Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Tak Sengaja



Adrianne masih tertidur nyenyak pagi itu. Alarmnya tidak berbunyi karena hari minggu. Ia selalu bangun kesiangan setiap hari libur.


Clayton mengetuk pelan di pintu kamarnya yang sekarang di tempati Adrianne.


Beberapa kali ketukan tapi tidak ada jawaban.


Clayton serba salah. Ia lupa sekali mengambil baju baju dilemarinya dan sekarang Ia butuh sekali untuk mengganti pakaiannya. Clayton perlahan mencoba membuka pintu kamar itu dan ternyata tidak dikunci.


Ia memutuskan untuk masuk saja tanpa membangunkan Adrianne. Pelan pelan Clayton melangkah ke arah lemarinya. Ia melayangkan pandangannya ke sosok yang masih terlelap itu.


Jantung Clayton berdebar berusaha menahan rasa gelisah ketika melihat tubuh Adrianne yang hanya mengenakan tangtop tipis dan short yang sangat minim. Selimutnya telah jatuh ke lantai. Paha mulus dan lekuk tubuh sempurna Adrianne membuat Clayton lekas lekas menepiskan sisi liarnya sebagai seorang laki laki sejati. Ia membuka lemari dan mulai mengambil pakaiannya.


Seketika Adrianne bergerak demi mendengar seperti suara orang membuka lemari.


Ia berdiri dari tempat tidur, mengucek matanya dan ... Deg! Kini matanya sedang beradu dengan mata Clayton yang sama sama terkejut.


"Clayton! Apa yang kamu lakukan di kamarku?" Jerit Adrianne.


Clayton terkesiap dan gugup. Dalam kepanikan Adrianne menarik selimut dilantai dan mencoba menutupi tubuhnya.


"Maaf, Anne. Ak...Aku ketuk ketuk lama tapi kamu gak menjawab, aku masuk saja karena pintunya tidak terkunci. Aku butuh pakaianku sekarang." ucap Clayton membela diri.


Adrianne merasa kesal. "Bilang saja kamu mau macam macam dikamarku!" tuduh Adrianne.


"Ya ampun, Anne. Aku gak ada maksud macam macam sama kamu. Lagian ini kamarku dan kamu cuma menumpang disini. Kalau aku mau, aku bebas mau ngapain aja!" balas Clayton semakin kesal atas tuduhan Adrianne.


Clayton menarik beberapa pakaiannya dengan kasar kemudian membantingnya diatas kasur.


Ia kemudian berjalan mendekati Adrianne yang bersusah payah melilitkan selimut di tubuhnya.


"Asal kamu tahu aja ya, kalau aku mau macam macam sama kamu, aku pasti sudah melakukannya tadi malam dan bukan pagi menjelang siang. Kamu tahu ini jam berapa? Ini sudah hampir jam 10 dan jam segini, aku sudah gak napsu!"


Clayton kemudian menarik selimut yang dipakai Adrianne menutupi pakaiannya yang sangat minim itu. Ia memang tidak pernah memakai bra ketika tidur.


Tarik menarik terjadi diantara keduanya.


Adrianne kewalahan dan harus mengalah pada kekuatan Clayton. Kini Ia terpaksa harus menutup dadanya dengan kedua tangannya.


Clayton menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan, dari kaki, paha, pinggang, dada, hingga ke wajah Adrianne yang kelihatan sangat ketakutan.


Clayton semakin mendekatkan dirinya hingga Adrianne harus tersandar di dinding dengan mata yang hampir menangis.


"Ya ampun, mau apa dia padaku...?" jerit Adrianne dalam hatinya.


Kini tubuh mereka telah saling menempel hanya wajah mereka yang nyaris bersentuhan.


Adrianne pasrah ketika Clayton mengancingkan tubuh mereka lebih erat dengan kekuatan tangannya.


"Dengar Dokter Anne," ucap Clayton dekat bibir Adrianne, sesekali bibir Clayton tidak sengaja menyentuh bibir Adrianne ketika berbicara. Adrianne hanya bisa menahan nafasnya dengan mata tetap terbuka.


"Jangan pernah lagi menuduh aku yang bukan bukan atau aku tidak akan segan segan membuat tuduhanmu itu menjadi kenyataan. Mengerti?"


Adrianne hanya bisa mengangguk pelan sekali agar bibir mereka tidak lagi bersentuhan.


Clayton melepaskan kancingan lengannya dari tubuh Adrianne dan segera mengambil pakaiannya dari atas kasur dan berlalu dari kamar itu dengan membanting pintu keras keras!


Adrianne terkulai lemas dilantai. Ia meringis ingin menangis tapi coba ditahannya. Ia menelan ludah dan menarik nafas dalam dalam. Ia menyesal telah menuduh Clayton yang tidak benar, padahal pria itu hanya ingin mengambil pakaiannya. Tuduhannya benar benar telah membuat Clayton sangat kesal.


Adrianne merasa bingung bagaimana caranya untuk meminta maaf pada Clayton.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Adrianne berjalan menuruni tangga. Ia mengenakan kaos putih santai pagi menjelang siang itu.


Ia hendak ke dapur untuk mengambil segelas air. Didekat situ ada Clayton yang sedang serius membaca buku dengan segelas kopi di depannya.


Adrianne meneguk air ditangannya. Sesekali Ia menatap wajah serius itu yang sedikitpun tidak bergeming dengan kehadirannya.


"Kamu bangun telat hari ini dan melanggar perjanjian kita. Seharusnya kamu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untukku karena hari ini kamu tidak kerja." ucap Clayton dengan sikap dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di depannya.


Adrianne merasa serba salah dan menyesali kelalaiannya. "Maafkan aku. Aku benar benar lupa. Nanti siang dan malam aku akan memasak untukmu." ucap Adrianne sambil menunduk.


Adrianne memberanikan dirinya mendekati Clayton. Ia mencoba menatap pria didepannya tapi buku yang sedang dibaca Clayton menghalangi pandang Adrianne.


"Clay, aku mohon maaf atas kejadian tadi. Aku menyesal sudah menuduhmu yang bukan bukan." ucap Adrianne pelan.


Clayton masih diam dan tidak menurunkan buku itu dari depan wajahnya.


Adrianne mengulangi perkataannya dan kali ini dengan suara yang lebih jelas.


"Clay, maafkan aku ya. Please.... jangan marah begitu dong...."


"Hmm." ucap Clayton tanpa merubah posisinya.


Adrianne menjadi gemas juga dibuatnya. Adrianne langsung mengambil buku yang sedang dibaca Clayton dan sedikit membantingnya diatas meja.


Kini keduanya saling menatap dengan kesal.


"Apa maumu?" Tanya Clayton.


"Aku mau minta maaf." Balas Adrianne.


"Aku sudah mendengarnya." Ujar Clayton.


"Aku mau dengar tanggapanmu." Tuntut Adrianne.


"Aku sudah memaafkanmu!" Jawab Clayton.


"Kamu kelihatan gak tulus. Kamu cuekin aku." seru Adrianne dengan sedikit kesal.


Clayton menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Baiklah kamu mau aku bagaimana?"


"Aku mau kamu tulus memaafkanku." Tuntut Adrianne lagi.


"Aku sudah bersikap tulus, Anne." Clayton menegaskan.


"Tapi caramu menanggapiku kurang tulus." Protes Adrianne.


"Baiklah, tunjukkan padaku bagaimana untuk bersikap tulus." Suara Clayton melembut. Tak tahan juga Ia terus terusan beradu pandang dengan si cantik di depannya.


Adrianne salah tingkah. "Yah..ma..maksudku, terserah versimu sajalah..."


Clayton tersenyum menyeringai.


"Kalau kamu bilang versi aku, kamu pasti akan marah lagi..."


Adrianne mengernyit. "Gak...aku gak bakalan marah lagi, yang penting kamu benar benar tulus. Aku janji!" seru Adrianne berusaha meyakinkan.


Clayton tersenyum dan kemudian berdiri tepat di depan Adrianne. "Yakin kamu gak bakalan marah lagi?" ucap Clayton memastikan.


Adrianne menggeleng sambil tersenyum.


Clayton kemudian mendekatkan wajahnya pada Adrianne.


"Anne, aku sudah memaafkanmu dengan tulus." ucap Clayton dengan lembut kemudian mengecup bibir Adrianne dengan sangat lembut.


Adrianne terkejut tapi tidak jadi protes. Ia hanya bisa terdiam. Clayton masih tersenyum dan kembali duduk dikursinya. Ia mengambil buku yang di baca tadi lalu kembali membacanya dengan posisi seperti semula.


Adrianne masih mematung. Detakan jantungnya mulai kacau lagi. Ia kemudian berdiri dan berlalu dari hadapan Clayton tanpa kata kata.


Clayton yang melirik kepergian Adrianne dengan ekor matanya hanya tersenyum geli.


"Sudah aku bilang, aku menginginkannya lagi, Anne." gumam Clayton dalam hati.