
Hape Adrianne berbunyi ketika Ia hendak membuka pintu mobilnya untuk pulang sore itu. Adrianne menatap layar hapenya dan melihat nama Reyhan disitu.
"Halo Rey, ada yang bisa aku bantu?" ucap Adrianne.
"Met sore bu dokter. Mengenai pesanan barang bu dokter tempo hari..." belum selesai ucapan Reyhan, tiba-tiba ia mendengar suara-suara aneh diseberang. Terdengar suara Adrianne yang seperti sedang kesal.
"Hey.... siapa kalian? hey... tolooong..."
Kemudian hening. Terdengar bunyi benda jatuh yang adalah hape Adrianne yang masih terhubung dengan Reyhan.
"Bu dokter? Halo... Halo...bu dokter, tolong jawab saya!"
Tetap hening.
Reyhan segera merekam lokasi sinyal hape Adrianne karena hape mereka masih terhubung. Segera Ia berlari keluar dari ruangan kerjanya menuju basement. Reyhan melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tiba ditujuan yang ditunjukkan oleh penunjuk lokasi dihapenya.
Reyhan mencari-cari dengan panik. Kekhawatiran terpancar diwajahnya. Ia menjadi kalut dengan debaran jantung yang seperti hendak copot dari tempatnya ketika menyaksikan hape Adrianne ditanah berada hampir dibawah mobilnya yang mana pintunya masih terbuka setengah.
"Ya, Tuhan! Tidak mungkin! Apakah bu dokter di culik?" Reyhan meremas-remas rambutnya. Ia tak bisa menghubungi Clayton karena hapenya sedang di non aktifkan. "Aku harus menemui Pak Clayton di hotelnya. Dia sudah berada disana jam begini."
Reyhan memacu mobilnya menuju hotel tempat Clayton menginap. Sesampainya disana, ia cepat-cepat menuju lift dan menekan lantai tujuannya.
Reyhan membunyikan bell dan pintu terbuka, tampak Clayton baru selesai mandi dengan rambutnya yang masih basah dan acak-acakan.
"Reyhan, ada apa? Kenapa Wajahmu tegang begitu? Duduklah. Aku ambilkan air minum dulu untuk mu."
Clayton membuka mini barnya dan mengambil sebotol air mineral dan menyerahkannya pada Reyhan yang tampak tidak karu-karuan.
Reyhan langsung meneguk air mineral dingin itu dengan cepat-cepat dan kemudian menyeka mulutnya dengan kasar.
"Nah, tolong katakan padaku ada apa ini?" ucap Clayton dengan wajah penasaran.
Reyhan meneguk ludahnya dengan susah payah.
"Pak Clayton... errg...bu dokter, Pak! Bu dokter...."
"Anne? Kenapa dengan istriku? Ayo cepat selesaikan bicaramu!" ujar Clayton dengan nada suara meninggi.
Reyhan tertunduk sambil berusaha berucap.
"Tadi aku sedang berbicara dengan bu dokter dan...tiba-tiba terputus. Sesuatu yang buruk telah terjadi padanya! Kata-kata terakhir yang kudengar adalah teriakan minta tolong yang seperti dibungkam. Aku menemukan hape bu dokter ditempat kejadian di parkiran rumah sakit. Mobilnya masih dalam keadaan terbuka ketika saya tiba tapi bu dokter tidak ada disana. Saya khwatir seseorang telah menculiknya."
Mendengar penuturan Reyhan, Clayton merasa dirinya lemas, jantungnya berpacu cepat tak beraturan. Ia dihantam ketakutan hebat atas keselamatan istrinya.
"Reyhan....mungkin mereka sudah tahu kalau Anne ada hubungan erat denganku." ucap Clayton dengan suara lemah.
Reyhan mengangguk pelan. Ia tak tega melihat bossnya yang sudah tertunduk tak berdaya.
Clayton menegakkan kepalanya. Rahangnya tiba-tiba mengeras.
"Cukup sudah kesabaranku dengan orang-orang ini. Jangan panggil aku Clayton Cakrawangsa jika mereka tak mau menderita selamanya! Mereka tak tahu sedang berhadapan dengan siapa."
Reyhan agak bergidik menatap Clayton yang mimiknya sekarang berubah keras dengan tatapan seperti hendak menelan benda di depannya.
"Reyhan, hubungi si boss Banteng Hitam. Minta tolong mereka mencari istriku. Bilang pada boss mereka untuk menyebutkan jumlah uang yang mereka inginkan! Berapapun itu asal istriku ditemukan! Langsung transfer setengahnya jika sudah deal." setelah berucap demikian Clayton mengambil jaket dan topinya.
"Aku akan menemui orang yang kita sewa tempo hari. Aku ada janji dengannya."
Reyhan berdiri dan mengangguk.
"Baiklah. Aku akan segera menemui boss Banteng Hitam malam ini juga."
Keduanya kemudian keluar dari kamar hotel tersebut dan langsung bergerak dengan tujuan masing-masing.
# Disuatu tempat di sebuah rumah kosong
Adrianne mengerjapkan matanya berkali-kali. Kepalanya masih terasa sedikit pusing serta pandangannya yang masih berputar-putar.
Ia mencoba meraih kesadaran sepenuhnya, namun tubuhnya terasa kaku seperti terlilit.
Adrianne mencoba bergerak leluasa namun sia-sia. Ia baru menyadari kalau kedua tangan dan kakinya terikat dengan tali yang melilit lumayan kencang dan terkadang menimbulkan rasa sakit jika Ia bergerak banyak. Mulutnya juga masih terikat dengan sebuah kain bercorak warna hitam.
Adrianne memperhatikan ruangan kosong itu. hanya ada kasur tipis dimana ia sedang terbaring dengan posisi tepat berada diatas lantai yang dingin. Selain kasur tempat dirinya berbaring, tak ada lagi barang-barang lain disekitarnya.
Hawa dingin seperti menusuk-nusuk tulangnya dan sesekali Ia terbatuk sambil menggigil.
Sedetik kemudian Ia baru sadar atas kejadian yang menimpanya tadi sore.
"Ya, Tuhan. Dimana aku? Dimana orang-orang jahat itu membawaku?" gumamnya dalam hati.
Adrianne mencoba menajamkan penglihatannya. Ruangan tempatnya berada hanya memiliki penerangan seadanya. Hanya cahaya yang datang dari ventilasi di pintu dan jendela yang membuatnya masih bisa melihat keadaan disekelilingnya.
Beberapa menit kemudian ia mendengar langkah kaki mendekati ruang dimana ia berada saat ini. Terdengar juga bunyi langkah orang memakai high heels. Jantung Adrianne berdegub kencang, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pintu terbuka. Cahaya dari luar membuat kedua mata Adrianne setengah tertutup karena silaunya cahaya lampu yang menerpa wajahnya.
Sosok seorang pria muda dan seorang wanita cantik sedang berdiri dihadapannya. Adrianne sedikit terperangah dengan tampang wanita tersebut. Pikirnya, bukankah wanita itu yang berada di kantor Clayton beberapa waktu lalu? Bukankah dia yang dikatakan Clayton sebagai anak angkat dari paman Clayton? Ya, kalau tidak salah Clayton penah bilang bahwa nama dari wanita penggoda itu adalah Rachella atau Ella!
"Silahkan Nona, ini paket yang Nona pesan. Sudah kami siapkan sesuai perintah." kata pria disamping wanita itu.
Wanita itu menatap Adrianne dengan senyum menyeringai. Ia memberi kode dengan jarinya agar pria muda itu keluar dari situ.
Setelah pria itu keluar, wanita itu berjongkok disamping Adrianne yang sedang terbaring.
Ia melepaskan kain yang terikat dimulut Adrianne dengan kasar.
"Halo Dokter Anne. Kita bertemu kembali." ucapnya dengan keramahan yang dibuat-dibuat.
"Apa maumu? Mengapa menculikku?" ujar Adrianne dengan nada marah.
"Dokter Anne, atau lebih tepatnya Nyonya Clayton Cakrawangsa... nilaimu sangat tinggi jika ditukarkan dengan uang. Sayang kalian terlalu sering bersama setiap malam, jadi itu terekam oleh kami." senyum licik tergambar di bibir wanita itu.
"Kamu salah Nona. Aku bukanlah istri Tuan Clayton! Aku hanyalah simpanannya! Aku hanya dibayar untuk melayaninya setiap malam. Kalian tidak akan mendapatkan sepeserpun darinya hanya karena aku. Jadi, lepaskan saja aku." ucap Adrianne dengan sedikit gugup karena mencoba berdusta. Namun karena tak pandai berdusta, kata-katanya justru menjadi bahan tertawaan wanita tersebut.
"Hahaha... baru sekali ini aku mendengar seorang dokter mau jadi wanita bayaran? Jangan kira kami bodoh, dokter! Cicin yang melingkar dijari manismu sama persis dengan cincin yang melingkar dijari manis Tuan Clayton."
Adrianne menyesali kebodohannya. Wanita didepannya benar-benar pintar dan licik.
Tiba-tiba terdengar sebuah ketukan dipintu dan pria yang tadi masuk.
"Nona, bisa bicara sebentar?" Mendengar perkataan itu, Rachella mengangguk dan keluar.
Adrianne mendengar ada sedikit suara kegaduhan diluar dan beberapa menit kemudian dua pria muda masuk dan kembali mengikat mulut Adrianne, dan kali ini menutup matanya. Adrianne sedikit berontak tapi kaki dan tangannya terasa sangat sakit.
Ia merasa tubuhnya seperti melayang diudara. Salah satu pria itu telah membopongnya keluar.
"Cepat, pindahkan ke tempat yang sudah aku atur. Tidak banyak waktu lagi. Anak buah Banteng Hitam sedang mengejar kita."
Itulah kalimat terakhir yang di dengar Adrianne sebelum dirinya dibawa pergi dengan sebuah mobil ke tempat yang ia tak pernah tahu.
Mobil melaju kencang. Adrianne hanya bisa berdoa agar dirinya bisa segera ditolong oleh siapa saja. Ia juga berharap agar suaminya baik-baik saja.