Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Mencoba Tegar



Adrianne menghabiskan beberapa hari tinggal di rumah paman dan bibinya. Ia terus mengurung diri dan hanya makan sedikit. Ia juga izin untuk tidak masuk kerja dengan alasan sakit.


Baik Paman dan Bibinya sangat mengkhawatirkan keadaan putri angkat mereka terlebih karena mereka sudah mengetahui penyebabnya.


Adrianne menatap langit langit kamarnya. Hembusan udara dingin dari AC yang ada dikamarnya tidak membuatnya merasa nyaman. Pikirannya bercabang kemana mana dengan tatapan mata yang terkesan kosong.


Terdengar ketukan pintu pelan dan pintupun terbuka. Paman Adrianne masuk dan langsung duduk disisi tempat tidur Adrianne.


"Anne, maafkan Pamanmu ini." ucap Pamannya lembut sambil membelai kepala Adrianne.


Mendengar suara pamannya, air mata Adrianne langsung mengalir lewat sudut sudut kedua matanya.


"Anne, bicaralah pada Paman." Pamannya berkata dengan nada memelas.


Adrianne masih terdiam, mencoba menguatkan hatinya.


"Bukankah ini yang Paman inginkan agar aku tidak menikahinya?" suara Adrianne bergetar.


Pamannya menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Anne, Paman tidak pernah mengharapkan akhirnya akan seperti ini, sayang."


Berusaha menghapus air matanya, Adrianne mencoba untuk duduk agar bisa bernafas dengan sedikit lega.


"Mengapa Paman mendustaiku? Mengapa harus berdusta dengan mengatakan bahwa Ia telah mati?"


Paman Adrianne tertunduk.


"Itu adalah keinginan keluarganya, Anne. Khususnya Dara, Ibu Clayton. Sebelum putranya dibawa berobat keluar negeri, Dara menelpon Paman untuk mengatakan bahwa anaknya sudah tiada jika suatu saat kamu bertanya tentang dia."


Adrianne menatap tajam ke wajah pamannya dengan mata yang masih basah.


"Mengapa Paman? Mengapa Nyonya Dara harus memaksa Paman menciptakan kebohongan itu?"


"Karena Clayton sangat membenci pelaku yang menabraknya! Ia bahkan bersumpah didepan ibunya sendiri bahwa Ia akan membalaskan semuanya pada orang yang sudah membuatnya cacat!" Paman berusaha mengatur nafasnya kembali dan berusaha tenang kembali.


"Dengan menciptakan kebohongan itu, kamu berhenti untuk menanyakan siapa pria yang kamu tabrak itu dan tidak pernah mencarinya. Tapi....siapa yang sangka kamu malahan diseret takdir masuk kedalam goa singa itu dan jatuh cinta pada korbanmu sendiri. Mungkin inilah yang disebut karma." Paman memandang iba pada sosok disampingnya.


Paman memeluk Adrianne yang sudah terisak. "Semua ini Paman lakukan agar hukuman itu mengarah pada Paman saja dan kamu akan terbebas dari semua itu. Masa depanmu masih panjang, Anne. Cobalah untuk tegar. Jangan menghukum dirimu seperti ini." Paman berusaha menghibur Adrianne.


Tut...tut...


Hape Adrianne berbunyi dan dilayar tertulis 'Hospital'. Paman yang melihat itu langsung tersenyum.


"Nah, tugas sudah memanggilmu. Kembalilah bekerja, Anne agar kamu bisa melupakan semua ini sedikit demi sedikit." Paman mengusap punggung Adrianne kemudian berlalu dari situ.


Hapenya kembali berbunyi dari nomor yang sama.


"Ya, Halo." ucap Adrianne dengan suara yang lemah."


"Selamat pagi Dokter Anne, sekiranya bisa ke rumah sakit, Manager HRD ingin bertemu dengan anda. Katanya penting." ucap suara diseberang.


"Baiklah, saya akan tiba satu jam lagi." kemudian Adrianne menutup telponnya.


Adrianne berdiri dari tempat tidurnya. Ia mengganti pakaiannya, merapikan wajahnya untuk menutupi matanya yang masih terlihat sembab. Tak lupa Ia memakai blazer putih seragam khas seorang dokter. Pikirnya, bisa saja ada tugas mendadak untuk menangani pasien nantinya.


Tiba tiba Adrianne teringat kalau selama beberapa hari Ia tidak masuk, diluar cuti nikah yang sudah Ia batalkan, Ia lupa meminta izin secara resmi pada atasannya. Ia hanya menutip pesan pada seorang suster jaga waktu itu.


"Gawat! Aku lupa menghubungi atasan langsung. Aduh bagaimana ini? Pasti aku harus bertugas jaga dua minggu berturut turut sebagai sangsinya." Adrianne bergumam. Ada kekhawatiran dalam dirinya.


Ia cepat cepat menyambar kunci mobilnya dan pamit pada paman dan bibinya. Jarak tempuh yang lumayan jauh bukan masalah bagi Adrianne karena dulu sebelum Ia tinggal di apartemen, Ia masih sempat bolak balik seperti ini juga.


Dengan perasaan yang masih sangat rapuh, Adrianne berusaha tetap berkonsentrasi pada jalan didepannya. Ia tak ingin mengulangi kejadian tiga tahun.


Ia harus berusaha tegar menghadapi pertanyaan pertanyaan rekan sekerjanya bila nanti ada yang menanyakan mengapa Ia batal menikah. Pikirnya, sungguh memalukan! Kisah cintanya terlalu singkat dan berakhir dengan cara yang menyedihkan!