Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Menyingkap Tabir Masa Lalu (Part 1)



"Bagaimana? sudah ada kemajuan, Mr. Ray?" Tanya Clayton pada pria yang berumur sekitar akhir empat puluhan di hadapannya.


"Saya belum bisa memastikan sebelum dapat meminjam arsip dari Mr. Berni yang menggantikan tugas saya sekarang. Dulunya saya yang menangani kasus kecelakaan itu. Saya yakin yang menabrakmu seorang perempuan seperti ingatanmu. Tapi memang saat itu tidak ada saksi. Pria paruh baya yang berada dilokasi kejadian itu adalah satu satunya yang pantas menjadi pelakunya sesuai dengan kesaksiannya. Seingatku yang menjadi kendala saat itu adalah Saya tak pernah bertemu dengan perempuan itu lagi untuk meminta keterangan. Juga sesuai permintaan keluargamu untuk tidak memperpanjang masalah ini. Saya sangat menghormati Ibunda anda, Tuan Clay. Ibu anda bersikeras untuk menyelesaikan semua dengan cara kekeluargaan."


Clayton memijit dahinya sambil terus berpikir.


"Apa yang menyebabkan anda berpikir seperti Saya bahwa pelakunya adalah perempuan itu?"


"Saya datang menjenguk anda pada waktu anda belum sadarkan diri bermaksud melihat kondisi anda. Pada waktu saya berada di dalam ruangan perawatan, anda seperti gelisah dalam ketidaksadaran. Saya iseng iseng berbisik di telinga anda dan menanyakan apakah anda melihat pelakunya saat terjadi tabrakan. Dan anda tanpa sadar menjawab seperti ini, "Seorang perempuan yang masih sangat muda. Mobilnya sangat kencang dan hilang kendali sehingga menabrakku." Lalu setelah itu anda tertidur lagi.


Saya percaya jawaban orang yang sedang berada di alam bawah sadar. Karena yang muncul adalah kenyataan yang paling membekas, bukan rekayasa."


Clayton tertunduk sambil menarik nafas panjang. "Mr. Ray, saya akan segera menikah jadi agak sedikit sibuk sana sini. Tolong telpon saya jika ada kemajuan dari penyelidikan ini."


"Saya rasa Ibu anda adalah salah satu orang yang memegang jawaban dari kejadian ini. Jika anda ingin segera mendapatkan jawaban yang cepat tanpa penyelidikan lagi, anda hanya perlu membujuk Ibu anda untuk...."


"Tidak perlu." potong Clayton dengan cepat. "Ibu saya tidak pernah mau membicarakan hal itu karena Ia bisa sakit lagi bila harus mengungkit kejadian naas itu. Saya sangat menyayangi Ibu saya. Sudah cukup Ia menderita selama saya sakit. Saya mengandalkan anda Mr. Ray. Tolong, bantulah saya mengungkap semuanya ini."


Mr. Ray mengangguk pelan. "Saya harus meminta izin Mr. Berni untuk melihat lagi file file itu. Walaupun kemungkinan kecil mendapatkan jawabannya, tapi setidaknya saya yakin ada fakta yang dapat mengarahkan saya pada identitas pelaku yang sebenarnya."


Clayton memandang Mr. Ray dengan pandangan penuh permohonan. "Saya benar benar ingin mengungkap semua ini, Saya telah kehilangan karir beberapa tahun dalam kehidupanku tanpa arti hidup."


"Katakan pada saya Tuan Clay, jika Saya menemukan pelaku yang sebenarnya, apa yang akan anda lakukan padanya?"


Clayton melipat tangannya didepan dada sambil salah satu tangannya meremas remas dagunya dengan cukup keras. Ia kemudian menggeleng.


"Sejujurnya saya belum tahu. Tapi yang pasti orang itu harus membayar beberapa tahun hidup Saya yang terpuruk. Saya akan membuatnya membayar semua itu dengan penderitaan! Mungkin orang itu sekarang sedang bersenang senang dan tidak tahu kalau saya masih hidup dan sehat. Saya benar benar ingin melihat ekspresi wajahnya bila bertemu saya nantinya. Tenang saja Mr. Ray, Saya bukan orang bodoh yang akan melakukan tindakan kriminal terhadapnya. Saya tidak akan mengotori tangan Saya, terlebih nama baik keluarga Saya. Bagi Saya permainan ini harus dilakukan dengan cara yang halus tapi menyakitkan bagi kehidupan orang itu. Saya ingin membuat orang itu sulit untuk tidur nyenyak!"


Mendengar ucapan pria didepannya, Mr. Ray hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah sedikit kecewa.


"Saya hanya berharap anda bisa berdamai dengan masa lalu anda, Tuan Clay. Semua ini demi ketenangan hidup anda."


Clayton menatap tajam kearah Mr. Ray.


"Saya membayar anda dengan bayaran yang tidak sedikit! Ketenangan hidup Saya bergantung pada fakta baru yang harus anda dapatkan, selebihnya bukan urusana anda. Berusahalah untuk memuaskan Saya, Mr. Ray."


"Baiklah, Tuan Clay. Begitu saya dapat mengungkap identitas pelaku yang sebenarnya, tugas saya sudah selesai. Jangan pernah menghubungi Saya lagi setelah itu. Dendam anda selanjutnya adalah tanggung jawab anda, jangan pernah melibatkan saya. Deal?" ucap Mr. Ray sambil menyodorkan tangannya untuk dijabat Clayton.


Clayton langsung menjabat tangan itu dengan erat diikuti sebuah senyuman sinis.


"Deal! Setelah semuanya terungkap, anggaplah kita tidak pernah bertemu atau saling kenal!"