Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Getaran Rasa



Adrianne melangkahkan kaki jenjangnya kedalam rumah Clayton dengan disambut oleh Nyonya Dara dan Tuan Adhiata Cakrawangsa. Adrianne sebenarnya agak kikuk juga mengingat selama merawat Clayton, Ia jarang sekali bertemu dengan Tuan Adhiata secara langsung dan berhadapan. Kini Ia tahu dari mana Clayton memperoleh kening tebal dan hidung mancungnya. Sedangkan bentuk wajah dan bibirnya diturunkan dari ibunya.


Adrianne agak terkejut dan merasa sangat spesial di sambut langsung oleh si pemilik rumah. Baik Nyonya Dara dan Tuan Adhiata sangat ramah dengan senyum merekah.


"Selamat pagi Dokter Anne." ucap dua orang di hadapannya.


"Selamat Pagi, Nyonya,... Tuan." jawab Adrianne dengan sopan.


"Silahkan duduk, Dokter Anne. Kami sangat senang Nak Anne sudah kembali." ucap Nonya Dara.


"Iya, betul. Lebih-lebih Clayton. Dia sudah menunggu Nak Anne dari tadi." ucap Tuan Adhiata sambil mengerling kearah istrinya meminta dukungan."


"Iya, Nak Anne. Clayton mau kasih kejutan." Nyonya Dara tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu.


Adrianne merasa aneh dengan gelagat dua orang didepannya. "Ada kejutan apa sebenarnya?" pikir Adrianne.


"Kami sangat menghargai bantuan Nak Anne pada Clayton selama ini. Ia benar-benar berubah total semenjak Nak Anne menangani pengobatannya. Kami pikir kami sudah kehilangan harapan. Untuk itu, kami dengan tulus menghaturkan rasa terima kasih yang sedalam dalamnya atas semua yang telah Nak Anne lakukan terhadap Clayton." Tuan Adhiata menundukkan sedikit kepalanya pada saat mengucapkan bagian kalimat terakhirnya.


Adrianne jadi salah tingkah dengan perlakuan tersebut. Ia berusaha menyembunyikan rasa sungkannya tapi malah terlihat gugup.


"Errh..eeh... Tuan, Nyonya, tidak perlu seperti ini, saya hanya melakukan tugas saya sebisanya. Kalaupun ada kemajuan yang besar pada Tuan Clayton, itu karena usaha dan kemauannya untuk sembuh." Adrianne berusaha merendah.


"Tetap saja andil Nak Anne sebagai dokternya sangat besar. Sudah terlalu sering gonta ganti Dokter, baru dengan Nak Anne Clayton merasa cocok. Walaupun awal awalnya Saya sangat khawatir karena Ia sempat ingin Nak Anne berhenti jadi dokternya diawal pengobatannya." Nyonya Dara berucap sambil merangkul lengan Adrianne.


Ia kemudian mengajak Adrianne berdiri dan menuju ke taman samping.


"Nak Anne, temuilah Clayton. Ia sedang menunggumu di taman."


Adrianne tersenyum dan pamit kemudian berjalan ketaman samping.


Ia tiba dilokasi dimana Ia dan Clayton sering berlatih. Adrianne mencari cari tapi tidak menemukan siapapun disana.


"Clay.... Clayton. Kamu dimana?" panggil Adrianne sambil terus berjalan dan mencari sosok Clayton.


Tak seorangpun terlihat disitu. Adrianne berhenti sesaat dan terus mengamati.


"Hai, Dokter Anne. Surprise!"


Terdengar suara yang sangat dikenali Adrianne. Ia lantas mencari sumber suara itu dengan senyum merekah diwajahnya.


Dari arah belakang sebuah pohon, muncul sosok Clayton dengan wajah tampannya sedang tersenyum. Kedua tangannya berada dalam saku jeansnya. Ia memakai kaos oblong berwarna abu abu gelap. Kali ini Ia berjalan kearah Adrianne tanpa kursi roda! Langkahnya lebar tanpa hambatan, melaju mulus diatas rerumputan. Ia tidak memakai alas kaki.


CLAYTON



Adrianne mengatupkan kedua telapak tangan dimulutnya dengan mata membesar. Nafasnya berhenti sesaat, suaranya serasa tercekat. Inikah kejutan yang dimaksud oleh Clayton? pikirnya masih tak percaya. Ada bulir bulir air mata keharuan yang jatuh dipipinya.


Adrianne tak melepaskan pandangannya dari sosok tinggi tegap itu yang tahu-tahu sudah berdiri dihadapannya.


"Dokter Anne, apakah kamu sedang melihat hantu?" kata suara itu dengan jenaka.


Adrianne mengangguk pelan. "Kejutan ini hampir membuatku pingsan!" ucap Adrianne dengan suara bergetar.


Sosok tampan itu tersenyum sumringah. Ia terlihat lebih tampan hari itu dengan postur tubuhnya yang sedang berdiri tegap dihadapan Adrianne yang seketika merasa sangat pendek karena harus menengadahkan kepalanya saat menatap wajah Clayton didepannya.


"Sejak kapan?" Tanya Adrianne singkat, berusaha menenangkan dirinya karena getaran aneh itu telah muncul lagi.


Clayton tersenyum, "Semenjak mendengar kabarmu beberapa hari yang lalu."


Adrianne tertunduk. Diantara bahagia tapi juga sedih.


"Clayton, aku sangat bahagia dengan pencapaianmu. Selamat, Clay! Saatnya meraih impianmu."


Clayton tersenyum sambil meraih kedua jemari Adrianne dan menggenggamnya erat.


"Terima kasih, Dokter Anne. Terima kasih atas segalanya!"


"Kebahagiaan dan keberhasilanmu melewati masa masa tersulit dalam hidupmu adalah akhir dari tugasku."


Clayton tersenyum kecut, serasa ada yang hilang dalam hatinya mendengar perkataan Adrianne.


"Tugasmu boleh selesai, tapi pertemanan kita tak akan pernah selesai. Ehm.. ka..kamu telah menjadi seseorang yang spesial bagiku dan akan selamanya begitu." suara Clayton terdengar sedikit gugup.


Adrianne terperangah. "Benarkah? bisiknya dalam hati.


"Clay, aku pasti akan sangat merindukanmu. Terutama ketika kita sedang bermain piano. Semua itu tak akan terlupakan." ucap Adrianne berusaha kelihatan tegar.


"Dokter Anne, kamu boleh menghubungiku kapan saja kamu ingin bermain piano bersamaku." ucap Clayton dengan senyum yang begitu optimis.


Adrianne berusaha tersenyum. Pikirnya, benarkah kamu akan punya waktu? Sedangkan kamu akan segera mengejar tahun tahun hidupmu yang pernah hilang. Kamu akan bangkit dan mulai mengatur hidupmu dari awal serta meraih segala impianmu. Kamu pasti akan sangat sibuk, bahkan untuk bermain piano sekalipun!


Mereka berdua berjalan perlahan menuju rumah. Pikir Adrianne, bagaimana mungkin datang berkunjung hanya untuk bermain piano? Bukankah alasannya terlalu dibuat buat? Mengingat sesudah hari ini, Ia sudah tidak punya lagi urusan apa apa di rumah tersebut!


"Dokter Anne." ujar Clayton yang langsung dipotong Adrianne dengan cepat.


"Anne. Panggil saja aku Anne mulai sekarang. Kamu sudah bukan pasien lagi, tapi sahabatku. Tidak usah pakai kata dokter lagi." kata Adrianne sambil menepuk-nepuk pundak Clayton.


Clayton tersenyum tulus. "Baiklah. Anne, sebelum kamu pulang, maukah kamu bermain piano denganku?"


Adrianne langsung mengangguk cepat. "Aku mau."


Mereka berjalan kearah tangga. Diruangan bawah hanya terlihat dua orang pelayan sedang membersihkan perabot. Nyonya Dara dan Tuan Adhiata sudah tidak terlihat lagi.


Keduanya menuju ruang serba guna.


"Clay, ini oleh-oleh yang aku janjikan. Aku tidak tahu barang yang kamu sukai atau perlukan itu apa, jadi aku bawakan saja taplak penutup piano ini supaya pianomu tidak mudah berdebu." Adrianne menyerahkan sebuah taplak persegi panjang yang berciri khas Thailand dengan gambar gajah-gajah yang berwarna warni, menambah keceriaan diruangan itu.


"Hmmm....aku suka. Sebenarnya kamu gak usah repot. Tapi aku memang perlu ini karena pianoku cepat banget berdebu tanpa taplak penutup." ujar Clayton yang langsung meletakan taplak itu dibagian atas pianonya.


Kini mereka berdua telah duduk berdampingan didepan tuts tuts piano. Tak ada lagi jarak yang memisahkan mereka.


"Spring Waltz, sudah kuanggap lagu Kita karena kamu menyukainya dan aku mendapatkan seorang penggemar pertamaku." ucap Clayton lembut.


"Kini... aku jamin bisa bermain piano dengan lebih baik lagi karena kakiku sudah bisa menginjak sustainer piano ini."


Adrianne terus tersenyum dan mulai memainkan jari-jarinya diikuti jemari Clayton mengimbangi permainan Adrianne disampingnya. Suara alunan itu sangat menghanyutkan keduanya.


Masing masing dengan pikiran dan juga imajinasi yang membuat hati keduanya terasa diiris iris oleh alunan nada nada yang mereka hasilkan. Bagi keduanya, nada-nada itu semakin menyayat dan sebelum mereka menyelesaikan bagian akhir dari lagu itu, keduanya terhenti hampir bersamaan dan kemudian hening.


Clayton mengalihkan tatapannya ke wajah putih disampingnya. Jarak yang begitu dekat tidak menyulitkannya untuk dapat membaca mimik dan perasaan sosok disampingnya.


Adrianne masih tertunduk menatap tuts tuts piano. Jantungnya berdetak tidak beraturan! Ia tak berani membalas tatapan Clayton.


Clayton meraih dagu Adrianne sehingga gadis itu terpaksa harus menatap manik mata yang sedang menatapnya dengan penuh kemesraan.


Terasa ada kehangatan yang mengalir dihati Adrianne ketika bibir Clayton perlahan mengecup bibirnya dengan penuh kelembutan. Adrianne tak kuasa menolak selain perlahan lahan membalas kecupan itu.


Clayton menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah Adrianne untuk memperdalam ciumannya.


Beberapa saat kemudian keduanya tersadar dengan mata yang masih saling menatap.


"Anne, maafkan kalau aku jatuh cinta padamu." ucap Clayton dengan suara amat pelan.


Adrianne terlihat sumringah. Ia masih harus mengatur nafasnya. Apakah ini kenyataan? pikirnya. "Berarti rasa ini tidak bertepuk sebelah tangan." bisiknya.


Clayton membelai wajah Adrianne dengan penuh kelembutan. Ia yakin kalau gadis didepannya juga memiliki perasaan yang sama.


"Anne, terserah kamu mau bilang apa.....tapi....setidaknya aku ingin kamu tahu kalau ....ak.... aku mencintaimu."


Adrianne tersenyum, ada kelegaan diwajahnya. Beban yang sedari tadi dibawanya terbang entah kemana. Ia menggenggam tangan Clayton. "Aku juga mencintaimu." bisiknya.


Keduanya tersenyum bahagia. Clayton menarik kembali kepala Adrianne untuk kembali menyatukan bibir mereka dalam gairah cinta yang sudah lama terpendam.