
Adrianne meluruskan badannya malam itu. Ia lega karena tugasnya telah selesai walaupun harus pulang agak larut karena ada pasien dadakan. Ia sangat lega karena jadwal barunya, Ia tidak lagi harus bertugas pada hari sabtu dan minggu, kecuali untuk sesuatu yang sangat emergency.
Tiba tiba alarm hapenya berbunyi. Adrianne melihat pada layar yang ternyata adalah reminder. Disitu tertulis "Jam 4 sore, bertemu Mr. X besok." Adrianne tersenyum. Ia menulis Mr. X karena Ia belum tahu nama dan rupa sosok pengganti Elle yang akan ditemuinya besok sore.
Tiba tiba sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak Ia kenal. Adrianne langsung membuka pesan itu dan membacanya.
"Hi Dokter Anne, ini dengan temannya Elle. Hanya ingin mengingatkan kalau besok saya ada janji dengan anda di Cafe Tiffany jam 4 sore. See you there."
Adrianne tersenyum dan kemudian membalas pesan itu.
"Terima kasih sudah mengingatkan. I'll be there."
Adrianne ingin berdiri dari sofanya yang lumayan besar dan luas itu tapi Ia terlalu lelah. Ia menarik selimut hangat yang selalu berada disitu untuk menghangatkan badannya jika sedang menonton. Beberapa detik kemudian Ia sudah tertidur dalam kelelahan.
.
.
.
.
.
#Di Cafe Tiffany Jam 3.45 Sore
Adrianne sengaja tiba lebih awal di Cafe tempat Ia dan atasan barunya, sebagai pengganti Elle sementara, berjanji untuk bertemu. Ia sedikit grogi tapi juga penasaran bagaimana sosok yang kata Elle sangat tampan itu.
Adrianne mengakui kalau hari harinya lumayan sepi sepeninggal Elle. Biasanya di sela sela waktu istirahat ketika sedang bertugas, Ia pasti akan bertemu Elle untuk sekedar makan siang atau minum kopi bersama. Dan pada weekend seperti ini biasanya mereka hang out bersama jika Andrianne tidak sedang tugas.
Adrianne mengisi waktunya dengan membuka kotak email yang masuk. Kebanyakan tentang jadwal rapat dokter dan juga jadwal seminar kesehatan dan pelatihan.
Saking seriusnya, Adrianne tidak menyadari kalau sosok yang sedang dinantinya sudah berdiri dihadapannya, menatapnya dengan sebuah senyum teramat manis.
"Selamat sore, Dokter Anne." Ucap suara itu dengan lembut."
Adrianne terpana dengan suara itu, Ia belum mengangkat kepalanya untuk melihat sosok didepannya. Tapi....suara itu...mengingatkannya pada seseorang yang sangat melekat dalam ingatannya. "Tidak mungkin dia!" bisik Adrianne dalam hati.
Adrianne mengangkat kepalanya memandang pada sosok yang baru saja menyapanya.
Mata mereka bertemu. Keduanya terdiam. Tak terasa mulut Adrianne sudah setengah terbuka, nafasnya seperti tercekat, matanya tak berkedip menatap sosok yang masih memandangnya dengan tersenyum.
Adrianne memalingkan pandangannya keluar jendela sambil menggelengkan kepalanya. Wajahnya langsung memucat. Ia berusaha menelan ludahnya berulang kali serta membasahi bibirnya yang terasa kering.
Ia kemudian tersenyum kecut dan berkata,
"Tidak mungkin! Katakan padaku kalau aku sedang bermimpi."
Sosok itu menarik kursi didepannya lalu duduk berhadapan.
"Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Aku pikir aku sudah kehilanganmu selamanya. Dunia ternyata sangat sempit." ucapnya dengan ramah.
Adrianne masih mematung, Ia tak berani menatap mata didepannya.
"Clayton! Ia benar benar Clayton!" jerit batinnya.
Adrianne menggigit bibirnya. Ia hampir menangis tapi susah payah harus menahannya. Ia mengambil nafas dalam dalam dan mencoba menegakkan kepalanya untuk menatap wajah yang tampak begitu tampan didepannya. Bahkan ketampanannya tak berubah sedikitpun seiring waktu berlalu.
"Clayton. Apa kabar? Maaf. Aku...aku hanya tidak pernah menyangka kita .... bertemu disini. Sungguh! Bagiku ini tidak masuk akal saja." ucap Adrianne tersendat sendat.
Clayton tersenyum lembut. Matanya tak bisa beranjak dari wajah yang selalu dirindukannya itu.
"Anne. Pertama tama aku juga tak menyangka kita akan dipertemukan Tuhan di negara ini. Aku hanya merasa kalau ini sudah takdir. Tapi aku bahagia dengan semua ini. Aku tak pernah menyangka bertemu dengan Elle sahabat lamaku dan menerima tawarannya ternyata akan mempertemukan kita. Cara Tuhan memang sangat misterius!"
Clayton memajukan badannya kedepan agar bisa meminimalisir jarak diantara mereka.
"Anne, aku ingin memohon maaf padamu sebelum kita lebih jauh berbicara tentang pekerjaan. Aku benar benar menyesali semua yang sudah aku lakukan sehingga kamu harus jauh jauh datang bekerja disini. Sudah lama aku mencarimu untuk secara langsung memohon maaf padamu. Percayalah, tak ada lagi dendam padamu. Dendam itu sudah lama sekali hilang. Aku sungguh sungguh menyesali semuanya dan... aku sudah menerima hukumannya."
Wajah Clayton terlihat sangat tulus. Beban dimatanya seakan runtuh ketika Ia selesai mengucapkan permohonan maafnya. Adrianne bisa merasakan semua itu.
"Errg... ak..aku sudah mendengar itu dari Paman dan Bibiku, juga Damian. Aku pikir tak perlu lagi dibahas. Aku sudah memaafkanmu." ucap Adrianne agak gugup. Detakan jantungnya masih belum beraturan.
Clayton tersenyum bahagia. Ada binar binar kelegaan terpancar dimatanya.
"Terima kasih banyak atas semua ketulusanmu mau memaafakanku. Banyak hal yang telah terjadi dalam hidupku dan bertemu denganmu hari ini, juga telah merubah kembali hidupku."
"Clayton, bagaimana keadaan keluargamu? Apakah mereka baik baik saja? Maaf... tapi ....aku baru kembali dari liburan di Indonesia. Aku mengunjungi rumahmu tapi.."
"Seperti yang aku katakan tadi, banyak hal yang telah terjadi dalam hidupku dan aku sudah menerima hukuman atas perbuatanku padamu." ucap Clayton memotong perkataan Adeianne. "Ayahku tak dapat menerima perlakuanku padamu. Ia amat marah dan malu pada diriku. Terlebih ketika Ia tahu aku memecatmu. Beberapa bulan kemudian Ayahku sakit berat. Ia mengalami stroke dan tidak bisa berdiri lagi dari tempat tidur. Ia mengusirku dari rumah. Sejak saat itu aku memutuskan untuk meninggalkan perusahaanku pada orang kepercayaanku dan mengisi waktuku dengan mengambil kuliah master di Moskow karena arsitektur di negara ini sangat mengaggumkan dan luar biasa."
"Beberapa bulan berlalu, aku dengar Ayahku sudah menjual semua aset aset perusahaan karena sudah mengalami kemunduran sejak beliau sakit. Carlene tidak bisa mengurus semua itu karena Ia juga punya usaha sendiri. Carlene menceritakan semua padaku bahwa rumah kami juga sudah dijual pada seorang pengusaha pariwisata. Sekarang rumah itu sudah menjadi hotel dan orang tuaku pindah ke Belanda dan menetap disana karena banyak saudara Ibuku disana." Clayton menarik nafasnya dengan berat.
"Ayahku tak akan pernah memaafkanku. Ia berkata bahwa Ia akan memaafkanku jika aku sudah meminta maaf padamu dan membawamu dihadapannya." Clayton tersenyum kecut. Terlihat ada kesedihan dimatanya.
Adrianne menatap iba pada Clayton yang kini terlihat menatap keluar jendela, matanya kelihatan sedikit memerah menahan rasa sakit yang telah lama dipendamnya. Tapi Clayton kini merasa sangat lega karena bisa menumpahkan semuanya pada orang yang tepat, orang yang telah dicarinya bertahun tahun hanya untuk memohon maaf padanya.
"Terima kasih sudah menceritakan semuanya padaku." ucap Adrianne dengan lembut.
Clayton menatap wajah Adrianne dengan senyum ketulusan.
"Aku yang harus berterima kasih padamu, Anne. Apakah kita bisa berteman lagi?"
Ada senyum bahagia di wajah Adrianne. Ia mengangguk, "Tentu saja. Kita berteman lagi!"
"Kalau begitu kita pesan makanan dulu baru setelah itu kita bicara pekerjaan." kata Clayton sambil mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan.
"Baiklah. Kamu mau pesan apa?" Tanya Adrianne.
"Rekomendasimu apa?" Clayton kembali bertanya.
"Hmm...disini yang terkenal cheese omletnya." kata Adrianne.
"Oke. Aku pesan itu sama secangkir hot Cappuccino." ujar Clayton dengan wajah ceria.
Adrianne mengangguk dan tersenyum. Tak ada lagi beban dihati keduanya. Adrianne cukup lega karena perselisihan yang mengerikan diantara mereka bisa berakhir dengan persahabatan.
Clayton Yang Sekarang