan itu terasa sangat menyiksa.
Adrianne masih terdiam merenungi kata kata Clayton. Ia merasa sangat terpukul karena apa yang dikatakan Clayton adalah benar adanya. Membohongi orang tua sendiri adalah dosa besar!
Ada perasaan bersalah dalam hati Adrianne. Bagaimanapun juga Ia punya andil dalam merancang semua sandiwara ini.
"Clay, maafkan aku. Aku juga punya andil dalam semua kebohongan ini. Orang tuamu sangat baik padaku dan...mereka sangat menyayangiku, bahkan mereka sangat bahagia dengan pernikahan ini. Benar katamu, sekali berbohong maka akan diikuti dengan kebohongan lainnya. Jika kita tetap meneruskan semua ini maka kita akan dirantai dengan kebohongan yang akan kita bawa seumur hidup. Aku benar benar menyesali perbuatanku ini. Clay...maafkan aku. Terima kasih telah mengingatkanku."
Adrianne menarik nafasnya sedalam dalamnya dan menghembuskannya perlahan. Ia merasa benci dengan dirinya.
Keduanya terdiam untuk beberapa menit. Masing masing sedang merenungkan dan menyesali perbuatan mereka.
Adrianne mengangkat wajahnya dan menatap Clayton yang sedang meremas kepalanya sambil menutup mata.
"Clay, pernikahan ini sudah terlanjur. Dan jika ayahmu ingin melihat akta nikah kita, maka kita harus menunjukkannya. Aku putuskan untuk membatalkan semua perjanjian nikah yang telah aku buat dan kita teruskan pernikahan ini dengan sebenar benarnya agar tidak ada lagi kebohongan."
Mendengar ucapan Adrianne, mata Clayton terbuka. Ia menegakkan duduknya dan balas menatap Adrianne dengan wajah penuh tanda tanya.
"Sadarkah kamu pada ucapanmu, Anne?"
Adrianne mengangguk mantap lalu tersenyum,
"Aku sangat sadar, Clay. Walaupun mungkin perasaan kita tidak seperti dulu lagi tapi...kalau kamu mau janji untuk berusaha mencintaiku lagi....ak...aku mau memulainya dengan penuh kejujuran dihadapan orang tuamu."
Wajah sedih Clayton langsung berubah seketika. Ada senyum kelegaan diwajahnya.
"Aku tak perlu berusaha keras untuk hal itu karena aku tak pernah berhenti mencintaimu sejak aku jatuh cinta padamu, Anne. Aku memang berusaha menjaga jarak selama ini tapi itu karena aku tahu kamu tak lagi mencintaiku seperti aku mencintaimu."
Mata Adrianne sedikit berkaca kaca, serasa tak percaya dengan ucapan Clayton.
"Benarkah cintamu padaku tidak pernah berubah?"
Clayton langsung mengangguk dengan mantap sambil tersenyum.
"Tapi....justru selama ini aku merasa bahwa perasaanmu padaku yang telah berubah. Aku selama ini hanya berusaha menekan rasa cintaku padamu karena cintamu padaku sudah...."
Ucapan Adrianne langsung dibungkam oleh telunjuk Clayton dibibirnya.
"Itu tidak benar. Aku tak pernah berhenti mencintaimu. Yakinlah, jika aku tak lagi mencintaimu, aku sudah lama menikahi orang lain!"
Adrianne tersenyum kecil. Ada rasa lega yang tiba tiba menghapus segala keraguan yang Ia simpan selama ini.
"Jadi...kamu mau untuk meneruskan pernikahan ini dengan cinta?"
"Tentu saja, sayang." ucap Clayton sambil mengelus pipi Adrianne dengan lembut.
"Ini memang yang selalu aku impikan yaitu menikahimu dengan landasan cinta."
"Jadi, besok kita gak perlu lagi bersandiwara pada orang tuamu. Aku capek beracting terus." ucap Adrianne yang disambut tawa oleh Clayton.
"Aku juga lelah beracting. Soalnya actingmu payah. Punggungku sampai merah merah dicubit terus sama kamu!" ujar Clayton dengan wajah kecewa yang dibuat buat.
Keduanya tertawa keras mengingat sandiwara mereka selama dirumah orang tua Clayton.
Adrianne melihat pada jam dihapenya.
"Sudah jam 11.30. Besok pagi jam 9 kita harus ikut tour. Beristirahatlah." ucap Adrianne sambil berdiri hendak keluar tapi tiba tiba tangannya ditahan oleh Clayton.
"Bukankah perjanjian nikah kita sudah tidak berlaku lagi? Bukankah suami istri harus tidur sekamar?" ucapan Clayton langsung membuat wajah Adrianne terperangah sesaat. Debaran itu datang lagi dan Ia hanya bisa tersenyum ketika Clayton langsung menggendongnya dan meletakan tubuhnya keatas ranjang. Adrianne tidak bisa protes karena mereka baru saja membuat kesepakatan yang baru.
"Tidurlah, sayang. Besok adalah hari yang panjang dan akan lebih melelahkan." ucap Clayton sambil mengecup lembut bibir Adrianne.
Ada kenyamanan yang belum pernah Ia rasakan sewaktu tubuh Clayton mendekapnya dalam kehangatan hingga mereka berdua tertidur dalam senyum.