Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Malam-Malam yang Panjang



"Sayang... tak... bisakah kamu bermain sedikit lembut?" suara Adrianne terdengar bergetar disela-sela desahan yang tercipta ketika Clayton dengan lihainya mencumbu setiap inci tubuhnya.


Clayton bergumam tanpa menghentikan aksinya yang sudah seperti orang kecanduan berat pada gula-gula lolipop.


"Maaf sayang.... terlalu lama waktu yang telah kuhabiskan hanya untuk menunggu saat-saat menikmati tubuhmu seperti ini."


Baik bibir dan tangan Clayton saling bekerja sama dengan baik menciptakan lonjakan-lonjakan nikmat ditubuh Adrianne.


Adrianne terus menggeliat hebat dengan tangan yang terkadang harus menggaruk punggung suaminya untuk melampiaskan gelombang-gelombang nikmat yang ditawarkan suaminya. Setiap garukan yang terasa dipunggungnya membuat Clayton lebih menggila menyusuri tempat-tempat sensitif ditubuh polos itu. Jejak-jejak kemerahan tercipta dihampir semua bagian.


"Kalau kamu ingin kelembutan, setidaknya berikan aku waktu menyelesaikan tahap pertama." Clayton berbisik sambil mulai menenggelamkan wajahnya diantara kedua paha mulus dibawahnya.


Adriane mendesah hebat, matanya terpejam dengan mulut yang terbuka.


"Sayang... memangnya berapa tahap yang harus kita lewati malam ini?"


Clayton tersenyum dengan wajah yang sudah setengah basah dibawah sana.


"Banyak, sayang! Sampai kamu benar-benar lemas tak berdaya nanti."


Adrianne tersenyum dengan mata yang masih terpejam. Beberapa detik kemudian Ia harus merintih karena sengatan puncak yang diciptakan prianya dibawah sana.


Clayton menyeringai puas. Ia kembali mensejajarkan tubuh mereka dan mulai menciptakan gerakan-gerakan seperti orang yang sedang bertanding pacuan kuda. Tubuhnya semakin menggila ketika sosok dibawahnya harus merintih lagi dalam kenikmatan untuk yang kesekian kalinya sampai dirinya sendiri pada akhirnya kejang-kejang dengan nafas terengah-engah dan keringat yang telah membasahi sekujur tubuh mereka.


Ambruk tak berdaya, Clayton tersenyum puas sambil mendekap istrinya yang sudah duluan lemas disampingnya.


"Istirahat sejenak sayang.... sejenak saja...jangan tidur ya karena adegan ini belum berakhir." bisik Clayton ditelinga istrinya.


Adrianne hanya bisa tersenyum kecil dengan mata terpejam.


"Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan detak jantung dan ritme nafasku dulu, sayang."


"kayaknya waktumu tak banyak lagi. Maaf sayang....makhluk dibawah sana susah diajak kompromi."


Adrianne tersenyum geli ketika merasakan ada sesuatu yang sudah kembali menegang dibawah sana dan menyentuh kulitnya.


Beberapa detik kemudian permainan sudah dimulai lagi dan kali ini dengan penuh kelembutan seperti yang dijanjikan suaminya.


.


.


.


.


Setiap hari Clayton dan Adrianne bagaikan bermain kucing-kucingan jika hendak bertemu. Clayton tak sanggup lagi jika tidak memeluk istrinya barang seharipun. Untuk hal yang satu ini, ia rela melakukan apapun demi bertemu istrinya.


Ia harus berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya hanya untuk menghindari beberapa pengintai yang terkadang terlihat disekitarnya.


Adrianne mengunjungi suaminya jika malam sudah agak larut dengan berbagai macam penampilan yang dapat menyamarkan dirinya dari orang-orang disekeliling. Malam-malam panjang dihabiskan mereka untuk bercumbu dan saling bertukar informasi tentang keadaan diluar sana.


Sesekali Adrianne membawa masakan kesukaan Clayton yang Ia masak sendiri.


Adrianne baru keluar dari hotel menjelang subuh dan kembali ke rumahnya.


Namun, kedua orang yang sedang dimabuk asmara itu tidak menyadari kalau pola pertemuan mereka sedang diikuti dengan saksama oleh seorang pengintai bayaran. Pengintai tersebut sering mengambil gambar Adrianne ketika hendak bertemu suaminya dikamar hotel. Begitupun ketika Clayton hendak keluar dari kamarnya mengantar Adrianne di depan pintunya.


Mereka berdua mengira bahwa pertemuan mereka setiap malam luput dari perhatian para pengintai karena selama mereka menghabiskan malam panjang mereka hingga harus berpisah pada subuh hari, mereka merasa aman-aman saja.


Tak seorangpun dari mereka yang tahu tentang bahaya yang mungkin sudah menanti didepan mata mereka.