
Adrianne sudah berada diruang terapi selama kurang lebih sepuluh menit. Ia mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan. Sudah seminggu Ia mempelajari rekam medis Clayton dan tiba pada kesimpulan untuk memastikan lebih lagi dengan memeriksa Clayton lebih teliti.
Seorang pelayan laki-laki tampak membuka pintu kemudian membiarkan sosok di kursi roda itu masuk.
Adrianne tersenyum menatap pasien tampannya. Ia kelihatan fresh karena baru selesai mandi. Bau harum dari tubuhnya mengalahkan bau parfum Adrianne yang lembut, karena keharuman itu langsung menyeruak ke seluruh ruangan.
Pelayan keluar dan menutup pintu, meninggalkan Clayton dan Adrianne.
"Kamu kelihatan sangat segar hari ini. Bagaimana perasaanmu?" Tanya Adrianne sambil memasang sarung tangan medis.
"Biasa saja. Selama keadaanku masih seperti ini, perasaanku tidak akan pernah lebih baik." jawab Clayton dengan tatapan lurus tanpa ekspresi.
Adrianne mendorong kursi roda Clayton agar mendekati meja dimana terdapat beberapa peralatan terapi.
"Maaf, saya akan memeriksa kakimu. Jadi saya akan menggulung celana panjangmu." kata Adrianne sambil berlutut dihadapan Clayton."
Seketika Clayton menepiskan tangan Adrianne. "Dokter Anne, apa yang akan kamu lakukan? Jangan sentuh aku!" bentak Clayton.
"Aku mau memeriksa keadaan kakimu, memangnya aku mau ngapain?" ucap Adrianne sambil mengernyitkan dahinya.
"Ta...tapi...saya tidak nyaman dan.." kata Clayton tergagap. Ia benar-benar risih dipegang seorang perempuan, kecuali ibunya.
Melihat reaksi Clayton, Adrianne langsung berdiri dan berkacak pinggang.
"Katakan padaku! Kamu mau sembuh atau tidak, heh?" Tanya Adrianne dengan nada sedikit ketus.
Clayton terperanjat sesaat mendapatkan balasan tersebut. Mulutnya setengah terbuka serasa tak percaya dengan reaksi dokter muda didepannya.
"A..aku..mau sembuh tentunya! Tapi....Aku belum siap jika kamu...."
"Nah...kalau memang mau sembuh, siap atau tidak aku akan tetap memeriksa kakimu!" potong Adrianne kemudian berlutut kembali dan mulai menggulung kaki celana Clayton.
Clayton sedikit berontak, "Dokter Anne...kamu...."
Tapi Adrianne tidak mempedulikan ucapan protes dari pasien manja di depannya. Sudah cukup baginya bertemu selama seminggu tapi Clayton selalu berusaha menolaknya untuk diperiksa. Adrianne menginginkan adanya kemajuan dalam pekerjaannya.
Clayton mengalah dan membiarkan Adrianne mulai meraba kedua kakinya. Dokter muda itu mulai memijit beberapa bagian dengan wajah seriusnya.
"Aku gak suka kamu jadi dokter pribadiku!"
Ucap Clayton sewaktu memperhatikan tangan Adrianne yang terus bekerja pada kakinya. Adrianne hanya diam seolah-olah tidak mendengar perkataan sosok didepannya.
"Aku bilang...aku gak suka! Apa kamu dengar?" kali ini Clayton mulai membentak.
Adrianne menghentikan aktifitasnya sejenak. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap wajah didepannya dengan tatapan menantang.
"Dengar Tuan manja, kamu suka atau tidak suka, aku akan tetap menjadi dokter pribadimu. Kenapa? Karena hanya aku dokter satu-satunya yang mau mengobatimu. Tidak ada yang mau lagi selain aku. Dan agar kamu tau, Tuan Besar, aku bukanlah dokter dokter terdahulumu yang akan lari tunggang langgang demi mendengar bentakanmu. Aku satu satunya dokter terbaik saat ini yang bersedia membantumu. Jadi, Tuan Besar yang manja, jangan pernah lagi kamu tunjukkan sisi bejatmu itu dihadapanku, karena itu tidak akan mempan!!"
Clayton masih terpaku, Ia kehabisan kata-kata. Dokter muda itu seakan akan menelanjanginya dengan kata 'manja'. Clayton menarik nafasnya dengan berat. Benarkah yang dikatakan sosok cantik didepannya itu? Sebejat itukah dirinya selama ini? Yang jelas baru dia satu satunya orang yang berani memberikan penilaian langsung secara blak blakan dihadapannya! Benar-benar dokter yang galak, tidak sejalan dengan wajahnya yang menawan! Pikir Clayton.
Karena masih syok dengan perkataan Adrianne, Clayton membiarkan dirinya diperiksa. Ia terpaksa harus pasrah saja karena sosok dokter di depannya benar benar galak dan pantang menyerah!
Adrianne terus fokus dengan tugasnya. Ia berusaha melakukannya dengan profesional dan berusaha mengesampingkan perasaan dongkolnya pada sosok didepannya.
Dengan hati-hati dan selembut mungkin, Adrianne melakukan terapi dengan beberapa alat pada kaki Clayton.
Ia kemudian tersenyum melihat reaksi yang diberikan oleh kedua kaki Clayton.
"Hmm...bagus." gumamnya.
Clayton bersikap tak acuh. Ia pura-pura tidak mendengarkan perkataan Adrianne.
"Kakimu tidak menjadi kecil, ukurannya normal. Ini menandakan kamu terus berusaha untuk sembuh. Kalau boleh aku tahu, apakah kamu rutin berolah raga sambil melatih kakimu juga?" Tanya Adrianne dengan ramah. Suaranya sangat berbeda dengan yang barusan.
Clayton melihat sekilas pada Adrianne kemudian memalingkan wajahnya kearah lain.
"Aku tidak semanja yang kamu tuduhkan. Aku rajin olah raga tentunya dan juga berjemur matahari di balkon kamar. Aku tidak selemah yang kamu pikirkan, Dokter!." ucap Clayton dengan nada suara yang menyiratkan kekesalan.
Adrianne tersenyum lega. "Saraf sensorikmu bekerja dengan baik terhadap rangsangan alat alat terapi yang ada. Ini pertanda baik. Besok aku akan melakukan terapi dengan posisi kamu harus tidur terlentang diatas sini." kata Adrianne sambil menepuk nepuk tangannya diatas sebuah ranjang tinggi khusus pasien terapi yang ada diruangan itu.
"Aku agak kesulitan jika posisimu sambil duduk."
Clayton menatap Adrianne dengan sorot mata ingin protes. Ia kemudian meninju pahanya tanda tidak suka. Tapi Ia tak berani mengeluarkan satu katapun.
Adrianne sebenarnya memperhatikan reaksi Clayton tapi lagi-lagi Ia harus berpura-pura bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apa apa.
"Penyembuhanmu sangat tergantung dari keadaan emosimu. Cobalah untuk menenangkan dirimu jika sedang marah atau kesal. Atau ... kamu bisa bermain piano. Musik adalah salah satu terapi terbaik untuk kesembuhan." ucap Adrianne sambil membuka sarung tangannya dan mulai membereskan peralatan terapi di depannya.
"Setelah kamu sudah membuatku kesal hari ini, berani beraninya kamu memberikanku nasihat untuk menjadi tenang, Dokter Anne?" Tanya Clayton dengan wajah sinis kearah Adrianne.
Adrianne memicingkan matanya kearah Clayton sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Setidaknya sekarang kamu sudah punya teman untuk latihan mengatasi rasa kesal, marah, atau sedih." jawab Adriane dengan enteng.
Clayton benar-benar gemas dibuatnya. Ia segera menurunkan gulungan kaki celananya dengan kasar dan kemudian memutar kursi rodanya serta memacunya kearah pintu. Ia kemudian berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Aku harap tidak bertemu lagi denganmu besok dan seterusnya, Dokter Anne." setelah mengatakan itu, Clayton membuka pintu, membantingnya lalu menuju ruang serba guna.
Adrianne hanya tersenyum kecut. "Dasar, kekanakan!" umpatnya pelan.
Didalam ruangan serba guna, Clayton berusaha menenangkan pikirannya. Jika Dokter galak itu tidak ada di rumahnya, mungkin Ia sudah berteriak histeris untuk melepaskan kekesalannya.
"Dasar dokter sialan. Dia pikir dia itu siapa berani menantangku! Tapi....dia ada benarnya juga. Apakah aku seorang yang bersikap manja selama ini?" keraguan perlahan menyusup dalam pikiran Clayton. Di satu sisi Ia tak mau dianggap seorang yang manja, tapi disisi lain Ia ingin membenarkan dirinya terutama egonya agar tidak terlihat lemah dihadapan orang lain. Tapi dokter muda itu justru mampu membuka matanya bahwa sikapnya selama ini adalah sebuah KELEMAHAN!