
Adrianne menatap gumpalan awan putih dari kaca jendela pesawat yang sedang membawanya dan Clayton ke Bandar Udara International Schiphol Amsterdam. Tak terasa hampir 18 jam mereka habiskan hanya duduk, menonton, mengobrol, makan dan tidur.
Adrianne menatap Clayton yang masih tertidur dengan kaca mata hitamnya sambil melipat tangannya didada.
Ia masih tak percaya jika si tampan disampingnya kini telah menjadi suaminya. Walaupun pernikahan mereka hanya untuk sementara waktu, tapi Adrianne berusaha untuk menikmatinya.
"Sudah puas menatap ketampanan suamimu? Aku lihat kamu sangat terpesona." ucap Clayton yang sebenarnya sudah membuka matanya sejak beberapa menit yang lalu, tapi karena memakai kaca mata hitam, Adrianne mengira Ia masih tidur.
Mendengar suara Clayton, Adrianne yang tersipu langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela lagi.
Clayton tersenyum geli melihat tingkah istrinya. "Kamu tidak tidur dari tadi?" Tanya Clayton.
Adrianne hanya menggeleng. "Gak bisa tidur, bantalan kepalanya gak enak."
Mendengar itu Clayton perlahan menarik bahu Adrianne dengan lembut untuk disandarkan ke bahunya.
"Kemarilah. Tidur saja dibahuku."
Adrianne tidak menolak. Sedari tadi sebenarnya Ia ingin menumpang di bahu Clayton sekedar merilekskan posisi badannya tapi Ia masih malu.
Sesaat kemudian, Adrianne tertidur juga lumayan nyenyak dibahu Clayton. Clayton yang melihat Adrianne yang akhirnya terlelap, tersenyum kecil lalu mengecup kepala gadis itu. Ia kemudian menutup kembali matanya dan mencoba untuk tidur lagi.
Pukul sembilan pagi lebih lima belas menit, pesawat mereka telah mendarat. Karena memakai kelas business executive, mereka mendapat kesempatan keluar lebih dahulu.
"Aku sudah bilang mama gak usah jemput kita. Aku gak mau merepotkan. Hotel sudah aku booking. Karena kita masing masing cuma bawa tas kecil, jadi kita langsung aja ke rumah orang tuaku." perkataan Clayton langsung di setujui Adrianne dengan anggukan kepala.
Tak lama kemudian mereka sudah menumpang sebuah taxi yang membawa mereka ke alamat rumah yang ditunjukkan oleh GPS.
Taxi tiba disebuah rumah yang lumayan besar dan indah. Banyak bunga bunga disekitarnya, menambah keasrian suasananya.
Keduanya melangkahkan kaki mereka, melayangkan pandangan disekitar rumah tersebut dan berdecak kagum.
Pikir Adrianne, walaupun rumah ini tidak semegah rumah yang telah dijual itu, tapi rumah didepan mereka tersebut tetap terlihat tidak kalah bagusnya.
"Kamu sudah siap, Anne?" Suara Clayton mengagetkan lamunan Adrianne. Adrianne kemudian tersenyum dan mengangguk menyambut uluran tangan Clayton yang ingin menggandengnya."
"Ingat, actingmu harus meyakinkan." ucap Clayton mengingatkan Adrianne.
Adrianne tersenyum, "Siap boss!" ucapnya singkat dan mantap.
Clayton menekan bell yang ada dipintu. Karena rumah tersebut tidak memiliki pagar, jadi mereka langsung masuk saja hingga depan pintu rumah.
Seseorang membuka pintu perlahan. Tampak seorang wanita berusia empat puluhan menatap mereka dengan wajah terperanjat. Orang itu adalah salah satu pelayan yang pernah tinggal lama dengan keluarga Clayton sewaktu masih di Indonesia.
"Tuan Clayton?" Saking kagetnya, wanita itu langsung memanggil majikannya. "Nyonya.....Tuan Clayton sudah tiba."
"Tuan dan Nona, mari silahkan masuk. Sudah ditunggu Tuan dan Nyonya besar dari tadi."
Clayton dan Adrianne tersenyum dan masuk kedalam rumah. Mereka duduk di sebuah sofa besar dan nyaman.
"Bi Lina masih ingat saya ya?" Tanya Clayton pada wanita itu.
Wanita itu tersenyum bahagia. "Mana mungkin saya lupa? Saya sudah mengabdi dikeluarga Tuan sejak Tuan Clayton masih jadi bintang film. Saya pikir saya gak bakalan bertemu lagi dengan Tuan Clay sejak Tuan pergi dari rumah sekitar dua tahun lalu. Dan....Nona cantik ini pasti dokter yang dulu merawat Tuan Clay kan?"
Clayton tersenyum hangat sambil mengangguk. "Iya Bi. Dia dokter Anne dan sekarang sudah menjadi istriku. Kami menikah di Russia tempat dimana kami tinggal sekarang."
"Wah... selamat ya. Ternyata kalau jodoh emang pasti ketemu juga walaupun dulu sempat putuskan? Bibi senang sekali mendengarnya! Bibi siapkan makanan dulu ya buat kalian yang pasti masih lelah." Bi Lina masuk kedalam setelah berucap dan digantikan dengan kehadiran Nyonya Dara dengan senyum bahagia di wajahnya sambil mendorong suaminya dikursi roda.
"Clayton......Anne....ya ampun. Kami sangat merindukan kalian." ucap Nyonya Dara langsung memeluk erat keduanya.
"Jadi, kalian ini telah menikah?" Tanya Nyonya Dara dengan tatapan penuh selidik.
"Benar Ma. Aku dan Anne belum lama menikah di Saint Petersburg." ucap Clayton sambil memandang Adrianne yang kini berada dalam rangkulannya. Adrianne tersenyum mesra pada suaminya sambil mengangguk. Pikirnya, Ia harus pandai mengimbangi acting Clayton selama berada didepan orang tuanya.
Nyonya Dara mempersilahkan keduanya duduk untuk menikmati kopi dan camilan yang dibawa oleh Bi Lina.
"Ayah. Bagaimana kabar ayah selama ini?" Tanya Clayton dengan sedikit ragu ragu karena sedari tadi Ia melihat ayahnya hanya diam memandang mereka dengan wajah datar.
"Seperti yang kamu lihat." Jawab ayahnya singkat.
"Kondisi ayahmu lumayan membaik sejak mendengar bahwa kalian sudah bersama lagi dan telah menikah." ucap Nyonya Dara. "Sekarang coba ceritakan mengapa kalian bisa sampai menikah."
Pertanyaan ibunya sempat membuat Clayton kelabakan. Ia terlihat sedikit gugup tapi Adrianne yang melihat gelagat itu, langsung segera mengambil alih.
"Mama...Papa, kami bertemu secara tak sengaja di Saint Petersburg. Aku bekerja di sebuah klinik dimana salah satu pemegang sahamnya adalah sahabat Clayton bernama Elle. Karena Elle harus kembali untuk sementara waktu ke Indonesia, maka Ia meminta bantuan Clayton yang waktu itu baru menyelesaikan studi S2nya di Moscow menggantikannya selama Elle pulang ke tanah air. Nah, disitulah kami bertemu kembali dan jatuh cinta lagi, benarkan sayang?" sambil memandang Clayton meminta bantuan dukungan.
Clayton tersenyum. "Benar yang dikatakan Anne. Aku pikir pikir, mengapa tidak menikahinya saja. Soalnya aku takut dia menghilang lagi." mengakhiri kata katanya, Clayton mengecup lembut dahi Adrianne yang langsung disambut senyuman manis gadis itu.
Ada binar kebahagiaan di wajah Nyonya Dara.
"Jadi, kalian benar benar sudah saling memaafkan?"
Kedua orang didepannya langsung kompak mengangguk.
"Kalau kami tidak tulus saling memaafkan, mana mungkin kami menikah seperti sekarang ini, Ma." tegas Clayton.
Nyonya Dara tersenyum mendengar perkataan anaknya. "Mama senang mendengarnya. Oh, iya. Bi Lina sedang menyiapkan kamar kalian diatas. Kalian harus menginap disini. Gak usah tidur di hotel. Kami masih sangat merindukan kalian."
Perkataan Nyonya Dara adalah seperti yang sudah Clayton dan Adrianne ramalkan bakal terjadi.
"Tapi Ma, aku dan Anne sudah booking kamar di hotel. Kami berencana sekalian bulan madu di kota ini, travel untuk jalan jalan juga sudah kami atur. Jadi....mungkin kali berikut saja jika kami datang berkunjung lagi." Clayton berkata dengan sedikit gugup dikarenakan Ia harus berbohong lagi. Ada rasa sakit dalam hatinya ketika Ia harus berbohong. Tapi tak ada pilihan lain baginya sementara ini.
"Iya Ma, maafkan kami. Kota ini sangat indah jadi sangat cocok untuk bulan madu bagi pasangan yang baru menikah seperti kami." lanjut Adrianne mendukung alasan Clayton.
Terlihat ada gurat kekecewaan di wajah Nyonya Dara begitupula dengan Tuan Adhiata.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalian harus janji jika datang berkunjung lagi, kalian harus menginap di rumah ini."
"Tentu saja Ma. Semoga jika kami datang lagi, kami sudah membawa cucu buat mama dan papa." ucapan tersebut meluncur mulus dari bibir Clayton yang disambut dengan sebuah cubitan kecil tapi menyakitkan dari Adrianne dipunggung belakang Clayton. Clayton sekuat tenaga menahan sakit dengan pura pura tersenyum sambil meringis pada Adrianne yang juga langsung pura pura tersenyum manis dengan bola mata yang membesar padanya.
Ucapan Clayton disambut dengan sebuah senyuman diwajah ayahnya. Ibunya sendiri langsung memeluk Adrianne.
"Semoga ya, Anne sayang." kata Nyonya Dara.
Adrianne hanya membalas pelukan itu dengan sebuah senyuman dan anggukkan.
"Nyonya, maaf. Makan siang telah siap." kata Bi Lina yang muncul sambil tersenyum ramah.
"Makasih, Bi." ujar Nyonya Dara kemudian tersenyum pada pasangan didepannya.
"Ayo kita makan dulu. Bi Lina memasak masakan Indonesia lho. Kalian pasti lapar kan?"
Baik Clayton maupun Adrianne langsung mengangguk. Mereka pun menikmati makan siang tersebut dengan dinominasi oleh cerita Clayton dan Adrianne selama menetap di Russia.