Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Dilema



Pagi itu Adrianne hanya bermalas malasan saja di apartemennya. Ia akan bertugas jaga nanti jam 10 malam sampai besok pagi.


Saat sedang menonton tv, tiba tiba hapenya berbunyi. "Elle!" gumamnya senang.


Adrianne: "Halo Elle!"


Elle: "Halo juga Anne. Gimana pekerjaanmu, lancar?"


Adrianne: "Everything is great here. Gimana kabar kesehatan ayahmu?"


Elle: "Beliau dalam kondisi stabil tapi masih dalam pengawasan. Aku belum bisa pulang."


Adrianne: "Aku berharap ayahmu segera pulih kembali. Aku merindukanmu disini. Aku merasa gak bisa banyak menuntut dari Clayton."


Elle: "Kenapa? Bukankah kalian dulunya pernah dekat, bahkan hampir menikah?"


Adrianne: "Lho, kok kamu tahu?"


Elle: "Anne, Damian telah menceritakan semua padaku. Aku hampir pingsan waktu tahu dari Damian ternyata Clayton adalah mantan tunanganmu dulu. Aku benar benar gak tahu. Sebenarnya aku merasa bersalah padamu karena tidak memberitahukan tentang Clayton sebelum meninggalkanmu. Aku mohon maaf ya, Anne."


Adrianne: "Gak masalah kok, Elle. Aku juga sebenarnya sangat senang bertemu dengannya disini. Masalahnya adalah aku terkadang masih suka terbawa perasaan jika berhadapan dengannya."


Elle: "Aku mengerti Anne. Memang tidak mudah untuk bersikap biasa saja dengan seseorang yang pernah sangat dekat dengan kita. Apalagi orang itu pernah singgah di hati sekaligus pernah menorehkan luka. Aku berharap aku bisa segera kembali."


Adrianne: "Sudahlah Elle. Jangan dipikirkan. Berkonsentrasilah pada kondisi ayahmu. Aku bisa mengurus diriku sendiri."


Elle:"Makasih Anne. Oh iya, aku hampir lupa. Aku punya berita baik untukmu."


Adrianne: "Oh, ya? Berita apaan?"


Elle: "Kamu mau gak ketemu langsung dengan dokter idolamu?"


Adrianne: "Wah....suka banget!"


Elle: "Jika kamu dapat menghadiri jamuan tahunan keluarga Dokter Mikhail Dmitriy, kamu akan punya kesempatan untuk berbicara sekaligus mendapat tanda tangan beliau dan foto kalian akan diabadikan menjadi cendera mata. Jamuan tersebut hanya untuk keluarga yang berprofesi dokter dan menurut info yang aku peroleh, jamuan ini kemungkinan besar akan menjadi jamuan tahunan terakhir karena Dokter Mikhail Dmitriy akan meninggalkan negaranya untuk jangka waktu yang tidak dapat ditentukan. Dengar dengar sih beliau sudah memiliki sebuah rumah sakit di Mumbai, India. Rumah sakit khusus untuk rakyat miskin. Jadi kemungkinan besar, beliau akan fokus disana untuk sisa hidupnya."


Adrianne: "Wah...beliau sangat hebat. Tapi....bagaimana aku bisa join perjamuan itu?


Elle: Nah... masalahnya disitu. Jamuan itu hanya untuk para dokter yang sudah berkeluarga. Dokter Mikhail Dmitriy adalah sosok yang sangat memuja keluarga. Baginya, sesibuk apapun seorang dokter, keluarganya harus tetap nomor satu. Jadi...kamu harus punya suami untuk bisa menghadiri perjamuan tersebut. Dan.....panitia akan memeriksa dokumen berupa surat nikah yang sudah diupload seminggu sebelumnya untuk memastikan apakah dokumen tersebut sah atau palsu! Acaranya bulan depan dan limited seat!"


Adrianne: "Wah wah wah...gimana dong? Aku gak memenuhi syarat!"


Elle: "Itulah masalahnya. Kamu gak memenuhi syarat... kecuali..."


Adrianne: "Kecuali apa?"


Elle: "Kecuali...err...kamu mendapatkan seseorang yang mau menikah denganmu walaupun hanya untuk sementara waktu."


Adrianne: "Oh, no! Ini gila namanya...tapi...aku benar benar ingin bertemu Dokter Mikhail Dmitriy!


Elle: "Kalau minta tolong Clayton gimana?"


Adrianne: "Whaaaat??"


Elle: "Iya...kamu ceritakan saja sama Clayton trus minta tolong sama dia. Aku rasa dia gak bakalan keberatan. Kalian kan masih sama sama single, bukan?"


Adrianne: "Aku gak mau mempermainkan sebuah pernikahan hanya untuk sebuah kepentingan sesaat."


Elle: "Ya sudah kalau begitu. Tapi ini kesempatanmu sekali seumur hidup. Jika kamu mau berkorban sedikit saja maka kamu bisa menggapai mimpimu. Untuk menggapai sebuah mimpi memang harus ada pengorbanan. Baiklah Anne, aku sudah email undangan ke perjamuan tersebut, just in case, you change your mind. Waktu pendaftaran tinggal dua minggu lagi."


Adrianne: "Makasih ya Elle. Aku pikir pikir dulu."


Elle: "Ya, silahkan dipikir dulu tapi jangan kelamaan." ucap Elle kemudian mengakhiri percakapan.


Adrianne termenung sejenak. Impiannya sudah di depan mata tapi sangat mustahil untuk menggapainya.


Ia menggigit bibirnya sesaat. Persyaratan yang disodorkankan terlalu sulit dan yang pasti tak pernah dibayangkan Adrianne sebelumnya.


"Menikahi Clayton hanya untuk bertemu idolaku?" gumamnya. "Arrrgggh.... ini benar benar sinting namanya! Apa kata Clayton nanti.... bukankah Ia tahu bahwa aku sangat tak suka mempermainkan sebuah pernikahan? Aduh...bagaimana ini? Kesempatan sekali seumur hidup?" Adrianne terus bergumam. Hatinya jadi tak tenang. Kesempatan tersebut adalah satu satunya untuk dapat berbicara langsung dengan idolanya bahkan Ia bisa memperoleh kredit point untuk itu! Kesempatan SEKALI seumur hidup!


Pikiran Adrianne menerawang ke pertemuannya dengan Clayton beberapa hari yang lalu.


"Bukankah Ia juga sedang membutuhkan bantuanku? dan ....jika aku menyetujui permintaannya berarti ada kerjasama mutualisme didalamnya. Clayton bisa mendapat pengampunan dari ayahnya dan aku bisa bertemu dengan idolaku!"


Seketika Adrianne langsung menggelengkan kepalanya.


"Apa apaan aku ini? Arrrgh.....! Menikah dengan perjanjian? Kenapa tidak?"


Adrianne memejamkan matanya. Bayangan Dokter Mikhail Dmitriy berseliweran dibenaknya dan waktu yang ada tidak banyak!


Tiba tiba wajah Clayton muncul menggantikan bayangan idolanya. Adrianne langsung membuka matanya.


"Clayton! Haruskah aku terima tawarannya?" guman Adrianne. "Aku hanya membutuhkan surat nikah itu dan juga hadir bersamanya di jamuan itu. Bertemu dengan idolaku and that's it!"


"Perjanjian! Ya...aku butuh menulis perjanjiannya dulu. Dia pasti setuju karena dia juga sudah kepepet waktu!"


Adrianne mengambil sebuah kertas dan pena. Ia berpikir sejenak dan mulai menulis.


***** PERJANJIAN NIKAH*****


(1) Berlaku sampai urusan masing masing telah mencapai tujuan dan setelah itu kembali ke status masing masing.


(2) Tinggal dirumah masing masing kecuali ada kebutuhan emergency menyangkut pencapaian tujuan di poin 1.


(3) Tidak mencampuri urusan pribadi masing masing.


(4) Tidak boleh kontak fisik.


****************************


Adrianne tersenyum membaca kembali perjanjian yang ditulisnya. Ia mengangguk mantap. "Demi impianku, harus ada pengorbanan."


Adrianne meraih hapenya dan mencari nama Clayton. "Tak banyak waktu lagi." gumamnya sambil menunggu Clayton menjawab panggilannya.


Beberapa saat kemudian.


Clayton: "Hai Anne."


Adrianne: "Hai Clay. Aku menelponmu menyangkut pembicaraan kita tempo hari."


Clayton: "Oh, baiklah. Jadi keputusanmu bagaimana?"


Adrianne: "Aku sementara menyiapkan dokumen yang dibutuhkan kantor pencatatan sipil untuk pernikahan WNA disini. Sebaiknya kamu segera menyiapkannya."


Hening sejenak......


Adrianne: "Halo Clay, Halo....Clayton!"


Clayton: "Eh iya...hmm..err...maksudmu kamu menyetujui permintaanku untuk menikah denganku?"


Adrianne: "Gak usah banyak tanya. Segera siapkan saja sebelum aku berubah pikiran. Akan aku kirimkan perjanjian nikahnya lewat email dan kamu harus setuju kalau mau melanjutkan keinginanmu."


Clayton: "Ba....baiklah. Segera!"


Adrianne: "Bagus!"


Clayton: "Trus... kapan maumu kita menikah? Minggu depan?"


Adrianne: "Terlalu lama. Besok aja!"


Clayton: "Whaaaat??? Gak salah?"


Adrianne: "Kenapa? Berubah pikiran?"


Clayton: "Gak...gak...aku setuju! Jam berapa?


Adrianne: "Jam 9 besok pagi. Harus tepat waktu karena jam 12 aku harus ke klinik."


Clayton: "Aku jemput kamu aja biar sama sama."


Adrianne: "Yup, baiklah. Oh iya, pakai kemeja putih biar senada sama aku."


Clayton: "Noted!"


Adrianne: "Okay, I'll see you tomorrow."


Clayton: "Bye, Anne."


Adrianne meletakan hapenya diatas meja, Ia membuka laptopnya, mengetik perjanjian nikah yang sudah ditulisnya kemudian mengirimnya ke alamat email Clayton.


"Ya ampun. Aku benar benar sudah tak waras! Besok aku akan menikah hanya untuk suatu kepentingan sesaat!"