Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Pernikahan Bersyarat



Sebelum menjalankan mobilnya untuk menjemput Adrianne, Clayton membaca sekali lagi persyaratan nikah yang dikirimkan Adrianne lewat email. Ia tersenyum sebentar setelah membaca point nomor 4. "Tidak boleh kontak fisik."


Ada rasa geli dalam hati Clayton untuk point yang satu itu karena pada point point sebelumnya sudah ditegaskan untuk tinggal dirumah masing masing walaupun sudah berstatus suami istri. Jika sudah demikian, bagaimana mungkin akan ada kontak fisik? Pikir Clayton.


Ia kemudian menjalankan mobilnya menuju apartemen Adrianne. Seperti permintaan Adrianne, hari itu Clayton sudah siap dengan mengenakan kemeja putih. Cuaca sedang hangat hangatnya, jadi Clayton memutuskan untuk tidak membawa blazernya.


Beberapa menit kemudian, Clayton telah tiba di lahan parkir kompleks apartemen Adrianne. Clayton keluar dari mobil dan mengenakan kaca mata hitamnya lalu menelpon Adrianne.


Clayton yang sudah rapi dengan kemeja putih



"Halo, Anne. Aku sudah sampai. Apa perlu aku masuk ke apartemenmu?" Tanya Clayton meminta izin.


"Aku sudah siap kok. Tunggu aja disitu. Aku segera turun." balas Adrianne.


Adrianne tampak mengenakan dress tanpa lengan berwarna putih yang terkesan sederhana. Ia sengaja meminta Clayton mengenakan baju berwarna senada dengannya karena akan ada sesi foto dari kantor catatan sipil untuk setiap pasangan yang telah disahkan, sebagai bukti yang akan mereka simpan untuk arsip. Adrianne hanya ingin kelihatan kompak di depan kamera nantinya.


Adrianne dengan dress putih sederhana



Setibanya Adrianne di tempat Clayton sedang berdiri menunggu, keduanya saling menatap lumayan lama. Tampak keduanya saling terpesona dengan penampilan sederhana mereka yang membuat keduanya tak berkedip.


Clayton tak dapat menyembunyikan perasaan kagumnya pada sosok cantik didepannya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya yang sah.


Sedangkan Adrianne, begitu terpesona dengan ketampanan Clayton yang begitu memikat dengan kemeja putihnya.


Clayton tersenyum, "Kita berangkat sekarang?" mencoba memulai percakapan yang terasa canggung.


"Eh...i..iya, ayo kita berangkat sekarang." ujar Adrianne sedikit terbata bata.


Mobil yang dikendarai Clayton melaju kearah pusat perkantoran kota Saint Petersburg. Sesekali Ia melirik Adrianne dari kaca spion. Tak habis habisnya Ia mengaggumi kecantikan Adrianne.


"Kamu gak mau kasih tahu aku kenapa kamu tiba tiba setuju menikah denganku dan secepat ini?" Tanya Clayton.


Adrainne tersenyum kecut. "Aku juga punya kepentingan dari pernikahan kita nanti. Aku harus segera mendaftar ke pesta jamuan yang akan diadakan oleh seorang tokoh terkenal di negara ini. Dokter Mikhail Dmitriy. Ia adalah dokter idolaku. Tapi yang diundang ke perjamuan itu hanyalah para dokter yang sudah menikah saja. Karena Ia adalah sosok pria yang sangat menjunjung tinggi nilai nilai sebuah keluarga. Dengar dengar ini adalah jamuan terakhir yang akan beliau selenggarakan sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan emasnya karena keluarganya akan pindah ke India untuk jangka waktu yang belum diketahui dimana Ia telah membangun sebuah rumah sakit untuk orang orang miskin disana. Jadi, ini adalah satu satunya kesempatanku. Panitia meminta untuk mengapload bukti surat nikah bagi yang sudah mendaftar. Aku harus cepat karena kuota tamunya terbatas. Aku sangat memimpikan dapat bertemu langsung dan berjabat tangan dengan beliau. Nah, sekarang kamu sudah tahu alasannya aku menerima lamaranmu tempo hari, jadi jangan berpikiran macam macam tentang aku."


Clayton kembali tersenyum. "Wah...berarti aku juga akan hadir di pesta berkelas itu ya..hmm penasaran seperti apa dokter fenomenal itu jika berhadapan langsung."


"Aku benar benar sangat membutuhkan surat nikah itu. Impianku sudah di depan mata. Yang pasti aku bisa mendapatkan kredit point jika bisa bertemu dan berbicara langsung dengan beliau." ujar Adrianne dengan mata yang berbinar binar.


Clayton sedikit kesal juga dengan Adrianne karena kelihatan sekali bahwa Ia bahagia bukan karena menikah dengan dirinya tapi demi mendapatkan akta nikah saja!


"Gak perlu tergesa gesa, Clay. Waktu kita masih banyak kok. Kita dapat urutan ke 7." ucap Adrianne mengingatkan. Clayton hanya menganggukan kepalanya menanggapi ucapan Adrianne.


"Oh, iya. Aku sudah memesan dua tiket ke Belanda untuk minggu depan. Kamu gak usah mengajukkan cuti. Kita berangkat jumat sore setelah kamu selesai bertugas dan kembali hari minggu siang. Jadi kamu bisa langsung kerja pada hari senin. Kita habiskan sehari dua malam saja di Belanda. Jika kelamaan sandiwara kita bisa ketahuan."


Adrianne mengangguk pelan. "Setuju! Kita harus nginap di hotel, Clay. Jika orang tuamu meminta kita nginap di rumah mereka maka mau tak mau kita harus tidur sekamar! Kamu harus memikirkan cara bagaimana agar mereka tidak keberatan jika kita tidak menginap di rumah mereka.


Clayton menggigit jari telunjuknya. Benar juga apa yang dikatakan Adrianne. Ia harus mencari cara agar mereka tidak menginap di rumah orang tuanya jika telah tiba disana.


Mobil Clayton memasuki lahan parkiran kantor catatan sipil. Keduanya turun dan langsung menuju meja resepsionis. Resepsionis meminta Adrianne untuk melakukan scan barcode nomor antrian mereka kemudian mereka dipersilahkan duduk untuk menunggu panggilan.


Adrianne merasa gugup, begitu juga dengan Clayton. Mereka telah duduk bersama pasangan lainnya yang juga sedang menunggu antrian. Jika pasangan lainnya tampak begitu mesra, ada yang saling menggenggam tangan, ada yang saling merangkul, bahkan ada yang sesekali berciuman, hanya mereka berdua yang kelihatan tegang dan canggung.


"Kamu gugup, Anne?" Tanya Clayton pelan karena gelagat Adrianne memperlihatkan demikian.


"Aku juga gugup." ucap Clayton. Tanpa meminta persetujuan Adrianne, Ia menggenggam tangan Adrianne yang sudah terasa dingin. Ada kehangatan yang mengalir dari genggaman Clayton dan Adrianne tak kuasa untuk melepaskan genggaman itu. Diakuinya bahwa genggaman Clayton dapat meredam rasa gugupnya.


Beberapa saat kemudian, nama mereka dipanggil. Keduanya menjalani berbagai proses pernikahan untuk WNA dengan lancar. Mereka hanya perlu menanda tangani beberapa dokumen, termasuk akta nikah mereka. Pelayanannya sangat profesional dan lancar. Setelah petugas peneguhan pernikahan menyerahkan akta nikah mereka, mereka kemudian diminta ke pojok yang sudah dipersiapkan untuk pengambilan gambar. Seorang petugas juru foto telah menunggu mereka.


Mereka berdua di foto dengan memperlihatkan akta nikah.


Petugas itu kemudian tersenyum dan berkata pada Clayton.


"Eto bonus dlya vas (ini foto bonus). Ty ne khochesh' potselavat' svoyu nevestu?" (Tidakkah anda mau mencium pengantin wanita?).


Baik Clayton maupun Adrianne tersipu, tapi Clayton langsung memainkan keahliannya beracting.


Ia langsung menghadapkan badannya pada Adrianne dan meletakan kedua tangannya di leher Adrianne kemudian mengecup lembut bibirnya. Adrianne tak berani menolak karena bisa jadi aneh nantinya dimata petugas juru foto. 'Ceklek', foto romantis merekapun diabadikan petugas foto.


"Yeshche raz, pozhaluysta? (Bolehkah sekali lagi?)" kata Clayton pada petugas itu. Petugas itu tersenyum mengiyakan. Clayton langsung mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Ia membukanya. Terdapat dua cincin bermata berlian didalamnya.


Adrianne terkesiap mengetahui ternyata Clayton telah menyiapkan sepasang cincin untuk mereka. Dalam hatinya Ia sangat terharu dengan perlakuan Clayton.


"Ya khochu, chtoby vy sfotografirovali nas, kogda ya polozhil kol'tso yey na palets." (Aku ingin anda mengambil gambar kami ketika saya menyematkan cincin dijarinya). Ucap Clayton dengan ramah.


Petugas itu tersenyum lebar sambil mengambil posisi. Setelah selesai Ia berucap, "Otlichno. Pozdravlyayu! (Bagus sekali. Selamat berbahagia).


Adrianne dan Clayton pun sama sama berterima kasih.


Mereka melangkah ke bagian pengambilan soft copy foto mereka dimana seorang petugas langsung mengirim foto foto mereka ke hape masing masing. Setelah itu semua proses selesai.


Tak henti hentinya Adrianne memandang akta nikah itu sambil senyum senyum sendiri. Ia sangat senang karena sesampai diklinik nanti Ia akan segera memindai akta nikah itu dan langsung mengirimkannya ke panitia pesta jamuan ulang tahun pernikahan emas Dokter Mikhail Dmitriy. Ia berharap masih mendapat tempat di jamuan tersebut.


Clayton hanya bisa mengusap dahinya melihat tingkah Adrianne yang nyata nyata menikahinya hanya demi bertemu dokter idolanya!


Adrianne menatap Clayton sambil tersenyum.


"Oh, ya Clay. Makasih ya kamu udah repot repot membeli cincin pernikahan kita."


Clayton hanya tersenyum tipis. "Kalau gak ada cincin, bagaimana nanti orang tuaku percaya kalau kita sudah menikah?"


Adrianne mengangguk dan tersenyum manis.


"Iya, ya. Aku gak kepikiran tentang cincin. Maaf ya."


"Mana kamu mau mikirin cincin kalau dikepalamu hanya tentang dokter idolamu itu?" ucap Clayton dengan nada datar.


"Kamu memang suami yang baik. Makasih banyak banyak deh." ucap Adrianne sedikit menggoda Clayton.


Mendengar gurauan Adrianne ada rasa bahagia juga yang muncul dihati Clayton ketika Adrianne menyebutnya suami.


"Untuk merayakan pernikahan sementara kita, bagaimana kalau kita dinner malam ini setelah kamu selesai bertugas. Sekalian kita bicarakan tentang rencana mengunjungi orang tuaku." Tanya Clayton.


Adrianne mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah. Jemput aku di klinik boleh gak?"


Clayton tersenyum. "Tentu saja boleh. Akukan sekarang suamimu." Balas Clayton dengan gurauan.


Keduanya hanya tersenyum walaupun tak dapat mereka pungkiri kalau debaran aneh dihati masing masing terkadang datang dan pergi jika sedang saling menggoda.