
Clayton menatap dirinya di depan sebuah cermin hias yang terpampang di salah satu dinding ruang kerjanya. Beberapa bulan terakhir ini Ia lebih sering menghabiskan waktunya sampai larut malam dikantornya. Bahkan pernah beberapa kali Ia tertidur sampai pagi di ruang kerjanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Ia masih tidak mau beranjak pulang. Semua karyawan sudah pulang beberapa jam yang lalu. Hanya tinggal beberapa satpam yang berjaga diluar.
Tiga bulan telah berlalu semenjak Ia melihat Adrianne dan Damian disebuah cafe. Semenjak saat itu, Ia tak pernah lagi bersua dengan Adrianne. Pernah beberapa kali Ia bertemu Damian tapi pria itu sudah tak pernah bersama Adrianne lagi.
Clayton menjadi resah. Ia tak dapat mendustai hatinya kalau melihat Adrianne dari jauh saja Ia sudah bahagia walaupun gadis itu sedang bersama Damian. Sebesar apapun rasa cemburu itu, selama Ia bisa melihat Adrianne, Ia sudah merasa lega. Pikirnya, sepanjang Adrianne baik baik saja dan terlihat sehat, sudah cukup membuatnya bahagia.
"Anne, kamu dimana? Mengapa kamu seperti menghilang?" guman Clayton tanpa sadar.
Sebulan yang lalu Ia nekad ke apartemen Adrianne karena sebenarnya sejak putus dengan gadis itu, Ia masih rutin sekedar lewat untuk mengamati keberadaan Adrianne. Tapi apartemen itu sunyi senyap dan di pintu telah tertulis "Hubungi Agen untuk penyewaan atau pembelian."
Apartemen Adrianne ternyata sudah dijual tiga bulan yang lalu dan yang lebih menyakitkan lagi, Adrianne entah menghilang kemana.
Clayton mengacak rambutnya kemudian memandang wajahnya yang kuyu. Pikirnya, siapa sebenarnya yang menderita sekarang ini? Clayton menggelengkan kepalanya. Ia tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri. Dialah yang paling menderita saat ini!
Clayton menghempaskan tubuhnya diatas sofa sambil memijit mijit dahinya. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Rasa kehilangan yang sedang Ia rasakan saat ini ternyata lebih menyakitkan dari kecelakaan yang dialaminya!
Mata Clayton menerawang... bayangan Adrianne memenuhi pikirannya. Dadanya terasa sesak menahan perasaan rindu dan juga sedih. Ia kembali mengingat masa masa indah saat Adrianne masih merawatnya sebagai pasien. Bagaimana Ia bisa jatuh cinta dengan kesabaran dan kelembutan Adeianne. Wajah cantik natural Adrianne yang selalu membuatnya ingin terus menatap dan mengecup bibir manis gadis itu.
Seketika bahu Clayton berguncang. Tangisnya pecah juga setelah berusaha ditahannya sekuat tenaga. Ada rasa penyesalan yang hebat mengalir disetiap bilik bilik jantungnya. Dendam yang Ia simpan selama bertahun tahun seperti lenyap entah kemana. Baginya semua tidak berarti lagi. Cintanya pada Adrianne terlalu kuat merantainya!
Clayton tak tahan lagi terbelenggu dalam siksaan yang diciptakannya sendiri. Ia bertekad mengakhiri semuanya, dan untuk mengakhiri semuanya, Ia harus bertemu Paman dan Bibi Adrianne untuk meminta maaf.
.
.
.
.
.
#Di Rumah Keluarga Peter Brahmian Dua Hari Kemudian
Clayton tertunduk dihadapan Tuan dan Nyonya Brahmian. Ia berusaha sekuat tenaga mencari kata kata yang hendak diutarakannya.
"Saya telah sadar dengan sepenuhnya akan apa yang telah saya perbuat terhadap putri anda. Saya benar benar menyesali semua penderitaan yang sudah saya rancangkan pada Anne. Sejujurnya saya tidak sepenuhnya membenci Anne. Saya terlalu mencintainya dan saya berusaha memperbaiki keadaan. Saya datang untuk memohon maaf yang setulus tulusnya pada Tuan dan Nyonya juga pada Anne. Saya berharap Tuan dan Nyonya, terlebih Anne mau menerima permohonan maaf saya." setelah mengucapkan kalimat itu dengan perasaan yang amat bersalah, Clayton berusaha kembali mengatur nafasnya. Ia masih sedikit tertunduk dan belum berani menatap langsung pada dua sosok didepannya yang sebenarnya sedang menatapnya penuh iba.
Bagi Tuan dan Nyonya Brahmian, Clayton kelihatan benar benar berantakan. Terlihat jelas kalau pria dihadapan mereka sangat menderita.
"Kami sudah memaafkan anda Tuan Clayton, tapi kami tidak bisa memaksakan Anne untuk menerima permohonan maaf anda. Ia sangat terluka. Selanjutnya, andalah yang harus berjuang sendiri untuk memohon maaf padanya." ucap Nyonya Brahmian dengan pelan.
Tuan Brahmian mengangguk tanda setuju dengan perkataan istrinya.
"Benar Tuan Clayton. Walaupun kami telah memaafkan anda, tapi Anne berbeda. Anda yang harus mencarinya dan mengungkapkan permohonan maaf anda secara langsung."
Clayton mengangguk lemah. Matanya memerah menahan gejolak perasaan sesal yang memenuhi pikirannya.
"Saya sudah mencari Anne dimana mana di kota ini, tapi...saya belum mendapatkannya. Apakah Tuan dan Nyonya tahu keberadaannya? Tanya Clayton dengan wajah dan nada suara memelas.
Kedua sosok dihadapannya menggeleng hampir bersamaan.
"Maafkan kami. Kami tak dapat memberitahukan pada anda dimana Anne berada sekarang. Kami sudah berjanji padanya. Tapi kami pastikan kalau Anne dalam keadaan sehat dan bahagia ditempat kerjanya yang baru. Yang pasti, Anne tidak lagi berada di Indonesia." ucapan Nyonya Brahmian bagaikan petir ditelinga Clayton
"Jadi...Anne tidak lagi berada di Indonesia? Dia tinggal dan bekerja diluar negeri?" Clayton mengulangi pernyataan Nyonya Brahmian dengan rasa terkejut yang luar biasa.
"Ya. Benar." ucap Tuan Brahmian. "Ia pergi jauh karena merasa tak ada tempat lagi baginya di negara sendiri dan tentunya, Ia juga ingin pergi jauh agar dapat melupakan anda sepenuhnya!"
Clayton merasa lemas. Jika ini adalah rumahnya mungkin Ia sudah terkulai di atas lantai. Ia berusaha menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering. Pikirnya, tamat sudah pencariannya. Dunia ini begitu luas, tak mungkin untuk menemukan Anne. Ia juga sudah berusaha bertemu dan berbicara dengan Damian semalam tapi pria itu masih sangat marah padanya! Jawaban Damian sama dengan Tuan dan Nyonya Brahmian bahwa mereka sudah berjanji untuk tidak memberitahukan di negara mana Adrianne berada.
Clayton meremas rambutnya. Wajahnya kelihatan pucat. "Inikah hukuman bagiku? Terlalu jahatkah aku? Ya, Tuhan. Aku sangat mencintai Anne. Aku bisa mati kalau begini!" bisiknya dalam hati.
Tuan dan Nyonya Brahmian sebenarnya tak tega melihat keadaan pria di depan mereka. Keadaannya sungguh memprihatinkan! Wajahnya sangat kuyu dan rambutnya sudah agak gondrong. Kelihatan sekali kalau pria itu belum ke salon untuk waktu yang lumayan lama.
"Tuan, Nyonya. Terima kasih karena sudah menerima permohonan maaf saya. Namun, jika Tuan dan Nyonya berubah pikiran, saya mohon untuk menghubungi saya dimana Anne berada sekarang. Saya permisi dulu." setelah mengucapkan kata kata itu, Clayton membungkukkan badannya tanda terima kasih sekaligus permohonan maaf. Ia kemudian keluar dari rumah itu diantar oleh Paman dan Bibi Adrianne.
Sepanjang perjalanan kembali, pikiran Clayton benar benar kalut. Penyesalan selalu datang terlambat. Baginya, tak ada harapan lagi untuk bertemu dengan cinta dalam hidupnya. Ia benar benar putus asa.
Ternyata kehilangan orang yang sangat dicintai itu sakitnya luar biasa tak tertahankan! Apakah aku patah hati yang kedua kalinya? bisik pikirannya.
Ia menggeleng gelengkan kepalanya, ada air mata yang turun perlahan dibalik kacamata hitamnya. Baginya, babak baru penderitaannya kehilangan cinta sudah dimulai dan Ia harus dapat menjalaninya.