
Adrianne bergegas menuju ke Cafe klinik. Ia hanya memiliki waktu sekitar tiga puluh menit untuk makan siang karena Ia keasyikan membalas email email pada saat jam istirahat makan siang dimulai. Selama bekerja di klinik tersebut, Adrianne sangat disiplin soal waktu. Apapun yang menyangkut kedisiplinan kerja selalu menjadi prioritasnya. Ia tak ingin kejadian beberapa tahun lalu ketika Clayton memecatnya karena masalah kedisiplinan terjadi lagi. Tak heran Ia bisa mendapat penghargaan dari kliniknya sebagai Dokter dengan kinerja terbaik.
Adrianne memasuki cafe. Ketika hendak memilih tempat duduk, pandangannya terhenti pada dua sosok yang sedang makan bersama sambil mengobrol dengan sangat akrab. Siapa lagi kalau bukan Clayton dan Adelia!
Seketika nafsu makan Adrianne hilang entah kemana. Ia langsung menuju ke kasir untuk membeli dua potong kue taart vanila yang sudah terpajang di lemari kaca untuk dibungkus saja beserta segelas Russian Authentic Coffee yang dingin.
Intinya, Adrianne tidak mau terlihat oleh Clayton. Semenjak kejadian berciuman dimobil waktu itu, Adrianne berusaha menghindari Clayton. Ia tak mau perasaannya dipermainkan lagi. Adrianne telah bertekad agar kejadian tersebut tak akan pernah terjadi lagi.
Bagi Adrianne, Clayton benar benar brengsek. Mengapa tidak? Karena Ia berani mencium dirinya disaat sedang dekat dengan Adelia. Kedekatan Clayton dan Adelia telah menjadi rumor dikalangan karyawan klinik. Walaupun Adrianne tidak peduli dengan hal itu, tetap saja Ia sedikit terganggu. Ia merasa seperti dipermainkan dan Adrianne sangat menyesali telah membalas ciuman Clayton waktu itu. Baginya insiden itu telah membuatnya merasa seperti seorang wanita gampangan!
"Miss, ini pesanan dan kartu anda. Terima kasih." kata kasir mengagetkan Adrianne dari pikirannya. Adrianne tersenyum dan langsung berlalu dari tempat itu tanpa menoleh lagi kemana mana.
Namun baru juga selangkah Ia berjalan, sebuah suara memanggil namanya.
"Anne, Dokter Anne." suara Clayton terdengar jelas memanggil namanya. Adrianne membalikkan badannya dan melihat Clayton sedang melambaikan tangannya kearah dirinya.
Adrianne hanya tersenyum singkat dan menundukkan kepalanya sedikit kemudian lekas lekas meninggalkan cafe tersebut.
Jantungnya sedikit berpacu. Ia masih belum siap bertemu dan berbicara dengan Clayton. Ia masih perlu waktu untuk meredakan perasaannya agar kembali normal.
Ia lega karena Clayton ternyata tidak mengejarnya. Adrianne akhirnya bisa menikmati kue dan kopinya sebagai ganti makan siang diruangan tempatnya bertugas.
.
.
.
Waktu telah menunjukkan jam lima sore. Dokter pengganti Adrianne telah tiba beberapa menit yang lalu. Ia meraih tas dan syal beserta jacketnya kemudian berjalan keluar untuk memesan taxi online.
Ketika telah berada di lobby klinik, sebuah mobil yang Ia kenali muncul tepat didepannya.
"Clayton!" jerit hatinya. Deg! jantungnya serasa mau copot.
"Ayo, Anne, aku antar pulang, kebetulan aku juga sudah selesai." ucap Clayton tanpa beban.
Pikir Adrianne, pria ini benar benar menyebalkan! Bisa bisanya Ia bersikap biasa saja setelah apa yang telah Ia lakukan padanya beberapa hari yang lalu.
Adrianne masih terdiam antara ingin menolak atau menerima ajakan Clayton.
Melihat reaksi Adrianne yang terlihat ragu, Clayton keluar dari mobil kemudian membukakan pintu agar Adrianne masuk kedalamnya.
"Anne, ayo masuk. Aku antarkan ke apartemenmu." ucap Clayton sambil tersenyum.
Adrianne seperti terhipnotis mendengar perkataan Clayton. Ia masuk perlahan dan duduk kemudian memasang sabuk pengaman. Clayton menjalankan mobilnya kearah kompleks tempat tinggal Adrianne.
Tiba diapartemen, Adrianne berterima kasih dan langsung pamit hendak keluar dari mobil tapi tangan Clayton dengan cepat mencegatnya.
"Anne....boleh aku mampir sebentar di apartemenmu?" ucap Clayton lembut.
Adrianne terperanjat mendengar Permohonan Clayton. Ia tiba tiba merasa tak karuan.
"Maaf, tapi apartemenku lumayan berantakan sebaiknya lain waktu aja."
Clayton tidak melepaskan tangannya pada lengan Adrianne.
"Tapi Anne, ....aku cuman mau pinjam toiletmu, Aku kebelet banget nih pengen pipis. Boleh ya..." Clayton terpaksa berbohong."
Adrianne kasihan juga melihat wajah Clayton yang sedang meringis. Ia akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
Clayton menyembunyikan senyuman kemenangannya dan mengikuti Adrianne dari belakang. Sementara memandangi punggung Adrianne ketika berjalan menuju lift, ingin rasanya Clayton merangkul pinggang itu tapi Ia sadar kalau Ia harus bersikap sopan mengingat Ia pernah lepas kontrol beberapa hari yang lalu.
"Masuklah. Maaf jika apartemenku agak berantakan. Kamar Mandi sekaligus toilet ada didalam kamarku, aku tak punya kamar mandi diluar." kata Adrianne sambil membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Clayton untuk masuk.
Clayton masuk ke kamar Adrianne dan menuju kamar mandi. Ia berpura pura agak lama didalam dan beberapa kali membunyikan flush air agar Adrianne bisa mendengar apa yang sedang Ia lakukan disana.
Adrianne menatap Clayton dengan rasa khawatir. Ia bergerak mendekati Clayton.
"Clay, kamu kenapa?"
Clayton menggeleng. "Aku juga gak tahu, Sewaktu dalam perjalanan tadi rasanya gak enak banget, makanya aku bersikeras pinjam toiletmu." Clayton merasakan bahwa bakat actingnya ternyata masih lumayan setelah sekian lama tak terpakai.
Adrianne langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Clayton dan menuntunnya ke sofa.
"Berbaringlah sebentar, aku akan memeriksamu."
Setelah membantu Clayton berbaring, Adrianne segera mengambil stetoskopnya.
"Clayton, bisakah kamu melepaskan jasmu dulu?" Tanya Adrianne pada Clayton yang sedang menutupi matanya dengan salah satu lengannya berpura pura menahan sakit.
Clayton duduk perlahan kemudian melepaskan jasnya. Setelah itu Ia berbaring kembali.
Adrianne duduk disamping Clayton. Walaupun jantungnya berdebar tak beraturan, Adrianne berusaha bersikap professional memeriksa Clayton.
"Maaf, aku harus membuka beberapa kancing kemejamu agar bisa memeriksamu dengan baik.
Clayton tersenyum geli dalam hati. Ia pura pura mengangguk dengan lemah.
Adrianne perlahan melepaskan beberapa kancing kemeja Clayton dan mulai memeriksanya dengan stetoskopnya. Setelah itu Adrianne menekan nekan perut sixpack itu di beberapa tempat. Clayton tak bereaksi.
Konsentrasi Adrianne sedikit terganggu melihat pemandangan perut sexy Clayton di depannya. Beberapa kali Ia mencoba bersikap normal namun matanya tak bisa menyangkali bahwa Ia terpesona juga.
"Clayton, tolong jangan permainkan aku! Kamu gak apa apa kok. Kamu cuma lapar saja. Kamu tadi gak makan ya diacara?" ujar Adrianne dengan kesal.
Clayton yang ketahuan tidak sakit terpaksa harus meneruskan actingnya.
"Oh iya, aku memang tadi tidak sempat makan gara gara sibuk mencari kesempatan berbicara denganmu. Syukurlah kalau begitu."
Adrianne berdiri dan meletakan stetoskopnya diatas meja.
"Baiklah, aku akan masakan spaghetti buatmu dan setelah itu kamu boleh pulang." ucap Adrianne sambil melangkah ke dapur.
Clayton lagi lagi tersenyum dan Ia kini duduk disofa sambil memandangi Adrianne yang sudah memakai celemek.
Beberapa menit kemudian Clayton melangkah ke dapur dan berdiri disitu sambil terus memandangi tubuh indah Adrianne.
Adrianne telah selesai. Ia meletakan spaghetti buatannya di piring dan menyiramkan saos diatasnya. Ketika Ia berbalik, Ia mendapatkan wajah Clayton sedang tersenyum padanya.
Adrianne menjadi salah tingkah. Wajahnya bersemu merah. Ia meletakan piring berisi spaghetti itu dihadapan Clayton.
"Sebelum kamu makan, tolong kancingkan dulu kemejamu itu." ucap Adrianne dengan pandangan diarahkan ketempat lain.
Clayton tersenyum jenaka. "Maaf, aku pikir karena kamu yang membukanya maka kamu juga yang akan mengancingkannya kembali?"
Adrianne menjadi gerah dengan candaan Clayton.
"Cepatlah kamu makan dan sesudah itu pulang. Kamu hanya merepotkan aku saja!" ucap Adrianne sambil membuka celemeknya dan membantingnya diatas meja.
Clayton hanya bisa tersenyum puas menyaksikan kekesalan Adrianne. Ia kemudian menghabiskan spaghettinya setelah itu pamit pada Adrianne.
"Terima kasih atas malam ini, Anne. Kapan kapan aku main lagi kemari dan nginap ya... ..." goda Clayton pada Adrianne.
Adrianne langsung mendorong tubuh Clayton keluar dari apartemennya dan membanting pintu.
"Dasar pria brengsek! sudah di kasi makan eh malah minta nginap! Dasar gila!" umpat Adrianne dengan kesal.
Clayton yang telah berada didalam mobil masih senyum senyum sendiri. Walaupun telah membuat Adrianne kesal, tapi Ia sangat puas setidaknya bisa berdekatan dengan si cantik itu.
Clayton yang sedang menggoda Adrianne.