
Sudah hampir dua minggu Adrianne harus izin dari tugasnya mengobati pemulihan Clayton. Ia harus mengikuti sebuah conferensi dokter dokter ahli saraf se Asia di Thailand.
Tentunya bukan hal yang mudah bagi Clayton. Ia sudah terbiasa melakukan banyak hal dengan Adrianne pada setiap jadwal yang ada.
Ada perasaan kosong dalam hatinya, perasaan yang membuatnya banyak melamun dan lebih banyak menghabiskan waktunya diruang serbaguna hanya untuk bermain piano atau membuat design gambar bangunan pesanan beberapa pelanggan.
Clayton menarik nafas dan membuangnya dengan berat. Ia merasa kurang bersemangat tapi Ia tak pernah melalaikan pesan Dokter Anne untuk tetap berlatih walaupun Dokter Anne sedang tugas dan tidak bisa mendampinginya.
Hari hari latihan berjalan sendiri sungguh berat dilaluinya walaupun tak dapat dipungkiri, Clayton merasakan kakinya semakin kuat menopang tubuhnya walaupun masih harus berpegangan sedikit sedikit.
Tiga bulan sudah berlalu sejak Dokter Anne pertama kali muncul di rumahnya. Dan Kali ini adalah pertama kali bagi Dokter Anne untuk izin dalam waktu yang lumayan lama.
Clayton memandang hapenya yang tergeletak diatas meja gambarnya. Ia ingin sekali menelpon Dokter Anne hanya untuk sekedar mendengar suaranya. Tapi, urung dilakukannya. Dokter Anne juga belum pernah menelponnya sekedar menanyakan kabarnya. Namun hal itu bukan masalah besar mengingat sifat Dokter Anne memang begitu. Jika sedang sibuk atau fokus kerja, Ia tak pernah memegang hapenya!
Hal itu disadari Clayton. Karena selama Dokter Anne mengobatinya, Ia tidak pernah terlihat memegang hapenya. Clayton memberanikan diri untuk mengirimkan sebuah pesan lewat WhatsApp.
"Apa kabar Dokter Anne? Sampai kapan di Thailand? Maaf sudah mengganggumu"
Clayton tersenyum ketika melihat pesannya telah terkirim dan juga dibaca. Tapi, beberapa menit telah berlalu tidak ada balasan sama sekali.
Clayton tersenyum kecut. "Mengapa aku sangat mengharapkan balasan darinya? Dasar bodoh!" umpatnya pada diri sendiri.
Tiba-tiba hapenya berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Clayton segera meraih hapenya dan membuka sebuah pesan balasan. Sebuah senyum bahagia merekah dibibirnya.
"Hai Tuan bawel, aku baik-baik aja. Kangen sama doktermu ya hehehe..."
Clayton tertawa geli membaca balasan itu. Ada rasa berdebar yang tak menentu yang mengobrak abrik dadanya."Dia tahu dari mana kalau aku kangen? Damn! She's absolutely right. Aku memang kangen!"
Clayton segera membalas.
"Cepatlah pulang! Ada kejutan menanti untukmu."
Balasan masuk segera.
"Hmm...I can't wait! See you soon 🤩"
Clayton tersenyum bahagia dengan mata yang masih menatap hapenya. Saking senangnya, Clayton tak menyadari bahwa didekatnya ada gelas berisi air putih yang masih full. Tangannya tak sengaja menyenggol gelas itu. Karena takut membasahi kertas gambarnya, tanpa Ia sadari, Ia telah berdiri sendiri tanpa topangan berusaha untuk mencegah gelas tersebut jatuh keatas kertas gambarnya. Karena gerakan refleks itu, gelas yang tadi akhirnya jatuh ke lantai dan pecah.
Pintu terbuka tiba-tiba. Nyonya Dara yang mengira anaknya sedang dalam masalah langsung masuk untuk melihat keadaan putranya.
"Clayton!! Ka...kamu...bisa berdiri sendiri?" pekik Nyonya Dara dengan kedua tangan menutup mulutnya.
Clayton yang masih bingung dengan perkataan Ibunya langsung memandang kakinya. Ia tersenyum dalam keterkejutan.
Ya, dia sedang berdiri disamping gelas pecah!
Kakinya menopang tubuhnya tanpa rasa sakit dan terasa ringan.
"Mama... ya ampun. Aku sudah bisa berdiri dan berjalan. Tunggulah disitu Ma, jangan bergerak. Aku akan berjalan kesana." ucap Clayton dengan nada sangat bahagia.
Clayton mulai melangkahkan kakinya perlahan-lahan. Tak ada masalah apapun. Semua terasa enteng walaupun harus pelan pelan.
Pikir Nyonya Dara, masa-masa kelam itu telah berakhir dan lembaran baru kehidupan putranya baru saja dimulai.
.
.
.
.
Hari itu, semua orang di dalam rumah menjadi gempar. Tak terkecuali ayah Clayton. Tuan Adhiata sampai menitikkan air mata melihat keajaiban hari itu, sampai-sampai Ia tidak balik lagi ke kantornya sewaktu istrinya menelpon untuk segera pulang.
Keluarga Cakrawangsa merayakan kebahagiaan itu dengan makan malam bersama dirumah mereka. Catering dari sebuah restorant terkenal didatangkan khusus untuk perayaan itu.
"Kak Clay, sekarang kakak bisa meraih lagi segala impian yang masih ingin kakak wujudkan." kata Carlene adiknya.
"Iya, Sayang. Kamu sekarang boleh melakukan apapun yang kamu suka. Kalau kamu ingin kembali kedunia acting, Papa tidak lagi keberatan. Asal kamu bahagia." ucap Tuan Adhiata sambil merangkul pundak putranya.
Mendengar semua dukungan orang-orang terkasih malam itu, Clayton menjadi begitu bersemangat.
"Pa, aku gak akan lagi menggeluti dunia perfileman. Sudah tidak tertarik lagi." ucap Clayton dengan mantap yang disambut kernyitan di dahi Tuan Adhiata.
"Kenapa? bukannya kamu sangat menyukainya?" Tanya Tuan Adhiata dengan heran.
"Aku sudah menganggap hal itu sebagai masa lalu. Aku ingin menata hidupku dari awal lagi. Aku ingin membuat kantorku sendiri dibidang desain bangunan sampai design interior." ujar Clayton dengan mata berbinar.
Semua yang sedang berada di meja makan itu tersenyum bahagia dan bertepuk tangan.
Bagi mereka, Clayton yang dulu telah ditemukan kembali.
"Ma, tolong rahasiakan dulu hal ini dari Dokter Anne. Aku sudah berjanji untuk membuat kejutan untuknya. Sebenarnya aku juga tidak menyangka kalau kejutan itu akan sehebat ini karena tadinya aku hanya ingin memperlihatkannya bahwa aku sudah mampu berdiri sendiri." ujar Clayton pada ibunya.
"Pasti sayang. Jangan khawatir." kata Nyonya Dara sambil menepuk nepuk pundak putranya.
Makan malam itu berlangsung dalam suasana keharuan dan kebahagiaan, walaupun bagi Clayton, ada yang kurang. Ya, kehadiran Dokter Anne sangat dirindukannya.
Ia sudah membayangkan bagaimana nanti reaksi Dokter Anne ketika melihatnya sudah bisa berjalan dengan normal walaupun Ia masih takut untuk berlari.
Sudah beberapa hari ini Clayton berusaha melawan perasaan itu. Perasaan nyaman ketika berada didekat Dokter Anne dan juga perasaan sedih dan rindu ketika Dokter Anne tidak berada disampingnya seperti sekarang ini.
Clayton berjalan menuju ke taman samping rumah dimana Ia dan Dokter Anne selalu menghabiskan waktu untuk latihan berjalan dan duduk mengobrol dibawah pohon.
Perasaan rindu itu semakin kuat. Tapi Clayton merasa tidak percaya diri untuk mencintai Dokter Anne.
"Ya ampun! Apakah benar aku jatuh cinta padanya?" bisik hatinya. "Tidak...tidak! Dia begitu sempurna, sedangkan aku hanyalah mantan pria cacat yang masih harus menata kembali hidupku dari nol."
Clayton menggeleng gelengkan kepalanya. Ada perasaan malu pada dirinya sendiri. "Dokter Anne tidak boleh tahu perasaanku padanya. Aku hanyalah pasiennya yang sebentar lagi akan ditinggalkannya ketika Ia tahu bahwa tugasnya sudah sampai di garis finish!"
Clayton menarik nafasnya dalam dalam. Malam itu semua orang merayakan kebahagiaannya, tapi bagi Clayton perayaan itu juga adalah perayaan rasa kehilangan seseorang yang sebentar lagi akan pergi dari hidupnya!