Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Bertemu Idola



Sejak kembali ke Saint Petersburg, baik Adrianne dan Clayton berganti-gantian tinggal di apartemen keduanya. Namun mereka lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di apartemen Clayton karena apartemennya lebih luas dibandingkan punya Adrianne.


Sejak kemarin Adrianne tampak sibuk mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan acara jamuan Dokter Mikhail Dmitriy. Hari itu adalah hari yang sangat ia tunggu-tunggu untuk bertemu idola.


Clayton diam-diam memperhatikan ulah istrinya yang sampai-sampai kurang memperhatikannya karena sibuk mempersiapkan pakaian yang akan mereka pakai sebentar malam.


Clayton yang gemas melihat istrinya sedang merapikan pakaian untuk jamuan sebentar, mencoba menggodanya dengan memeluk Adrianne dari belakang.


"Sayang, sepenting itukah idolamu sampai keberadaan suamimu terabaikan?" bisik Clayton ditelinga Adrianne.


Adrianne yang sedikit terkejut hanya tersenyum tanpa menoleh.


"Aku sedang menyiapkan tuxedomu, sayang. Dresscodenya harus formal jadi kita berdua harus tampil sebaik mungkin."


Clayton tersenyum sambil mengecup pipi istrinya. "Kamu suka gaun itu?" bisik Clayton ketika Adrianne meletakan gaunnya di hanger.


Adrianne menatap wajah suaminya sambil tersenyum senang. "Suka banget. Makasih udah belikan gaun semahal ini, sayang." ucap Adrianne sambil mengecup sekilas bibir Clayton.


"Ucapan terima kasihnya hanya segitu?" protes Clayton.


Adrianne mengernyitkan dahinya. "Trus, kamu maunya bagaimana?"


Clayton tersenyum penuh arti sambil melingkarkan kedua tangannya dipinggang istrinya kemudian menariknya agar berdempetan dengan tubuhnya.


"Aku merasa sedikit diabaikan dua hari ini gara-gara si Dokter Mikhail Dmitriy itu. Jadi, ... aku gak mau hanya dihadiahi sebuah ciuman singkat."


Adrianne yang langsung mengerti dengan maksud Clayton hendak melepaskan dirinya dari pelukan suaminya.


"Hmm...dasar suami mesum! Inikan masih siang." Namun usaha Adrianne untuk lepas dari kancingan tangan Clayton sia-sia saja karena tubuh kekarnya terlalu kuat untuk Adrianne.


Clayton semakin menuntut dengan menciumi semua bagian leher istrinya.


"Clay,... sudah dong. Lagian sejak kembali kesini setiap hari kamu minta jatah. Aku belum selesai beres-beres nih." Adrianne yang merasa geli mulai berontak.


"Sayang, kamu diam aja. Jangan banyak bergerak karena itu membuatku semakin bergairah." ucap Clayton disela-sela aksinya menciumi tubuh Adrianne.


"Sayang... aku selesaikan dulu semuanya ya." ujar Adrianne dengan berusaha mendorong dada suaminya tapi Clayton malahan semakin gencar dengan aksinya.


"Aku janji kali ini gak bakalan lama. Singkat aja kok. Kamu cukup diam aja dan menikmati." ucap Clayton kemudian mulai menyesap bibir istrinya.


Adrianne mengalah dan pasrah juga. Kalau sudah seperti itu, ia tak dapat lagi menghentikan suaminya. Adrianne hanya bisa tersenyum dan mengimbangi aksi suaminya sekaligus menikmati permainan tersebut yang tidak berakhir singkat seperti yang dijanjikan suaminya.


.


.


.


.


.


# Di pesta jamuan Dokter Mikhail Dmitriy


Adrianne dan Clayton tiba di gedung dimana acara jamuan dengan Dokter Mikhail Dmitriy diselenggarakan.


Keduanya tampil begitu memukau dengan tuxedo dan gaun hitam.


Clayton terlihat sangat bersahaja Dan Adrianne terlihat begitu mempesona dengan rambut yang digulung kebelakang.



# Clayton dengan tuxedonya



Para undangan telah diatur untuk duduk dengan pasangan mereka di meja yang sudah disiapkan dengan nama mereka tertulis disebuah kartu yang telah diletakan diatas meja.


Adrianne dan Clayton diarahkan seorang penerima tamu ke meja mereka yang tertulis


'Mr. and Mrs. Cakrawangsa'


Mereka berduapun duduk disitu. Tangan Adrianne tidak pernah lepas dari genggaman suaminya.


Terlihat pasangan lainnya juga sudah duduk di meja mereka. Di meja bundar dimana Adrianne dan Clayton duduk, terdapat juga sepasang suami istri yang berumur sekitar lima puluhan. Mereka saling memperkenalkan diri dan berbincang-bincang dengan akrab dalam bahasa Russia.


Sepanjang bincang-bincang tersebut, Clayton paling banyak berperan mengingat dia bisa berbicara dalam bahasa Russia dengan lancar. Adrianne hanya sekali-kali saja menimpali karena Ia kurang pede dengan Bahasa Russianya yang hanya pas-pasan dan tidak begitu lancar.


Makanan mulai disuguhkan secara bertahap oleh pelayan dan semua tamu menikmatinya. Setelah jamuan makan malam selesai, acara ramah tamah dengan keluarga Dokter Mikhail Dmitriypun dimulai.


Dokter Mikahil memberikan kesaksian singkat tentang misi barunya yang sedang Ia jalankan di India. Ia juga memberikan apresiasi bagi para keluarga dokter yang setia mendukung pasangannya masing-masing dalam menjalankan misi kemanusiaan menolong pasien yang membutuhkan.


Setelah serangkaian acara dilalui, Dokter Mikhail Dmitriy dan istrinya Sylvia Dmitriy mulai menyapa setiap pasangan undangannya satu persatu.


Ketika tiba giliran Adrianne dan Clayton didatangi oleh pasangan fenomenal itu, Merekapun berdiri dan bersalaman serta memperkenalkan diri lalu berbincang-bincang.


Adrianne sangat lega karena ternyata Dokter Mikhail Dmitriy berbicara dalam bahasa Inggris.


"Jadi anda adalah Dokter muda yang barusan mendapatkan penghargaan dari klinik anda? Saya membacanya diberita koran elektronik lokal. Saya sangat bangga pada anda Dokter Adrianne. Masih muda tapi sudah berprestasi. Negara anda pasti sangat bangga punya seorang dokter seperti anda." ucap Dokter Mikhail Dmitriy dengan wajah tersenyum tulus. Istrinya juga mengguk dan tersenyum pada Adrianne dan Clayton.


"Sebagai suami, anda harus mendukung pekerjaan mulia istri anda, Tuan Cakrawangsa." ucap Sylvia Dmitriy pada Clayton. "Kalian adalah pasangan muda yang masih harus menghadapi berbagai badai dalam rumah tangga. Komitmen untuk saling menopang dan mendukung satu sama lain sangat diperlukan."


Adrianne dan Clayton sangat bahagia dan senang dengan petuah yang disampaikan oleh istri Dokter Mikhail Dmitriy dan mereka mengucapkan terima kasih.


Juru fotopun yang sedari tadi selalu siap berada di sekitar Dokter Mikhail Dmitriy dan istrinya, mengambil beberapa gambar mereka bersama Adrianne dan Clayton dengan beberapa pose.


Setelah Dokter Mikhail Dmitriy dan istrinya berlalu dari situ untuk menyapa tamu lain, Adrianne berbisik pada suaminya.


"Makasih ya, sayang. Kalau kita tidak menikah, aku tak mungkin dapat hadir dan berbicara langsung dengan dokter idolaku."


Clayton mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama, Sayang. Aku sangat bangga padamu. Kita harus segera balik ke Indonesia jika kontrakmu telah selesai. Negara kita lebih membutuhkanmu."


Adrianne tersenyum kemudian mencium suaminya sekilas.


"Mau berdansa denganku?" Tanya Adrianne yang langsung diiyakan Clayton.


Sebagian besar pasangan yang telah disapa oleh Dokter Mikhail Dmitriy sedang berdansa dengan pasangan mereka masing-masing.


Adrainne dan Clayton sangat menikmati acara tersebut. "Sayang, kamu tampan banget dengan tuxedo itu." ucap Adrianne pada Clayton ketika sedang berdansa. Clayton yang mendengar pujian istrinya hanya bisa tersenyum dan menatap mesra wajah cantik didepannya.


"Dan kamu sangat cantik serta sangat berbeda malam ini karena aku sangat jarang melihatmu berdandan seperti ini." ucap Clayton mengeratkan tangannya dipinggang Adrianne.


Keduanya terus tersenyum sambil tetap menyelaraskan gerakan kaki mereka mengikuti alunan musik klasik yang dimainkan oleh tim orkestra.


Kebahagiaan malam itu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi kedua pasangan itu.